Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Aku sudah bilang aku sudah pensiun" ucap Arka dengan wajah santai. "Tugas kalian hanya satu pastikan ngga ada satupun dari mereka yang berani melangkah dalam radius satu kilometer dari rumahku. Jika ada yang mengganggu Kinanti... "
Arka menggantung kalimantnya, ia menjentikkan puntung rokoknya yang masih menyala, debu debu rokok itu berjatuhan dari atas ke bawah."Bunuh mereka tampa menyisakan jejak"
Kinanti yang sejak tadi memantau dibalik tembok, sontak tubuhnya bergetar hebat. Lututnya terasa lemas bergetar, Suami yang selama ini dikenal hanyalah pedang cilok yang selalu mengaduk adona tiap pagi, kini berbicara tentang pembunuhan seolah itu hal yang biasa.
Saat Kinanti mundur karna syok, tangannya tidak sengaja menyegol tembok yang retak dan berdebu.
Bruk
"Hah!!! " Syok Kinanti melihat tembok yang jatuh ke bawah.
Suara dari tembok yang jatuh itu memecah keheningan pertokoan.
Dalam kurang waktu satu detik,Arka dan belasan pria berjas hitam menoleh tajam ke arah sumber suara, tangan kanan Arka sudah bersiap menarik senjata dari bawah gerobak ciloknya.
"Siapa disana? " Bentak salah satu anak buah seraya merogoh saku jaket yang didalam saku itu tersimpan pistol kecil, tangannya sudah memegang pistol itu dari dalam saku celananya.
"Tahan"seru Arka wajahnya serius, menahan anak buahnya dengan tangan, instingnya mengenali aroma parfum yang ia kenal.
Arka memberi isyarat dengan wajahnya, setengah alisnya terangkat, supaya belasan pria berjas itu segera pergi, Dalam hitungan detik bagai koloni semut pria berjas itu langsung bergerombol masuk ke dalam mobil dan segera berangkat pergi meninggalkan area pertokoan.
Arka menyapu pakaian membesihkan bekas debu rokok yang menempel di pakaiannya.Sorot matanya yang tajam seperti elang berubah menjadi lembut penuh kehangatan, lalu melangkah pergi menuju sumber suara dari balik tembok.
Kinanti keluar dari balik tembok yang berdebu dengan tubuh gemetar dan wajahnya pusat pasi. Kotak makanan yang sempat ia bawa tadi, hampir saja terlepas karna tangannya bergetar hebat.
"Kin? " panggil Arka dengan wajah terkejut yang dibuat buat."Kamu kok ada disini sayang? "
Kinanti menatap wajah Arka dengan tatapan yang campur aduk, antara rasa takut, bingung dan tidak percaya.
"Mas Arka... " suara Kinanti terhenti ditenggorokannya, ia melihat ke arah mobil-mobil mewah yang tadi sempat melaju. "siapa orang-orang tadi? Kenapa Mereka berlutut didepan mas? Trus apa maksud ucapan mas tadi? "
"Orang-orang tadi? "Arka terkekeh pelan tampa dosa, Namun seperti biasa, senyum ramah dan manis itu terukir diwajahnya."Oh, Mereka itu Langganan cilok mas yang dulu pas masih kerja serabutan, mas pernah bantu bos mereka, jadi tiap kali mereka lewat sini, mereka selalu mampir dan beli cilok mas buat anak-anak buahnya "
Kinanti menatap mata suaminya dalam-dalam, mencari kebohongan dari balik matanya. Tapi Arka begitu mahir menutupi segalanya.
"Tapi kenapa mereka manggil mas dengan sebutan 'Tuan'? "Desak Kinanti, Matanya mulai berkaca kaca. "Mas Arka ngga lagi nyembunyiin suatu dari aku kan? "
Arka menggenggam kedua tangan Kinanti, mengusap punggung tangan istrinya yang dingin menggunakan ibu jarinya, sorot matanya memancarkan ketenangan yang kuat biasa, seolah adalah pria paling jujur didunia.
"Tuan? Itu cuma panggil konyol mereka, Kin"ucap Arka dengan terkekeh pelan, nada suaranya begitu hangat dan sangat menyakinkan.
" Dulu pas masih kerja jadi koki serabutan milik bos mereka, ada salah satu anak buah yang manggil mas pake subutan itu, terus yang lainnya malah ikut ikutan panggil mas pake sebutan 'Tuan'", itu cuma candaan orang-orang lapangan, Sayang"
Kinanti menatap dalam-dalam manik manata Arka, mencari keraguan atau kebohongan dibalik matanya. Namun, Arka adalah seorang master dalam mengendalikan ekspresinya, Senyum polos dan tatapan tulusnya membuat keraguan besar dihati Kinanti perlahan goyah.
"Tapi... kenapa meraka sampai berlutut segala? Suara Kinanti melemahkan, membayangkan pemandangan yang sempat ia lihat dibalik tembok beberapa menit yang lalu.
Bos mereka itu sangat memegang adat ketimuran yang kaku, Kin. Mas pernah menyelamatkan anaknya yang hampir tertabrak truk dulu. Makanya setiap kali ketemu, mereka selalu bersikap berlebihan kaya gitu," jawab Arka santai. Ia lalu mengambil kotak bekal dari tangan Kinanti, membuka tutupnya, dan menghirup aroma masakan di dalamnya. "Wah, kamu masakin ayam goreng kesukaan Mas? Makasih ya, Istriku."
Melihat ekspresi gembira Arka saat menyantap makanannya di samping gerobak kayu, pertahanan emosi Kinanti akhirnya runtuh. Rasa takutnya berganti menjadi rasa iba dan bersalah karena telah mencurigai suami yang begitu menyayanginya. Kinanti menghela napas panjang, mengusap keringat di dahi Arka dengan tisunya.
"Maaf ya, Mas... aku malah mikir yang aneh-aneh tentang Mas Arka," gumam Kinanti pelan.
"Nggak apa-apa, Kin. Mas senang kamu perhatian," bisik Arka lembut seraya mengecup manis jemari Kinanti.
Namun di dalam hatinya, Arka tahu bahaya sudah berada di ambang pintu. Cerita bohongnya tidak akan bertahan lama jika klan Red Dragon terus menekan.
Malam harinya, badai angin berembus kencang menggelegarkan atap seng rumah kontrakan mereka. Suara dedaunan kering yang bertabrakan di luar menciptakan suasana mencekam.
Di dalam kamar, Kinanti sudah tertidur lelap karena kelelahan setelah seharian mengajar. Arka duduk di tepi ranjang, mengusap lembut rambut istrinya, membetulkan selimut kain yang menutupi tubuh Kinanti hingga batas dada.
Srett... srett...
Suara gesekan halus dari arah halaman belakang rumah memicu refleks Arka. Itu bukan suara angin. Itu adalah langkah kaki manusia yang berusaha bergerak tanpa suara di atas rerumputan basah.
Arka perlahan bangkit dari ranjang tanpa menimbulkan decitan sedikit pun. Wajah hangat seorang suami runtuh seketika, berganti menjadi raut dingin yang haus darah. Ia merogoh kolong tempat tidur, menarik sebuah kotak besi kecil dan mengeluarkan pistol Glock 19 berperedam suara miliknya.
Arka berdiri di samping jendela kamar yang tertutup gorden tebal. Lewat celah kecil, matanya menembus kegelapan malam.
Di halaman belakang rumahnya yang sempit, empat sosok berbadan besar bersenjata tajam dan bersenjata api mulai melompati pagar kayu. Mereka adalah tim pemukul dari Red Dragon yang sengaja dikirim untuk menghabisi Arka dan menculik Kinanti saat mereka tertidur.
Arka mengokang senjatanya tanpa suara. Matanya berkilat tajam di dalam kegelapan.
Arka menginap keluar lewat pintu dapur dengan gerakan seringakegelapan,Ia sengaja tidak menyalakan lampu,membiarkan tubuhnya berkamuflase dengan bayangan malam.
Dua penyusup penyusup pertam baru saja menginjakkan kaki ditanah basah saat Arka muncul dibalik tempat penyimpanan kayu bakar sebelum mereka sempat menyadari, keberadaannya,.
WUSS Brakk
Arka sudah bergerak secepatnya kilat seolah dia adalah ninja Assasin.Tangan kirinya menyambar tenggorokan penyusup pertama, Menekan titik syaraf dibagian lehernya hingga pria itu terjatuh pingsan tampa memberi sedikit pun perlawanan.
Bersambung..