Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PILIHAN DI PANGGUNG HANYOU
PROLOG: TAKDIR MATA KELABU
Dua puluh tahun yang lalu, di sudut terbelakang Jiuzhou—Benua Sembilan Wilayah—terbaring sebuah desa kecil yang terisolasi dari riuk pikuk peradaban kultivasi. Desa itu dikenal sebagai Desa Guwu, bermukim di balik tebing terjal Canglan Dalu (Benua Gelombang Biru).
Malam itu, langit di atas Canglan Dalu mendadak kelam tanpa gumpalan awan. Bintang-bintang meredup seolah enggan menyaksikan apa yang hendak menembus tirai langit.
Di dalam sebuah rumah kayu yang ringkih, jerit tangis bayi laki-laki pecah membelah keheningan malam. Seorang anak baru saja terlahir ke dunia fana. Namun, belum sempat sang ibu merengkuh darah dagingnya, gemuruh tak bersuara mengguncang jiwa setiap makhluk hidup sejauh ribuan li.
Celah dimensi di atas benua terbelah tipis secara misterius. Dari kedalaman kehampaan purba yang paling pekat, sepasang pendar cahaya berwarna kelabu kusam meluncur turun bagaikan meteor jatuh. Cahaya itu tidak membawa hawa panas, melainkan sensasi dingin yang sanggup membekukan alur Qi langit dan bumi.
Syuuuk!
Tanpa menghancurkan atap rumah kayu, sepasang pendar ilahi itu melesat lurus dan menghantam kedua mata sang bayi yang baru saja berkedip.
"Ugh...!"
Bayi kecil itu tidak lagi menangis. Tubuhnya kejang seketika saat sepasang mata misterius itu menyatu, berakar, dan mengunci keberadaannya di dalam saraf serta jiwanya. Untuk satu tarikan napas pendek, pupil mata sang bayi berubah menjadi bening keabu-abuan—mencerminkan kehampaan tak bertepi dan kebenaran sejati alam semesta.
Tidak ada yang menyadari kejadian malam itu. Sang ibu hanya menganggap pancaran cahaya kusam itu sebagai ilusi malam yang redup.
Mereka tidak tahu bahwa pada malam tersebut, Canglan Dalu tidak sekadar menyambut kelahiran seorang manusia biasa. Alam fana baru saja menjadi sarang bagi takdir kuno yang terbangun kembali—sebuah takdir berdarah yang kelak akan menuntut takhta tertinggi di bawah naungan Langit dan Bumi.
dua puluh tahun kemudian, Udara di Lapangan Batu Merah Kota Hanyou terasa panas dan menyengat. Ribuan pemuda berdiri berdesakan di bawah terik matahari, mengantre demi satu kesempatan mengubah nasib.
Di atas panggung utama, panji empat warna berkibar megah, menandakan kehadiran empat penguasa wilayah tersebut. Tiga Sekte Aliran suci dan satu Sekte Iblis berdiri sejajar, menatap ribuan kandidat di bawah bagaikan kawanan ternak yang siap dipilih.
Xuan Chen berdiri di barisan tengah dengan jubah abu-abu lusuh. Wajahnya tenang, matanya sedingin telaga es di puncak gunung. Tidak ada kegelisahan dalam tatapannya, hanya perhitungan dingin yang terus berputar di kepalanya.
“Tiga sekte suci di kiri, satu sekte sesat di kanan... Dunia kultivasi memang penuh kebohongan yang dibungkus rapi.”
Di depannya, seorang pemuda bertubuh kekar dari Klan Liu baru saja menyelesaikan tes kekuatan fisik. Batu Penguji Qi menyala hijau terang, menandakan bakat tingkat menengah di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Tiga.
Sorak-sorai riuh rendah terdengar dari arah Sekte Awan Hijau. Tetua berselimut jubah putih mengangguk puas, memberikan stempel kelulusan tanpa perlu tes pertarungan. Kekayaan Batu Spiritual dan pengaruh klan selalu menjadi pelicin yang sempurna.
"Selanjutnya! Xuan Chen!" teriak penguji berpakaian zirah besi dengan suara yang menggelegar.
Xuan Chen melangkah maju tanpa ragu. Langkah kakinya konstan, tidak terburu-buru dan tidak tertahan. Begitu tangannya menyentuh permukaan Batu Penguji Qi, cahaya samar berwarna kelabu kusam mencuat perlahan.
"Bakat Qi Kusam! Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Dua! Tidak memenuhi syarat standar sekte!" Penguji itu mengibaskan tangannya gusar, menyuruh Xuan Chen segera menyingkir dari panggung.
Tawa ejekan meledak dari barisan pemuda Klan Liu. Tuan Muda Klan Liu, Liu Bao, maju dua langkah sambil melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan.
“Sampah tetaplah sampah. Kota Hanyou tidak membutuhkan orang miskin tanpa bakat yang berpura-pura menjadi kultivator.”
Xuan Chen tidak membalas ucapan itu. Dia bahkan tidak melirik Liu Bao. Matanya tetap tertuju pada penguji zirah besi di depannya dengan tatapan lurus.
"Aku menantang ujian pertarungan terbuka," ucap Xuan Chen pendek. Suaranya tidak keras, tetapi memotong riuh tawa di sekitar panggung.
Penguji itu mengerutkan dahi. Ujian pertarungan terbuka adalah hak setiap kandidat yang gagal di tes batu, tetapi risikonya adalah cacat atau tewas di panggung tanpa ada yang bertanggung jawab.
"Bocah sombong! Kau pikir panggung ini tempat bermain?!" Liu Bao melompat ke atas panggung dengan gerakan kilat, mendarat dengan dentuman keras yang menggetarkan lantai batu.
"Tetua, biarkan aku mengajarinya cara menghormati aturan Kota Hanyou. Satu pukulan cukup untuk meremukkan kakinya!" seru Liu Bao seraya mengepalkan tangan yang mulai diselimuti pendaran Qi berwarna merah tipis.
Tetua Sekte Awan Hijau di kursi atas hanya tersenyum tipis, membiarkan pertunjukan itu berlangsung. Bagi mereka, hiburan kecil sebelum perekrutan utama adalah hal yang menyenangkan.
Xuan Chen memasang kuda-kuda rendah. Jantungnya berdetak stabil, napasnya diatur dalam ritme yang sangat teratur. Dia tidak memiliki Qi yang melimpah, tetapi setiap inci ototnya telah ditempa lewat latihan mematikan di hutan perbatasan.
Liu Bao menggeram, tubuhnya meluncur deras bagaikan banteng mengamuk. Pukulan berbobot lima ratus kati mengarah lurus ke dada kiri Xuan Chen, membawa angin pukulan yang tajam.
Pada momen kritis itu, sesuatu yang misterius bergejolak di dalam kepala Xuan Chen.
Pandangannya mendadak menyempit mendalam. Warna di sekitarnya seolah memudar, dan gerakan Liu Bao yang tadinya sangat cepat secara ilahi melambat di mata Xuan Chen. Dia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana serat otot bahu Liu Bao tegang, dan bagaimana alur Qi di tangannya agak tersendat di bagian siku.
“Terlalu lambat... Banyak celah.”
Xuan Chen tidak tahu mengapa matanya tiba-tiba bisa menangkap detail sekecil itu. Dia tidak berpikir panjang dan langsung menggunakan kesempatan emas tersebut.
Dengan menggeser kaki kirinya setengah jengkal ke belakang, tubuh Xuan Chen miring dengan sudut yang sangat tipis. Pukulan keras Liu Bao meleset hanya selebar helai rambut dari jubah abu-abunya.
Sebelum Liu Bao menyadari pukulannya luput, Xuan Chen sudah menghantamkan dua jarinya lurus ke titik siku Liu Bao—titik akupunktur di mana alur Qi lawan sedang tersumbat.
Brak!
Suara gemertak tulang terdengar nyaring. Pendaran Qi merah di tangan Liu Bao mendadak buyar seketika, disusul jeritan histeris dari mulut tuan muda klan tersebut.
"Aaghh! Tanganku!" Liu Bao ambruk berlutut sambil memegangi lengannya yang gemetar hebat, matanya membelalak tidak percaya.
Xuan Chen tidak berhenti. Sesuai prinsip hidupnya di dunia kultivasi yang keras, membiarkan musuh bernapas adalah kesalahan terbesar. Dia mengayunkan tendangan lurus tepat ke arah rahang Liu Bao, menghempaskan tubuh gemuk itu keluar dari panggung hingga pingsan bersimbah darah.
Panggung Hanyou seketika hening. Ribuan mata melotot tak percaya melihat seorang pemuda berdarah dingin menghabisi tuan muda klan kaya hanya dalam dua gerakan sederhana.
"Jahanam kecil! Kau berani berbuat kejam di panggung ujian?!" Tetua Sekte Awan Hijau berdiri dari kursinya. Tekanan spiritual Ranah Lautan Qi meledak dari tubuhnya, menekan langsung ke arah Xuan Chen.
Tekanan mendominasi itu membuat napas Xuan Chen sesak dan lantai batu di bawah kakinya retak. Namun, matanya tetap dingin, tidak ada pendar ketakutan sedikit pun di sana.
"Panggung pertarungan tidak memiliki aturan larangan melukai. Bukankah Sekte Awan Hijau yang mengagungkan aturan suci tersebut?" tanya Xuan Chen datar, menantang pandangan sang Tetua secara langsung.
"Bicara manis! Dengan tindakan sekeji ini, kau jelas memiliki tabiat iblis! Tiga Sekte Aliran suci tidak akan pernah menerima murid bermoral jahat sepertimu!" bentak Utusan Sekte Pedang Guntur ikut menimpali.
Xuan Chen terkekeh pelan. Ejekan dingin keluar dari bibirnya saat melihat wajah-wajah munafik para pakar sekte tersebut.
“Tiga sekte suci... Ternyata hanya kumpulan anjing yang menggonggong saat peliharaannya dipukul.”
"Siapa bilang dia harus bergabung dengan sekte munafik kalian?"
Sebuah suara serak dan berat menggema dari ujung panggung kanan. Pria bertubuh tinggi kurus dengan jubah hitam berlambang tengkorak merah melangkah maju. Dia adalah Utusan dari Sekte Jurang Jiwa.
Pria berzirah hitam itu menatap Xuan Chen dengan binar mata penuh minat. "Bocah, tindakanmu bersih, tidak bertele-tele, dan tidak membuang waktu dengan omong kosong moral. Sekte Jurang Jiwa menyukai orang-orang pragmatis sepertimu."
Utusan itu melempar sebuah token perunggu berwarna hitam pekat ke arah Xuan Chen.
"Bergabunglah dengan Sekte Jurang Jiwa. Di sana, tidak ada aturan konyol soal kebaikan. Selama kau cukup tangguh, kau bisa mengambil apa pun yang kau mau, termasuk kepala orang-orang yang meremehkanmu hari ini."
Tetua Sekte Awan Hijau berteriak murka, "Bocah Xuan! Jangan tergiur jalan sesat! Jika kau bertobat sekarang dan berlutut memohon maaf pada Klan Liu, Sekte Awan Hijau mungkin masih sudi menjadikanmu murid luar!"
Xuan Chen menangkap token besi hitam itu di udara. Dia merasakan dinginnya aura logam yang meresap ke telapak tangannya. Matanya melirik sekilas ke arah tiga utusan sekte aliran suci yang menatapnya dengan pandangan mengancam, lalu beralih ke utusan Sekte Jurang Jiwa.
Tanpa ragu sedikit pun, Xuan Chen menggenggam erat token tersebut dan membungkuk singkat ke arah Utusan Sekte Iblis.
"Xuan Chen memberi hormat kepada Utusan. Mulai hari ini, aku adalah bagian dari Sekte Jurang Jiwa."
Pernyataan pendek itu mengguncang seluruh Panggung Hanyou. Pilihan Xuan Chen bukan hanya menolak sekte ortodoks, tetapi secara terang-terangan menampar wajah ketiga sekte besar di depan publik.
Xuan Chen berbalik, melangkah mengikuti utusan berpakaian hitam tanpa pernah menengok ke belakang lagi.
Di dalam dadanya, penglihatannya yang sempat melambat tadi perlahan kembali normal, meninggalkan pendaran hangat yang eksotis di balik kedua matanya yang masih belum dia pahami sepenuhnya.
Garis takdirnya sebagai kultivator di jalan darah dan besi... baru saja dimulai.
tapi so cerita nya menarik.