Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035 - Tempat Ia Dibesarkan

Arkana membawaku ke gang sempit yang tidak pernah muncul dalam profil bisnisnya.

Rumah-rumah berdiri rapat, kabel listrik melintang rendah, dan anak-anak bermain bola di antara gerobak makanan. Mobil mewah Arkana berhenti di jalan besar karena tidak muat masuk.

"Kau tumbuh di sini?" tanyaku.

"Sebagian hidupku."

Dia berjalan di sisi kaki kiriku, cukup dekat untuk menangkap jika aku tersandung tetapi tidak menyentuh tanpa perlu.

Mbah Wignyo membuka pintu sebelum kami mengetuk. "Akhirnya membawa istrimu juga."

Aku menoleh kepada Arkana. "Semua orang tahu kecuali aku?"

"Berita pencatatan kita bertahan dua tahun di internet."

Di ruang depan, Mbah Ti duduk dekat jendela. Matanya keruh, tetapi wajahnya bersinar saat melihat Arkana.

"Pulang juga," katanya. Lalu ia menarik tanganku. "Ini istrimu? Cantik. Jangan buat dia menangis seperti ibumu."

Arkana berlutut di depannya. "Saya akan mencoba, Mbah."

"Jangan mencoba. Lakukan. Kau selalu pulang dengan darah di baju, lalu bilang jatuh dari sepeda. Anak nakal."

Tangannya menepuk kepala Arkana seperti ia masih remaja. Lelaki yang membuat direktur hotel gemetar itu menerimanya dengan tenang.

Mbah Wignyo memeriksa pergelangan kakiku. Ia membaca hasil pemeriksaan yang kubawa, menguji gerak dengan hati-hati, lalu menyarankan latihan ringan dan terapi lanjutan.

"Cedera lama membuat bagian ini mudah kambuh," katanya. "Tidak ada keajaiban. Harus sabar."

"Dia tidak pandai sabar," kata Arkana.

"Kau lebih buruk."

Saat Mbah Wignyo mengambil minyak gosok, aku melihat Arkana membuka laci meja dan menyelipkan amplop tebal. Gerakannya cepat, tetapi aku mengenal tangannya.

"Apa itu?"

"Tidak ada."

Mbah Wignyo kembali. "Uang bulanan yang selalu dia pura-pura bukan pemberiannya."

Arkana menatap langit-langit.

"Kau membantu mereka sejak kapan?"

"Sejak mampu."

"Kenapa diam-diam?"

"Karena Mbah akan mengembalikan kalau kuberikan langsung."

Mbah Wignyo mengoleskan minyak pada kakiku. "Anak ini suka terlihat jahat. Katanya lebih aman kalau orang tidak berharap kebaikan."

Arkana pergi membuat teh, mungkin untuk melarikan diri dari pujian.

"Dia dulu ingin menjadi polisi," lanjut Mbah Wignyo. "Latihan setiap pagi, belajar sampai malam. Ketika pistol Suryo hilang, dia masuk ke sarang orang jahat untuk mengambilnya. Setelah itu namanya kotor."

"Aku tahu bagian itu."

"Tahu dengan kepala berbeda dari melihat tempatnya."

Ia menunjuk ujung gang. Dari jendela terlihat bangunan gudang tua.

"Di sana polisi menangkapnya. Suryo datang terlambat. Guntur datang tepat waktu. Sejak hari itu anak ini percaya keluarga adalah orang yang berhasil hadir, bukan orang yang punya nama di dokumen."

Arkana kembali membawa teh. "Mbah terlalu banyak bicara."

"Istrimu perlu tahu mengapa suaminya bodoh."

Mbah Ti tiba-tiba menggenggam tanganku. "Jangan biarkan dia pergi malam-malam. Banyak orang jahat."

"Kadang dia orang jahatnya," kataku.

Perempuan tua itu tertawa. "Kalau begitu ikat hatinya di rumah."

Arkana hampir tersedak teh.

Setelah pemeriksaan, kami berjalan ke gudang di ujung gang. Pintu besinya berkarat. Arkana berdiri di tempat masa depannya pernah berakhir.

Di sepanjang jalan, beberapa pedagang tua mengenalinya. Seorang penjual bubur memanggilnya `Kana kecil` dan menolak dibayar ketika Arkana membeli dua porsi. Seorang mekanik menunjukkan foto lama Arkana mengenakan seragam sekolah, berdiri di samping motor rusak dengan wajah penuh oli.

"Kau pernah tersenyum seperti itu," kataku.

"Aku masih bisa tersenyum."

"Biasanya setelah membuat orang lain takut."

Arkana mengambil foto itu, memeriksanya, lalu mengembalikan. "Motor itu milik Suryo. Aku memperbaikinya agar dia mau mengajariku mengemudi."

"Apakah dia mau?"

"Tidak. Aku tetap mengambil kuncinya."

Kami makan bubur di bangku plastik. Tidak ada pelayan, penjaga, atau meja VIP. Arkana meniup sendokku karena masih panas, kebiasaan kecil yang membuat penjual tersenyum seolah sedang melihat anak lama pulang.

"Setelah ditangkap di gudang, berapa lama kau ditahan?" tanyaku.

"Cukup lama untuk kehilangan jadwal pendaftaran akademi. Tidak cukup lama untuk belajar menjauh dari masalah."

"Guntur membayar pengacara."

"Dan memberiku pekerjaan legal di salah satu gudangnya. Polisi tetap melihat catatanku, sekolah menolak, sedangkan geng menganggap aku sudah mengetahui terlalu banyak. Setiap jalan keluar memiliki orang bersenjata di ujungnya."

"Kau bisa lari."

"Meninggalkan Suryo dan Ibu sebagai sasaran? Tidak. Jadi aku naik cukup tinggi sampai tidak ada orang berani menyentuh mereka."

Aku mulai memahami bentuk kekuasaannya. Bukan sekadar keserakahan, tetapi benteng yang dibangun seorang anak setelah belajar bahwa pintu rumah tidak cukup kuat.

"Kemudian benteng itu menjadi penjara," kataku.

"Ya. Dan aku memasukkanmu ke dalamnya."

Dia tidak meminta aku menyangkal. Aku juga tidak melakukannya.

Kami menyelesaikan makanan, lalu Arkana membayar diam-diam dengan menyelipkan uang di bawah mangkuk. Penjual mengejarnya sampai jalan, tetapi kami sudah berbelok menuju gudang.

"Aku tidak membawamu untuk meminta kasihan," katanya.

"Lalu untuk apa?"

"Kau bilang ingin melihat apa yang membentukku. Ini tempat aku menyadari niat baik tidak melindungi siapa pun dari akibat buruk."

"Dan sejak itu kau memilih akibat buruk lebih dulu agar bisa mengendalikannya."

"Kurang lebih."

Aku menyentuh dinding dingin. "Pak Suryo mengatakan kau tidak lahir sebagai monster."

"Tapi aku tetap membunuh keluargamu. Jangan membuat masa kecilku menjadi alasan."

"Aku tidak membuat alasan. Aku sedang melihat seluruh manusia."

Arkana menatapku.

"Kau melakukan hal buruk," lanjutku. "Hal yang mungkin tidak bisa kuhapus. Tapi kau juga mengembalikan pistol untuk menyelamatkan orang lain, membiayai rumah ini tanpa nama, dan membiarkanku pergi ketika menahan terasa lebih mudah."

"Apa kesimpulanmu?"

Aku mengambil tangannya. "Kau bukan orang tanpa kebaikan."

"Itu pujian yang sangat hati-hati."

"Baik. Kau orang baik yang membuat terlalu banyak keputusan buruk."

Wajahnya melembut. "Lebih baik."

"Dan aku peduli padamu. Masih."

Arkana menunduk, menyentuhkan dahinya ke tanganku. Untuk sesaat, tidak ada bos mafia, pembunuh, atau pemilik hotel. Hanya anak lelaki yang pernah kehilangan seragam polisi sebelum sempat memakainya.

Dalam perjalanan kembali, hujan turun. Arkana membantu kakiku masuk mobil, lalu duduk di samping tanpa melepaskan tangan.

"Mbah Ti menyuruhku mengikat hatimu di rumah," kataku.

"Aku pernah mencoba mengurungmu. Hasilnya buruk."

"Sangat buruk."

"Kalau begitu giliranmu."

"Apa?"

Ia mencium buku jariku. "Aku ingin punya sangkar emas yang mengurungku selama sisa hidup. Kali ini kuncinya harus berada di tanganmu."

Aku memandang hujan di luar mobil. Dulu kata sangkar selalu berarti pintu yang tidak bisa kubuka. Dari bibirnya malam itu, kata yang sama berubah menjadi permintaan untuk tinggal tanpa kehilangan pilihan pergi.

Aku belum menyerahkan jawaban. Namun tanganku tidak melepaskan tangannya sampai mobil tiba di hotel.

Untuk pertama kalinya, memahami masa lalunya tidak terasa seperti mengkhianati keluargaku sendiri.

Aku akhirnya berhenti memelihara kebencian lama itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!