Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
percakapan takumi dan kyo
“Kau siapa-nya gadis itu?” Pertanyaan itu meluncur telak tanpa basa-basi.
Kyo yang baru saja sampai di lantai satu menghentikan langkahnya. Ia menatap Takumi yang kini berdiri di hadapannya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Aku Kyo Hideki. Aku bertemu Tachibana-san malam ini.”
“Bertemu?”
“Iya, kami memang sudah membuat janji sebelumnya.”
Takumi menyipitkan mata. “Janji?”
Kyo mengangguk. “Kami bertemu karena perjodohan.”
Takumi terdiam. Perjodohan. Jadi, pria yang membawa Rin pulang malam ini adalah salah satu pria yang ditemuinya atas permintaan sang ayah. Entah kenapa, informasi itu menyentil rasa tidak nyaman di dadanya. Ia melirik ke arah tangga.
Jadi dia pulang sampai selama ini karena dia pergi menemui pria lain...
Takumi segera mengalihkan pandangan. Bukan urusannya.
Namun, sebelum sempat mengatakan apa-apa, Kyo kembali membungkuk. “Sekali lagi, saya minta maaf mengenai makanan tadi. Saya benar-benar tidak tahu kalau Tachibana-san alergi udang.”
“Tidak perlu terus meminta maaf,” sahut Takumi dengan nada datar. “Yang penting sekarang kondisinya sudah tertangani.”
Takumi menatap Kyo beberapa saat. “Lain kali, kalau kau mengajaknya makan, pastikan kau tahu apa yang dia tidak bisa makan.”
Kyo tampak sedikit terkejut, tetapi kemudian mengangguk serius. “Iya, saya mengerti.”
Hening menyelimuti mereka sejenak hingga Kyo akhirnya mengambil helmnya. “Kalau begitu, saya pamit. Tolong sampaikan salam saya kepada Tachibana-san kalau dia sudah bangun.”
Takumi mengangguk kecil, memandangi Kyo tanpa ekspresi sampai pintu depan tertutup dan rumah kembali sunyi.
Rin memang merepotkan sejak pertama kali mereka bertemu—kamar berantakan, tidak bisa memasak, sering meninggalkan barang sembarangan, dan sekarang bahkan alergi makanan pun tidak diberitahukan pada orang yang bersamanya. Benar-benar gadis yang merepotkan.
Takumi berbalik hendak kembali ke kamarnya. Namun baru beberapa langkah, ia terhenti dan pandangannya lagi-lagi mengarah ke tangga. Ia menghela napas pasrah lalu berjalan naik. Bukan karena khawatir—setidaknya, itulah alasan yang berusaha ia yakini. Ia hanya ingin memastikan gadis itu benar-benar baik-baik saja.
Namun ketika melewati lantai atas, langkahnya kembali melambat di depan kamar Rin. Ia berdiri beberapa saat di sana. Tidak terdengar suara apa pun.
Takumi menghela napas kecil. Tangannya hampir terangkat untuk mengetuk pintu, tetapi ia mengurungkannya.
Kalau sudah tidur, biarkan saja. Ia kemudian kembali berjalan menuju kamarnya.
Sementara itu, di balik pintu kamar, Rin ternyata belum sepenuhnya tertidur. Ia mendengar langkah kaki Takumi yang semakin menjauh. Rin menatap pintu kamarnya.
“...Kurosawa-san ...Terima kasih.”
Namun kalimat itu hanya terucap pelan di dalam kamar yang sepi. Takumi tentu tidak mendengarnya.
***
Keesokan paginya, Rin baru terbangun ketika matahari sudah cukup tinggi. Tidak seperti biasanya yang langsung menggerutu karena harus menjalani rutinitas rumah, kali ini tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Ia duduk di atas kasur lalu memeriksa wajah dan lengannya—ruam kemerahan yang muncul semalam sudah banyak memudar. Masih ada beberapa bekas kemerahan di kulitnya, tetapi rasa sesak dan lemas yang sempat membuatnya hampir pingsan sudah tidak terasa lagi.
“Untunglah...” gumam Rin mengusap pipinya pelan.
Ia membuka pintu kamar dan turun ke lantai satu. Rumah masih sunyi. Di atas meja makan, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan Takumi yang memenuhi bagian tengahnya:
Jangan lakukan apa pun hari ini. Istirahat.
Kalau kondisi memburuk, hubungi aku.
Di bawahnya terdapat satu catatan pendek:
Sarapan selagi hangat.
Rin tersenyum kecil. “Perhatian juga orang itu.”
Ia berjalan menuju dapur. Namun, begitu membuka tutup panci di atas kompor, Rin langsung terdiam. “Banyak banget...” bisiknya melihat satu panci penuh bubur ayam buatan Takumi. Rin mengambil mangkuk, menuangkan bubur secukupnya, menambahkan sedikit daun bawang, lalu membawanya ke meja makan.
Baru beberapa suapan masuk ke mulutnya, suara mesin motor yang cukup besar dan khas terdengar mendekat dari luar rumah. Rin menghentikan sendoknya. “Hm?” Ia menoleh ke arah pintu. “Jangan-jangan... motor Kyo-san?”
Benar saja, tak lama kemudian bel rumah berbunyi. Rin berjalan perlahan menuju pintu depan. Saat dibuka, Kyo berdiri di hadapannya— Begitu melihat Rin berdiri dalam keadaan jauh lebih baik, wajah Kyo langsung terlihat lega.
“Tachibana-san.”
Rin tersenyum. “Pagi, Kyo-san.”
“Kondisimu bagaimana?”
“Sudah jauh lebih baik. Ruamnya masih sedikit, tapi sudah tidak apa-apa.”
Kyo mengembuskan napas lega. “Syukurlah.”
Rin membuka pintu lebih lebar. “Masuk saja.”
“Boleh?”
“Iya, kenapa berdiri di luar?”
Kyo tersenyum kecil. Ia melepas sepatu di genkan, memakai sandal rumah yang disediakan, lalu mengikuti Rin menuju ruang makan. Begitu melihat bubur di atas meja, Kyo menatap Rin. “Kau sedang sarapan?”
“Iya. Mau?”
Kyo sempat ragu. “Boleh?”
“Kenapa tidak?” Rin mengambilkan mangkuk lain, menuangkan bubur, lalu menyajikan minuman untuk Kyo.
“Terima kasih.”
Keduanya duduk berhadapan dan mulai makan dalam keheningan yang sesekali dihiasi suara denting sendok. Kyo akhirnya membuka percakapan. “Tachibana-san... maaf soal semalam.”
Rin langsung terkekeh. “Kau sudah berapa kali mengucapkan itu?”
Kyo tersenyum canggung. “Aku benar-benar merasa bersalah. Setelah mengantarmu pulang, aku terus kepikiran, makanya pagi-pagi aku langsung datang.”
“Tidak apa-apa. Aku juga masih bisa makan bubur pagi ini.”
Kyo menghela napas. “Bagaimanapun, awal pertemuan kita benar-benar kacau.”
Rin menahan tawa. “Lumayan kacau.”
“Aku bahkan belum sempat mengenalmu dengan benar, sudah membuatmu hampir pingsan.”
Rin mengangkat sendoknya. “Kalau begitu, kita ulang saja. Tapi sarapan dulu, dan selama makan jangan bahas kejadian semalam.”
Kyo menatapnya lalu terkekeh. “Boleh. Baiklah, aku setuju.”
Mereka kembali menikmati sarapan dalam suasana yang jauh lebih santai. Setelah mangkuk mereka hampir kosong, Rin berdiri hendak mencuci mangkuk Kyo. Namun, Kyo bergegas mengambil alih mangkuk tersebut.
“Biar aku,” tahan Kyo. “Kau duduk saja. Justru karena aku tamu, setidaknya biarkan aku mencuci mangkukku sendiri.”
Rin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menyerah. “Baiklah.”
Selagi Kyo mencuci mangkuk di dapur, Rin kembali duduk di sofa. Usai mencuci, Kyo menghampirinya. “Kau sudah minum obat?”
Rin menggeleng. “Belum.”
“Minumlah sekarang.”
Rin mengambil obat dari pouch merahnya, meneguk air, lalu bersandar di sofa sambil menyalakan televisi. Kyo duduk tak jauh darinya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Rin bergetar menerima pesan masuk dari Kurosawa-san: Sudah makan?
Rin tersenyum kecil dan langsung mengetik balasan: Sudah. Terima kasih, buburnya enak. Setelah berpikir sebentar, ia menambahkan: Kau pulang jam berapa?
Tak lama kemudian, balasan singkat masuk: 4.
Rin menyipitkan mata melihat balasan satu angka itu. “Empat...” Bingung harus membalas apa lagi, ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Kyo yang menyaksikannya menoleh. “Masih chat dengan seseorang?”
“Bukan apa-apa,” jawab Rin sambil mengambil bantal dan memeluknya. Kyo tidak bertanya lagi, tetapi kembali menghela napas.
“Tachibana-san...setelah kau benar-benar sembuh, datanglah ke kafeku. Aku akan memberikan pelayanan spesial sebagai permintaan maaf.”
Rin terkekeh. “Pelayanan spesial?” Pria ini ternyata cukup menyenangkan. Namun, sebuah rasa penasaran mendadak muncul di kepalanya. “Em... Kyo-san, menurutmu, apa tujuanmu ikut perjodohan itu? Apa kau berniat untuk menikah?”
Kyo terkekeh. “Tidak-tidak, aku masih muda, Tachibana-san. Aku tidak ingin menikah secepat itu. Ya... untuk mencari yang cocok saja dulu.”
Rin mengangguk. “Jadi aku wanita yang keberapa?”
Kyo terdiam sejenak sambil menghitung dalam hati. “Emm... lima.”
“Lima?” Rin langsung duduk tegak.
“Lalu masih ada berapa?”
“Lima,” jawab Kyo santai.
Rin menatapnya tak percaya. “Jadi ada sepuluh pilihan?”
Kyo terkekeh melihat reaksi Rin. “Kurang lebih. Kalau belum menemukan yang cocok, mungkin aku akan bertemu beberapa kandidat lagi.”
Rin langsung manyun. “Banyak sekali. Kalau aku jadi salah satu dari sepuluh itu, rasanya seperti sedang ikut audisi. Tidak lucu.”
Kyo kembali terkekeh. “Tapi pertemuan denganmu menjadi pelajaran penting bagiku. Dari lima wanita sebelumnya, tidak ada satu pun yang hampir pingsan gara-gara makanan yang kupilih.”
Rin menatapnya datar. “Ya, ya. Untuk kandidat keenam dan selanjutnya, sebaiknya kau tanyakan dulu apakah mereka punya alergi makanan atau tidak.”
“Ya, aku setuju,” Kyo mengangguk mantap.
Rin tersenyum. Setidaknya, pertemuan yang awalnya hampir berakhir buruk itu kini terasa sedikit lebih ringan.