Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Pagi hari di kota Bandung selalu dimulai dengan tergesa-gesa. Klakson kendaraan bersahut-sahutan, derap langkah kaki para pekerja memadati trotoar dan riuh rendah suara obrolan orang-orang memenuhi udara. Namun, di tengah semua kebisingan itu, ada sebuah dunia yang begitu hening.

Dunia itu milik Nadia, gadis berusia 24 tahun itu berdiri di depan cermin kamar mandinya yang sederhana. Ia menguncir rambut hitam bergelombangnya menjadi ekor kuda yang rapi, menyisakan beberapa helai poni yang membingkai wajah ovalnya.

Nadia mengalami gangguan pendengaran sebagian, sehingga ia tidak bisa mendengar dengan jelas seberapa keras bunyi klakson di luar jendelanya dan ia juga tidak bisa mengeluarkan suara untuk menyapa dunia karena ia terlahir sebagai seorang tunawicara.

Namun, jika ada satu hal yang paling keliru dilakukan orang saat pertama kali bertemu Nadia, itu adalah mengasihaninya.

Nadia menatap pantulan dirinya di cermin lalu mengulas sebuah senyuman lebar hingga matanya yang bulat menyipit jenaka, lesung pipit di pipi kirinya menyembul dan memancarkan energi ceria yang seolah bisa menular kepada siapa saja yang melihatnya.

Bagi Nadia, tidak bisa berbicara bukanlah akhir dari segalanya. Suara mungkin adalah cara paling umum untuk berkomunikasi, tetapi baginya, ekspresi wajah, binar mata dan ketulusan sikap adalah bahasa universal yang jauh lebih kuat.

Nadia keluar dari kamarnya yang berukuran tiga kali tiga meter menuju dapur kecil rumahnya, sang ibu sedang menata beberapa potong tempe goreng di atas piring.

Keluarga Nadia adalah keluarga biasa, bahkan cenderung pas-pasan. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas dan ibunya menerima jahitan rumahan, rumah mereka kecil dan terletak di dalam gang sempit yang padat, jauh dari kemewahan.

Nadia mendekati ibunya, mencolek bahunya pelan lalu jemari tangannya bergerak dengan lincah dan luwes.

"Selamat pagi, Ibu cantik. Sarapan apa kita hari ini?" gerak isyarat tangan Nadia, ditemani anggukan kepala yang bersemangat dan senyum yang tak pernah pudar.

Ibu Sintia yang sudah fasih memahami bahasa isyarat putrinya pun tersenyum hangat, "Pagi, sayang. Ini, tempe goreng dan sambal korek kesukaanmu. Ayo sarapan, nanti kamu terlambat ke kampus," jawab Ibu Sintia menggunakan bahasa isyarat.

Nadia mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah-olah hidangan itu adalah makanan bintang lima, keceriannya selalu menjadi suplemen penambah semangat bagi kedua orang tuanya.

Di saat anak-anak lain yang memiliki keterbatasan fisik mungkin mengurung diri atau meratapi nasib, Nadia justru tumbuh menjadi badut pelipur lara di rumah sederhana mereka.

Sambil mengunyah sarapannya, Nadia melirik kalender dinding. Hari ini adalah hari pertamanya memulai semester empat di program Magister (S2) Jurusan Desain di salah satu universitas swasta terbaik dan termegah di kota Bandung.

Jika seseorang melihat latar belakang ekonomi keluarga Nadia, kuliah S2 di tempat elit seperti itu jelas hanyalah mimpi di siang bolong. Biaya per semesternya saja bisa setara dengan penghasilan Ayah Nadia selama setengah tahun. Namun, Nadia membuktikan bahwa batasan itu bisa didobrak.

Nadia tidak menyerah pada takdir. Dengan otak encer, kreativitas yang tanpa batas dan ketekunan yang luar biasa, Nadia berhasil menyabet beasiswa penuh. Beasiswa itu tidak hanya membiayai seluruh uang kuliahnya hingga lulus, tetapi juga memberikan tunjangan buku dan biaya hidup bulanan.

Nadia lolos setelah menyisihkan ribuan pendaftar normal lainnya melalui portofolio desainnya yang luar biasa indah dan presentasi tertulis yang memukau para dewan juri.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Nadia mencium pipi ibunya sekilas, lalu mengalungkan tas ransel kanvasnya yang penuh dengan buku sketsa dan laptop tua, satu-satunya modal berharganya yang dibeli dari hasil menabung uang saku S1 dulu.

Sebelum melangkah keluar pintu rumah, Nadia berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, menghirup udara pagi dalam-dalam, lalu membukanya dengan binar tekad yang menyala-nyala.

"Dunia mungkin tidak bisa mendengar suaraku, tapi mereka akan melihat karya-karyaku. Aku kuat, aku mampu dan hari ini adalah langkah baru untuk menjemput masa depanku," bisik Nadia dalam hatinya, sebuah mantra yang selalu ia rapalkan setiap hari.

Dengan langkah kaki yang ringan dan senyum yang merekah, perempuan tangguh itu berjalan membelah gang sempit dan siap menaklukkan dunia yang bising dengan keheningannya yang penuh warna.

Perjalanan dari rumahnya menuju kampus memakan waktu sekitar empat puluh menit menggunakan angkutan umum. Di dalam angkot yang sesak dan panas, Nadia sama sekali tidak terlihat terganggu, ia justru sibuk mengamati sekelilingnya.

​Ketika angkot berhenti di depan gerbang megah universitas, Nadia turun dengan senyuman yang masih tersemat di bibirnya. Kampus swasta elit ini berdiri dengan arsitektur modern yang megah, dikelilingi taman-taman hijau yang tertata rapi.

Mahasiswa-mahasiswa yang berlalu-lalang mayoritas turun dari mobil-mobil mewah, mengenakan pakaian bermerek dan menenteng ponsel keluaran terbaru.

​Nadia melangkah dengan percaya diri, meskipun pakaiannya hanyalah kemeja flanel sederhana dan sepatu kanvas yang warnanya sudah sedikit memudar, ia tidak merasa rendah diri sedikit pun. Baginya, ia bisa berada di sini karena kemampuannya, bukan karena isi dompet orang tuanya.

​Sesampainya di gedung fakultas desain, Nadia langsung menuju ruang kelasnya di lantai tiga. Begitu ia melangkah masuk, beberapa teman sekelasnya melambaikan tangan dengan ramah.

​"Pagi, Nadia!" sapa salah satu temannya, dengan suara lantang.

​Nadia membalasnya dengan lambaian tangan yang heboh dan senyuman lima jari yang khas, lalu menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai tanda terima kasih atas sapaan itu. Ia kemudian duduk di bangku baris kedua, mengeluarkan laptop tuanya dan bersiap mengikuti perkuliahan.

​Dosen pertama mereka hari ini adalah Profesor Rahardjo, seorang kurator seni ternama yang terkenal sangat tegas dan pelit memberikan nilai. Topik hari ini adalah tentang rekonstruksi identitas budaya dalam desain modern. Ketika sesi diskusi dibuka, Profesor Rahardjo melemparkan sebuah pertanyaan pemantik yang cukup rumit mengenai bagaimana menggabungkan unsur tradisional tanpa terkesan kuno.

​Suasana kelas sempat hening selama beberapa saat. Mahasiswa lain tampak saling pandang dam ragu untuk menjawab, Nadia tersenyum tipi lalu jemarinya dengan cepat mengetik sesuatu di sebuah aplikasi khusus di tablet grafis kecilnya yang terhubung dengan layar proyektor kelas, sebuah fasilitas aksesibilitas yang ia ajukan khusus kepada pihak kampus sejak awal semester.

Layar di depan kelas menampilkan tulisan dan sketsa kasar yang dibuat Nadia dalam hitungan detik.

​Profesor Rahardjo membaca tulisan itu, lalu menatap Nadia yang sedang memberikan anggukan mantap dengan mata berbinar penuh semangat, senyum tipis terukir di wajah sang dosen yang biasanya kaku.

​"Analisis yang sangat tajam, Nadia. Luar biasa," puji Profesor Rahardjo, dengan mengacungkan jempolnya.

​Nadia hanya tersenyum jenaka, menepuk kedua pipinya sendiri dengan ekspresi pura-pura malu yang membuat seisi kelas tertawa kecil. Suasana di sekelilingnya selalu terasa positif. Di titik ini, hidup Nadia terasa begitu sempurna, ia memiliki mimpi yang jelas, otak yang cerdas dan lingkungan yang menghargainya.

.

.

.

Bersambung.....

* Mungkin kedepannya bakal banyak menggunakan bahasa isyarat, kira-kira untuk dialog bahasa isyaratnya pakai tulisan miring atau biasa aja ya enaknya?

1
Felycia Fernandez
bisa bisa nya lupa ma istri sendiri...
se brutal apa pun masalah kalau istri yang utama di hati pasti langsung mentok di istri...😤
erviana erastus
selisih lagi satu mencari satux lagi pulang 😏
erviana erastus
omg nadia ini nambahin masalah aza duduk diam dit4 knp sih? 🤬
Asri Yunianti
Jangan sampai terjadi apa² dg nadia
erviana erastus
aksa dilawan hadehhh habis lah kalian semua
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuiuuuuuuuuut😍
LIANI LA BUNGA YANI
😍😍😍
LIANI LA BUNGA YANI
ciiiiie🤣😍
LIANI LA BUNGA YANI
selamaaaat berbahagiaaaaaaa😍
LIANI LA BUNGA YANI
😭😭😭😭
LIANI LA BUNGA YANI
🥹🥹🥹😭😭😭😭😭😭😭
Felycia Fernandez
anget anget donk hidungnya ada cabai nya 😆😆😆
Titik Subekti
smangat nadia jgn pernah kalah walau kita punya kekurangan
falea sezi
kasih tablet lah pak atau hape biar g nulis terus istrinya atau belajar bahasa isyarat
Felycia Fernandez
keren...nggak perlu pake tulisan lagi
Raisha
mantap,Aksa dah belajar bahasa isyarat😃...Nadia jadi tambah nempel tho itu😂😂😂
erviana erastus
ratih2 dasar manusia serakah, emang kamu bisa meras aksa 🤣 jgn kan uang hidupmu bakalan hancur semoga aza nggak masuk penjara
Felycia Fernandez
melawan orang kaya sama aja cari mati Ratih..
udah tua bukannya cari hidup damai malah masih mikirin harta orang...

jadi ingat temanku yang di pisahkan dari anak kandung karena keluarga pacarnya nggak merestui.bahkan ketika temanku hamil mereka ngotot minta tes DNA dulu demi membuktikan itu cucu mereka atau bukan.setelah bayi lahir malah mereka merebut hak asuhnya.uang bisa mengatur segalanya..😤
Felycia Fernandez
aku juga mau Nadia 🤤
Raisha
kok aneh ya Thor,di paragraf sebelumnya,mereka selesai membuat risoles sore hari tapiii di paragraf ini,Mama Bella melihat jam di dinding baru pukul 12 siang,yg bener yg mana Thor?🤔... lagian bikin risoles sebanyak itu cuma 1 jam kok cepet banget😂😂
Raisha: iya Thor,dimaafkan kok😂... terimakasih untuk ceritanya ya🙏😍😃
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!