Indonesia
NovelToon NovelToon
RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENKARNASI DI HUTAN LARANGAN

Langkah kaki Nagato terasa semakin berat. Bau apek dari gang sempit di sudut Tokyo menyengat hidungnya, beradu dengan aroma amis darah yang mulai membasahi bagian depan kemeja lusuhnya.

"Ah... sial," gumamnya pelan, menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang dingin.

Di depannya, seorang gadis SMA terduduk gemetar dengan wajah pucat pasik. Penjahat bersenjata tajam yang tadinya mencoba menyerang gadis itu sudah melarikan diri, meninggalkan Nagato yang terkulai setelah menerima dua tusukan fatal di perut.

Nagato menghela napas pendek yang terasa amat menyiksa. Sepanjang 18 tahun hidupnya, tidak ada hal spesial yang ia capai. Lahir di keluarga miskin, bekerja paruh waktu hingga larut malam demi menyambung hidup, dan kini mati konyol di lorong gelap karena bertindak sok pahlawan.

"Hei... cepat lari dari sini," bisik Nagato pada gadis itu dengan sisa tenaganya.

Saat pandangannya mulai kabur dan kegelapan merayap naik, satu pikiran yang mendalam muncul di benak Nagato. Ia tidak menginginkan kehormatan, tidak butuh pujian, dan jelas tidak ingin menjadi hero.

Kalau ada kehidupan kedua... aku cuma mau hidup tenang. Tanpa masalah, tanpa beban, cuma kedamaian.

[Permintaan diterima.]

Suara mekanis yang dingin dan bergema terdengar langsung di dalam kepalanya, menembus keheningan kematian.

[Menemukan jiwa yang cocok. Mengubah identitas... Menghapus keterikatan dunia asal... Reinkarnasi dimulai.]

[Mengarahkan jiwa ke koordinat: Hutan Larangan Monster. Memberikan anugerah sesuai permintaan kedamaian mutlak: Skill Pasif-Aktif 'Domain Absolut'. Integrasi Sistem Komputer Berkesadaran dimulai...]

Napas Nagato berhenti total. Tubuhnya di lorong gelap itu membeku, namun jiwanya ditarik masuk ke dalam pusaran cahaya emas yang membawanya melintasi batas dimensi.

"Unggh..."

Alan—nama baru bagi jiwa Nagato—terbangun dengan napas tersengal-sengal. Ia refleks memegang perutnya, mengharapkan rasa sakit luar biasa dari luka tusuk atau basahnya darah. Namun, tidak ada rasa sakit sama sekali. Pakaiannya pun bukan lagi kemeja lusuh berdarah, melainkan setelan kasual yang bersih dan nyaman.

Ia mengedipkan matanya berkali-kali. Di atasnya, bukannya langit-langit rumah sakit atau lorong Tokyo yang gelap, melainkan dedaunan rimbun berwarna ungu keemasan yang memancarkan cahaya redup. Udara yang ia hirup begitu segar dan sarat akan sensasi aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Alan menampar kedua pipinya sendiri cukup keras. Plak!

"Aduh! Sakit..." gumamnya panik sambil meringis. "Bentar... ini bukan mimpi? Aku belum mati? Atau... ini cuma mimpi sebelum ajalku?"

[Ini bukan mimpi, Tuan Alan.]

Sebuah antarmuka transparan berwarna biru muda mendadak muncul melayang tepat di depan wajah Alan, membuat pemuda itu terlonjak kaget ke belakang sampai hampir tersandung akar pohon.

"Wah! Apa-apaan ini?! Ada layar melayang?!" teriak Alan panik, matanya membelalak lebar melihat fenomena di luar kuasa akalnya.

[Harap tenang, Tuan,] suara feminin yang jernih dan tenang terdengar dari layar tersebut. [Saya adalah Sistem Pendamping berkesadaran yang terhubung langsung dengan jiwa Anda. Kesadaran terakhir Anda di dunia lama telah berakhir. Anda saat ini telah direinkarnasi di dunia lain, tepatnya di pusat Hutan Monster.]

Alan menelan ludah. Ia memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing. "Reinkarnasi? Hutan Monster? Jadi yang tadi... suara Dewa Kematian itu beneran?"

[Benar. Dan untuk memenuhi keinginan Anda yang mendambakan kedamaian mutlak, Anda dianugerahi sebuah kemampuan unik bernama Domain Absolut.]

"Domain... Absolut?" ulang Alan bingung. "Maksudnya gimana? Tolong jelasin, aku sama sekali nggak paham."

[Domain Absolut adalah wilayah kekuasaan mutlak Anda,] jelas Sistem dengan detail. [Di dalam area yang Anda pijaki ini, Anda memiliki Keabadian Mutlak—Anda tidak bisa terluka, menua, atau dibunuh oleh siapa pun. Selain itu, apa pun yang Anda bayangkan atau imajinasikan di dalam wilayah mekar ini akan terwujud menjadi kenyataan secara instan.]

Alan melongo mendengarkan penjelasan Sistem. "Jadi... kalau aku bayangin sesuatu, itu langsung ada? Dan aku nggak bisa mati di sini?"

[Tepat sekali, Tuan. Ini adalah ruang aman mutlak ciptaan Anda sendiri.]

Alan menghela napas panjang, mengusap dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi keheranan. "Oke... oke, aku paham sekarang. Berarti aku benar-benar dikasih kesempatan hidup kedua buat bersantai."

Hari mulai agak dingin. Alan yang masih merasa takjub dan ingin menguji omongan Sistem, mulai memejamkan mata. "Kalau gitu, aku cuma butuh tempat tinggal yang tenang dan aman buat tempat tidur... rumah kayu kecil aja cukup."

Namun, karena rasa terkejut dan gelombang emosinya yang masih belum stabil, imajinasi Alan tentang kata "aman" dan "tempat tinggal" diproses secara berlebihan oleh kekuatan Domain Absolut.

WUSHHH!

Tanah di bawah kakinya berguncang hebat. Cahaya emas raksasa membumbung tinggi menembus langit malam Hutan Monster.

Pondasi batu putih berukir emas muncul dari dalam tanah, melonjak naik membentuk menara-menara megah, benteng raksasa bernuansa futuristik-fantasi, serta dinding pertahanan berlapis sihir mutlak yang menjulang tinggi mengelilingi area tersebut. Hanya dalam beberapa detik, bukan rumah kayu sederhana yang terbangun melainkan sebuah Kerajaan Megah yang memancarkan tekanan aura yang luar biasa.

Alan membuka matanya dan seketika membeku. Ia menengadah melihat istana raksasa bercahaya yang kini menutupi pemandangannya.

"T-Tunggu... Sistem!" teriak Alan syok setengah mati. "Aku cuma minta rumah kecil yang aman! Kenapa yang muncul malah istana megah kayak begini?!"

[Imajinasi Anda tentang kata 'aman' diproses secara maksimal oleh Domain Absolut, Tuan,] jawab Sistem dengan nada polos tanpa dosa. [Konstruksi fisik wilayah kediaman Anda kini telah rampung secara sempurna.]

Di luar benteng, raungan monster-monster Hutan Monster terdengar bersahut-sahutan karena terkejut oleh getaran tanah. Alan menepuk jidatnya kuat-kuat, meratapi bangunan raksasa di depannya. Niat hati ingin hidup tenang tanpa perhatian, di hari pertamanya ia justru malah membangun sebuah kerajaan di tengah hutan.

Gerbang utama benteng yang terbuat dari bahan mirip marmer putih berlapis emas terbuka perlahan tanpa suara, menyambut Alan yang masih berdiri tertegun di ambang pintu masuk.

Alan melangkah perlahan menembus gerbang tersebut. Begitu kakinya menyentuh ubin batu berkilau di dalam area benteng, suasana di sekitarnya mendadak berubah. Suara raungan monster hutan yang tadinya bising di luar, mendadak redup dan hilang total. Udara di dalam benteng terasa sangat sejuk, bersih, dan menenangkan, seolah area ini terisolasi dari kejamnya dunia luar.

"Sepi banget..." gumam Alan pelan.

Suara langkah kakinya bergema lembut di sepanjang koridor luar yang megah. Di kiri dan kanannya berdiri pilar-pilar raksasa yang menopang atap benteng. Lampu-lampu kristal melayang di udara, memancarkan cahaya keemasan yang hangat tanpa perlu dicolokkan ke aliran listrik.

Alan terus berjalan menyusuri lorong utama menuju bangunan pusat istana. Karpet merah tebal bernuansa elegan terbentang luas, memandu jalannya. Di dinding-dinding lorong, terdapat ukiran-ukiran artistik dan tempat lilin hiasan, namun tak ada satu pun lukisan wajah penghuni atau bendera lambang kerajaan.

Tempat ini benar-benar lengkap dan siap huni. Kursi-kursi mewah dari kayu berukir, meja-meja kristal, hingga pajangan zirah hias tampak berdiri rapi di setiap sudut ruangan. Segala kelengkapan sebuah istana megah sudah tersedia di sana, dari fasilitas utama hingga detail terkecil.

Namun, ada satu hal mencolok yang membuat Alan merinding sekaligus terpana: tidak ada seorang pun di tempat ini.

Tidak ada penjaga benteng yang berdiri di depan pintu, tidak ada pelayan yang menyapa, dan tidak ada prajurit yang lalu-lalang. Seluruh area istana yang sanggup menampung ribuan orang ini benar-benar kosong melompong. Hanya ada Alan sendirian di tengah kemegahan yang hampa.

Alan berjalan hingga tiba di aula utama—sebuah ruangan raksasa dengan langit-langit kubah yang sangat tinggi. Di ujung ruangan, di atas tangga marmer bertingkat, berdiri sebuah takhta megah bernuansa putih-emas yang memancarkan aura keagungan.

"Semua fasilitas tempat tinggal sudah ada... tapi nggak ada penghuninya sama sekali ya, Sistem?" tanya Alan sambil menatap takhta kosong di depannya.

[Benar, Tuan Alan,] sahut layar biru Sistem yang setia melayang di samping bahunya. [Domain Absolut baru mewujudkan struktur fisik dan fasilitas sesuai imajinasi awal Anda. Wilayah ini saat ini hanya memiliki satu populasi sah, yaitu Anda sendiri sebagai penguasa tunggal.]

Alan mengembuskan napas panjang, lalu berjalan mendekati salah satu sofa empuk di tepi aula dan mendudukkan dirinya dengan santai. Ia menyandarkan punggungnya, menikmati keempukan sofa yang jauh lebih nyaman daripada kasur mana pun di kehidupan lamanya.

Rasa takut dan syoknya perlahan menguap, berganti dengan rasa tenang. Biarpun ukurannya terlalu berlebihan untuk satu orang, suasana sunyi tanpa ada orang lain yang mengganggu justru terasa sangat menyenangkan bagi Alan.

"Nggak ada orang lain... berarti nggak ada yang bakal nyuruh-nyuruh aku, nggak ada yang bakal bikin masalah, dan aku bebas ngapa-ngapain," ujar Alan sambil tersenyum tipis, menatap langit-langit aula yang bercahaya indah. "Ya... meskipun bentuk tempat tinggalnya terlalu aneh buat sendirian, setidaknya ini benar-benar tempat yang tenang."

Alan memejamkan matanya, menikmati keheningan istana megah miliknya sendiri. Namun ia belum menyadari, keheningan ini hanyalah ketenangan singkat sebelum takdir menyeretnya lebih dalam menjadi penguasa absolut yang sebenarnya.

1
𝓐. 𝓗.𝓸
terima kasih Babnya. saya suka dengan ceritanya dengan membangun kerajaan hingga mencipta pasukan lalu dengan membangun sebuah kota, cukup memuaskan di baca. 😁😊
Prayy: terimakasih atas dukungan nya saya akan menulis semenarik mungkin untuk pembaca agar terhibur mohon selalu di tunggu bab selanjutnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!