Di Tanah Soul Martial, hukum rimba adalah segalanya — hanya kekuatan yang menentukan hidup dan mati. Para kultivator menembus langit, para raksasa mengguncang bumi, dan setiap jiwa bermimpi meraih matahari serta bintang.
Namun, takdir berputar.Qin Yuchen, Raja Dewa yang pernah menguasai Alam Atas, jatuh ke jurang kehancuran. Dari abu kehancuran itu, ia bangkit kembali dalam tubuh seorang pemuda biasa di perbatasan barat, membawa rahasia terlarang: Seni Dewa Naga Kekacauan
Dengan seni ilahi itu, ia menapaki jalan berdarah — menantang langit, menundukkan bumi, dan menyingkirkan segala jenius yang berani menghalangi. Perjalanan menuju takhta tertinggi pun dimulai, sebuah kisah tentang kebangkitan yang akan mengguncang seluruh jagat raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Bangkit Kembali sebagai Raja Iblis
Di atas ranjang batu yang mengepulkan asap merah, tubuh seorang pemuda tiba-tiba bergerak.
Qin Yuchen membuka mata perlahan. Sinar matahari pagi yang menerobos jendela membuatnya menyipit sejenak. Namun gerakan kecil itu sudah cukup untuk menjernihkan kesadarannya yang tadinya kacau.
"Jadi ini aku... Aku belum mati. Aku benar-benar terlahir kembali!"
Ekspresinya berubah dari heran menjadi gembira luar biasa.
"Yuwen Tua, Zhuge keparat, kalian pasti tidak menyangka rencana kalian yang begitu rapi masih menyisakan celah. Kalian mengalahkanku sampai aku bahkan tak sempat membentuk Inkarnasi Pikiran, tapi sekarang aku menemukan tubuh baru. Dulu aku butuh tiga puluh delapan ribu tahun untuk mencapai Tahta Alam Ilahi. Kali ini, sepuluh ribu tahun sudah cukup. Tunggu saja, aku akan membalas semua yang kalian lakukan padaku, seratus kali lipat."
Karena langit masih memberiku kesempatan hidup, maka di kehidupan ini aku, Qin Yuchen, akan menuntut keadilan dari semua musuhku di Sembilan Surga. Takdirku milikku sendiri, bukan milik siapa pun. Aku akan menginjak tulang musuh-musuhku untuk naik ke puncak, dan menguasai seluruh dunia yang tak terhitung jumlahnya.
Begitu emosinya mereda dan dua jiwa dalam tubuhnya menyatu, ingatan pemilik tubuh ini mulai mengalir masuk.
Gurun Perbatasan Barat. Sekte Pedang Bintang. Murid Sekte Luar bernama Qin Yuchen — nama yang sama dengan dirinya.
Tiga tahun lalu, di usia belum genap dua belas tahun, Qin Yuchen bergabung sebagai murid luar dengan level kultivasi Pemurnian Tubuh Alam Kedua. Tapi setelah tiga tahun berlalu, ia hanya naik dua tingkat kecil dan kini terjebak di Alam Keempat — level terendah di antara seluruh angkatannya, bahkan kalah dari adik-adik junior yang masuk belakangan.
Karena itulah ia dijuluki "Si Sampah". Setengah bulan lagi menjelang Tahun Baru, dan jika levelnya masih sama, julukan itu mungkin akan naik pangkat jadi "Sampah Senior".
"BRAK!"
Pintu kamar didobrak paksa. Tiga sosok pemuda melangkah masuk sebelum suara mereka sampai lebih dulu.
"Sampah Qin, cepat keluar! Kakak Lei mau pakai kamar ini!"
Qin Yuchen langsung mengenali ketiganya begitu ingatan pemilik tubuh ini menyatu sepenuhnya: Wei Kun, Yan Bo, dan Xie Kun — antek-antek setia Lu Chen.
Ironisnya, justru merekalah penyebab Qin Yuchen si Raja Iblis Alam Atas ini bisa bangkit kembali. Kemarin, ketiga orang inilah yang mempermalukan pemuda pemilik tubuh ini hingga campuran amarah, keputusasaan, dan luka fisik membuatnya tewas — sekaligus membuka jalan bagi jiwa Qin Yuchen untuk merasuk dan terlahir kembali.
Bayangan penghinaan itu melintas di benaknya. Sorot matanya berubah dingin seperti es.
Saudaraku, beristirahatlah dengan tenang. Aku akan membalas seratus kali lipat penghinaan yang kau alami.
Karena telah mengambil alih tubuh ini, aku pun akan menanggung semua utang dan dendamnya. Aku akan membalas kebaikan dengan kebaikan, dan permusuhan dengan permusuhan. Hanya dengan menjaga hati yang jernih antara rasa syukur dan dendam, aku bisa melangkah lurus menuju jalan agung, naik ke Alam Atas, mencapai keabadian sebagai dewa — dan membalas dendam paling mendalam dalam hidupku.
"Sampah Qin, kau tuli ya? Kakak Lei mau kamar ini, cepat keluar! Atau mau kupukuli?!" Wei Kun geram melihat Qin Yuchen hanya berdiri diam tanpa bereaksi. Ia melangkah maju dan mengangkat tangan untuk menampar.
"Dasar pemboros! Sudah dikasih kesempatan baik-baik malah cari masalah. Hari ini akan kubuat kau—"
Belum sempat kalimatnya selesai, seringai di wajah Wei Kun membeku seketika.
Tangannya baru saja terangkat untuk menyerang, tapi Qin Yuchen sudah lebih dulu bergerak. Kaki kanannya melesat, menghantam telak perut bagian bawah Wei Kun.
Pemuda yang biasanya penakut dan penurut itu ternyata berani melawan!
"Aargh!" Wei Kun menjerit kesakitan, tubuhnya terlempar dan membentur dinding keras, lalu merosot ke lantai seperti kain basah. Kedua tangannya mencengkeram perut, keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat.
Yan Bo dan Xie Kun melongo, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Mustahil. Si sampah ini biasanya paling penakut. Bahkan kalau pun ia nekat melawan, tidak mungkin bisa menendang Wei Kun sampai terpental seperti itu dengan sekali gerakan!
Wei Kun bukan sekadar murid biasa — sebagai pengawal pribadi Lu Chen, ia sudah mendapat banyak keuntungan bertahun-tahun mengabdi, dan kini levelnya sudah mencapai Pemurnian Tubuh Alam Kelima. Bagaimana mungkin ia bisa dijatuhkan semudah itu oleh "Si Sampah"?
Qin Yuchen melirik sekilas ke arah Yan Bo dan Xie Kun yang masih terpaku kaget, lalu menatap Wei Kun yang tersungkur dengan suara dingin.
"Anjing yang cuma berani menggonggong karena ada tuannya, seharusnya tahu diri sebelum menggigit orang yang salah. Wei Kun, kau cuma pelayan yang berani-beraninya merebut ruang kultivasi murid resmi sekte. Menurut aturan sekte, sekalipun aku membunuhmu hari ini, aku tidak akan dipersalahkan."
Suasana mulai ramai. Para murid luar lain berdatangan untuk melihat keributan itu.
Dan memang itulah yang diinginkan Qin Yuchen — semakin banyak saksi, semakin cepat kabar ini tersebar.
"Membunuh? Berani sekali sampah sepertimu bicara soal membunuh!" Xie Kun yang sudah pulih dari kagetnya menyeringai sinis. "Ayo, coba saja bunuh aku kalau berani!"
Ia melangkah maju penuh percaya diri.
Anak kecil, kalau kau berani menyentuhku, akan kubuat kau cacat seumur hidup!
Namun pikiran sombong itu baru saja terlintas ketika Qin Yuchen sudah bergerak lebih dulu.
Dua jarinya — telunjuk dan tengah — menyatu seperti mata pedang, langsung menusuk tepat ke titik Dantian di perut Xie Kun. Serangan itu secepat kilat, tak memberi kesempatan untuk menghindar.
Sentuhannya terasa ringan, tapi tubuh Xie Kun langsung menekuk seperti udang. Rasa sakit luar biasa menjalar di perutnya, dan yang lebih mengerikan, ia bisa merasakan Qi serta darahnya menghilang dengan cepat.
Dengan satu tusukan jari, Qin Yuchen menghancurkan Dantian Xie Kun — melenyapkan hasil kultivasi bertahun-tahun yang dibangun susah payah. Bagi seseorang yang bermimpi menjadi kultivator, ini jauh lebih menyakitkan daripada kematian.
"Tepuk tangan untukmu!" Qin Yuchen tidak berhenti di situ. Ia mengayunkan tangan secepat angin, menampar wajah Xie Kun enam-tujuh kali beruntun hingga wajahnya bengkak seperti kepala babi.
"Qin Yuchen, kau mencari mati!" Yan Bo yang ketakutan tak berani maju dengan tangan kosong. Ia langsung menghunus pedang panjang Qingfeng, senjata standar murid luar sekte.
Dengan pedang di tangan, keberaniannya kembali membara.
"Qin Yuchen, MATI KAU!"
Sorot mata Yan Bo berubah kejam. Ia melesat maju, pedangnya berubah menjadi kilatan cahaya hijau yang menusuk lurus ke arah tenggorokan Qin Yuchen.
Jika tusukan itu mengenai sasaran, nyawa Qin Yuchen pasti melayang.
Namun—
Sebuah tangan terangkat. Dua jari mencengkeram bilah pedang itu dengan mudah, seolah menjepitnya dengan tang besi.
"A-apa?!" Mata Yan Bo membelalak, tak percaya dengan yang ia lihat.
Bagaimana mungkin? Sampah Qin Yuchen menahan pedangnya hanya dengan dua jari? Padahal meski levelnya baru Puncak Pemurnian Tubuh Alam Kelima, kekuatan lengannya sudah mencapai empat ratus kati. Bahkan Kakak Lei yang berada di Puncak Alam Ketujuh pun belum tentu sanggup melakukan hal serupa!
Yan Bo menarik pedangnya sekuat tenaga, tapi bilah itu seakan terjepit erat tanpa bisa digerakkan sedikit pun — tak bisa ditarik, ditusuk, atau diputar.
"Cuma segini kemampuanmu?" Qin Yuchen menyeringai tipis, penuh ejekan.
Meski tubuh fisiknya masih di level Pemurnian Tubuh Alam Keempat, wawasan dan pengalaman dari kehidupan sebelumnya jauh melampaui level Yan Bo. Serangan yang tampak ganas itu, di matanya, penuh celah yang mudah dibaca.
Kedua jarinya yang tampak sederhana sebenarnya menyimpan ilmu bela diri mendalam bernama Jari Lingxi — teknik yang mampu menjepit senjata lawan hanya dengan sentuhan ringan.
"Lepaskan!" Kedua jari yang mencengkeram ujung pedang tiba-tiba berputar.
Yan Bo merasakan energi aneh menjalar dari bilah pedangnya. Kekuatannya tidak besar, tapi cukup untuk membuat kelima jarinya mati rasa seketika — dan pedang itu pun terlepas dari genggamannya.
Dengan gerakan cepat, Qin Yuchen menangkap pedang yang melayang itu. Begitu senjata itu berada di tangannya, seluruh auranya berubah drastis — tajam dan mengintimidasi, seperti pedang pusaka yang baru keluar dari sarungnya.
Kilatan cahaya pedang berkelebat.
Darah menyembur ke udara.
Sebatang pohon palem di dekat mereka terpotong dan tumbang ke tanah.