Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Gelang yang Kembali

Tiga hari setelah bertemu Ayah, Mbak Laras mengirim alamat sebuah rumah di Dago dan meminta aku datang sendirian.

Rumah itu milik temannya yang sedang keluar kota. Tidak ada mobil keluarga di halaman, hanya pot bugenvil dan dua kardus besar berisi barang pertunangan yang belum dikembalikan.

Mbak Laras membukakan pintu dengan wajah tenang yang tampak dilatih.

"Aku cuma mau bicara tanpa Ibu," katanya.

Di ruang tamu, semua jejak rencana pernikahan ditumpuk seperti barang salah kirim. Kain batik untuk seragam keluarga, contoh undangan, kotak suvenir, dan bingkai berisi foto Mbak Laras bersama Damar berdiri menghadap dinding.

Ia menuangkan teh, tetapi tangannya berhenti sebelum mendorong cangkir kepadaku.

"Kamu nggak perlu minum kalau nggak mau."

Aku menghargai bahwa ia mengingat ketakutanku, meski ia belum mengatakan percaya.

"Mbak mau bicara apa?"

"Aku akan bilang kepada keluarga besar bahwa kami berdua sepakat membatalkan pertunangan." Ia menatap tumpukan kardus. "Itu bohong, tapi lebih mudah daripada menjelaskan aku ditinggalkan tanpa alasan."

"Mbak nggak harus melindungi nama Mas Damar."

"Aku melindungi diriku sendiri."

Aku mengangguk. "Kalau itu pilihan Mbak."

"Teman kantor mulai mengirim pesan belasungkawa seperti ada orang meninggal," katanya. "Budhe Sari menyarankan Ibu bilang aku yang membatalkan karena ingin fokus bekerja. Pakdhe Warto malah bertanya apakah ada laki-laki lain. Tidak seorang pun bertanya apakah aku masih bisa tidur."

Aku melihat lingkar gelap di bawah matanya. Dulu aku iri pada semua hal yang diberikan kepadanya, kamar lebih besar, telur terakhir, perhiasan Lebaran, dan calon suami yang membuat Ibu membanggakan nama keluarga. Sekarang benda-benda itu tampak seperti panggung yang dibangun terlalu tinggi. Ketika Mbak Laras jatuh, orang-orang hanya khawatir dekorasinya rusak.

"Mbak sudah makan?"

Ia tertawa lirih. "Itu pertanyaan pertama yang nggak berhubungan dengan nama baik."

Aku membuka tas dan mengeluarkan dua lemper yang dibungkus Bu Lina. Kami makan tanpa piring, membiarkan remah jatuh di atas tisu. Tidak ada yang terasa pulih, tetapi selama beberapa menit kami kembali menjadi dua saudara yang pernah berbagi jajanan di belakang sekolah.

"Aku marah kepadamu," katanya setelah suapan terakhir. "Tapi aku juga rindu adikku."

"Aku masih di sini, Mbak. Aku cuma nggak bisa kembali menjadi orang yang selalu diam."

"Mungkin itu orang yang seharusnya nggak pernah kami minta darimu."

Tatapannya melembut sesaat. "Aku juga akan bilang tuduhanmu bukan penyebabnya. Ibu harus berhenti menyerangmu."

"Terima kasih."

"Bukan berarti aku sudah tahu apa yang benar." Jemarinya menyentuh bekas cincin. "Aku cuma capek dipakai sebagai alasan semua orang untuk saling melukai."

Kami duduk dalam hening. Untuk pertama kalinya sejak malam aku bicara di depan keluarga, kesunyian di antara kami tidak terasa seperti hukuman.

"Aku nggak ingin mengambil apa pun dari Mbak," kataku.

"Aku tahu." Suaranya nyaris patah. "Mungkin aku selalu tahu, tapi lebih mudah marah kepadamu daripada menerima bahwa aku salah menilai seseorang selama bertahun-tahun."

Bel pintu berbunyi.

Mbak Laras melihat jam. "Harusnya kurir. Ada barang kantor Mas Damar yang tertinggal di kardusku."

Ketika pintu dibuka, bukan kurir yang berdiri di sana.

Damar mengenakan kemeja abu-abu dengan lengan digulung rapi. Ia membawa map dan satu kotak kecil berlapis beludru gelap.

Tubuhku langsung kaku.

"Saya sedang di Bandung," katanya, seolah kehadirannya kebetulan. "Sekalian mengambil dokumen yang salah dikemas."

Mbak Laras memucat, tetapi mengangkat dagu. "Mas bisa menunggu di teras."

"Tentu."

Tatapan Damar berpindah kepadaku. Hanya satu detik, cukup untuk membuat ruang tamu menyempit.

Aku meraih ponsel di dalam tas dan mengirim lokasi kepada Rangga.

Jemput aku sekarang.

Mbak Laras membawa salah satu kardus ke lantai atas karena dokumen itu terselip bersama album foto. Damar tetap dekat pintu. Aku berdiri di ujung ruang tamu, menjaga meja di antara kami.

"Kamu terlihat lebih sehat," katanya.

"Jangan bicara kepadaku."

"Saya datang mengembalikan milikmu."

"Aku tidak punya urusan dengan barang Mas."

"Yang ini berbeda."

Ia membuka kotak beludru.

Gelang giok itu terbaring di dalamnya.

Udara seperti hilang dari paru-paruku. Tanganku otomatis menyentuh kunci yang masih tergantung di leher.

"Bagaimana gelang itu bisa ada pada Mas?"

"Kamu meninggalkannya."

"Di laci terkunci."

"Kunci murah bukan batas yang berarti."

Ia mengatakannya datar, tanpa rasa bersalah. Pengakuan bahwa ia memasuki kamarku dan mengambil sesuatu justru disampaikan seperti koreksi atas kebodohanku.

"Kapan?"

"Sebelum kita ke Surabaya. Saya datang mengantar dokumen kepada Laras. Keluargamu sibuk di dapur."

Tidak ada penjelasan tentang cara ia membuka laci, dan aku tidak menginginkannya. Fakta bahwa ia bisa berada di kamarku tanpa kuketahui sudah cukup membuat kulitku terasa kotor.

"Mas mencurinya."

"Saya mengambil kembali barang yang saya berikan."

"Lalu sekarang mau mengembalikannya?"

"Saya berubah pikiran."

Langkah terdengar di lantai atas. Aku hendak mundur menuju tangga, tetapi Damar bergerak lebih cepat. Ia tidak menyentuh tubuhku. Ia hanya berdiri di jalur yang harus kulewati, membuat pilihan jalan mengecil.

"Minggir."

"Ulurkan tanganmu."

"Tidak."

"Sekar."

Nada itu sama dengan suara yang muncul dalam pecahan ingatanku. Lututku melemah sesaat. Damar memanfaatkan jeda itu untuk menangkap pergelangan tanganku.

Aku menariknya, tetapi ibu jarinya sudah menekan pengait gelang. Lingkar giok dingin menutup kulitku dengan bunyi kecil.

Klik.

Suara itu lebih keras daripada seharusnya.

"Lepaskan."

"Gelang ini cocok untukmu."

Aku mencoba membuka pengaitnya dengan satu tangan. Damar menahan pergelanganku cukup lama untuk membuatku menatapnya.

"Jangan pernah masuk kamarku lagi."

"Kamu tidak tinggal di sana lagi."

"Tetap bukan milik Mas."

"Saya tahu apa yang menjadi milik saya."

Pintu lantai atas terbuka. Ia melepaskanku sebelum Mbak Laras turun membawa map hitam.

"Ini dokumennya," kata Mbak Laras. Matanya jatuh ke gelang di tanganku. Langkahnya berhenti. "Itu..."

"Barang Sekar yang tertinggal," jawab Damar.

"Bukan tertinggal," kataku. "Dia mengambilnya dari laci kamarku."

Wajah Mbak Laras kehilangan warna.

Damar mengambil map tanpa menyangkal. "Saya sudah mengembalikannya."

"Mas masuk kamar Sekar?"

"Hanya mengambil barang saya."

"Kalian bisa terus bicara seolah aku nggak ada," kataku, "tapi gelang ini bukan alasan Mas boleh menyentuhku."

Damar menatapku, tenang dan tidak menyesal. "Benar. Gelang itu bukan alasannya."

Klakson terdengar dari luar. Rangga sudah tiba.

Aku bergerak menuju pintu. Damar tidak mencegah, tetapi ketika aku melewatinya, suaranya jatuh tepat di dekat telingaku.

"Kita belum selesai."

Di halaman, aku melihat motor Rangga berhenti di seberang gerbang. Namun sebelum aku sempat mencapainya, Damar keluar di belakangku dan menutup pintu rumah, memisahkan kami dari Mbak Laras yang masih berdiri di dalam.

Tangannya menahan gerbang.

"Sebelum kamu pergi," katanya, "ada beberapa pertanyaan yang seharusnya sudah kamu ajukan sejak awal."

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!