Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Angin Pantai, Undangan Pernikahan, dan Candaan di Tepi Ombak

Ujian Akhir Sekolah berbasis digital yang menguras energi akhirnya resmi berakhir. Ketegangan yang selama beberapa minggu menyelimuti lantai dua SMA Nusantara Jaya mendadak menguap, digantikan oleh gelombang kebebasan yang meretas ke segenap penjuru sekolah. Pagi itu, lapangan utama tampak dipenuhi oleh deretan bus pariwisata berukuran besar yang siap memberangkatkan seluruh angkatan kelas 12 menuju kawasan pantai di Jawa Tengah.

Sesuai dengan kesepakatan panitia angkatan, pembagian bus diatur ketat: satu armada bus diisi penuh oleh satu kelas. Maka, rombongan 12 MIPA 1 pun berkumpul di bus nomor tiga.

Alee dan Nara memilih mengambil posisi duduk di barisan tengah dekat jendela. Seperti biasa, gaya petantang-petenteng Alee menyembul penuh antusiasme. ia memangkul tas ranselnya santai sambil sibuk mengunyah camilan sebelum bus bahkan melaju. Sementara itu, Rama yang memikul tugas sebagai Ketua Kelas sekaligus pengurus logistik perpisahan, terpaksa duduk di kursi paling depan dekat pintu bersama Zikri untuk memudahkan koordinasi dengan sopir bus.

Meski terpisah lorong dan jarak beberapa baris kursi, perjalanan panjang itu berlangsung sangat meriah. Pengaras suara bus tak berhenti menggelegarkan lagu-lagu pop hits yang dinyanyikan secara sumbang oleh Hanafi dan rombongan cowok di barisan belakang. Alee tak mau kalah. Dengan sifat ceplas-ceplosnya, gadis itu berdiri di lorong bus, membagikan keripik pedas ekstra level kepada siapa saja yang lewat, lalu tertawa terpingkal-pingkal saat melihat muka Hanafi memerah karena kepedasan.

Rama yang sesekali menoleh ke belakang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Melihat Alee bisa bertingkah absurd dan tertawa lepas tanpa beban adalah pemandangan terbaik yang melunasi seluruh rasa lelahnya selama mengurus ujian.

---

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, aroma khas garam dan gemuruh ombak mulai menyambut indra pendengaran mereka. Deretan bus menepi di area parkir yang teduh di bawah pepohonan kelapa. Begitu pintu bus terbuka, anak-anak 12 MIPA 1 langsung berhamburan keluar dengan sorak-sorai girang, melepas sepatu mereka dan berlarian menuju hamparan pasir putih yang luas.

Alee dan Nara berjalan santai di tepi air, menikmati buatan ombak kecil yang membasahi kaki mereka. Saat Alee sedang sibuk menjahili Nara dengan menyipratkan air laut, matanya mendadak tertuju pada sosok wanita bergaun pantai santai yang sedang berdiri di dekat gazebo tak jauh dari mereka.

"Lah? Kak Maya?!" teriak Alee heran.

Gadis bergaun pantai yang sedang memegang es kelapa muda itu menoleh kaget. "Lho, Alee?! ternyata kamu jalan jalan angkatan nya ke pantai ini jugaa?!"

Ternyata, Kak Maya kakak kandung Alee sedang berlibur di pantai yang sama bersama calon suaminya, Mas Vino. Pertemuan yang tak disengaja itu seketika berubah menjadi ajang reuni keluarga dadakan yang penuh tawa. Kak Maya mengacak-acak rambut adiknya gemas, sementara Mas Vino hanya tertawa melihat kelakuan dua bersaudara itu.

Saat mereka bertiga sedang asyik melempar candaan, dari arah lapangan voli pantai tampak Rama melangkah santai bersama segerombolan anak cowok Hanafi, Zikri, dan beberapa lainnya sambil membawa bola plastik. Rama berencana mencari tempat teduh untuk meletakkan botol minum.

Melihat Rama yang melintas hanya beberapa meter di depannya, sebuah ide jahat dan spontan mendadak terlintas di kepala Alee. Mengingat Kak Maya sama sekali tidak tahu kalau hubungan Alee dan Rama sempat "dingin" dan berjarak selama berbulan-bulan, Alee memutuskan untuk memanfaatkan situasi itu dengan gayanya yang santai.

Srett!

Alee melangkah cepat dan langsung menyambar pergelangan tangan Rama dari samping, membuat langkah sang Ketua Kelas terhenti mendadak.

"Eh, Rama! Sini sebentar deh!" panggil Alee tanpa rasa canggung sedikit pun, sambil menahan tawa melihat raut kaget di wajah Rama.

Rama tersentak. Teman-teman cowok di belakangnya termasuk Hanafi yang sedang memegang bola seketika berhenti dan menatap scene tersebut dengan mata membelalak penasaran.

"Kak Maya, kenalin! Ini loh Rama, Ketua Kelas aku yang rajinnya agak tidak manusiawi itu!" celetuk Alee ceplas-ceplos, memamerkan cengiran lebarnya yang sangat khas.

Kak Maya menyeringai lebar. Ia langsung menatap Rama dari atas ke bawah dengan binar mata menggoda yang amat jahil. "Oalahhh! Ini yang namanya Ramaditya? Yang dulu sering kamu ceritain sampai busanya keluar itu kan, Lee?"

BAMM!

Kalimat Kak Maya sukses membuat muka Rama berubah agak bersemu merah, sementara Alee melotot kaget sambil tertawa tertahan.

"Ih, Kakak sok tahu!" potong Alee cepat sambil menepuk lengan kakaknya.

Rama yang merapikan kacamata beningnya mencoba bersikap setenang mungkin, meski dalam hati dadanya berdesir hebat. Ia menyalami Kak Maya dengan amat sopan. "Siang, Kak. Saya Rama, teman sekelasnya Alee."

Kak Maya tertawa renyah, melihat kecanggungan manis di antara mereka berdua. Tanpa ragu, Kak Maya mengibaskan tangannya santai sambil melempar godaan berikutnya.

"Wah, kebetulan banget ketemu di sini! Ram, tiga bulan lagi Kakak mau nikah nih. Pokoknya kamu wajib hukumnya buat datang!" seru Kak Maya penuh semangat. "Nanti undangannya Kakak titipin ke Alee deh. Awas ya kalau nggak datang, tak seret kamu sama Alee ke pelaminan!"

*Uhuk!* Hanafi yang mendengarkan dari belakang refleks tersedak ludahnya sendiri, sementara Zikri menahan senyumnya canggung.

Alee langsung mendelik heboh, tertawa ngakak melihat respons frontal kakaknya. "Dih, apaan sih Kak Maya! Malah nakut-nakutin Pak Ketua! Jangan didengerin, Ram, dia emang suka ngelindur kalau minum es kelapa!"

Rama yang awalnya sempat mematung kaku, perlahan-lahan ikut menyunggingkan senyum hangatnya yang sangat tulus. Kejujuran dan candaan lepas dari keluarga Alee terasa begitu mencairkan kebekuan yang tersisa di dadanya.

"Boleh, Kak. Berapa porsi katering yang harus saya siapin nanti?" sahut Rama bercanda santai, membalas selorohan Kak Maya dengan nada tenang yang sukses membuat Alee makin tertawa terpingkal-pingkal.

"Nah! Gitu dong! Itu baru calon tamu idaman!" puji Kak Maya girang sambil mengacungkan dua jempol sebelum akhirnya pamit pergi bersama calon suaminya untuk melanjutkan jalan-jalan.

---

Setelah drama singkat dan kocak bersama Kak Maya usai, Rama menatap Alee yang masih mengusap ujung matanya karena kebanyakan tertawa.

"Kakak kamu seru ya, Lee," ujar Rama halus.

"Seru dari mananya! Malu-maluin iya!" kekeh Alee renyah, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan gaya petantang-petenteng. "Tapi beneran, jangan dimasukkan ke hati ya candaan dia tadi."

Rama melangkah setengah pijakan lebih dekat, menatap iris mata Alee dengan binar yang hangat dan begitu jernih. "Saya nggak anggap itu bercandaan kok. Nanti titip undangannya ya. Saya beneran mau datang."

Alee terpaku sejenak. Tatapan Rama yang lurus itu kembali mengetuk benteng pertahanannya, menyampaikan pesan tersirat yang sangat dalam. Alee menyunggingkan senyum tipisnya yang paling jujur, lalu mengangguk pelan. "Oke. Nanti tak kasih undangannya."

Sisa sore itu diisi oleh keriuhan yang tak ada habisnya. Anak-anak 12 MIPA 1 bermain bola voli air di tepi pantai, saling dorong ke dalam laut, hingga berfoto bersama dengan latar belakang langit sore yang memerah keemasan. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi kecanggungan piring pecah, yang ada hanyalah tawa renyah Alee dan senyum tenang Rama yang menyatu dalam kehangatan angkatan.

Saat matahari benar-benar tenggelam dan seluruh murid kembali ke dalam bus yang mulai melaju pulang, Alee menyandarkan kepalanya di sudut jendela. Di depannya, dalam pantulan kaca bus yang samar, ia melihat Rama yang sedang tertidur lelap karena kelelahan. Alee tersenyum amat tenang. Petunjuk takdir yang ia minta malam itu rasanya telah dijawab oleh angin pantai dan candaan sore tadi: segalanya sedang berjalan menuju arah yang seharusnya.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!