Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
“Di sekolah ini kekerasan adalah hal yang dilarang!” Seorang guru terlihat kesal, suaranya menggema di ruang UKS yang hanya diisi oleh mereka.
—amarah itu, jika sepi akan terdengar lebih keras.
“Jika sekali lagi kamu melakukan hal tidak terpuji seperti ini, Ibu akan memberikan surat peringatan pada orang tuamu!”
—dan terkadang, sampai terasa memuakkan.
“Kamu dengar itu? Ophelia!”
Reine yang duduk di atas kasur UKS dengan perban di kakinya terlihat benar-benar puas. Sedangkan Ophelia yang masih dimarahi, berdiri dengan rambut berantakan juga sudut bibir yang mengeluarkan darah.
Ah ya, dia lupa.
Sekolah elit ini, didirikan dan dimiliki oleh keluarga si sialan itu. Reine Maharaja.
“Bu guru, Reine udah nggak apa-apa,” ucap gadis itu, seakan dia benar-benar adalah korban. “Tapi supaya kejadian ini nggak terulang lagi lebih baik orang tua Ophelia diberitahu.”
Seluruh tubuhnya langsung menegang. Kalau Ayah angkatnya tahu dia membuat masalah—
“Ah iya, itu ide yang bagus.” Guru itu langsung mengangguk. “Tapi kalau bisa nak Reine jangan beritahu soal ini ke Ayah—bukan, ke Pak Direktur ya? Ibu benar-benar minta maaf karena lalai. Kalau Pak Direktur tahu nanti Ibu bisa kena masalah.”
Reine tersenyum dan membuka perban di kakinya. “Tenang aja, lagian luka di kakiku sudah sembuh.”
Ophelia menatap nanar. Dari awal tidak ada luka apapun di sana.
“Tapi pastikan,” Reine balas menatapnya dengan seringai. “Tuan dan Nyonya Pratama diberitahu kalau putri angkat mereka membuat masalah besar di sekolah ya?”
“Tentu, tentu! Pasti Ibu beritahu.”
Ophelia menatap ujung seragamnya. Tamat sudah.
...****************...
—Kediaman Pratama
Rumah besar yang selalu sepi itu terasa aneh hari ini. Benar-benar dingin.
Chelsea terlihat menatapnya dari atas tangga. Dia tersenyum kecil sebelum berteriak, “Ayah, Lia udah pulang!”
“Ophelia.”
Tubuhnya langsung tersentak mendengar suara itu.
Randi Pratama terlihat bangun dari kursi, tangannya sudah memegang cambuk. “Ikut Ayah ke ruang kerja.”
Tubuhnya bergetar, entah kenapa Ophelia tiba-tiba mual.
“Dasar anak tidak tahu diuntung!”
Srak!!
Ujung cambuk kembali menyentuh punggung Ophelia, membuatnya semakin mengerang kesakitan. Kalau saja ikatan di tangannya tidak terlalu kencang mungkin Ophelia bisa kabur.
Tapi tidak kali ini.
“Aku mengadopsimu agar nama keluarga Pratama semakin dikenal!”
Srakk!!
“Agar para sosialita itu tahu kami juga adalah keluarga terhormat!”
Srakk!!
Randi menggeram, tangannya yang memegang cambuk semakin mengencang. “Tapi kau malah membuat masalah. Inikah balasan atas semua yang kami berikan?!”
Ophelia bisa merasakan darah segar mengalir, membasahi seragam yang masih ia pakai. Pegangannya pada ujung meja juga mulai mengendur, pandangannya menjadi buram.
Sakit.
Bahkan untuk Ophelia yang sering disiksa punggungnya benar-benar terasa seperti dirobek sekarang.
Srakk!!
Ophelia hanya bisa membiarkan dirinya terjatuh ke lantai. Cairan merah mulai menggenang, mengelilingi dan seolah memberitahu kalau ia sedang sekarat.
Mati seperti ini—
Ophelia tertawa lirih. “...benar-benar menyedihkan.”
.
.
.
“Waktu berkunjung kemarin, kami melihat kalau Ophelia memiliki kecerdasan yang luar biasa.”
Suara itu, kenapa ia malah mendengar suara Ayah angkatnya itu sekarang?
“Dia bahkan mengalahkan saya dalam catur, sungguh gadis yang pintar.”
Bisakah Ophelia mati dengan tenang? Kenapa ia masih mendengar suara orang yang membunuhnya? Atau—
“...jangan-jangan aku masuk ke neraka?” gumamnya.
Ibu panti yang ada di sebelahnya langsung kaget. “Ah, anu, Ophelia memang kadang-kadang—”
“Kamu imajinatif juga ya?” Randi Pratama tertawa kecil dan mengelus pucuk kepala Ophelia pelan. “Cerdas dan kreatif, masa depanmu pastinya akan cerah.”
Yelena, istri Randi juga terlihat tersenyum padanya. “Kenapa kamu tiba-tiba bergumam seperti itu? Itu dialog dari cerita yang kamu baca?”
Ophelia langsung menjauh dari mereka berdua. “Cerita apa—!”
Tunggu.
Ia pernah berada disini sebelumnya. Ia ingat ini adalah hari dimana keluarga Pratama memilihnya sebagai anak angkat mereka!
Apa ini mimpi?
Ophelia memegang kedua pipinya. Tidak. Ini terlalu nyata untuk menjadi mimpi. Berarti dia benar-benar kembali ke masa lalu? Satu tahun sebelum ia dibunuh?
Berarti ini adalah saat dimana—
“Ophelia?”
—ia bisa tidak pernah masuk ke rumah itu?
“Aku… tidak enak badan,” ucapnya pelan. Ia memegang ujung kemeja Ibu panti yang ada di sebelahnya. “Boleh aku kembali ke kamar?”
Ibu pantinya terlihat ragu. “Tapi Tuan dan Nyonya Pratama datang jauh-jauh kemari hanya untuk menemuimu.”
“Tidak apa-apa, kami bisa kembali lain waktu.” Randi masih tersenyum. “Ophelia istirahat ya? Nanti kalau sudah sembuh kita main catur lagi.”
Membusuk sana di neraka.
Ophelia kembali ke kamarnya. Ada beberapa anak lain yang lebih muda darinya disana, bercengkrama dan terlihat damai.
Ini... keluarganya dulu.
“Kak Lia!” Pinggangnya dipeluk seorang anak kecil. “Gimana? Kakak jadi diadopsi?”
“Nggak,” ucap Ophelia tegas.
Anak itu terlihat bingung.
“Kenapa? Paman itu baik. Dia bawain kita semua makanan.”
Ah ya, panti asuhan ini kekurangan dana.
Untuk meningkatkan reputasi, keluarga Pratama bukan cuma mengadopsinya, tapi membiayai panti asuhan ini juga.
Mereka membesar-besarkan hal itu di media sih, Ophelia ingat kalau setiap anak yang diberi uang jajan akan dibuat video dan disebar ke internet saat itu juga.
Hanya agar mereka terlihat murah hati.
Tapi meskipun begitu, adik-adiknya tidak akan kelaparan. Meski hanya untuk reputasi tapi mereka bisa kenyang.
“Kami juga menyisakan kuenya satu untukmu,” remaja lain membuka kotak agak besar disana. Satu kue berwarna kekuningan terlihat tidak tersentuh, berada di ujung.
Lemon tart!
Ophelia memakan kue itu dengan perlahan, mencoba menikmati rasanya.
Keluarga Pratama sudah pulang, mereka bilang akan kemari lagi minggu depan. Ophelia yang duduk menghadap teras panti hanya menghela nafas.
Tidak apa-apa.
Selama dia tidak menyetujui untuk diadopsi dia tidak perlu kembali ke rumah itu lagi. Dia tidak akan disiksa, dia tidak akan mendapatkan pembullyan di sekolah gila itu dan dia mungkin akan hidup lebih lama.
Ya, tidak apa-apa.
Tapi—
Kalau bukan dia, akan ada anak lain. Kalau bukan dia mungkin keadaan panti akan semakin memburuk.
Kalau itu dia...
Ophelia berdiri. Ia membersihkan bajunya dari remahan kue dan menatap bekas ban mobil keluarga sialan itu di jalan sana.
Apa tujuan semesta memberinya kesempatan kedua begini? Untuk hidup tenang? Mengubah takdirnya?
—atau untuk membalas dendam?
Ophelia tahu hal-hal yang sebelumnya tersembunyi di keluarga itu, Ophelia tahu bagaimana cara pikiran mereka bekerja sekarang, Ophelia tahu apa yang mereka inginkan.
Ophelia bisa memanfaatkan itu semua.
Ia bisa membuat mereka merasakan neraka yang selama ini ia rasakan.
Tapi...
“Tubuhku tetap gemetaran ya?” lirihnya pelan.
Tubuhnya ketakutan. Bahkan setelah mati dan kembali ke masa lalu, trauma itu belum hilang.
Tapi rasa takut bisa dikontrol dengan keberanian.
Ophelia mengepalkan tangan, meredam tubuhnya yang gemetaran dan kembali masuk ke dalam panti.
Ia sudah membuat keputusan.
...****************...
Amarah itu, jika sepi akan terdengar lebih keras.
“Selamat pagi Ophelia.”
“Kamu gimana kabarnya? Sakitnya udah sembuh?”
Dan terkadang—
“Iya.” Ophelia tersenyum. “Udah nggak sakit lagi.”
—akan terasa memuakkan.
“Syukurlah,” Randi Pratama mengulurkan tangannya. “Hari ini mau main catur sama paman? Kalau menang nanti dikasih hadiah.”
Ophelia menatap tangan itu dengan seksama. Tangan yang mengingatkannya akan cambuk berlumuran darah.
Tangan yang sama yang membunuh dirinya.
Tapi kali ini dia menerima uluran tangan itu.
“Hadiah yang aku mau agak mahal tapi,” ucapnya.
Semahal masa depan, penderitaan kalian.
Randi Pratama tertawa. “Kalau masih bisa paman kabulkan, paman pasti kasih. Tenang aja.”
Ya.
“Kalau begitu aku pasti menang!”