Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Empat Puluh Delapan Jam

Fitnah itu diterbitkan pukul enam pagi, saat orang-orang baru meraih ponsel sebelum turun dari tempat tidur.

Foto Arya dan Nisa dipotong lebih sempit. Mikrofon di tangan perempuan itu dihapus. Judulnya berubah menjadi tuduhan perselingkuhan, lengkap dengan sumber anonim yang mengaku sebagai karyawan PE.

Pada pukul enam lewat tujuh menit, tagar tentang Arya sudah masuk daftar populer Surabaya.

Ketika Arya turun ke ruang makan, Anindya duduk di ujung meja dengan tablet menyala. Tidak ada sarapan di depannya. Rani menunggu di dekat pintu sambil memegang dua telepon yang terus bergetar.

"Apakah ada hal yang perlu saya tahu dan belum ada di kronologi?" tanya Anindya.

Arya menarik kursi. "Tidak ada."

"Apakah kamu pernah bertemu Nisa berdua di luar pekerjaan?"

"Tidak."

"Apakah kamu menghapus pesan dengannya?"

"Tidak. Telepon saya bisa diperiksa dengan persetujuan Nisa dan pendamping legal."

Anindya mematikan layar tablet. "Cukup. Saya percaya."

Tidak ada adegan membanting gelas. Tidak ada tuduhan tentang Bella atau pernikahan lama. Pertanyaan Anindya pendek, langsung, dan berhenti ketika jawabannya diterima.

"Kamu boleh bertanya lebih banyak," kata Arya.

"Saya bertanya untuk mengetahui fakta, bukan untuk menghukummu sampai memberi jawaban yang saya inginkan."

Rani berdeham pelan. "Maaf, Bu. Dewan komunikasi meminta pernyataan dalam tiga puluh menit. Sponsor inkubator juga mulai menelepon."

"Kita tidak akan menjadikan Nisa pajangan pembelaan," kata Anindya. "Tawarkan opsi: wajah disamarkan, nama tidak disebut, dan pendampingan psikologis kalau serangan membesar."

"Sudah saya siapkan," jawab Arya.

Anindya menatapnya. Untuk sesaat mereka tidak lagi seperti pemegang saham dan penerima kuasa. Mereka adalah dua orang yang mengambil keputusan sama dari sisi meja berbeda.

Di kantor PE, ruang rapat berubah menjadi pusat tanggap krisis. Kevin menampilkan penyebaran tagar. Delapan akun utama membuat narasi pertama, lalu seratusan akun lama menyalinnya. Portal yang menerbitkan artikel memakai file gambar dengan pola kompresi sama seperti foto anonim dua hari sebelumnya.

"Agensi Trending Nusantara lagi," kata Kevin. "Mereka mengganti server, bukan mesin kerja."

Gilang, pengacara perusahaan, meletakkan draf hak jawab. "Foto lengkap membuktikan ada enam kru. Rekaman CCTV kafe menunjukkan durasi pertemuan dua belas menit, semua terbuka. Kita bisa meminta koreksi dan mengirim somasi untuk artikel yang menyebut perselingkuhan sebagai fakta."

"Jangan tuntut orang yang sekadar membagikan," kata Arya. "Fokus pada pembuat materi, portal pertama, dan akun koordinator."

"Kita juga harus memikirkan Nisa," kata Anindya.

Pintu terbuka. Nisa masuk bersama kepala produksi. Wajahnya tegang, tetapi langkahnya tidak ragu.

"Saya mau memberikan pernyataan," katanya. "Kalau saya bersembunyi, orang-orang akan menganggap foto itu benar."

"Itu pilihanmu, bukan kewajiban," jawab Anindya. "Kami bisa membantah tanpa memperlihatkan wajahmu."

"Nama saya sudah tersebar, Bu. Ibu saya menelepon sambil menangis. Saya ingin mereka melihat saya bicara sendiri."

Gilang menjelaskan risiko, hak privasi, dan kemungkinan pertanyaan kasar. Setelah Nisa tetap setuju, pernyataannya direkam dalam satu pengambilan. Kepala produksi menunjukkan daftar kru, bukti lokasi, dan bahan kampanye yang mereka kerjakan. Tidak ada musik sedih dan tidak ada naskah dramatis.

Video itu diunggah bersama foto lengkap.

Dalam satu jam, sejumlah media memperbaiki judul. Dua portal menolak. Kevin menyimpan tangkapan layar sebelum dan sesudah perubahan. Gilang mengirim hak jawab resmi, memberi batas waktu yang wajar, dan menyiapkan laporan apabila fitnah diteruskan.

Seorang sponsor utama inkubator meminta panggilan video. Direktur pemasarannya berbicara hati-hati, tetapi maksudnya jelas: mereka ingin PE menonaktifkan Nisa agar merek mereka tidak ikut terseret.

"Dia korban manipulasi foto, bukan pelanggar," kata Anindya. "Kami tidak menghukum karyawan untuk membuat fitnah tampak nyaman bagi sponsor."

"Kami hanya meminta tindakan sementara sampai situasi reda."

Arya menyisipkan salinan klausul kemitraan ke layar. "Pasal delapan melarang diskriminasi terhadap pekerja yang menjadi korban pelecehan daring. Kalau Anda memaksa penonaktifan, kami akan mengembalikan dana kampanye dan menerbitkan alasan penghentian kerja sama."

Direktur itu terdiam cukup lama. "Tidak perlu sejauh itu, Pak Arya. Kami akan meninjau ulang."

"Tinjau faktanya, bukan tagarnya."

Panggilan ditutup. Nisa yang masih berada di ruangan mengusap mata, lalu membungkuk kecil kepada mereka. Arya menggeleng.

"Jangan berterima kasih karena perusahaan menjalankan kewajibannya," katanya. "Kembali bekerja kalau kamu siap. Ambil cuti kalau belum. Gajimu tetap."

Keputusan itu menyebar lebih cepat di kalangan internal daripada pernyataan resmi. Staf yang sejak pagi takut menjadi sasaran berikutnya mulai mengirim bukti ancaman tanpa menyembunyikan kesalahan kecil mereka sendiri. Alih-alih pecah, tim PE memberi Kevin lebih banyak data.

Namun tagar baru muncul sebelum makan siang: Istri Bayaran Pewaris Liar.

"Mereka tidak peduli cerita mana yang bertahan," kata Kevin. "Tujuannya membuat publik kelelahan membedakan benar dan salah."

Ia membuka dua aliran pembayaran. Jalur pertama mendanai kampanye tentang Nisa. Jalur kedua membayar perpanjangan kontrak Bella melalui perusahaan berbeda. Keduanya masuk ke Agensi Trending Nusantara pada tanggal berdekatan dan dibagi oleh sistem akuntansi yang sama.

"Sumber yang sama," kata Arya.

"Atau pengelola yang sama untuk dua klien. Tapi kode internalnya berurutan. Kampanye Bella dan fitnah ini satu paket."

Anindya berdiri di belakang kursi Arya. Layar menampilkan komentar yang menuduh dirinya bodoh, lemah, atau menjual pernikahan. Tangannya terangkat perlahan.

"Boleh?" tanyanya.

Arya mengangguk.

Anindya meletakkan telapak tangan di bahunya.

Sentuhan itu singkat, tetapi dilakukan di depan Rani, Kevin, dan Gilang tanpa sandiwara kamera. Tubuhnya tidak membeku. Ia tidak menarik tangan mendadak. Arya juga tidak bergerak untuk mengubahnya menjadi pelukan.

"Kita selesaikan satu per satu," katanya.

"Bukan satu per satu," jawab Arya sambil melihat grafik. "Kita cari pusatnya."

Kevin menerima pesan terenkripsi dari Herman. Perantara berjas abu-abu yang dilihat di gala baru saja bertemu fotografer pembuat gambar palsu. Setelah pertemuan, ia membuang telepon murah dan meninggalkan sebuah amplop di loker stasiun.

Herman tidak mengambil amplop. Ia memotret orang kedua yang mengambilnya.

Wajah dalam foto itu cocok dengan identitas yang diberikan Bella: pria sekitar empat puluh tahun, berkacamata tipis, cincin hitam.

Pak Andi.

"Akhirnya," kata Kevin.

Arya tidak ikut tersenyum. "Orang yang membiarkan dirinya difoto mungkin sedang memberi kita umpan."

Seolah menjawab kecurigaannya, layar besar di ruang rapat mendadak berubah. Sebuah akun anonim mengunggah hitung mundur merah dengan logo PE yang retak.

47:59:58.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat: Dalam empat puluh delapan jam, kebohongan terbesar keluarga Adiwangsa akan dibuka.

Rani menelan ludah. "Apa yang mereka punya?"

"Belum tentu apa pun," kata Gilang.

"Tapi mereka ingin kita panik dan membuat kesalahan sebelum waktunya habis," ujar Anindya.

Arya menatap angka yang terus berkurang. Lalu ia menutup layar itu dan membuka kembali diagram pembayaran.

"Kalau mereka memberi kita empat puluh delapan jam," katanya, "gunakan setiap menit untuk menemukan dari mana bom itu dikirim."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!