Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Menantu Harus Tahu Diri
Sejak kepulangan Pak Haris, suasana rumah memang terlihat lebih tenang. Tidak ada bentakan.
Tidak ada tuduhan. Namun... Aku justru merasa lebih tidak nyaman. Karena kini setiap gerak-gerik ku seperti selalu diperhatikan.
Pagi itu aku sedang menyiram tanaman di depan rumah. Pak Haris keluar sambil membawa secangkir kopi.
"Fitri."
"Iya, Yah."
"Kamu berangkat kerja jam berapa?"
"Jam delapan, Yah."
"Masih lama berarti."
"Iya."
Beliau mengangguk pelan. "Lain kali sebelum berangkat, halaman disapu dulu."
Aku melihat halaman. Padahal baru saja ku sapu lima belas menit yang lalu.
"Iya, Yah."
"Rumah itu wajah keluarga. Jangan sampai tetangga melihat rumah kotor."
"Baik, Yah."
Aku kembali mengambil sapu. Meski halaman sudah bersih, aku menyapunya sekali lagi. Dari balik jendela, Bu Mirna tersenyum puas.
Sore harinya, aku baru saja pulang kerja. Tas kerjaku bahkan belum sempat ku taruh.
"Fitri." Bu Mirna memanggil dari ruang tamu.
"Iya, Ma?"
"Tolong pijitin Ayah."
Aku terdiam sejenak.
"Maaf, Ma. Tangan saya masih kotor habis dari luar. Saya mandi dulu ya."
Belum sempat aku melangkah, Pak Haris berkata, "Sudahlah.Kalau disuruh orang tua, kerjakan dulu."
Aku menarik napas pelan. "Iya, Yah."
Aku meletakkan tas di lantai. Lalu duduk di dekat sofa dan mulai memijat bahu Pak Haris.
Beliau memejamkan mata. "Begini kan enak. Sekali-kali perhatian sama orang tua."
"Iya, Yah."
Hampir tiga puluh menit aku memijat. Punggungku mulai pegal. Namun tak seorang pun menyuruhku berhenti.
Saat makan malam, Bu Mirna kembali membuka pembicaraan.
"Pak."
"Iya?"
"Fitri ini sebenarnya perempuan pintar."
Pak Haris mengangguk. "Bagus."
"Tapi...Kadang terlalu sibuk sama pekerjaannya."
Aku menoleh. Bu Mirna melanjutkan sambil tersenyum.
"Coba saja kalau dia berhenti kerja. Pasti rumah ini lebih terurus." Sendok di tanganku berhenti bergerak. Mas Viyan juga ikut menatap ibunya.
Pak Haris mengangguk pelan. "Iya juga. Perempuan kalau sudah menikah...keluarga nomor satu."
Aku masih diam. Mas Viyan akhirnya membuka suara.
"Yah."
"Iya?"
"Fitri bekerja juga membantu keuangan kami."
Pak Haris tersenyum tipis. "Memang. Tapi kebutuhan rumah lebih penting. Kalau Viyan bekerja lebih giat...harusnya istrimu tidak perlu bekerja."
Aku melihat wajah suamiku. Beliau tampak serba salah.
Malam itu, setelah masuk kamar, aku mulai melipat pakaian. Mas Viyan menghampiriku.
"Sayang."
"Hm?"
"Kamu jangan dipikirkan omongan Ayah."
Aku tersenyum kecil. "Aku enggak marah. Tapi capek."
"Capek?"
"Rasanya apa pun yang aku lakukan selalu salah."
Mas Viyan memelukku. "Mas tahu. Maaf ya."
Aku menggeleng. "Bukan salah Mas. Tapi....aku ingin suatu hari nanti mereka melihat usahaku."
Mas Viyan mengusap kepalaku pelan. "Pasti."
Keesokan harinya adalah hari Minggu. Aku berniat beristirahat. Namun baru pukul enam pagi, Bu Mirna sudah mengetuk pintu kamarku.
"Fitri."
"Iya, Ma."
"Hari ini ikut Mama."
"Ke mana ma?"
"Ke rumah Bu Ratna."
"Ada apa, Ma?"
"Membantu masak."
Aku sedikit bingung. "Tapi, Ma. Hari ini aku mau menyelesaikan laporan kantor."
Bu Mirna langsung memasang wajah kecewa. "Pak..."
Panggilnya keras. Pak Haris keluar dari kamar.
"Ada apa?"
"Lihat tuh menantu kita. Disuruh bantu tetangga saja keberatan."
Aku langsung menjelaskan. "Bukan begitu, Yah. Aku memang ada pekerjaan yang harus dikumpulkan besok."
Pak Haris menatapku beberapa saat. "Laporan bisa dikerjakan nanti malam. Tapi membantu orang itu jangan ditolak."
Aku menundukkan kepala. "Iya, Yah."
Akhirnya aku ikut bersama Bu Mirna. Sepanjang jalan, beliau tersenyum ramah kepada setiap orang yang ditemui.
"Bu Mirna, ini menantunya ya?"
"Iya."
"Alhamdulillah."
"Rajin kok. Tinggal masih belajar menghormati orang tua."
Aku menoleh pelan. Kalimat itu terdengar seperti pujian.
Padahal... Beliau kembali menyisipkan kesan buruk tentangku.
Sesampainya di rumah Bu Ratna, aku membantu memasak sejak pagi. Mengiris bawang.
Mencuci sayuran, Menggoreng kerupuk.
Bahkan mencuci piring kotor. Sementara Bu Mirna lebih banyak mengobrol dengan ibu-ibu lain.
Saat salah seorang ibu memujiku, Bu Mirna kembali tertawa kecil.
"Fitri itu kalau di luar memang rajin. Kalau di rumah...Masih harus banyak dibimbing."
Ibu-ibu itu ikut mengangguk. Aku memilih tetap diam.
Karena aku sadar... Apa pun pembelaanku di tempat itu hanya akan membuatku terlihat seperti menantu yang melawan mertua.
Saat perjalanan pulang, aku menatap keluar jendela mobil. Dalam hati aku berfikir... Kalau semisal aku tidak kuat lagi menghadapi semua ini. Aku harus bagaimana?
**
Senin pagi. Aku baru saja selesai memakai blazer kantor ketika terdengar suara Bu Mirna dari ruang tamu.
"Fitri!"
"Iya, Ma."
Aku keluar sambil membawa tas kerja.
Bu Mirna duduk bersama Pak Haris menikmati teh hangat. "Besok kamu izin kerja."
Aku mengernyit. "Izin, Ma? Kenapa?"
"Iya. Mama sudah janji sama Bu Lilis."
"Janji apa?"
"Membantu persiapan hajatan anaknya."
Aku terdiam sejenak. "Maaf, Ma. Besok aku ada rapat penting. Enggak bisa izin."
Belum sempat Bu Mirna menjawab, Pak Haris lebih dulu angkat bicara. "Rapat bisa diwakilkan."
Aku menoleh sopan. "Maaf, Yah. Rapat itu saya yang memimpin."
Pak Haris mengernyit. "Memimpin?"
"Iya, Yah. Atasan sedang dinas luar kota. Jadi aku yang menggantikan."
Pak Haris tampak sedikit terkejut. Namun Bu Mirna langsung mendecak pelan.
"Kerjaan kok dibawa-bawa. Lagian kamu kan cuma karyawan. Bukan direktur."
Aku menahan diri untuk tidak membalas. "Ma, saya sudah diberi tanggung jawab. Kalau saya tidak datang, banyak pekerjaan yang tertunda."
Bu Mirna langsung menghela napas panjang. "Nah, Pak. Baru disuruh sekali saja sudah banyak alasan."
Pak Haris ikut mengangguk pelan. "Fitri."
"Iya, Yah."
"Kalau sudah menikah...keluarga harus lebih diutamakan."
Aku tersenyum tipis. "Aku mengerti, Yah. Tapi pekerjaan ini juga tanggung jawab saya."
Suasana mendadak hening. Mas Viyan yang sejak tadi memakai pakaian di dalam kamar pun akhirnya keluar.
"Ma. Besok biar Fitri kerja saja."
"Nanti hari Minggu kami bantu Bu Lilis."
Bu Mirna langsung memandang anaknya.
"Kamu sekarang selalu membela istrimu."
"Bukan membela, Ma."
"Fitri memang sudah punya jadwal kerja."
"Lalu Mama bagaimana?"
"Nanti aku yang bantu setelah pulang kerja."
"Kamu ga bakal bisa yan. Urusan dapur ini" jawab ayah mertuaku.
Bu Mirna tidak menjawab. Beliau hanya memalingkan wajah dengan raut kecewa.
**
Di kantor. Aku mencoba melupakan kejadian pagi tadi. Rapat berjalan lancar. Bahkan atasanku yang mengikuti melalui panggilan video sempat memujiku.
"Bagus, Fitri. Presentasimu jelas."
"Terima kasih, Pak." jawabku.
"Kalau terus seperti ini...semester depan kamu layak dipertimbangkan menjadi supervisor."
Aku tersenyum. "Terima kasih atas kepercayaannya."
Pujian itu membuat semangatku kembali tumbuh. Selama ini aku bekerja bukan hanya untuk diriku. Aku juga ingin membantu masa depan rumah tanggaku.
Bersambung..