Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:509.4k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HUKUMAN UNTUK LUIS

Suara teriakan Aura yang lantang sukses membuat seluruh tamu undangan terkesiap kaget.

Tidak ada yang menyangka seorang wanita bangsawan berani memutus secara sepihak seorang Pangeran Mahkota di hadapan Kaisar.

Luis mematung dengan mata melotot lebar, harga dirinya sebagai pewaris takhta hancur, seketika di hadapan ratusan pasang mata.

"K-kamu... berani-beraninya kamu memutuskan ku, Aura?! Kamu perempuan tidak tahu diuntung!" jerit Luis dengan wajah memerah padam karena amarah dan malu.

Aura mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh nya.

"Tidak tahu diuntung? Bilang pada diri mu Pangeran. Siapa sebenarnya yang beruntung bisa bertunangan dengan putri seorang Duke terkuat di kekaisaran ini, tapi malah disia-siakan demi wanita murahan?" jawab Aura tajam, melirik sekilas ke arah Elisabeth.

Baroness Olivia yang tidak terima putrinya dihina langsung maju melangkah dengan emosi meluap-luap.

"Jaga ucapanmu, Lady Aura! Jangan mentang-mentang anak Duke kamu bisa sembarangan menghina putriku!" teriak Baroness Olivia dengan suara melengking.

"Putrimu memang murahan, dan pantas di hina," jawab Aura tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wanita paruh baya itu.

"Dia merebut tunangan orang, bersekongkol membunuhku di danau, dan sekarang kalian sekeluarga masih punya muka untuk membela diri? Keluarga macam apa kalian ini, sekumpulan parasit kerajaan?" cibir Aura telak, membuat Baron Kenny dan istrinya langsung bungkam seribu bahasa karena tersinggung sekaligus takut.

Elisabeth menggigit bibir bawah nya keras-keras hingga hampir berdarah, air matanya tumpah bukan karena sedih, melainkan karena rasa malu yang luar biasa akibat ucapan dari Aura.

"Pangeran... lihat dia... dia menindas kami..." ucap Elisabeth manja sambil menarik-narik ujung jubah Luis dengan tangan gemetar.

Luis yang merasa terhina dan kehilangan muka di depan Kaisar, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat melayangkan tamparan keras ke pipi Aura.

"Sialan kamu, Aura! Akan kuberi pelajaran kamu hari ini!" bentak Luis murka.

Aura tidak sedikit pun mundur atau menunjukkan rasa takut, justru dia menatap tajam tangan Luis yang melayang ke arahnya.

Namun, sebelum tangan jahanam itu menyentuh kulit Aura, sebuah tendangan keras mendarat telak di perut Luis, membuat tubuh Pangeran Mahkota itu terpental jauh ke belakang dan tersungkur keras menghantam lantai marmer.

Bhuk

Brak

Pyaar

Gelas-gelas hancur berantakan di dekatnya.

Uhuk

Uhuk

Luis meringis kesakitan sambil memegang perutnya, dan batuk-batuk mengeluarkan ludah darah.

Semua orang terbelalak kaget saat melihat siapa pelakunya.

Duke Daren berdiri dengan napas memburu dan kepalan tangan yang masih diselimuti amarah, akhir nya tidak bisa menahan diri nya lagi, untuk memberikan pelajaran pada pria bajingan itu.

"Berani sekali tangan kotor itu hampir menyentuh putriku, Luis!" geram Duke Daren dengan suara berat yang menggelegar penuh ancaman membunuh.

Elisabeth histeris melihat kekasihnya tersungkur, wanita itu buru-buru berlutut untuk membantu Luis berdiri.

"Pangeran! Ya ampun, Pangeran, kamu tidak apa-apa?!" teriak Elisabeth panik.

Kaisar Zane yang sedari tadi menonton pertunjukan itu akhirnya berdiri dari singgasananya, pria itu menatap tajam ke arah Luis yang terkapar tidak berdaya di lantai.

"Cukup!" bentak Kaisar Zane dingin, membuat seluruh aula langsung kembali membeku.

Kaisar Zane menuruni anak tangga terakhir, lalu berdiri tepat di hadapan putranya yang tampak menyedihkan.

"Luis, berdirilah," perintah Kaisar Zane dengan suara rendah yang penuh tekanan.

Dengan susah payah dan dibantu oleh Elisabeth, Luis bangkit berdiri sambil memegang perutnya yang sakit. Wajahnya bengkak sebelah dan penampilannya benar-benar berantakan.

"Y-Yang Mulia, Ayah..." panggil Luis lirih, berharap ayahnya akan membelanya.

Alih-alih membela dan merasa iba, Kaisar Zane justru menatap Luis dengan tatapan dingin.

"Malu sekali aku punya anak sepertimu," ucap Kaisar Zane dingin.

"Bodoh, arogan, tidak punya bukti tapi sok berkuasa, dan sekarang bahkan berani mencoba memukul seorang wanita di hadapanku?" lanjut sang Kaisar penuh penekanan.

"Y-Yang Mulia, saya difitnah..." cicit Luis ketakutan.

"Diam!" bentak Kaisar Zane memotong ucapan putranya.

Kaisar Zane kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Aura, lalu mengangguk kecil dengan ekspresi yang sedikit melunak.

"Lady Aura Luminar," panggil Kaisar Zane, datar.

"Saya di sini, Yang Mulia," jawab Aura membungkuk hormat dengan anggun.

"Atas nama keluarga kerajaan Caliber, saya meminta maaf atas kelakuan menjijikkan dari Pangeran bodoh ini," ucap Kaisar Zane tegas di hadapan seluruh tamu.

"Dan mulai malam ini, aku secara resmi mencabut status kepangeranan Luis Caliber, serta membuangnya dari daftar pewaris takhta kekaisaran!" ucap Kaisar Zane tanpa ragu sedikit pun.

Mendengar titah kaisar Zane, muka Luis seketika berubah drastis, lututnya lemas seketika, membuatnya hampir jatuh terduduk kembali di atas lantai marmer kalau saja Elisabeth tidak sigap menahan tubuhnya.

"A-apa...?! Yang Mulia... Anda tidak serius, kan?!" jerit Luis histeris dengan suara bergetar hebat.

"Pangeran Mahkota... saya adalah putra mahkota kekaisaran ini! Kenapa Anda tega mencopot status saya hanya demi perempuan pembawa sial ini?!" teriak Luis lagi, menunjuk ke arah Aura dengan jari yang gemetar hebat akibat amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

Kaisar Zane sama sekali tidak bergeming, penguasa kekaisaran itu hanya menatap Luis dengan sebelah alis terangkat, memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun tidak berani bernapas terlalu kencang.

"Putra mahkota, katamu?" ulang Kaisar Zane dengan nada mengejek yang sangat kentara.

"Seorang pewaris takhta itu harus memiliki otak yang cerdas, wibawa, dan bertanggung jawab. Bukan idiot yang kerjanya cuma menyingkirkan tunangan sendiri lalu menangis histeris saat kebohongannya terbongkar!" lanjut Kaisar Zane tajam tanpa ampun.

Luis mendengus keras, napasnya memburu naik turun tak beraturan, urat-urat di pelipisnya menonjol keluar saking marahnya.

Hilang sudah topeng Pangeran yang tenang dan berwibawa, kini yang tersisa hanyalah pria pecundang yang hancur harga dirinya.

"Ini semua pasti rencana busuk mu, kan, Aura?!" geram Luis sambil membelalakkan mata merahnya, menatap Aura penuh kebencian membara.

"Kamu sengaja pura-pura mati, lalu merencanakan semua ini untuk menjatuhkan dan merusak hidupku! Kamu perempuan licik!" ucap Luis dengan suara serak penuh emosi.

Aura tidak sedikit pun merasa terintimidasi. Gadis itu justru melipat tangannya di dada, lalu tersenyum miring dengan sangat elegan menanggapi amukan mantan tunangannya itu.

"Menjijikan sekali, Pangeran... eh, maksudku, Tuan Luis mantan pangeran," ucap Aura, tersenyum mengejek.

"Aku menjatuhkan mu? Sadarlah, dari awal memang kamu sendiri yang menggali lubang kuburmu dengan kebodohanmu sendiri!" lanjut Aura telak.

Elisabeth yang ikut gemetar ketakutan di samping Luis mencoba ikut bersuara untuk membela kekasihnya yang sudah kehilangan segalanya.

"L-Lady Aura! Anda jangan memutarbalikkan fakta!" bela Elisabeth dengan suara parau nyaris menangis.

1
Dwi Wahyu
harusnya dibunuh saja dari batu
Erna Masliana
terus kenapa gak bertindak tol**
Erna Masliana
ya karena kalian para pejabat dan para orang tua tolol yang gampang dibodohi... Raja terdahulu juga termasuk tolol
Erna Masliana
lah kamu sendiri pelayan rendahan yang ngimpi naik tahta
Erna Masliana
rencana yang gampang kebaca sebenarnya
Erna Masliana
meningkatkan keamanan saja tidak cukup kalo dalangnya dibiarkan hidup
Erna Masliana
ya iyalah... kamu lelet ngatasi musuh ya musuh bertindak duluan lah
Erna Masliana
langsung ajalah.. gak usah ngasih celah musuh
Erna Masliana
lah karena bukan anaknya
Erna Masliana
nah ini salah satu kelemahan Zein tidak menumpas tuntas ibu Luis dan Luis sendiri.. sekuat apa sih mereka hingga Zein tidak berkutik kalah dg wanita rendahan yg jebak dg ngaku ngaku doang
Erna Masliana
iya itu padahal jalan terbaik... apalagi Kaisar gak ada selir gak ada teman masa kecil atau maen ke rumah bordil
Erna Masliana
tapi tidak berbuat apapun sampe Luis dewasa...bikin skenario di racun atau dibunuh bandit pun tidak.. bukankah itu terlihat lemah.. mengatasi hal seperti ini saja mengandalkan Aura jiwa masa depan yang bertindak dulu
Erna Masliana
belum
Erna Masliana
harusnya di racun ye
Tika
baru gabung Thor 🤭
Omah Tien
kirain benaran g adu aku sampai sedih ya gmn anak nya kan ms kecil
Omah Tien
salah nya musuh g di matinin
Omah Tien
sy sk anak kembar ada jg ya
Omah Tien
kalau crt kerajaan ky nya g pernah ada anak kembar ya tau ada g
Omah Tien
kadang bc lihat aura sok sobong nya selagit tua nanti jg jd suami kamu jg dsr sbg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!