"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permintaan baru
Satu buah gelas kecil mulai berputar melingkari tikar, berpindah dari satu tangan ke tangan lain seiring dengan cairan penghangat suasana yang mulai dituang. Ketika giliran itu tiba di depan Salman, pemuda itu mengangkat telapak tangannya, menolak secara halus dengan senyum sungkan.
"Maaf... aku belum pernah minum yang begini,"
kata Salman jujur, enggan berpura-pura tahu di depan teman-teman barunya.
Siska yang duduk di sebelahnya langsung mengangguk paham. "Ya udah, gak apa-apa kok, Man. Santai aja."
Namun.... Tias yang duduk di seberang justru menatap Salman dengan pandangan jenaka, menantang nyali montir baru itu.
"Tapi... apa kamu gak mau nyoba dikit, Man?
Biar tahu rasanya aja."
Tanpa menunggu persetujuan Salman, Tias meraih sebuah gelas baru yang masih bersih, lalu menuangkan cairan dari botol itu hingga terisi beberapa sloki penuh.
"Nih, kalau mau nyoba," Tias menyodorkan gelas kecil itu ke arah Salman dengan tatapan santai.
"Tapi kalau emang gak mau ya gak apa-apa juga kok. Toh kita di sini kumpul cuma buat senang-senang aja, gak ada paksaan."
Salman menatap gelas kecil di depannya. Ia menghela napas panjang, menghirup udara malam kota dalam-dalam untuk menenangkan debaran di dadanya. Ada rasa penasaran yang bercampur dengan sedikit sisa beban pikiran tentang Ningsih di desa yang menumpuk di kepalanya.
Memantapkan hatinya, Salman memberanikan diri. Ia mengulurkan tangan dan meraih gelas yang disodorkan oleh Tias.
Tanpa aba-aba atau banyak pikir lagi,
Salman langsung menegak habis seluruh isi gelas itu dalam sekali tenggak.
Glek.
Detik berikutnya, mata Salman langsung terpejam rapat. Wajahnya seketika memerah, otot lehernya menegang, dan ia reflek terbatuk kecil saat cairan itu meluncur melewati kerongkongannya. Rasa terbakar yang menyengat langsung menjalar dari lidah hingga ke dadanya.
"Aahhhhhh! Apa ini?!" tanya Salman setengah mengerang, suaranya mendadak serak karena kaget dengan sensasi keras yang menghantam tubuhnya.
Melihat ekspresi polos dan tersiksa dari Salman, ketiga cewek pabrik itu langsung tertawa terbahak-bahak. Jono dan Agus pun ikut terkekeh melihat rekan kerja mereka yang biasanya tenang dan berwibawa di bawah kolong truk Hino, kini tampak tak berdaya hanya karena satu sloki minuman.
"Udah ah... aku gak mau lagi! Kapok! Panas banget rasanya!" seru Salman panik sambil mengibaskan tangannya di depan mulut yang terasa terbakar.
Tanpa membuang waktu, Salman langsung meraih minuman kaleng dingin miliknya yang masih tersisa di tikar. Ia menegaknya dengan rakus sampai habis tanpa sisa, berusaha keras memadamkan rasa panas yang tertinggal di tenggorokannya.
"Hah... hah... hah... ampun, aku nyerah,
ucap Salman sambil geleng-geleng kepala ke arah Tias, menyerahkan gelas kosongnya kembali.
Tias hanya tersenyum simpul, memaklumi reaksi tersebut. "Makan rujaknya Man, biar ada rasanya di lidah dan gak hambar. Wajar aja kalau buat orang yang baru pertama kali nyoba mah.
"Tias melirik ke arah botol yang dibawa Jono, lalu menggelengkan kepala. "Lagian, yang dibawain Jono ini speknya lumayan kuat dan pekat kok. Biasanya kalau buat pemula yang baru mau coba-coba, paling dikasih yang kadar alkoholnya rendah aja. Jono mah langsung ngasih yang kelas berat."
"Anu... kalau boleh, aku minta kopi hitam aja ada gak?" tanya Salman sambil meringis, merasa mulutnya butuh sesuatu yang pahit dan hangat untuk menetralisir rasa aneh pasca-minum tadi.
Siska langsung meletakkan pisau buahnya dan bersiap bangkit dari tikar.
"Ada kok di dapur mes. Bentar ya, Man, aku bikinin dulu," kata Siska ramah sebelum melangkah masuk ke dalam koridor mes karyawati.