Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan Mental
Hening menyelimuti keduanya. Rasa terkejut dari pengakuan tadi seperti angin yang meniup kencang bersamaan pisau menikam tepat pada jantungnya. Afyah pelaku pembeberan kebenaran tidak berani melihat reaksi Senja.
Entah lelucon apalagi ini, seolah takdir terus mempermainkan kehidupan mereka. Sekecil itu kah dunia ini? Reaksi ini terlalu berlebihan, dia dan Kamal sudah lama putus hubungan. Bahkan sekarangpun dia sudah memiliki pasangan baru. Tidak pantas rasanya merasakan sakit ini.
“W-wow dunia sempit sekali, iyakan sempit sekali” Afyah mengangkat pandangannya. Menatap Senja. Reaksi gadis itu cukup santai dari bayangannya tadi.
“Kau tak marah?” pertanyaan itu meluncur dengan sendirinya. Tanpa sempat di cegah.
“Huh? Aku? Marah buat apa?”
“Dia mantanmu”
Senja tetawa pelan “Ngga ada hubungan nya sama aku, Afyah. Hubunganku dengannya sudah lama kandas, aku ngga punya hak buat marah apalagi menentang hubungan kalian” jelasnya apa adanya.
“Maaf”
Senja memukul pelan bahu Afyah “Apasi, maaf-maaf mulu. Lebaran udah lewat” dia tak senang sahabatnya minta maaf padanya.
“Aku takut, aku takut karena ini hubungan kita sebagai sahabat hancur. Aku takut di cap sebagai perempuan yang merebut kekasih sahabat sendiri”
Sekarang Senja paham ketakutan Afyah. Memang benar, di kalangan mereka, lingkungan mereka. Memulai hubungan dengan mantan sahabat sangat buruk di pandang, orang-orang lebih senang menghakimi tanpa mau tau kebenaran. Seakan buta akan fakta, yang mereka tahu hanya keburukan dan mengecap itu sebagai aib. Mereka lupa, tidak semua hubungan di landasi oleh kesalahan. Mereka lupa adanya takdir di dunia yang jauh lebih dulu menentukan jalan hidup. Takdir tidak melihat siapa dan hubungan apa dengan orang sekitar.
Senja memegang kedua bahu Afyah, memaksa menghadapnya “Hey, ngga ada yang perlu kamu takutin! Hubunganmu bukan sebuah kesalahan. Kalian di jodohkan, bukan selingkuh!” Ucapnya Tegas. Mengembalikan kesadaran Afyah.
Afyah menatap Senja getir, seharusnya memang begitu “Mereka ngga peduli Fakta, Ru” ucapan Afyah menghantam dadanya. “Aku sudah menolak, membatalkan perjodohan itu, tapi aku tak mampu” Afyah meracau. Kembali setetes air mata jatuh, tapi ia tertawa sarkas menyeka kasar air matanya.
“Hidupku sudah di atur, Ru. Aku ngga pernah bisa mengendalikannya sesuai kemauanku. Dari aku kecil, semua Planningan di buat orang tuaku sampai sekarang” ucapnya di sela tawanya. “Dan mungkin setelah aku menikah, suamiku lah yang mengaturku” seringaian kecil tercetak di wajah Afyah.
“Afyah, Sadar!” sentak Senja, gadis itu bahkan mengguncang tubuh Afyah yang melemas membiarkan jatuh jika tidak di tahan Senja.
Afyah tertawa-tawa “Aku terlahir untuk di jadikan boneka hidup dan di kendalikan, Aru. Aku berbeda dengan kalian yang bebas melakukan apapun itu. Aku cape, Ru” bagaikan tubuh yang kehilangan energi, kehilangan tenaga. Afyah memasrahkan semuanya.
“Kamu bukan Boneka! Hidupmu itu bearti Afyah. Aku percaya Kamal bakal memperlakukan kamu dengan baik, kamu bakal terlepas dari orang tua mu sebentar lagi” Senja tidak tahan melihat kondisi sahabatnya. Jika di depan mereka adalah jurang, Senja pastikan detik ini juga Afyah sudah melompat terjun bebas demi meraih kebebasan.
“Kamal? Pria itu masih mencintaimu, Ru”
Pernyataan itu menghantam mundur kalimat yang sudah ia susun. “Kamu tau, dia menerima perjodohan ini hanya semata memenuhin keinginan orang tuanya saja, pernikahan kita hanyalah sebuah kesepakatan Kerjasama” bibirnya tertawa tapi matanya menjatuhkan air mata untuk kesekian kalinya.
Senja terpaku, lidah nya keluh. Pernyataan yang entah sadar atau tidaknya Afyah ucapkan. Kondisi Afyah memprihatinkan, menangis dan tertawa. Mental sahabatnya terguncang, ia kalah dengan akal sehatnya.
“Afyah! Jangan gini, kamu bisa bangkit heyyy. Kebahagianmu ada di depan sana. Afyah! Denger aku, Afyah?” Senja panik, sahabatnya tidak meresponnya. Matanya tertutup damai di wajah pucatnya, nafasnya tidak teratur.
Di tengah kepanikan Senja, hp milik Afyah bergetar telepon masuk. Tanpa pikir panjang Senja meraihnya, tepat sekali. Yang menelpon adalah Kamal. Tidak ada keraguan di dalam hatinya, dengan yakin ia mengangkat telpon itu.
‘Halo, Dafyah. Aku sudah mengirim katalog undangan. Pilih yang kamu ma-‘
“Brengsek! Apa yang kamu lakukan ke sahabatku, Kamal!” bentak Senja, memotong ucapan Kamal di seberang.
‘Aru? Kau kah itu? Kenapa hp Dafyah ada padamu? Kemana dia?’ pertanyaan Kamal semakin menyulut amarah Senja.
“Dia sakit! Dan kamu berperan besar atas sakitnya sekarang! Kamal saya ngga pernah ikut campur ke masalah sahabatku. Tapi untuk yang ini saya merasa wajib ikut campur. Afyah sudah menelan banyaknya sakit sebelum kedatangan kamu. Dan kamu menambah rasa sakit itu! Ngga waras kamu!”
‘Apa maksudmu? Cerita apa dia ke kamu?’ suara Kamal tampak berbeda dari sebelumnya. Entah marah atau apa pun itu, Senja tidak tahu.
“Afyah ngga menceritakan keburukanmu. Lucu sekali, kamu mau menikahinya tapi kamu ngga tahu kesehatannya, kamu ngga tau? Mentalnya terguncang sekarang. Mendapat serangan bertubi-tubi di berbagai arah. Dia sudah seperti mayat hidup, Kamal!” Senja menangis, ia tidak kuat melihat sahabatnya. Ia terlalu lemah untuk tau kondisi sahabatnya.
Di seberang, Kamal terdiam. Mendengar tangis Senja hati nya sakit, apakah tangisan itu karenanya? Apakah dia penyebabnya? ‘Aru..’
“Tolong, tolong kalau kamu hanya mau main-main jangan ke sahabatku. Cukup dia menderita, jangan di tambah. Tolong, Kamal!” tidak ada rasa malu, tidak ada rasa sungkan meskipun yang sedang di ajak bicara adalah mantan tunangannya dulu.
Kamal mendengarnya, tapi ia tidak merespon. Senja memohon demi sahabatnya? Haruskah ia mundur? ‘Ini ngga ada hubungannya sama kamu, Aru’
“Ada! Karena kita pernah menjalin hubungan, karena kamu mantanku. Orang bakal mencap Afyah buruk! Kesehatannya menurun karena memikirkan itu. Tidak kah kamu merasa bersalah sedikitpun? Hah?”
“Apa? Kerjasama apa yang kamu ajukan ke dia? Biar ku tebus sekarang juga. Yang penting lepaskan Afyah!” Ide itu muncul dengan sendirinya. Pikirannya kalut sekarang.
Kamal menyeringai di sana 'Kerjasama terjalin dengan orang tua Dafyah'
“Sialyan jadi kalian jadikan Afyah sebagai imbalan hah? Begitu? Brengsek! Laki-laki macam apa kamu?” tangan Senja terkepal kuat, ingin rasanya menonjok Kamal detik ini juga.
‘Jangan menyalahkan aku, Aru. Keluarganya lah yang menyodorkan anaknya. Bukan aku yang meminta’ jawabnya santai.
“Tapi kau mengiyakan! Itu sama saja. Biadab kalian, sepertinya kalian bersekongkol buat Afyah ma ti secara perlahan ya?”
‘Jaga bicara mu, Aru! Aku bahkan tidak tahu kalau Dafyah punya gangguan mental’
“Bohong! Kamu bukan ngga tau, tapi kamu menolak tau! Kamu hanya memiliki ambisi yang besar untuk mengabulkan keinginan orang tuamu, sampai-sampai menumbalkan gadis yang tidak tau apa-apa” kalimat Senja menampar keras ego Kamal.
Kamal berhela nafas Lelah ‘Lantas apa mau mu, Aru? Membatalkan pernikahan? Itu sudah ngga bisa, pernikahan sudah di susun sedemikian rupa”
“Perlakukan Afyah sebaik mungkin, cintai dia, jadikan dia satu-satu nya perempuan yang ada di hatimu. Bukan sebagai tawanan karena kerja sama mu! Karena kerja sama itu kesepakatan antara kamu dan orang tuanya, bukan kamu dan Afyah!”
‘Lucu, kamu mengatur ku seakan-akan kita punya hubungan’ sarkas Kamal. Tapi Senja tidak memperdulikannya.
“Saya hanya menyampaikan keinginan Afyah yang sudah pasti tidak bisa dia lakukan. Ku beri satu rahasia Afyah padamu”
‘Apa itu?’
“Afyah tidak pernah merasakan kebahagiaan bersama orang tuanya sejak kecil. Dia bagaikan boneka hidup yang dikendalikan penuh oleh kedua orang tuanya. Dia punya cita-cita bisa menikah dan lepas dari jeratan orang tuanya. Dan saya yakin, kau orang yang tepat untuk Afyah, Kamal” setelah nya Senja mematikan telpon secara sepihak, tidak perlu menunggu jawaban atau pertanyaan-pertanyaan Kamal.
Senja benafas lega, ia hanya berharap Kamal mau mendengarnya. Di tatapnya Afyah yang tidur dengan nafas sudah stabil dari yang tadi. Sahabatnya kecapean, mentalnya gagal menjaga kewarasannya, ia hampir kalah sama keadaan.
“Dunia seperti tidak adil padamu, Yah. Tapi tenang saja, aku akan menjadi garda terdepan buat membela dan mendukungmu di depan sana. Tidak akan ku biarkan siapapun ingin menghancurkanmu, sekalipun itu orang tuamu!”