Indonesia
NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Panitia Dadakan dan Insiden Kuas Cat

Senin pagi biasanya selalu diawali dengan aura suram bagi sebagian besar murid SMA Dirgantara.

Namun anehnya, hari ini Amira datang dengan senyum tipis yang terus mengembang di bibirnya.

Ponsel di tangannya sudah kembali menyala normal dengan layar LCD yang mulus tanpa retakan sedikit pun.

Setiap kali melihat layar ponsel itu, ingatan Amira otomatis berputar pada kejadian di mal elektronik tempo hari.

Mengingat bagaimana Alfian menawar harga dengan gaya preman elit, lalu berakhir mentraktirnya makan dimsum.

"Wih, cerah bener tuh muka. Habis menang lotre lo?" goda Maya saat Amira baru saja menaruh tas di bangkunya.

Amira langsung berdehem, buru-buru menetralkan ekspresi wajahnya menjadi datar.

"Menang lotre apanya. Ini gue lagi senang aja HP gue udah sehat walafiat," kilah Amira cepat.

"Oh kirain lagi senang karena habis dianterin kapten basket pulang dua kali berturut-turut," sahut Rara sambil menaikkan turunkan alisnya menggoda.

Blush.

Pipi Amira langsung memanas mendengar sindiran telak itu.

"Sembarangan! Itu kan karena terpaksa!" sungut Amira membela diri, meski suaranya tidak segalak biasanya.

Belum sempat Rara dan Maya membalas, seisi kelas mendadak hening.

Bu Ratna, guru Sejarah yang terkenal killer, melangkah masuk ke dalam kelas dengan membawa sebuah papan jalan ( clipboard ).

"Selamat pagi. Sebelum mulai pelajaran, Ibu ada pengumuman penting," ucap Bu Ratna dengan suara lantang.

Seisi kelas menahan napas, menanti titah apa yang akan keluar dari mulut guru tersebut.

"Bulan depan sekolah kita akan mengadakan Pentas Seni (Pensi) tahunan."

"Dan setiap kelas diwajibkan mengirimkan dua perwakilan untuk masuk ke dalam panitia gabungan."

Murid-murid langsung berbisik-bisik, saling melempar pandangan agar tidak ditunjuk menjadi panitia yang terkenal menguras tenaga itu.

Mata elang Bu Ratna menyapu seluruh penjuru kelas dari balik kacamata bacanya.

Tatapan itu akhirnya berhenti dan terkunci tepat pada satu sosok yang duduk di barisan tengah.

"Amira," panggil Bu Ratna tegas.

Amira terlonjak kaget di kursinya. "S-saya, Bu?"

"Iya, kamu. Sebagai hukuman tambahan karena berani tidur di jam pelajaran saya minggu lalu, kamu wajib jadi perwakilan kelas ini."

Mulut Amira terbuka lebar, tidak percaya dengan nasib sial yang kembali menimpanya.

"Tapi Bu, saya kan anak baru! Saya belum tahu menahu soal sekolah ini!" protes Amira memelas.

"Justru karena kamu anak baru, ini kesempatan bagus buat kamu bersosialisasi. Titik. Nggak ada penolakan," final Bu Ratna tanpa ampun.

Amira langsung menelungkupkan kepalanya di atas meja.

Rara dan Maya hanya bisa menepuk-nepuk bahu teman mereka itu dengan raut wajah penuh belasungkawa.

Jam istirahat kedua, Amira menyeret kakinya menuju ruang seni di lantai dasar.

Ruangan itu disulap menjadi markas sementara untuk divisi properti Pensi.

"Nasib... nasib. Baru juga mau hidup tenang," gerutu Amira pelan sambil memutar knop pintu ruang seni.

Kreeeet.

Pintu terbuka, menguarkan bau cat akrilik dan lem kayu yang cukup menyengat.

Di dalam ruangan berukuran luas itu, sudah ada beberapa murid dari kelas lain yang sedang sibuk memotong kardus dan melukis banner kain.

"Permisi, aku Amira perwakilan dari XI IPS 2," sapa Amira ragu-ragu di ambang pintu.

Seorang siswi kelas XII berambut pendek melambai ke arahnya.

"Sini, Mir! Lo gabung ke tim lukis banner utama aja ya, kebetulan kita kurang orang nih."

Amira mengangguk pasrah, melangkah masuk dan menaruh tasnya di sudut ruangan.

Ia baru saja hendak berjongkok mengambil kuas cat saat ekor matanya menangkap sebuah siluet yang sangat familiar.

Di sudut lain ruangan, seseorang sedang berdiri membelakangi Amira.

Cowok jangkung itu memakai seragam yang lengannya digulung asal, sedang sibuk mengaduk ember cat berukuran sedang.

Deg.

Amira terpaku di tempat.

Jantungnya berdebar kencang saat cowok itu berbalik dan menatap langsung ke arahnya.

Alfian.

Kening Alfian berkerut dalam melihat kehadiran Amira di sana.

"Lo ngapain ke sini?" tanya Alfian dengan nada datar andalannya, meski matanya menyorotkan keterkejutan yang nyata.

Amira berkacak pinggang, menatap Alfian dengan wajah tak kalah sewot.

"Harusnya aku yang nanya! Kapten basket ngapain main-main cat di sini? Kesasar?" balas Amira sarkas.

Beberapa panitia lain yang mendengar perdebatan itu langsung menoleh dan tersenyum canggung.

"Kak Alfian itu koordinator OSIS yang ngawasin divisi properti, Mir," bisik siswi berambut pendek tadi memberi pencerahan.

Amira menepuk jidatnya sendiri.

Jadi selama sebulan ke depan, ia harus bekerja di bawah pengawasan langsung sang kulkas berjalan ini?

"Dihukum Bu Ratna lagi?" tebak Alfian tepat sasaran, berjalan mendekati Amira sambil membawa ember cat.

Wajah Amira memerah karena malu ketahuan.

"Bukan urusan lo," balas Amira menggunakan kalimat sakti milik Alfian sendiri.

Alfian mendengus geli, sebuah senyum miring yang menyebalkan terukir di wajah tampannya.

"Bisa nyontek juga lo ternyata," ledek Alfian pelan saat berjalan melewatinya.

Amira mendengus kasar, mengambil kuas dan kaleng cat berukuran kecil dengan gerakan menghentak.

Ia memilih duduk berjongkok di bagian paling ujung banner kain yang dibentangkan di lantai, sejauh mungkin dari radar Alfian.

Namun, semesta rupanya memang suka sekali menjodohkan mereka dalam situasi konyol.

Bagian banner yang harus dilukis Amira adalah bagian huruf-huruf besar yang membutuhkan detail warna gradasi.

"Duh, ini gimana cara nyampur warna birunya biar jadi terang sih?" gumam Amira frustrasi setelah berkali-kali gagal mencampur cat.

Tangannya sudah belepotan warna biru dan putih, tapi hasil di paletnya malah terlihat abu-abu kusam.

Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu dari atas kepalanya.

Alfian berjongkok tepat di sebelahnya, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara lengan mereka berdua.

"Minggir dikit," perintah Alfian singkat.

"Mau ngapain?!" Amira refleks memeluk palet catnya dengan tatapan curiga.

"Mau nyampur cat lo yang udah kayak adonan semen itu," jawab Alfian tanpa ampun, langsung merebut kuas kecil dari tangan Amira.

Amira mengerucutkan bibirnya, tapi ia memilih diam dan memperhatikan.

Tangan kekar yang biasanya lihai mendribel bola basket itu ternyata sangat luwes saat mencampur warna cat di atas palet.

Alfian meneteskan sedikit air, menambahkan rasio warna putih lebih banyak, dan mengaduknya dengan telaten.

"Gini doang masa lo nggak bisa?" sindir Alfian tanpa menoleh, matanya fokus pada cat.

"Ya maaf, aku kan bukan anak seni! Aku ini masuk IPS karena menghindari hitungan dan rumus ribet!" bela Amira ngeles.

Alfian tertawa kecil, suara baritonnya menggetarkan udara di sekitar mereka.

"Alesan lo klasik banget," balas Alfian, menyerahkan kembali palet dan kuas itu ke tangan Amira.

Saat perpindahan itu terjadi, jari mereka tak sengaja bersentuhan singkat.

Sengat.

Amira buru-buru menarik tangannya, pura-pura fokus menatap banner di bawahnya.

Jantungnya mulai tidak aman.

Wangi mint bercampur aroma cat akrilik ini entah mengapa terasa sangat menenangkan di hidungnya.

"Makasih," gumam Amira pelan, mulai mengoleskan warna biru muda yang sempurna itu ke atas kain.

Alfian tidak langsung beranjak pergi.

Cowok itu tetap berjongkok di sebelah Amira, memperhatikan cara gadis itu melukis dengan kening berkerut.

"Cara pegang kuas lo salah, Lily," tegur Alfian tiba-tiba.

Amira menghentikan sapuannya, menoleh ke arah Alfian dengan mata menyalang tajam.

"Udah aku bilang jangan panggil aku dengan nama konyol itu!" desis Amira memperingatkan.

Alfian menaikkan sebelah alisnya. "Konyol? Bukannya lo sendiri yang nangis-nangis minta dipanggil gitu waktu di kantin?"

"Itu beda cerita! Waktu itu aku lagi khilaf karena ngira kamu orang lain!" sanggah Amira cepat.

"Orang lain yang namanya 'Sky' itu?" pancing Alfian, nada suaranya mendadak sedikit merendah.

Amira terdiam.

Tangannya yang memegang kuas sedikit menegang.

Ia tidak suka membahas soal Sky dengan Alfian.

Rasanya seperti membuka luka lama di depan orang asing yang secara fisik persis dengan pemilik luka itu.

"Kenapa diam? Bener kan?" desak Alfian entah kenapa tidak mau melepaskan topik ini.

"Kamu nggak perlu tahu," jawab Amira dingin, kembali memfokuskan pandangannya pada lukisan.

"Lagian, dia udah nggak penting lagi sekarang."

Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja, lebih ditujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada menjawab pertanyaan Alfian.

Alfian tertegun sejenak.

Ada perasaan lega yang aneh menyusup di dadanya saat mendengar kalimat penolakan Amira terhadap bayangan masa lalunya itu.

Namun, saking fokusnya Amira menghindari tatapan Alfian, gadis itu tidak sadar mencelupkan ujung kuasnya terlalu dalam ke dalam kaleng cat kuning di dekat lututnya.

Saat Amira mengangkat kuas itu dengan sedikit kasar...

Ciprat!

Bintik-bintik cat kuning cerah melayang bebas di udara, mendarat dengan mulus di berbagai tempat.

Termasuk di hidung dan pipi kiri Alfian.

Suasana di sudut ruangan itu mendadak hening.

Amira membeku dengan kuas masih terangkat di udara.

Ia menatap wajah tampan Alfian yang kini dihiasi bercak-bercak kuning terang persis seperti anak kucing yang habis tercebur ke kuah soto.

Wajah Alfian yang tadinya kaku perlahan berubah pias.

"Lo..." geram Alfian pelan, memejamkan matanya sejenak untuk menahan emosi.

Alih-alih panik atau minta maaf, sebuah tawa lepas justru meledak dari bibir Amira.

"Pfft... hahahaha!"

Amira tertawa terbahak-bahak hingga perutnya kram, sambil menunjuk-nunjuk wajah sang kapten yang terlihat sangat komikal.

"Muka kamu! Hahaha! Kayak badut sirkus, sumpah!" ledek Amira tanpa ampun, air mata bahkan sedikit keluar dari ujung matanya saking lucunya.

Alfian yang awalnya berniat mengomeli cewek ceroboh ini, mendadak kehilangan kata-kata.

Ia menatap wajah Amira yang sedang tertawa lepas, senyumnya begitu lebar, matanya menyipit bahagia tanpa ada sekat gengsi sama sekali.

Deg.

Sesuatu dalam dada Alfian berdentum keras, jauh lebih keras dari pantulan bola basket mana pun.

Tawa itu... entah mengapa menghangatkan bagian terdalam di hatinya yang selama ini membeku.

Rasa nyeri di kepalanya yang biasanya muncul, kali ini tidak datang.

Yang ada hanya desiran aneh yang menyebar ke seluruh aliran darahnya.

"Seneng lo lihat muka gue ternoda gini?" tegur Alfian pelan, namun nadanya sama sekali tidak terdengar marah.

Amira buru-buru menutup mulutnya, berusaha menahan sisa tawanya.

"Habisnya kamu lucu! Coba ngaca deh!" kekeh Amira, mengambil tisu basah dari dalam tasnya.

Tanpa ragu sedikit pun, Amira mencondongkan tubuhnya ke depan.

Jarak mereka terkikis drastis.

Napas Alfian sedikit tertahan saat wajah Amira berada sangat dekat dengan wajahnya.

Dengan telaten, Amira mengusapkan tisu basah itu ke pipi dan hidung Alfian, membersihkan sisa cat kuning yang menempel.

"Makanya, jangan sok deket-deket ngecengin orang lagi ngelukis," omel Amira pelan sambil terus menggosok pipi Alfian.

Alfian mematung.

Mata hitam legamnya menatap lekat pada wajah serius gadis di hadapannya ini.

Gadis yang selalu berani menantangnya.

Gadis yang menuduhnya arogan.

Dan gadis pertama yang berani menertawakannya tanpa rasa takut.

"Udah bersih nih," ucap Amira sambil menarik tangannya mundur, memamerkan tisu basah yang kini berwarna kekuningan.

Begitu Amira menatap balik mata Alfian, barulah gadis itu sadar.

Tatapannya terkunci dengan manik mata elang milik sang kapten.

Tidak ada dinding es di sana.

Hanya ada sebuah tatapan intens yang luar biasa hangat, membuat seluruh pertahanan gengsi Amira runtuh berantakan dalam sekejap.

"Kk-kenapa ngeliatin kayak gitu?" cicit Amira tiba-tiba salah tingkah, buru-buru membuang muka ke arah lantai.

Alfian mengerjap perlahan, menarik dirinya mundur sedikit untuk mengembalikan jarak aman di antara mereka.

Cowok itu berdehem, mengusap tengkuknya sendiri dengan gerakan canggung yang sangat jarang ia lakukan.

"Bukan apa-apa," jawab Alfian cepat.

Alfian berdiri dari jongkoknya, membersihkan lutut celananya dari debu imajiner.

"Gue mau ke ruang OSIS. Lanjutin kerjaan lo, jangan sampai nyiprat ke orang lain lagi," titah Alfian kembali menggunakan nada datarnya, lalu berbalik melangkah pergi dengan langkah tergesa-gesa.

Amira hanya bisa memandangi punggung cowok itu yang perlahan menghilang dari balik pintu ruang seni.

Tangannya perlahan naik, meremas seragam di bagian dadanya dengan erat.

"Gawat," bisik Amira pada udara kosong.

"Ini beneran gawat. Jantungku kenapa heboh banget sih?!"

Amira menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya, menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat matang.

Ia sadar, cowok bernama Alfian ini jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!