Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Orang Mati Tidak Bisa Membantah
Berita kematian Bella tiba di rumah Arya pukul empat lewat dua belas menit pagi.
Anindya terbangun ketika lampu meja di sisi ranjang menyala. Arya duduk diam dengan ponsel di tangan. Wajahnya tidak berubah, tetapi jemarinya mencengkeram tepi perangkat begitu kuat hingga buku-bukunya memutih.
"Apa yang terjadi?" tanya Anindya.
Arya menunjukkan layar.
Artis Bella Anggraini meninggal setelah jatuh dari atap apartemen. Polisi menduga kecelakaan akibat alkohol. Keluarga Halim berduka.
Di bawah judul, foto lama Bella tersenyum di samping Reno sudah dipasang.
Anindya bangkit. "Bukankah dia baru bilang takut?"
"Ya."
Hanya satu suku kata. Arya berdiri dan mengambil jaket. Ia tidak mengatakan bahwa hidup Bella adalah tanggung jawabnya. Ia tahu itu tidak benar. Namun pengetahuan tidak menghapus rasa bersalah karena ia membiarkan perempuan itu pergi dengan hanya janji seorang pengacara yang belum sempat tiba.
"Saya ikut," kata Anindya.
"Kamu tidak harus."
"Saya tahu."
Arya berhenti di depan pintu. "Saya menemuinya kemarin. Kalau saya memaksa dia masuk rumah aman..."
"Kamu tidak bisa mengurung orang dewasa demi melindunginya."
"Dia meminta pertolongan."
"Dan kamu memberinya pilihan, pengacara, serta cara menyimpan bukti. Kesalahan orang yang mendorongnya bukan berpindah kepadamu hanya karena kamu gagal meramalkan malam ini."
Arya menatap lantai. Kalimat itu tidak menghapus beban, tetapi mencegahnya berubah menjadi kemarahan buta.
"Saya tidak akan bilang jangan merasa bersalah," lanjut Anindya. "Saya hanya meminta kamu tidak membayar rasa bersalah itu dengan tindakan yang menghancurkan bukti."
Arya akhirnya mengangguk. Mereka berangkat dengan Bara mengemudi dan tanpa satu pun mobil Naga Timur mengikuti. Pagi itu, perlindungan terbaik bukan pasukan yang terlihat, melainkan catatan yang tidak bisa dibeli.
Mereka tiba di kantor PE sebelum fajar. Kevin, Gilang, dan Rani sudah menunggu. Layar menampilkan lebih dari lima puluh artikel dengan narasi sama: Bella mabuk, berjalan sendirian, dan jatuh. Beberapa menyebut Reno mencoba menyelamatkannya.
"Pernyataan resmi keluar dua puluh menit setelah ambulans datang," kata Kevin. "Terlalu cepat untuk pemeriksaan, tapi cukup cepat untuk membentuk versi pertama."
"Rina?" tanya Arya.
"Telepon utama mati. Lokasi terakhir di apartemen."
Gilang mengangkat tangan sebelum Arya memberi perintah. "Kita tidak boleh mendatangi TKP atau menekan saksi. Saya sudah menghubungi penyidik melalui jalur resmi dan meminta status Rina sebagai orang yang berada di lokasi."
"Lakukan."
Sementara itu, serangan buzzer berubah arah. Akun-akun yang kemarin menuduh Arya berselingkuh kini mengunggah potongan foto pertemuannya dengan Bella di kafe.
Mantan suami menemui Bella diam-diam sebelum kematian.
Ada yang menulis bahwa Bella putus asa setelah Arya menolak kembali. Yang lain menyebut Arya mengancamnya agar tidak membongkar pernikahan kontrak dengan Anindya.
"Bom empat puluh delapan jam mereka adalah kematian Bella," kata Rani, suaranya bergetar.
Kevin menggeleng. "Hitung mundur masih berjalan. Mereka mungkin memakai kematian ini untuk menyiapkan sesuatu yang lain."
Anindya membaca satu artikel sampai akhir. Lalu ia berdiri di depan kamera internal yang disiapkan tim komunikasi.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arya.
"Mengatakan apa yang saya tahu."
"Mereka akan menyerangmu."
"Mereka sudah menyerang saya."
Pernyataan Anindya disiarkan singkat. Ia menyampaikan belasungkawa, memastikan bahwa ia mengetahui pertemuan Arya dan Bella, dan menyebut tujuan pertemuan berkaitan dengan kekhawatiran keselamatan yang tidak dapat dirinci agar tidak mengganggu penyelidikan.
"Suami saya tidak menyembunyikan pertemuan itu dari saya," katanya menatap kamera. "Kami akan bekerja sama dengan kepolisian dan menyerahkan bukti melalui proses hukum. Saya meminta semua pihak berhenti mengubah kematian seseorang menjadi bahan fitnah sebelum keluarganya sempat berduka."
Video itu tidak menghentikan akun palsu. Namun ia meruntuhkan klaim utama bahwa pertemuan berlangsung diam-diam.
Pukul enam pagi, Hendra muncul di televisi bersama pengacaranya. Matanya merah, suaranya pecah pada tempat yang tepat. Ia berkata Bella adalah calon menantu yang dicintai dan Reno berada dalam keadaan syok setelah gagal menyelamatkannya.
Pengacara keluarga Halim menambahkan bahwa saksi melihat Bella mengonsumsi alkohol berlebihan dan berjalan sendiri ke sisi atap.
"Mereka sudah mengunci cerita," kata Gilang.
"Cerita bukan bukti," jawab Arya.
"Tapi cerita yang lebih dulu dipercaya bisa menentukan bagaimana orang membaca bukti nanti."
Sebuah pesan masuk ke telepon Kevin dari nomor tidak dikenal. Isinya satu gambar buram dari kamera koridor. Dua pria terlihat membawa kantong sampah keluar dari pintu atap setelah ambulans tiba. Di belakang mereka, Hendra berdiri sambil menyerahkan sesuatu berwarna putih.
Pesan kedua menyusul: Saya Kirana. Saya tidak bisa bicara lama. Kamera atap mati, tapi koridor tidak. Mereka meminta salinan rekaman dihapus.
Kirana adalah jurnalis investigasi yang beberapa kali membongkar manipulasi tender kota. Kevin segera memindahkan percakapan ke kanal aman.
"Tanya apakah dia memegang file asli," kata Arya.
Balasan datang: Ya. Dengan cap waktu dan hash dari server gedung.
Gilang mengembuskan napas. "Itu belum membuktikan dorongan, tapi cukup untuk meminta pemeriksaan penghilangan barang dan rekaman."
"Kirim kepada penyidik melalui surat tercatat dan minta tanda terima," kata Arya. "Jangan unggah dulu."
Gilang menyusun permohonan agar server asli disegel dan rekamannya dibuat salinan forensik di hadapan pengelola gedung. Ia juga meminta pemeriksaan log akses kartu, panel lift, serta daftar petugas pemeliharaan kamera. Setiap permintaan dikirim terpisah agar penolakan satu pihak tidak menghilangkan jejak permintaan lainnya.
"Kalau server mendadak rusak?" tanya Kevin.
"Kita punya hash Kirana dan catatan bahwa pengelola sudah diberi tahu untuk menjaga barang bukti," jawab Gilang. "Kerusakan setelah pemberitahuan akan menjadi masalah baru bagi mereka."
Arya menyetujui tanpa menambahkan nama Adiwangsa pada surat. Ia ingin penyidik melihat bukti, bukan tekanan keluarga besar. Pada saat yang sama, Herman diminta mencari Rina tanpa memasuki rumah, meretas telepon, atau menyentuh siapa pun. Cukup kendaraan, kamera jalan yang sah, dan saksi pemilik warung.
"Kalau tim Halim menemukannya dulu?" tanya Herman melalui pengeras suara.
"Laporkan lokasi dan hubungi polisi," kata Arya. "Jangan jadikan penyelamatan sebagai alasan untuk perang jalanan."
Rani menatapnya. "Kalau kita tahan, Hendra menang di media pagi ini."
"Kalau kita unggah tanpa melindungi Kirana, dia menjadi sasaran berikutnya."
Arya memandang foto Bella di layar. Banyak orang baru menyebutnya korban setelah ia tidak lagi bisa memilih kata-katanya sendiri. Semasa hidup, mereka menyebutnya materialistis, pengkhianat, atau alat publisitas. Kini kematiannya dipotong untuk memenuhi kebutuhan kubu berbeda.
"Orang mati tidak bisa membantah," katanya. "Karena itu kita tidak akan menaruh kata-kata baru di mulutnya. Cari apa yang benar-benar ia tinggalkan."
Kevin mencoba kembali menghubungi Rina. Kali ini sambungan masuk selama tiga detik. Tidak ada suara, hanya bunyi pintu mobil ditutup dan napas seseorang yang tergesa.
Lalu sambungan terputus.
Sebuah titik lokasi muncul sesaat di pinggir Surabaya sebelum menghilang.
Arya berdiri. "Sekarang kita cari saksi yang masih hidup."