Indonesia
NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Sinyal Tersembunyi dan Keberanian Baru

Suara benturan keras dari laptop yang hancur milik Narendra, menggema di seluruh lantai marmer gedung pernikahan yang megah. Cassandra menjerit histeris, seraya menerobos barisan pengawal bertubuh tegap demi menghampiri Narendra yang tergeletak lemah.

Dua orang pengawal berusaha menghadang Cassandra. Namun, Ibu Cassandra dari atas altar mendadak berteriak tegas menahan pergerakan para pengawal tersebut. Keadaan aula pernikahan yang tadinya tertata rapi kini berubah menjadi kekacauan spektakuler di mata ratusan tamu undangan papan atas.

"Narendra! Lu dengar gue kan, Ren?!" bisik Cassandra panik seraya meletakkan kepala Narendra di atas pangkuannya.

Narendra terbatuk pelan, menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh luka, namun tetap memancarkan keberanian yang utuh. Jemari tangannya yang gemetar perlahan terangkat, mengelus lembut pipi Cassandra yang dibasahi air mata.

"Gue... gue enggak akan biarkan pernikahan palsu ini terjadi, Cas," bisik Narendra dengan suara parau seraya menunjuk pecahan laptop di lantai menggunakan sudut matanya.

Cassandra melirik pecahan alat elektronik tersebut, menyadari ada sebuah jam tangan pintar portabel milik Narendra yang masih memancarkan kedipan cahaya hijau mikro di balik serpihan kaca.

Di tengah suasana ricuh tersebut, Cassandra merogoh jam tangan mikro itu dengan gerakan lincah anak SMA yang sering beraksi cepat. Ia segera memahami rencana cadangan yang disiapkan oleh Narendra sebelum melangkah masuk ke dalam gedung ini.

Narendra memfungsikan jam tangan itu sebagai hardware security module mikro yang mampu memancarkan gelombang Short Range Wireless untuk meretas frekuensi audio dan layar proyektor tanpa butuh jaringan internet umum.

Cassandra memanfaatkan ponselnya sendiri untuk menangkap sinyal terenkripsi dari jam tangan mikro tersebut, menyambungkan transmisi data tersembunyi secara langsung ke sistem suara gedung.

Teknologi peretasan lokal ini mengajarkan satu hal penting bahwa pertahanan siber terkuat sekalipun selalu memiliki celah pada transmisi frekuensi radio tingkat rendah.

"Waktunya kita tunjukkan kebenaran yang sebenarnya, Ren," gumam Cassandra dengan senyuman penuh tekad seraya menekan tombol kirim di layar ponselnya.

BZZZZZT!

Layar proyektor raksasa di belakang altar pernikahan mendadak menyala kembali, memancarkan siaran ulang rekaman audio transaksi ilegal yang dilakukan oleh calon suami ibu Cassandra.

Suara percakapan pria itu dalam mengatur manipulasi utang fiktif keluarga Cassandra bergema sangat jernih di seluruh penjuru gedung.

Para tamu undangan bersetelan mewah seketika riuh, saling berbisik dan mengambil foto serta video siaran skandal tersebut menggunakan ponsel mereka masing-masing.

Mempelai pria yang berdiri di atas altar mendadak memucat pasih, melangkah mundur dengan raut wajah yang dipenuhi ketakutan dan rasa malu yang amat besar.

Ibu Cassandra memanfaatkan momen tersebut untuk melangkah turun dari altar, melepaskan selendang gaun pengantinnya dan menggandeng tangan putrinya dengan rasa bangga yang luar biasa.

"Pernikahan ini batal!" seru Ibu Cassandra tegas di hadapan seluruh tamu undangan dan awak media yang mulai berdatangan.

Narendra yang sudah dibantu berdiri oleh Cassandra tersenyum puas melihat kemenangan telak dari strategi sederhana yang mereka eksekusi bersama.

Genggaman tangan Cassandra dan Narendra menyatu kembali dengan erat di tengah riuhnya suasana aula gedung pernikahan tersebut.

Pukul 19.30 WIB.

Suasana malam di klinik kesehatan dekat kompleks gedung pernikahan terasa begitu tenang dan menenangkan. Suara alunan pendingin ruangan berpadu lembut dengan aroma cairan antiseptik yang khas.

Narendra duduk di tepi ranjang pemeriksaan dengan kemeja jas yang sudah dilepas, sementara seorang perawat merawat luka memar di bahunya akibat sengatan listrik tadi.

Cassandra duduk di sebelah ranjang, menyerahkan segelas air putih hangat pada Narendra dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kasih sayang yang begitu dalam.

"Lu bener-bener nekat banget ya, Ren," tegur Cassandra pelan seraya merapikan rambut Narendra yang sedikit berantakan. "Gimana kalau luka lu tadi lebih parah?"

Narendra menyunggingkan senyum miringnya yang khas, meminum air hangat tersebut sebelum menatap lurus ke dalam mata cokelat jernih milik Cassandra.

"Gue kan udah janji buat selalu ada di samping lu, Cas," balas Narendra dengan suara yang amat lembut dan tulus. "Sebanyak apapun risiko yang harus gue hadapi, gue enggak bakal pernah menyesal."

Pipi Cassandra seketika merona merah mendengar perkataan manis yang jujur dari cowok di hadapannya. Ia menggenggam erat tangan Narendra, merasakan hangatnya jemari cowok tersebut yang selalu menjadi tempatnya bersandar.

"Makasih ya, Narendra," bisik Cassandra pelan seraya menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki. "Lu selalu jadi pahlawan buat gue."

Narendra tertawa kecil, mendaratkan sebuah ciuman lembut di punggung tangan Cassandra yang membuat cewek itu makin tersipu malu.

Pukul 21.00 WIB.

Ibu Cassandra berjalan masuk ke dalam ruang perawatan dengan membawa dua kantong plastik berisi makanan malam dari restoran terdekat.

Raut wajah ibunya tampak jauh lebih tenang dan bahagia setelah berhasil melepaskan diri dari ancaman manipulasi utang fiktif tersebut.

"Terima kasih banyak ya, Narendra," ucap Ibu Cassandra hangat seraya meletakkan kantong makanan di atas meja. "Tanpa keberanian kamu malam ini, Ibu mungkin sudah terjebak dalam kehidupan yang menyiksa."

Narendra menyunggingkan senyum sopannya seraya menggelengkan kepala pelan. "Ini semua berkat kerjasama dan keberanian Cassandra juga, Tante."

Namun, di tengah suasana hangat keluarga yang baru saja pulih itu, ponsel milik Ibu Cassandra yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar keras.

Sebuah notifikasi email dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia masuk secara resmi ke dalam akun email milik ibu Cassandra.

Cassandra membaca judul email tersebut pada layar ponsel ibunya dengan dahi berkerut bingung sekaligus cemas.

Judul email resmi tersebut bertuliskan: Penyitaan Berkas Aset Hak Cipta Peretasan dan Pembekuan Akun Bank Cassandra serta Narendra oleh Konsorsium Utama.

Ketika Cassandra membuka lampiran surat resmi di dalam email tersebut, sebuah pesan tambahan berbahasa asing di bagian bawah lembaran PDF membuat napasnya seketika tercekat hebat: "Kalian berhasil menggagalkan pernikahan ini, namun seluruh sistem keamanan siber sekolah dan identitas masa lalu kalian berdua... akan kami publikasikan secara nasional dalam waktu 12 jam."

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!