Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Bel sekolah San Vicente biasanya berdenting seperti undangan untuk bermain, tapi sore itu, bagi Victoria, ia berbunyi seperti alarm kebakaran. Ia baru saja menyelesaikan jahitan keliman sebuah seragam ketika telepon bakelit di bengkelnya bergetar dengan desakan yang agresif. Itu kepala sekolah, Bu Martínez. Suaranya, yang biasanya tenang, kini bernada kebingungan dengan sedikit rasa takut yang membuat darah Victoria membeku.
"Bu Vicky, Ibu harus datang sekarang juga. Ada insiden dengan León dan Cristo."
Victoria tidak bertanya apa-apa. Ia menyambar selendangnya, mengunci pintu, lalu berlari menyusuri jalan-jalan berbatu. Udara dingin sore itu menampar wajahnya, tapi kobaran api justru menyala di dadanya. Apa yang telah mereka perbuat? tanyanya dalam hati, sementara bayangan "tatapan dingin" León sore kemarin kembali ke benaknya bagai sebuah firasat.
Ketika tiba di ruang kepala sekolah, keheningan terasa pekat, nyaris padat. Di satu sudut, duduk di kursi kayu yang terlalu besar untuk tubuhnya, ada León. Ada bekas darah di bibirnya dan buku-buku jarinya sedikit memerah, tapi sikapnya adalah ketenangan yang menakutkan. Ia tidak menangis, tidak bergerak; ia hanya memandang tembok dengan ketajaman analitis. Di sampingnya, Cristo menggenggam tangan kakaknya, matanya menyipit, menilai orang-orang dewasa di ruangan itu seolah mereka bidak-bidak di sebuah papan permainan yang mencurigakan.
Di sudut yang lain, seorang anak kelas empat, jauh lebih besar dari si kembar, menangis tanpa henti sementara ibunya mengompres mata birunya dengan es.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Victoria, suaranya nyaris hanya bisikan, sambil mendekati kedua putranya.
Kepala sekolah itu mengembuskan napas, memijat pelipisnya.
"Vicky, ini sulit dijelaskan. Anak yang lebih besar, Enzo, mencoba merebut bekal makan siang Cristo. Yang biasanya cuma berakhir dengan dorongan atau laporan, dalam hitungan detik berubah gawat. León tidak sekadar membela adiknya… ia melakukannya dengan ketepatan yang tidak wajar untuk anak lima tahun. Itu bukan perkelahian anak-anak, itu sebuah pelumpuhan."
Victoria memandang León. Bocah itu mengangkat wajahnya dan, selama satu detik, ia tidak melihat putranya yang berusia lima tahun. Ia melihat pantulan Dante pada suatu malam ketika amarah yang tertahan menyelimutinya.
"Dia yang menyentuh duluan, Mama," ucap León. Suaranya kecil, tapi tanpa nada tajam penyesalan. "Aturannya bilang tidak boleh menyentuh yang bukan milik kita. Aku cuma memastikan aturan itu ditegakkan."
"Dia monster kecil!" jerit ibu anak yang satu lagi. "Dia hampir mematahkan lengan anak saya! Dan adiknya cuma berdiri di sana, memberitahunya bagian mana yang harus dipukul!"
Victoria merasa dunianya runtuh. Cristo, sang ahli strategi yang senyap, dan León, sang eksekutor. Kombinasi sempurna yang telah disempurnakan Dante Moretti di dalam imperiumnya, kini menjelma di sebuah halaman bermain sekolah.
"Saya minta maaf sekali," Victoria tergagap, menggenggam tangan si kembar. "Tidak akan terulang lagi. Saya bawa pulang mereka."
"Vicky…" kepala sekolah itu menahannya di pintu, dengan tatapan penuh iba. "Anak-anak itu punya sesuatu… sesuatu yang bukan milik desa ini. Berhati-hatilah. Ada bayang-bayang yang tak bisa disembunyikan dengan hidup yang sederhana."
Victoria keluar dari ruangan itu dengan kaki terasa berat bagai timah. Ia menyeberangi koridor sekolah, mengawal kedua putranya seolah mereka harta yang terlarang. Saat melangkahi ambang pintu utama, matahari sore membutakannya sesaat.
Tapi ketika pandangannya kembali jelas, udara lenyap dari paru-parunya.
Tepat di depan gerbang, menghalangi jalan orang tua murid lainnya, terparkir sebuah mobil hitam mewah. Itu model antipeluru, bergaris agresif dan berkilau rapi hingga berteriak "uang" dan "bahaya". Mesinnya menyala, mendengung dalam bunyi rendah yang membuat tanah bergetar di bawah kaki Victoria.
Jantungnya berhenti. Si kembar menegang serentak. León melangkah maju, meremas tangan ibunya, sementara Cristo merapat ke sisi tubuh sang ibu, matanya menyapu kaca gelap kendaraan itu.
Pintu pengemudi terbuka dan seorang pria tinggi, dengan setelan abu-abu yang terpotong sempurna, turun dari mobil. Bukan Dante. Itu Marco, lelaki yang Victoria ingat sebagai bayang-bayang yang tak pernah lepas dari suaminya.
Marco melepas kacamata hitamnya dan menatap Victoria dengan campuran hormat dan kepasrahan.
"Nyonya Moretti," ucap Marco. Penggunaan nama marga yang sebenarnya itu terasa bagai tamparan di tengah alun-alun umum. "Tuan sudah menunggu Anda."
Victoria melihat sekelilingnya. Orang tua murid lainnya menjauh, secara naluri merasa mereka tak seharusnya berada di dekat pemandangan itu. Keheningan desa itu berubah bagai kuburan, hanya dipecah oleh raungan tumpul mesin.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun," jawab Victoria, mencoba memancarkan kekuatan yang tak ia rasakan. Jari-jarinya menekan bahu kedua putranya. "Suruh dia enyah. Tidak ada yang bisa dia cari di sini."
"Anda tahu itu tidak benar," balas Marco, melangkah mendekat. Matanya menyimpang sedetik ke arah kedua bocah itu, dan percikan keheranan melintas di wajah profesionalnya begitu ia melihat kemiripan mereka. "Tuan Moretti tidak menerima 'tidak' sebagai jawaban. Apalagi hari ini."
Pada saat itu, kaca belakang mobil turun perlahan.
Victoria merasa waktu membeku. Dari keremangan di dalam kendaraan, sebuah tangan dengan cincin bermeterai keluarga yang tak asing bertumpu di bingkai jendela. Lalu, muncullah wajah itu.
Dante Moretti menatapnya dengan intensitas yang seakan membakar udara di antara mereka. Mata kelabunya, kembar dengan mata León, mula-mula terpaku pada Victoria, dengan campuran benci, hasrat, dan kelegaan yang membuatnya gemetar.
Tapi kemudian, tatapan Dante beralih ke bawah. Berhenti pada dua bocah kecil yang mengamatinya dengan campuran perlawanan dan rasa ingin tahu.
Dante tidak berkata apa-apa. Tak perlu. Guncangan emosinya terlihat dari cara raut wajahnya, yang biasanya sekeras batu, mengejang sedikit. Ia melihat bibir León yang terbelah dan sikap melindungi Cristo. Ia melihat warisan darahnya sendiri, hidup, bernapas, dan nyaris meledak di tengah sebuah desa yang tak berarti.
"Naik ke mobil, Victoria," ucap Dante. Suaranya bukan teriakan; itu bisikan dengan bobot sebuah vonis pengadilan. "Jangan sampai anak-anakku melihat cara aku memperlakukan orang-orang yang membangkang padaku."
León melepaskan tangan Victoria dan melangkah menuju mobil, matanya terpaku pada lelaki yang tak pernah ia lihat tapi ia kenali di setiap atom dirinya.
"Kau lelaki yang di foto itu?" tanya bocah itu, dengan suara yang meniru dinginnya sang mafia.
Dante turun sepenuhnya dari mobil. Ia menegakkan diri, memperlihatkan tinggi tubuhnya yang menjulang, lalu berjalan menuju putranya. Ia berjongkok di depan León, mengabaikan Victoria dan Marco. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, sang Capo mafia Moretti berlutut, sekalipun hanya secara jasmani.
"Aku ayahmu," jawab Dante, dan selama satu detik, suaranya retak. "Dan aku datang untuk membawa kalian pulang."
Victoria merasa dunia berputar dengan liar. "Sangkar emas" itu baru saja membuka pintunya di tengah jalan, dan tak ada hutan maupun rahasia yang cukup dalam untuk melindungi mereka dari bayang-bayang yang kini datang menuntut mereka kembali.