Indonesia
NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal dari Kehidupan Baru

Tiga bulan berlalu sejak hancurnya keluarga Meganco di bursa saham dan dunia medis. Sejak saat itu, ketenangan yang hakiki benar-benar menyelimuti kediaman utama keluarga Nandotomo. Jiro kini tidak hanya mampu berjalan dengan tegap tanpa tongkat, melainkan sudah bisa melakukan aktivitas fisik berat seperti berlari kecil di atas treadmill setiap pagi, sebuah kemajuan medis yang sempat dinyatakan mustahil oleh para dokter spesialis dahulu.

Sore itu, angin laut berembus sepoi-sepoi, menggoyahkan pohon-pohon kelapa yang berjajar rapi di tepi pantai pribadi milik resort eksklusif keluarga Nandotomo di Anyer. Jiri sengaja mengosongkan seluruh jadwal kerjanya selama satu minggu penuh demi membawa Senjani berlibur. Dia ingin memberikan waktu istirahat yang layak bagi istrinya, setelah berbulan-bulan wanita itu mengorbankan waktu dan tenaganya sebagai terapis sekaligus pelindung batinnya.

Senjani duduk di kursi malas anyaman yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Semburat warna jingga dan keunguan di langit senja memantul indah di atas permukaan air laut yang tenang. Dia mengenakan gaun pantai longgar berbahan katun tipis berwarna putih bersih. Wajah cantiknya tampak jauh lebih segar, dengan binar kebahagiaan yang terpancar jernih dari sepasang matanya.

"Minum jus jerukmu, Sayang. Jangan melamun terus," ucap sebuah suara bariton yang dalam dari arah belakang.

Jiro melangkah mendekat, meletakkan segelas jus buah segar di atas meja kecil, lalu duduk di tepi kursi malas Senjani. Pria itu kini hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka dan celana pendek santai. Penampilannya tampak sangat rileks, sangat kontras dengan aura kaku dan dingin yang biasa dia perlihatkan di balik meja kerja CEO.

Jiro melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Senjani, menarik tubuh kecil istrinya agar bersandar nyaman pada dada bidangnya. "Apa yang sedang dipikirkan oleh istriku yang cantik ini, hm?"

Senjani menoleh sedikit, memberikan senyuman manis yang membuat debaran di dada Jiro selalu berpacu cepat. Dia meraih tangan kanan Jiro, menyisipkan jemarinya di sela jemari suaminya yang hangat. "Aku cuma lagi berpikir, Mas... rasanya semua ini masih seperti mimpi. Enam bulan lalu, kita bertemu di koridor rumah sakit dalam keadaan penuh air mata dan luka. Tapi sore ini, kita bisa duduk bersama melihat matahari terbenam sebagai sepasang suami istri yang utuh."

Jiro terdiam sejenak, menatap lekat-lekat wajah Senjani dengan kabut asmara yang membakar jiwanya. Dia menundukkan kepalanya, mengecup kening Senjani dengan penuh kelembutan yang teramat sangat yang menyalurkan seluruh rasa syukur terdalamnya.

"Ini bukan mimpi, Senjani," bisik Jiro serak tepat di telinga istrinya. "Ini adalah takdir nyata yang kita perjuangkan bersama di atas bara api. Jika dulu aku tidak dipaksa menikahimu oleh Kakek, mungkin saat ini aku masih menjadi monster cacat yang membusuk di dalam kamar gelap karena kebencian. Kamu adalah keajaiban terbesar di dalam hidupku."

Senjani merasakan ulu hatinya menghangat mendengar pengakuan tulus suaminya. Dia hendak membalas ucapan Jiri, namun tiba-tiba saja, sebuah rasa mual yang teramat sangat dan melilit mendadak menusuk dari arah perutnya hingga ke tenggorokan.

Aroma jus jeruk segar di atas meja yang semula terasa manis, mendadak berubah menjadi bau yang sangat menyengat dan memicu rasa ingin muntah yang luar biasa hebat bagi indra penciumannya.

"Ugh..." Senjani refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Wajah cantiknya seketika berubah menjadi agak pucat.

"Senjani? Ada apa, Sayang?" tanya Jiro panik, seluruh tubuh tegapnya menegang seketika melihat perubahan drastis pada istrinya. Trauma masa lalu saat melihat Senjani pingsan akibat keracunan obat palsu mendadak berkelebat kembali di benaknya. "Perutmu sakit lagi? Apa makanan laut tadi siang ada yang salah?"

Senjani tidak sempat menjawab. Dia buru-buru melepaskan diri dari dekapan Jiro, bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, lalu berlari kecil menuju toilet umum yang berada di dekat area gazebo pantai.

"Hoek... hoek..."

Senjani bertumpu pada pinggiran wastafel kristal, memuntahkan seluruh cairan bening dari dalam perutnya. Tubuhnya terasa lemas, dan kepalanya mendadak terasa sedikit berputar hebat akibat rasa mual yang terus mendesak keluar.

Jiri menubruk masuk ke dalam toilet beberapa detik kemudian dengan wajah yang sudah bersimbah keringat dingin karena kepanikan yang luar biasa. Dia memijat tengkuk leher Senjani dengan gerakan jari yang sangat hati-hati, lalu membersihkan sisa air di bibir istrinya menggunakan saputangan kain miliknya sendiri.

"Kita kembali ke Jakarta sekarang juga, Adriano sudah kutelepon untuk menyiapkan helikopter darurat," ucap Jiro dengan nada suara yang bergetar hebat menahan cemas. Dia berniat mengangkat tubuh kecil Senjani ke dalam gendongannya.

"T-Tunggu, Mas... jangan berlebihan dulu," Senjani menahan dada bidang milik Jiro dengan sisa kekuatannya, mencoba mengatur napasnya yang memburu pendek-pendek. Sebuah senyuman tipis yang sangat penuh arti mendadak mengulas di bibir pucat terapis muda itu. Sebagai seorang wanita yang memiliki pengetahuan dasar di bidang medis, dia mulai menyadari ada siklus bulanan tubuhnya yang telah terlambat selama hampir tiga minggu terakhir.

Senjani meraih tangan kanan Jiri, lalu menempelkannya perlahan di atas perut rata miliknya yang terbalut kain gaun putih. Dia menatap langsung ke dalam manik mata elang suaminya dengan binar mata yang berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena air mata kesedihan, melainkan karena kebahagiaan yang luar biasa besar yang meledak di dalam dadanya.

"Mas Jiro... Aku ga sakit akibat keracunan makanan," bisik Senjani, suaranya bergetar menahan haru yang membuncah.

Jiro mengernyitkan dahi tampannya, menatap telapak tangannya yang berada di atas perut Senjani dengan pandangan bingung. "Lalu? Kalau bukan sakit, kenapa kamu mual dan muntah sampai sepucat ini, Sayang?"

Senjani terkekeh pelan di sela isak tangis harunya, mempererat cengkeraman tangannya di jemari Jiro. "Di dalam sini... di dalam rahimku, tampaknya sudah ada detak jantung baru yang sedang tumbuh, Mas. Mas Jiro... aku hamil. Kita akan segera menjadi orang tua."

Deg!

Kata 'hamil' yang diucapkan Senjani dengan begitu lembut laksana sebuah ledakan bom kebahagiaan yang meruntuhkan seluruh sisa kewarasan dan keangkuhan CEO Nandotomo Group dalam sekejap mata. Jiro membeku di tempatnya berdiri, matanya membelalak sempurna menatap perut istrinya, lalu beralih menatap wajah Senjani dengan pandangan tidak percaya.

"K-Kamu... kamu hamil, Senjani?" tanya Jiro terbata-bata, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang pria sedingin es sepertinya.

"Iya, Suamiku tercinta. Benih cinta kita sudah tumbuh di sini," jawab Senjani mantap sembari menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang sangat manis.

Jiro tidak bisa membendung air mata kebahagiaannya lagi. Air mata kristal itu lolos jatuh membasahi pipinya yang kaku. Tanpa memedulikan tempat mereka yang berada di dalam toilet, Jiri langsung berlutut di atas lantai, mensejajarkan wajahnya dengan perut Senjani. Dia mengecup perut istrinya berulang kali dengan penuh kelembutan dan rasa hormat yang teramat sangat, seolah sedang menyembah berkah terbesar yang diturunkan Tuhan ke dalam takdir pernikahan mereka.

"Makasih... Makasih, Senjani..." rintih Jiro dengan suara parau yang habis karena luapan emosi bahagia, kembali bangkit berdiri dan mendekap tubuh kecil istrinya ke dalam pelukan pelindungnya yang sangat erat di bawah temaram lampu senja Anyer yang kian meremang romantis. Babak baru kehidupan pernikahan mereka yang sesungguhnya kini telah resmi dimulai, mengubur dalam-dalam seluruh duri air mata masa lalu di bawah fondasi kehadiran sang penerus takhta keluarga Nandotomo di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!