Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oprasi se-kota.
Dahiku mengkerut. Entahlah.
Beberapa menit kemudian. Kami akhirnya sampai di sebuah terminal kecil di pinggir jalan raya. Hanya ada satu bangunan memanjang. Terdapat tiga loket karcis bis dan dua toko buah tangan. Di depannya juga terdapat halaman parkir bis. Tidak megah dan besar. Terminal ini mungkin hanya sebagai inisiatif lain agar tidak terlalu jauh ke jantung kota, Terminal Lembang.
“Di sini” Aku bertanya.
“Iya. Seketemunya”
Menuju loket bis. Seperti pada awal perjalananku sebelumnya. Banyak orang duduk menunggu bis di kursi panjang yang disediakan.
Ila mendorong diriku. “Kau yang urus kali ini. Nanti aku yang bayar”
Aku menurut. Segera menghadap di meja loket. Seorang wanita dewasa yang berjaga. Orang itu dari tadi terus memperhatikan kami. Sama seperti orang di sekitar.
Wanita itu tersenyum. “Mau kemana?”
“Dua, ke Jakarta”
Petugas loket di depanku mengambil lembaran karcis, menulis tanggal, dan..
“Namanya?”
Aku menoleh, menatap Ila. “Nama Asli” Bisikku.
Ila menggeleng.
Tanpa pikir panjang. “Yanti sama Yanto”
Ila tersendat tawa di sampingku. Dia menutup mulutnya.
Wanita di meja loket tersenyum. Menulis nama tadi. “Total dua ratus kak. Model pembayarannya bisa tunai. Atau mau e wallet juga bisa”
“Tunai mbak” Ila yang membalas. Dia merogoh saku di kostumnya.
Aku termangu melihatnya. Perasaan uangnya banyak amat.
Serah terima. Kami di beri dua karcis. Berjalan menuju tempat duduk yang disediakan. Tentu kami memilih agak jauh dari kerumunan orang yang menunggu lainnya. Mereka terus memperhatikan dari tadi.
Menghempaskan punggung kekursi. Akhirnya. Sedikit lega. Ila duduk di sampingku. Menatap ke halaman parkir bis. Lengang sejenak, suara jalan raya mengisi suasana, sayup-sayup adzan ashar berkumandang.
“Ashar, cak” Aku bergumam. Memecah lengang.
“Hngg” Ila menyahut. “Mau sholat dulu kah?”
Aku menggerang. Merentangkan tangan ke atas. “Nanti, santai dulu”
Ila mengangguk.
Seperti yang ku katakan sebelumnya. Menunggu bis selalu saja lama. Pasti terlambat. Aku dan Ila menghabiskan waktu melihat-lihat dan menikmati suasana sekitar. Tidak ada yang menarik. Karena yang menarik adalah kami sendiri. Satu-dua orang memasang mata hanya ingin melihat. Beberapa saat kemudian dua orang mendekat membawa anak-anaknya yang masih kecil, mereka ingin berfoto. Ila tidak keberatan memenuhi permintaannya. Memasang kamera. Ila juga mulai berdiri, berpose dengan tongkatnya.
Aku? Jelas nggak ikut. Malas.
“Makasih ya” Salah satu orang meninggalkan kata. Ila menganggut hikmat. Seolah berkata ‘tidak masalah’.
Ila kembali duduk di sampingku.
Lengang lagi. Senyap. Aku melamun, tidak memikirkan sesuatu.
“Itu kah bisnya” Ila berkata, kembali memecah lengang.
Aku melihat sebuah bis livery mulai masuk kedalam halaman.
Aku mengecek tiket. Mulai berdiri. “Ayo. Sholat dulu”
Mulai melenggang menuju pojok bangunan. Di sana ada musholla. Juga jelas ada mukena yang di sediakan, bisa di pinjam.
Kami sudah berwudhu. Aku segera membuat shaf “Bisa, kah? Degan mengenakan kostummu itu?” Aku bertanya.
Ila memegang mukena. “Mungkin aku akan mencopot beberapa proyektil dari kostum ku. Tapi tak apa”
***
Di dalam bis. Seakan sudah terasa bebas. Aku akhirnya tertidur. Tapi tidak dengan keadaan yang terjadi sebenarnya.
“Aro. Bangun”
Tubuhku di guncang Ila.
Mataku sedikit kesat dibuka. Membeku karena Ac.
Ila tepat di depan wajahku. Parasnya masih mirip kartun –cosplay. Aku mendorong perlahan tubuhnya. Sedikit bangkit. “Ada apa”
Ila tidak menjawab, namun langsung melihat ke luar kaca mobil. Aku pun ikut melihatnya.
Seketika tertegun. Ada sesuatu yang sedag terjadi. Keadaan jalan raya padat, macet. Tapi bukan tanpa alasan. Seperti ada oprasi serentak. Banyak petugas keamanan kota memenuhi jalanan. Ada yang berdiri di trotoar dan ada yang turun langsung di atas aspal bersama kendaraan lain.
Ila menatapku. Wajahnya masygul dan sedikit panik.
“Razia” Aku berkata asal. Masih belum terlalu fokus keadaan.
Ila menggeleng. “Oprasinya sampai terlihat dalam radius puluhan meter”
Aku mendongakkan kepala. Melihat lebih jauh. “Yap, benar”
Wajah Ila pias. “Ada apa ini?”
Aku berfikir sejenak. Lengang, sedikit bising dengan suara tertahan hiruk-pikuk keadaan ricuh jalan raya. “Sesuatu lain yang dapat membuat para petugas turun lapangan dan membuat macet”
Ila terlihat menungguku.
“Demo?!”
“Aish, tapi feeling agak buruk” Ila membalas.
Aku terdiam kebingungan.
“Apa yang terjadi?” Penumpang lain ada yang bertanya.
Aku segera memasang telinga. Ila juga.
“Ada oprasi identifikasi masal dari petugas keamanan”
“Apa yang di cari?”
“Seorang gadis”
Di ujung kata aku tersentak, bukan hanya pernyataan barusan. Ila mencengkram lenganku. Aku menatap wajahnya. Dia panik sekali. Aku tahu gadis yang di maksud pasti dirinya. Tapi aku harus melakukan sesuatu agar gadis ini tenang sebelum_
“Bagaimana ini?” Ila mulai merengek. Matanya berlinang. Kali ini dia mencengkram kedua bahuku.
Ah anak ini, mudah sekali tergores mentalnya.
“Kalau udah kayak gini bagaimana, Aro?!” Suara Ila menaik. Aku cekatan menutup mulutnya menggunakan telunjuk.
Gadis itu melepaskan bahuku.
“Nanti ada orang yang curiga” Ujarku lirih.
Beruntungnya tidak ada yang peduli. Semua orang di kabin lebih tertarik melihat keadaan macet sekitar. Jujur saja, jantungku berdetak kencang saat ini. Di bayangi panik, aku juga buntu pikiran. Tidak tahu harus melakukan apa.
“Dunia deskriminasi” Ila berkata datar. Wajahnya sembab. Menunduk.
Aku termangu melihatnya. Dalam keadaan seperti ini, justru dia yang sering melakukan tindakan di luar dugaan. Saat di kejar perampok, dia bisa menembak. Saat petugas coba menghadang juga dua kali dia menjatuhkan seseorang. Pria bertongkat dan petugas yang menggunakan sarung tangan setrum.
Hey, bukannya dia terlihat tenang sebelumnya. Ada yang tidak beres dengan mental gadis ini.
Bis berjalan perlahan. Antrian macet di depan mulai maju. Aku langsung sadar jika ini masih ada kesempatan. Oprasi sebenarnya masih belasan meter di depan sana. Kami bisa keluar dan mencari jalan atau cara lain. Tidak peduli akan berjalan mulus atau tidak. Tapi patut di coba dibanding harus berhadapan dengan petugas-petugas yang akan mengidentifikasi orang setiap tumpangan. Itu akan jauh lebih sulit karena yang akan di periksa adalah kartu tanda penduduk.
Aku mulai berdiri.
Ila menatapku. “Mau ngapain”
Aku tersenyum. “Ayo keluar”
“Ish gila kamu” Ila merungut. “Ini keadaan serius”
Aku menutup kepala gadis itu dengan tudung kostumnya. “Kau telah memastikan kita aman dengan cara seperti ini, dan sekarang justru kau yang takut?” Aku membalas, coba agar anak itu lebih yakin.
Ila terdiam.
“Kau hanya bingung ketika pada awal menghadapi suatu masalah, sementara kau sendiri tidak pernah berfikir optimis tentang apa yang kau bisa. Coba ingat sebelumnya, kau bahkan dapat berfikir lebih optimis dariku ketika berhasil lolos dalam upaya petugas pertama. Itu karena apa? Karena kau menganggap masalah ternyata tidak seburuk yang kau kira. Itu baik, kau jadi mau melanjutkan hingga masalah selesai. Dan kau pasti bisa mencobanya lagi sekarang. Ayo keluar dan mencoba sesuatu. Kau tidak akan pernah bisa menyelesaikan sebuah masalah jika kau terus pesimis dan menyerah” Aku melanjutkan.
Senyap kubuat. Ila benar-benar tidak bisa membalas kali ini.
Aku terbahak. “Memang apa sulitnya sih? Kau kan kuat. Jika kau monster yasudah. Kenapa kau tidak menerima kenyataannya”
Wajah sembab Ila berubah kali ini. Dahinya terlipat. “Aku bukan monster”
“Hehe”
Ila mulai berdiri. Aku berseru semangat dalam hati. “Baik, aku akan menyusun sebuah rencana”
Kami berdua beranjak dari kursi. Berjalan menuju pintu bagian depan bis. Dekat dengan bangku supir.