Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.
Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.
Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.
Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran manis Dean
Sudah sepuluh hari sejak kejadian hari itu.
Kini Azarin sudah melakukan kegiatan seperti biasa. Melayani pelanggan, memetik bunga, memetik buah apel di belakang rumah.
Kegiatan sederhana itu, setidaknya bisa membuat Azarin sedikit melupakan tentang mantan suami.
Sejak sepuluh hari itu juga, Dean jadi sering datang ke warung makan untuk melihatnya.
Tentu saja.
Tidak bisa dipungkiri lagi, hal itu sudah menjadi gosip para pekerja sepuluh hari ini.
Seperti saat ini, Dean akan mencari Azarin sampai masuk ke dalam dapur jika belum melihat wanita itu.
"Kumohon, Tuan. Jangan seperti ini. Saya takut ini menjadi gosip yang merugikan anda." Azarin letakkan kopi pesanan Dean gugup.
Setelah mengalami percekcokan kecil di dalam dapur, Dean baru mau duduk di kursinya, dan tidak lagi mengganggu.
Pria itu tatap kopi di meja lembut, meraihnya, menyesapnya sedikit, lalu kembali menatap Azarin seolah tak ingin kehilangan jejak wanita itu.
"Tidak, aku hanya sudah terbiasa dihidangkan olehmu."
Azarin menarik nafas panjang, menghelanya kecil.
Sejak kapan pria asing ini jadi sok dekat dan egois?
"Baiklah jika itu mau anda, silahkan nikmati kopinya." lalu berbalik masuk ke dalam dapur cepat.
Bahkan saat tak ada lagi Azarin di hadapannya, tatapan Dean tak pernah lepas dari tirai pembatas warung dan dapur.
Dean tatap genangan coklat dalam cangkir yang dipenuhi buih putih intens. Senyum tipis terbit di bibir sensual itu.
"Bahkan aroma kopi yang menyengat tak bisa menutup bau harummu, Azarin."
Untuk sesaat Dean lupa pekerjaannya.
Baginya, melewatkan sehari melihat Azarin adalah dosa.
Dean selalu berfikir, selama sepuluh hari ini. Bahwa sepertinya saraf serotonin dalam otak tak ingin membiarkan Azarin terlewat begitu saja dari ingatannya.
Aku ingin memilikinya.
Cinta pertamaku, yang aku fikir tidak akan pernah bisa kugapai itu.
Kini aku menginginkan kembali.
Tapi bagaimana?
Aku bukanlah maniak gila yang menjadikan Azarin tawanan dalam bentuk nikah kontrak.
Azarin terlalu istimewa, untuk diperlakukan layaknya barang jajakan.
Dia terlalu berharga, untuk disandingkan dengan wanita-wanita yang terpaksa menjadi second choice di luar sana.
"Bagaimana caranya, agar aku bisa memilikinya, seutuhnya."
Mengingat Azarin yang berputar di otak bagaikan rangkaian teka-teki rumit, sekejap Dean melupakan tentang traumanya di masa lalu.
Azarin.
"Wanita itu benar-benar membuatku berfikir masih ada hari indah esok."
Bahkan hanya dengan melihatnya saja, itu sudah cukup.
Apalagi memilikinya.
Wanita yang akan menghadirkan senyuman tulus setiap bangun tidur di pagi hari.
Menyapanya, membelai lembut pipi yang pernah di tampar kerasnya dunia.
Rahang Dean mengetat. Tatapannya berubah tajam.
Bajingan tengik itu!
"Andai aku tidak datang lebih cepat kemarin, apa bajingan itu akan semakin menusuk Azarin lagi dan lagi?"
"Tuan." panggilan Azarin membuyarkan lamunan Dean.
Pria itu mengedip pelan, beralih menatap Azarin yang memeluk nampan di depannya, dengan tatapan polos yang ingin ia rampas itu.
"Hmm, ada apa."
Pipi Azarin memerah langsung, merunduk cepat.
Tatapan intens Dean benar-benar seperti kokail yang memabukkan, yang bisa menghilangkan kesadaran siapapun yang mengkonsumsi nya.
"Su-sudah 1 jam anda duduk disini, tuan. Warung sebentar lagi tutup." cicit wanita itu ragu.
Dean tatap jam tangan yang melingkar pada lengan. Iris matanya menyipit, sudut bibirnya tertarik tipis.
"Sial, bahkan sekarang aku memiliki kebiasaan melamun sambil berfikiran mesum."
Dean bangkit dari duduknya perlahan, ia seka keringat di dahi Azarin dengan jempol yang terbalut sapu tangan.
"Jangan terlalu cape. Aku akan kesini lagi besok."
Azarin merunduk dalam, menatap bulat-bulat lantai di bawah seraya menutupi pipinya yang memerah.
Dean tersenyum tipis, ia merunduk mengsejajarkan bibirnya dengan telinga Azarin.
"Dan—kesepakatan kita."
Psshh!
Asap seolah keluar dari ubun-ubun Azarin.
Benar-benar.
Pria itu membuatnya malu setengah mati sekarang.
"Aku pamit dulu."
Pria itu lewati Azarin dengan langkah tenang, bunyi lonceng kecil tergantung di atas pintu mengejutkan lamunan Azarin.
Wanita itu segera menegakkan kembali punggungnya, menatap kepergian Dean yang sudah berjalan keluar.
Kesepakatan.
Benar.
Dean sudah memberikannya kesepakatan. Sebuah pernikahan.
Dengan bayaran setimpal untuk uang yang Dean keluarkan demi tunggakan sewa warung makan miliknya.
Sehari kemarin saat Azarin pulang dari rumah sakit, pemilik tanah warung mendatanginya, dan meminta tunggakan sewa 3 bulan yang Azarin tahan.
Waktu itu, Azarin sangat putus asa. Apalagi bayaran sewanya tidak murah.
Pemilik tanah yang culas justru menambahkan harga-harga tak berarti. Dan itu semakin menyulitkan Azarin.
Jika dia tak membayarnya, Azarin terpaksa hengkang dari tempat ini.
Tentu dia tidak setuju.
Baginya tempat ini adalah surga harapan. Tempat Azarin mengadu nasib setelah keterpurukan panjang.
Warung makan miliknya adalah bukti perjuangannya selama ini.
Warung yang menjadi saksi kekecewaan, ketulusan, dan harapan untuk bangkit.
Azarin tidak akan sanggup meninggalkan tempat penuh kenangan ini.
Beruntung Dean datang, memberikannya tawaran mengejutkan.
Dia sudah menolak.
Tapi entah mengapa Naya begitu heboh untuk menjodohkan Azarin dengan Dean. Seperti dia tau masa depan saja.
"Udahlah Azarin, terima saja tawarannya. Aku yakin banget dia pria baik-baik lho, udah gitu ganteng and gagah lagi." bisik Naya tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Azarin tatap temannya malas, menghela nafas panjang, "Meski pria itu menginginkan, bagaimana dengan keluarganya?"
Untuk sejenak Naya diam.
Ia tau fikiran Azarin kemana.
"Kamu masih terjebak dalam trauma masa lalu, Azarin. Tidak semua mertua bermuka dua seperti mantan mertuamu."
Azarin merunduk, menghela nafas lemah.
"Aku hanya cukup gugup, apa—pilihan bersamanya itu yang terbaik."
Naya tersenyum simpul, ia tepuk bahu Azarin pelan, "Kau sudah lihat seberapa dekat Mia dengan Dean beberapa minggu ini, Azarin. Pria itu benar-benar matang dan setel."
Azarin merunduk, jari jemarinya saling memilin.
"Sudah tiga tahun, Azarin." bisik Naya lagi, "Apa kau masih terus memikirkan Fajar?"
Azarin mendongak, menggeleng cepat, "Aku sudah mengikhlaskan nya."
Naya tersenyum, "Maka kini giliranmu. Bangunlah kembali rumah tangga yang sempat hancur itu. Dan berikan sosok Ayah yang hebat untuk Mia."
Naya rangkul tubuh Azarin erat, "Coba fikirkan tentang Mia. Bagaimana jika nanti putrimu dicemooh karena tak memiliki ayah. Meski rumah tangga kita hancur, kita tidak boleh menghancurkan masa depan anak juga kan?"
Untuk sesaat Azarin terdiam. Entah mengapa mengingat Mia, ia jadi teringat masa kecilnya.
Dimana dunianya hancur dalam sekejap akibat ibunya menjanda cukup lama, sekali menikah malah dengan pria tidak benar.
"Tapi aku takut salah pilih ayah untuk Mia, Naya." cicit Azarin ragu.
Naya lepas pelukan itu pelan. Ia genggam kedua bahu Azarin lembut.
"Aku tau, kau pasti trauma dengan ayah tirimu. Tapi dulu kan kau belum dekat dengannya. Dan tidak tau sifat asli pria itu. Tapi Dean berbeda, Azarin."
Hening.
Azarin tatap lantai kosong.
Benar.
Setelah melihat kedekatan Dean dengan Mia beberapa hari ini. Pria itu sangat lembut.
Mia yang selalu menolak diajak bapak-bapak tetangga, justru begitu manja dengan Dean.
"Apa—itu akan jadi pilihan terbaik?"
lanjuut thor.....