Indonesia
NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Warisan Eyang

Vila Reksonegoro muncul di balik kabut menjelang petang.

Bangunannya tidak semegah rumah Danuwijaya. Dinding putihnya mulai kusam, atap teras ditumbuhi lumut, dan taman depannya dipenuhi daun basah. Namun ketika Pak Djoyo membuka pintu dengan kunci kuningan, Sekar merasakan sesuatu yang tidak pernah diberi rumah besar di Menteng.

Ia boleh masuk tanpa meminta izin.

"Selamat pulang, Mbak Sekar," kata Pak Djoyo.

Kata pulang membuat matanya panas.

Beberapa pegawai lama menunggu di aula. Mereka pernah bekerja untuk Eyang Wiryo dan tetap merawat vila meski anggaran dipotong bertahun-tahun. Seorang perempuan tua membawa handuk untuk Sekar, sementara yang lain mengambil koper Ningsih tanpa bertanya tentang foto hotel atau perceraian.

"Bagaimana Eyang Darmi dan anak-anak?" tanya Pak Djoyo setelah mereka duduk.

"Sudah dibawa ke rumah sakit. Saya hanya punya nomor petugas medis."

Ningsih mengecek ponselnya. "Ada kabar. Eyang Darmi mengalami retak ringan di tulang lengan, sopir perlu observasi, anak-anak boleh pulang setelah diperiksa."

Sekar mengembuskan napas lega. Baru setelah memastikan itu ia membuka tas dokumen.

Pak Djoyo membawa mereka ke ruang kerja Eyang Wiryo. Lemari kayu memenuhi satu dinding. Di atas meja terdapat buku besar, map saham, dan foto hitam putih pendiri Reksa Group berdiri di depan restoran Astarasa pertama.

"Eyang memulai dari rumah makan dua belas meja," kata Pak Djoyo. "Lalu membuka hotel, pengolahan pangan, dan laboratorium kemasan. Paten teknologi inti berasal dari sana."

Ia membuka bagan kepemilikan. Bagian saham yang seharusnya berada di cabang Ratih diberi tanda hijau. Perusahaan-perusahaan yang perlahan menguasai hak suara diberi tanda merah.

"Pak Bambang memakai surat kuasa lama untuk mengalihkan pengelolaan," lanjutnya. "Setelah Mbak menikah, pihak Danuwijaya masuk melalui pinjaman dan yayasan. Mereka belum menguasai paten, tetapi sudah menggerogoti arus uang Astarasa."

"Siapa orang dalamnya?"

Pak Djoyo menunjukkan satu tanda tangan yang muncul berulang kali. "Direktur pelaksana bernama Handoko. Saya belum punya bukti cukup untuk menuduhnya bersekongkol, tapi hampir semua keputusan bermasalah melewati mejanya."

Sekar menulis nama itu di buku catatan.

"Apa yang secara hukum masih bisa saya kendalikan sekarang?"

"Vila ini. Hak manfaat atas sebagian saham keluarga. Hak persetujuan atas paten dan rahasia dagang. Setelah dokumen perwalian diperiksa, mungkin lebih banyak."

"Dan apa yang sudah hilang?"

"Belum tentu hilang. Namun harus direbut melalui audit dan pengadilan."

Ningsih membuka laptop. Mereka menyusun tiga daftar: aset yang aman, aset yang diperebutkan, dan dokumen yang harus diminta secara resmi. Tidak ada janji bahwa semuanya mudah. Justru angka-angka itu menunjukkan lubang yang jauh lebih besar daripada dugaan Sekar.

Ia menyentuh buku besar Eyang Wiryo. Di halaman pertama ada tulisan tangan: `Yang diwariskan bukan hanya milik, tetapi tanggung jawab menjaganya.`

"Saya terlalu lama tidak tahu," ucap Sekar.

"Mbak dibuat tidak tahu," jawab Pak Djoyo. "Itu berbeda."

"Mulai sekarang tidak lagi."

Sekar berdiri di depan foto Eyang Wiryo. Ia melepaskan liontin patah dari leher, membungkusnya kembali, lalu memasukkannya ke laci terpisah dari arsip keluarga.

"Saya tidak datang untuk bersembunyi," katanya. "Saya akan mengaudit Astarasa, mengembalikan hak Mama, dan mengambil kembali apa pun yang dipindahkan tanpa persetujuan."

Pak Djoyo menunduk. "Saya akan membantu selama masih punya tenaga."

Ningsih mengangkat laptop. "Saya juga."

Sekar memandang dua orang yang tidak terikat kepadanya oleh pernikahan atau nama besar, tetapi memilih berdiri di sisinya. Untuk pertama kalinya sejak Tuti hilang, ia tidak merasa sendirian.

Malam itu Pak Djoyo menunjukkan kamar yang dahulu dipakai Ratih saat pulang dari sekolah. Selimutnya baru, tetapi meja rias dan rak bukunya masih sama. Di laci bawah, Sekar menemukan foto ibunya berdiri di samping Eyang Wiryo, tersenyum lebar sebelum pernikahan membuat senyum itu semakin jarang terlihat.

Sekar memotret foto tersebut dan mengirimkannya kepada Ratih bersama satu pesan.

`Aku sudah sampai. Aku aman.`

Balasan datang dalam hitungan detik.

`Alhamdulillah. Jangan buka pintu untuk siapa pun dari keluarga Ayahmu atau Danuwijaya. Mama akan mengulur waktu.`

Sekar meletakkan foto itu di samping tempat tidur. Vila ini bukan hanya tempat melarikan diri. Tempat ini menyimpan versi Ratih sebelum dibungkam, dan mungkin juga jalan untuk membawa ibunya pulang kepada diri sendiri.

***

Pada waktu yang hampir sama, Wida membuka pintu Paviliun Sekar di Menteng.

Kamar kosong.

Lemari terbuka. Perhiasan keluarga tersusun di meja bersama cincin nikah dalam amplop bertuliskan nama Rendra. Bau kertas terbakar masih tertinggal di belakang dapur.

"Panggil Rendra!" teriak Wida.

Rendra datang beberapa menit kemudian. Ia melihat cincin, abu foto, lalu berlari ke taman.

Pohon delima terbaring di atas rumput. Batangnya putus dekat tanah, bunga merah tersebar seperti sisa upacara pemakaman.

Rendra berdiri di depan tunggulnya tanpa suara.

"Dia kabur," kata Wida. "Dia pasti membawa dokumen Reksonegoro."

"Sekar tidak kabur."

"Lalu apa namanya?"

Rendra memungut satu bunga yang sudah memar. "Dia ingin aku mengejarnya."

Ia masih mengira kepergian Sekar merupakan permainan di antara mereka.

Eyang Sri datang dengan tongkat menghantam lantai. Setelah melihat tunggul pohon, wajahnya mengeras.

"Cari semua rekaman gerbang. Hubungi Bambang. Periksa vila dan aset yang masih atas namanya."

Rendra menoleh. "Eyang ingin mencari Sekar atau dokumennya?"

"Keduanya. Jangan biarkan dia bertemu pengacara lebih dulu."

Wida sudah menelepon kepala keamanan. Mobil-mobil disiapkan. Nama Sekar disebarkan kepada orang-orang yang biasa mengawasi properti keluarga.

Rendra menggenggam bunga delima sampai kelopaknya hancur.

Di Puncak, Sekar baru saja mengunci pintu dengan kunci miliknya sendiri.

Di Jakarta, orang-orang yang menginginkan dirinya dan hartanya mulai bergerak untuk membawa keduanya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!