"Bunga Aster segar, kotak sarapan tanpa nama, dan pesan singkat dari nomor tak dikenal."
Selama berbulan-bulan, Nayshi dibuat bertanya-tanya oleh sosok secret admirer yang selalu memanjakannya diam-diam di tempat kerja. Di saat ia terbiasa dengan perhatian misterius itu, sebuah kejutan besar datang: sosok di balik topeng pengagum rahasia tersebut ternyata adalah Keenan Zaydan—CEO kaku dan dingin yang menjadi mitra proyek perusahaannya.
Pria yang di dunia bisnis terkenal kaku bak "kulkas dua pintu" itu ternyata bisa berubah sangat romantis, manis, dan pantang menyerah demi meluluhkan hati Nayshi. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai saat Keenan tak lagi bersembunyi di balik layar, melainkan nekat melangkah langsung ke rumah Nayshi untuk berhadapan dengan orang tuanya.
Akankah Nayshi siap menyambut cinta sang CEO yang dulunya sembunyi-sembunyi, kini terang-terangan menunjukkan effort tanpa batas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Traay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu diujung badai
Suara sirene polisi kian memudar, ditelan heningnya malam di pesisir. Disepanjang menuju area parkir Keenan memegari bahu Nayshi denga lengah yang kokoh, Ia tak memberi jarak walau satu inci, Ia sangat takut jika Nayshi hilang darinya.
"Nay, pokoknya sampe Rumah Lu langsung istirahat dan ga usah takut. Boti sama cewek murahan itu sudah ditangan polisi. " Cetus Nadia berjalan didepan bersama Bosnya, walaupun sudut bibir Nadia lebam tapi Ia tetap santai untuk mencairkan suasana.
Nayshi mengulas senyum tipis dibalik kerah Jas Keenan. "Makasih Nad, Pak Arvin, dan Kamu, " ucap Nayshi dengan melihat mereka satu persatu dan diakhir Ia menatap Keenan lama. "Kalo ga ada Kalian, pasti Aku udah-"
"Jangan bicara seperti itu. Sekarang Kamu sudah aman, Nona Nayshi, "potong Keenan dengan suara lembut dan dalam, serta jemarinya mengusap lembut bahu Nayshi yang masih sedikit gemetar.
Saat sampai di parkiran ponsel Arvin berdering, ternyata Ia dapat panggilan telfon dari Istrinya.
" Hal-" ucap Arvin langsung dipotong oleh Istrinya. "Sayang Nayshi, gimana? Nadia juga aman, kan? terus pelakunya siapa? " tanya Clara tanpa koma.
"Pelan-pelan Sayang. Semuanya aman, hanya lebam dikit, dan pelakunya itu si Irsyad sama Keysa Asistennya Keenan, sekarang mereka sudah dikantor polisi," sahut Arvin dengan tenang menjawab pertanyaan Clara.
"Irsyad? Si boti itu? " tanya Clara memastikan dengan suara menahan emosi.
"Iya Bu, si Boti Irsyad, " sahut Nadia yang tiba nimbrung.
"Saking boti-nya Dia, Dia cuman berani sama perempuan. Pas Pak Keenan sama Pak Arvin ngadepin Dia, Dia malah ga bisa lawan. pokoknya cemen banget Bu! "lanjut Nadia dengan penuh semangat menceritakan.
"Ya udah, bagus kalo mereka sudah ketangkap. Kalian bawa Nayshi pulang secepatnya pasti Ia kelelahan." ucap Clara dengan nada khawatir.
"Iyaa, ini Kita juga sudah mau jalan pulang. Kamu tidur duluan aja, semuanya udah baik-baik aja. Aku ijin matikan. " sahut Arvin lalu mematikan panggilan tersebut.
Kini mereka masuk ke mobil masing-masing: Keenan bersama Nayshi, Nadia tetap membawa mobil marun Nayshi, dan Arvin membawa mobilnya sendiri.
Mereka semua menancap gas ke Rumah Nayshi. Perjalanan di dalam mobil Keenan terasa sunyi, bukan sunyi yang mencekam. Tangan Keenan fokus menyetir mobil membelah jalanan malam, sedangkan tangan kirinya terus menggengam tangan Nayshi. Sentuhan erat itu adalah salah satu cara Keenan untuk meyakinkan dirinya sendiri, kalo Nayshi benar-benar ada disisinya.
Saat mobil mereka berhenti di Rumah Nayshi, Orang tua Nayshi, orang tua Keenan serta anak buah Ayah sudah ada diteras menyambut kedatangan Nayshi.
"Nayshi! "
Suara isak tangis Mama pecah, Ia langsung berlari menghampiri Putrinya dan langsung membawa Nayshi ke pelukannya. Papah pun menyusul dan langsung memeluk Nayshi bersama.
"Sayang, Kamu ada luka ga? " tanya Mamah sambil memeriksa tubuh Nayshi. "Mereka melakukan hal yang ga baik sama Kamu? " tanya Papah sambil membelai lembut rambut putrinya.
"Mah..Pah...Alhamdulillah, Aku baik-baik aja. Ada Keenan, Nadia sama Pak Arvin yang sudah bantu. " ucap Nayshi dengan sikap yang tenang dan memperlihatkan senyum tulusnya.
"Terimakasih. Nak Keenan, Pak Arvin,dan Nadia. Terlebih Kamu Nadia, kamu perempuan pemberani," ucap Papah dengan melihat mereka satu persatu.
"Haruslah Om! menyelamatkan sahabat sedekat nadi tuh harus berani. " sahutnya dengan merangkul Nayshi, dan Nayshi senyum bangga kepadanya.
Bunda mendekat mengusap bahu Mamah, dan mengusap lembut kepala Nayshi. "Nayshi Sayang, Bunda lega Kamu pulang tanpa ada yang kurang sedikit pun, "
"Alhamdulillah, Bunda. Makasih juga Bunda, Ayah sudah bantu Nayshi dan menemani Papah dan Mamah. " ucap Nayshi tulus.
Ayah tersenyum mengangguk pelan. "Sudah kewajiban Kami Nayshi, Kamu kan Putri kita. "
Keenan melangkahkan kakinya, kearah seseorang yang berjasa dalam misi penyelamatan Nayshi. "Kevin, makasih kamu sudah bantu menyadap CCTV."
"Sama-sama Pak. Ini sudah tugas Saya membantu keluarga Zaydan, " sahutnya dengan suara ngebas namun lembut.
"Dan Saya izin pamit lebih dulu, semuanya. Taksi Saya sudah sampai."lanjut Kevin berpamitan.
"Iya, terimakasih sekali lagi sudah membantu nak Kevin. " ucap Papah dengan menepuk bahunya.
"Iya Pak. " sahutnya langsung melangkah pergi.
'Aduh! udah cakep, suara candu, jago nyadap. mau godain tapi waktunya ga tepat. 'batin Nadia gemas, mengagumi sosok Kevin, walaupun waktunya tidak tepat.
"Mending Kita semua ngobrol didalam, dari pada di luar. " ajak Papah dan mereka semua masuk kedalam Rumah Nayshi.
Setelah suasana haru sedikit mereda, perhatian beralih pada sosok yang tenang didekat pintu sejak tadi. Ialah Arvin dengan kemeja yang robek, namun wibawanya sebagai pemimpin tetap terlihat jelas.
"Om, Tante, " sapa Arvin dengan hormat. " Mohon maaf, atas kelemahan Saya dalam menjaga Karyawan Saya. "
Papah segera menjabat tangan Arvin. "Nak Arvin, ini bukan salah Kamu juga. kejadian hari ini ga ada yang bisa menduga. "
"Vin, makasih banget Lu gercep banget! " ucap Keenan sambil menepuk bahu Arvin.
Arvin terkekeh sambil menepuk balik. "Ngapain makasih Nan. Nayshi itu Karyawan Gue, apalagi kejadian ini terjadi di Kantor Gue. "
Bunda tersenyum melihat interaksi itu. "Kalian dari dulu tuh selalu kompak. Makasih ya Vin, "
Arvin mengangguk pelan. "Sama-sama Bunda, maklum Kita kan CS. "
Arvin kini melihat Nadia. "Nad, ayok saya antar pulang. "
"Nad. Please Lu jangan pulang, temenin Gua yaa! " bujuk Nayshi yang ga mau tidur sendirian.
"Pak, Saya mau nemenin Nayshi untuk malam ini. Bapak bisa pulang, dan terimakasih tawarannya. " sahut Nadia, Ia tak tega jika langsung pulang dengan kondisi Nayshi yang masih ada rasa trauma.
"Ya udah, Saya pamit terlebih dulu. " ucap Arvin, lalu berpamitan pada semua orang didalam sana.
Sepeninggal Arvin, menyisakan kehangatan yang mendalam. Kebersamaan dua keluarga itu mengikis sisa-sisa ketegangan yang ada.
"Nak Keenan, makasih sudah menjaga Nayshi malam ini. Kamu benar-benar sudah membuktikan seberapa besar rasa sayang Kamu pada Putri Saya. " ucap Papah dengan menatap Keenan penuh rasa bangga.
Keenan mengangguk hormat, dan menyiratkan kesungguhan. "Ini sudah jadi tanggung jawab Saya. Saat Nayshi menyetujui Saya untuk mengenalnya dari saat itu Ia sudah jadi tanggung jawab Saya. "
Keenan menarik nafas dalam lalu melepaskan perlahan. "Om, Tante. Saya tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi ini sudah Saya rencanakan untuk membicarakan suatu hal. "
Bunda dan Ayah saling melempar tatapan satu sama lain, mereka tak menyangka Putranya langsung mengambil langkah malam ini juga setelah insiden yang sangat menegangkan.
"Saya sudah sangat yakin dengan Nayshi. Serta tadi siang Nayshi juga sudah setuju untuk membawa hubungan ini ke pernikahan. Saya minta izin untuk melamar Nayshi secara resmi setelah keadaan Nayshi membaik. " lanjut Keenan dengan mengalihkan pandangan ke Nayshi.
"Ciee... " goda Nadia dengan menyenggol tangan Nayshi, dan satu tangganya lagi mengopres bibir lebam-nya.
"husst! " sahut Nayshi dengan senyum malu.
Papah dengan senyum merekah. "Karena Putri Saya sudah siap, maka Saya dan Istri pasti memberi izin serta restu. "
Senyum di wajah Keenan dan Nayshi merekah mekar. Lalu orang tua Nayshi dan Keenan saling memberi selamat.