Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:608
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Pengawalan Sang Raja Jalanan

Sinar matahari pagi berikutnya menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar atas markas Black Cobra, namun kehangatannya sama sekali tidak mampu mengusir ketegangan yang menggelayut di hati Nasya. Pagi ini, ia terpaksa harus kembali ke sekolah setelah melewatkan beberapa hari yang penuh dengan pertumpahan darah. Di cermin tua dekat lemari, Nasya menatap pantulan dirinya yang mengenakan seragam SMA Tunas Bangsa yang sudah bersih dan rapi berkat bantuan salah satu anak buah faksi jalanan ini.

Tangannya bergerak perlahan menyentuh kerah bajunya, memastikan kalung perak bermata merah pemberian Eksan tetap tersembunyi dengan aman di balik kain seragamnya. Kalung itu kini terasa seperti sebuah stempel takdir yang mengunci hidupnya di dalam dunia kegelapan.

*klek.*

Pintu kamar terbuka tanpa suara. Eksan melangkah masuk dengan setelan seragam sekolah putih abu-abu yang sengaja dibiarkan terbuka kancing atasnya, menampilkan jaket kulit hitam kebanggaannya yang bertengger gagah di pundak bidangnya. Meskipun pelipisnya masih dibalut plester luka dan perut kirinya dilapisi perban tebal, langkah kaki sepatu bot beratnya terdengar begitu mantap dan tidak menyiratkan kelemahan sedikit pun.

"Sudah siap?" tanya Eksan dengan nada suara yang berat, rendah, dan serak. Sepasang mata elangnya langsung mengunci sosok Nasya dari atas ke bawah.

Nasya mengangguk pelan dengan ragu. "Sudah, Eksan. Tapi... apakah benar-benar aman jika aku berangkat ke sekolah hari ini? Raka bilang geng White Tiger sedang melacak keberadaan di luar sana."

Eksan berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Nasya bisa mencium aroma maskulin yang pekat dari tubuh pemuda itu. Eksan mengulurkan tangan kasarnya, mencengkeram lembut dagu mungil Nasya agar gadis itu mendongak menatap langsung ke dalam manik matanya yang pekat dan tajam.

"Di kota ini, tidak ada satu tempat pun yang aman bagimu jika kau berada jauh dari pandanganku, Gadis Kecil," ucap Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh dengan penekanan posesif yang kuat. "Mulai hari ini dan seterusnya, kau akan berangkat dan pulang sekolah bersamaku. Aku sendiri yang akan menjadi bayang-bayang perlindunganmu di sepanjang jalanan."

Eksan melepaskan dagu Nasya, lalu menyodorkan sebuah helm hitam legam berlogo mawar berdarah ke genggaman tangan mungil gadis itu. Tanpa membiarkan Nasya membantah, Eksan berbalik dan menuntun langkahnya keluar dari kamar atas, menuruni tangga besi menuju halaman gudang kontainer.

Di lantai bawah markas, suasana tampak sangat sibuk. Belasan motor gede milik anggota inti Black Cobra sudah berbaris rapi dengan mesin yang sengaja dipanaskan hingga menderu halus, menciptakan getaran konstan di udara. Raka yang berdiri di samping motor sport hitamnya langsung menundukkan kepala memberi hormat saat melihat kedatangan sang ketua tertinggi.

Eksan melompat naik ke atas motor gede hitam pekat kesayangannya dengan gerakan yang kokoh. Ia melirik ke arah boncengan belakangnya, memberikan isyarat dagu yang tegas pada Nasya. "Naik, Nasya. Dan pastikan tanganmu mencengkeram pinggangku erat-erat jika kau tidak mau terlempar di jalanan."

Nasya menelan ludah dengan susah payah, melirik ke arah belasan anak buah Eksan yang sedang menatapnya dengan penuh rasa hormat yang mendalam. Dengan wajah yang perlahan merona merah alami akibat malu, Nasya melangkah naik ke atas jok motor yang tinggi, lalu secara perlahan melingkarkan kedua belah lengan mungilnya di sekitar pinggang tegap Eksan. Tubuhnya refleks bersandar rapat pada punggung bidang pemuda itu saat mesin motor gede tersebut meraung keras.

*BROOMMM!*

Eksan memutar tuas gasnya sekencang mungkin, memimpin barisan di depan gerbang kawasan industri yang terbuka lebar. Di belakangnya, faksi inti Black Cobra yang terdiri dari enam motor gede bergerak mengikuti dalam formasi pengawalan ketat di sisi kiri, kanan, dan belakang motor Eksan. Deru knalpot kolektif yang memekakkan telinga menggelegar membelah jalanan kota pagi itu, memaksa setiap kendaraan lain untuk menepi secara sukarela karena tahu faksi penguasa jalanan tertinggi sedang melintas membawa urusan penting.

Dua puluh menit berlalu di bawah ketegangan kecepatan tinggi, barisan motor gede itu akhirnya berbelok memasuki area jalanan raya di depan gerbang utama SMA Tunas Bangsa. Suasana pelataran sekolah yang tadinya ramai oleh ratusan murid yang sedang berjalan masuk seketika membeku total dalam satu detik saat suara deru mesin bising itu merayap masuk mengguncang udara pagi.

Semua pasang mata murid, guru, hingga petugas keamanan sekolah langsung membelalak sempurna penuh keterkejutan melihat iring-iringan faksi Black Cobra yang legendaris berhenti tepat di depan gerbang utama. Namun, keterkejutan mereka berubah menjadi kegemparan yang luar biasa histeris saat melihat siapa sosok yang duduk di boncengan belakang motor sang raja berandal jalanan tersebut.

"B-bukankah itu Nasya dari kelas sebelah?!" bisik salah seorang siswi dengan suara yang melengking kaget di antara kerumunan murid yang mulai berkumpul melingkar di trotoar.

"Ya Tuhan! Kenapa si berandal kejam Eksan Prasetya mengawal ketat gadis polos seperti dia?!" sahut murid lain dengan wajah yang memucat ketakutan melihat sorot mata elang Eksan yang menyapu bersih kerumunan.

Eksan mematikan mesin motor gedenya, lalu melompat turun secara perlahan. Ia mengabaikan seluruh bisikan riuh dan tatapan penuh ketakutan dari ratusan murid sekolahnya. Fokus indra kehidupannya hanya tertuju pada Nasya. Eksan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Nasya turun, lalu dengan gerakan posesif yang sangat protektif, ia melepaskan helm dari kepala gadis itu dan merapikan helaian rambut hitam panjang Nasya yang sedikit berantakan tertiup angin.

Raka dan lima anggota inti Black Cobra tetap diam berdiri di atas motor mereka dengan mesin yang masih menyala halus di luar gerbang, memberikan barikade perlindungan fisik yang tak tertembus dari arah luar jalan raya. Mereka bersiaga penuh memantau setiap pergerakan orang asing yang mencurigakan di sekitar sekolah.

Eksan mencengkeram pundak kecil Nasya dengan lembut namun tegas di hadapan ratusan pasang mata murid sekolah yang menonton dengan napas tertahan. Ia mendekatkan wajahnya sedikit, menatap lurus masuk ke dalam sepasang mata jernih Nasya dengan tatapan penuh kepemilikan yang absolut.

"Masuklah ke kelasmu sekarang juga, Nasya," perintah Eksan dengan nada suara yang rendah namun terdengar begitu menusuk mengintimidasi siapa saja yang mencuri dengar. "Jangan pernah lepaskan kalung di lehermu itu, dan jangan pernah pergi ke sudut sekolah yang sepi sendirian selama jam istirahat berlangsung. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, aku sendiri yang akan berdiri di depan pintu kelasmu untuk menjemputmu pulang."

Nasya hanya bisa mengangguk pelan sekali dengan wajah yang sudah memerah sempurna bagaikan kepiting rebus akibat menjadi pusat perhatian seluruh sekolah. "I-iya, Eksan... aku mengerti," jawab Nasya lirih sebelum akhirnya berjalan tergesa-gesa masuk menembus gerbang sekolah dengan jantung yang berdegup kencang berkejaran antara rasa malu dan rasa aman yang mendalam.

Eksan berdiri membeku di tempatnya sampai punggung mungil Nasya menghilang sepenuhnya di balik koridor kelas dalam gedung sekolah. Tatapan mata elangnya mendadak kembali berubah menjadi sangat sedingin es dan dipenuhi kilatan haus darah yang pekat saat ia berbalik menatap Raka yang berada di luar pagar.

"Raka... suruh dua informan kita menyamar di sekitar warung depan sekolah ini sepanjang hari," perintah Eksan dengan suara rendah yang menggelegar pekat penuh dengan ancaman perang. "Jika White Tiger atau faksi mana pun berani menampakkan hidung mereka di sekitar gerbang ini demi mengincar gadisku siang ini... pastikan seluruh Black Cobra sudah bersiap untuk menumpahkan darah mereka di atas aspal jalanan ini."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!