Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : Kilasan Ingatan yang Menusuk Kepala
Malam semakin larut di kawasan Menteng yang tenang, tetapi di dalam kamar tidur mewah berlantai kayu jati milik Clara van der Berg, waktu seolah berjalan tanpa ampun. Perjamuan bisnis bersama para relasi sindikat ayahnya telah lama usai, dan para tamu undangan satu per satu telah meninggalkan halaman rumah besar dengan mobil-mobil sedan antik mereka. Suasana rumah berangsur-angsur senyap, menyisakan deru angin malam tropis yang menggoyang dedaunan pohon mangga di luar jendela.
Clara duduk sendirian di tepi ranjang besarnya yang beralaskan sutra. Ia mengenakan gaun malam tipis berwarna putih gading, sementara rambut hitam legamnya yang panjang tergerai bebas menutupi punggungnya. Di telapak tangan kanannya yang sedikit gemetar, ia menggenggam erat cincin perunggu kuno berukir daun zaitun Romawi—benda sakral yang ia temukan di dalam kotak perhiasannya sore tadi.
Benda itu terasa dingin, namun ketika kulit jarinya bersentuhan langsung dengan ukiran logam tua tersebut, sebuah sensasi aneh mendadak merayap naik ke ujung jemarinya. Sensasi itu terasa begitu familiar, menusuk langsung ke dalam sistem sarafnya, bagaikan aliran listrik bertegangan tinggi yang langsung membakar kesadarannya.
"Argh..." Clara mendesis tertahan, mengerang pelan sambil mencengkeram kepalanya dengan tangan kiri. Rasa sakit itu datang begitu mendadak, menghantam tempurung kepalanya bagaikan hantaman palu godam ribuan ton.
Sekejap kemudian, ruangan kamar tidur bergaya kolonial di Batavia itu seolah lenyap dari pandangannya. Batas ruang dan waktu runtuh seketika, melebur ke dalam dimensi memori masa lalu yang sangat pekat.
Di dalam mata batinnya, Clara tidak lagi melihat kamar mewah berlampu kristal Eropa. Ia melihat langit malam kekaisaran Roma yang kelam berkabut. Ia merasakan dinginnya lantai batu marmer putih di bawah lututnya yang telanjang. Bau dupa kemenyan yang berat, suara derap sepatu bot besi para pengawal kekaisaran, dan teralis besi penjara bawah tanah yang berkarat kembali berputar di dalam kepalanya dengan kecepatan luar biasa.
Kilasan ingatan pertama: Suara tawa kecil mereka di balik rimbunnya taman bunga istana, di mana seorang pria berbalut jubah kebesaran membelai pipinya dengan penuh kelembutan, berjanji melindunginya dari dunia yang kejam.
Kilasan ingatan kedua: Wajah pucat Marcus yang basah oleh air mata, mencengkeram jeruji besi penjara bawah tanah sambil berteriak putus asa, menolak perpisahan yang dipaksakan oleh takdir kasta kekaisaran.
Kilasan ingatan ketiga: Perjalanan gerobak pengasingan yang penuh debu, cambuk kulit yang menghantam udara, hingga rasa sakit luar biasa yang meremukkan dadanya di tanah gersang perbatasan selatan Roma. Dan detik-detik terakhir di mana ia menghembuskan napas terakhirnya di dalam dekap hangat sang pangeran, meninggalkan janji suci untuk saling menemukan di keabadian berikutnya.
"Cukup... kumohon, hentikan..." Clara menjerit pelan, air matanya tumpah menderas membasahi pipinya. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi, bercampur aduk dengan rasa rindu yang teramat sangat, kepedihan masa lalu, dan beban takdir yang harus ia tanggung seorang diri di era kolonial ini.
Ia bisa merasakan kepedihan Marcus saat jasadnya dibawa pulang ke aula istana. Ia bisa merasakan kemarahan pangeran itu yang melepas mahkota kekaisaran demi cinta mereka. Semua emosi itu—cinta, air mata, darah, dan kematian—mengalir deras kembali ke dalam jiwa Clara, menyadarkannya bahwa ia bukan sekadar gadis bangsawan biasa di Batavia tahun 1928. Ia adalah Callista, wanita yang sama yang telah mencintai dan mati demi pangeran Romawi ribuan tahun lalu.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Clara membanting tubuhnya ke atas ranjang, memeluk bantalnya erat-erat sambil terisak pilu dalam kesunyian malam. Isakannya terdengar begitu menyayat hati, meredam suara deru angin di luar jendela.
Di tengah badai ingatan yang terus menghujam kepalanya, sebuah kesadaran baru menghantam batin Clara dengan sangat telak. Jika ia telah terlahir kembali di era kolonial ini dengan membawa seluruh beban memori masa lalu, maka pria itu—reinkarnasi sang pangeran—pasti juga berada di suatu tempat di bawah langit Batavia yang sama.
Pria itu sedang mencarinya, atau mungkin... mereka tanpa sengaja telah dipisahkan oleh permusuhan darah yang kejam antara sindikat ayahnya dan keluarga besar kolonial.
Clara perlahan membuka matanya yang sembab. Menatap langit-langit kamarnya yang gelap gulita, ia mengepalkan cincin perunggu di tangannya hingga sudut logamnya menusuk kulit telapak tangannya. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tekad yang kini membara di dalam dadanya.
"Marcus..." bisik Clara ke dalam kegelapan malam, suaranya mengandung janji abadi yang melintasi ruang dan waktu. "Di mana pun kau berada di abad ini... aku akan menunggumu. Dan kita tidak akan membiarkan takdir merenggut kita untuk kedua kalinya."
*•*
*•*
*•*