Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehancuran di Ujung Layar

Suara azan Isya yang bergema dari masjid komplek membangunkan diriku dari tidur siang yang teramat panjang dan melelahkan. Aku menyapu wajahku yang sembap dengan telapak tangan, merasakan pening yang menyengat di pelipis. Suasana kamar sudah sepenuhnya gelap, hanya disinari oleh temaram lampu jalan yang menerobos lewat celah ventilasi jendela.

Aku beranjak dari tempat tidur, menyalakan lampu kamar, lalu melangkah gontai menuju bilik mandi untuk membasuh muka. Air dingin yang menyapu wajahku tak sanggup mengikis rasa ganjil yang terus membelenggu dada. Bayang-bayang ucapan Joan di sekolah tadi pagi, tentang Adrian yang terlihat bersama wanita lain, masih terus berputar bagai benang kusut di dalam kepalaku.

Saat aku melangkah keluar kamar menuju ruang tamu, deru mesin motor besar yang teramat kukenali mendadak terdengar berhenti di depan teras rumah.

Jantungku berdesir pelan.

Tak lama kemudian, ketukan di pintu depan berbunyi, disusul suara Ayah yang menyambut kedatangannya dengan hangat dari arah teras.

"Assalamu’alaikum, Om."

"Wa’alaikumsalam! Eh, Adrian. Ayo masuk, Nak. Kebetulan Sera baru saja bangun tidur itu," sahut Ayah ramah dari balik pintu.

Aku berdiri membatu di koridor tengah saat Adrian melangkah masuk ke ruang tamu bersama Ayah. Ia mengenakan kaus polos berwarna hitam yang dipadu dengan jaket denim hitam kesayangannya. Rona wajahnya tampak tenang, menyunggingkan senyum hangat yang teramat manis begitu matanya menangkap keberadaanku.

"Hai, Ser. Sudah segar?" sapa Adrian lembut, suaranya terdengar begitu empuk seperti biasanya.

Aku memaksakan diri menyunggingkan senyum tipis. "Iya, Mas."

"Kalian duduk-duduk dulu ya. Om mau ke keluar sebentar," tutur Ayah ramah seraya menepuk paha Adrian pelan sebelum melangkah berlalu.

Sepeninggal Ayah, keheningan tipis menyelimuti kami. Adrian menduduki sofa empuk di ruang tamu, sementara aku mengambil posisi duduk di kursi kayu berseberangan darinya. Meja kaca kecil membentang di antara kami.

Adrian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kaca, tepat di tengah-tengah kami. Ia kemudian menyandarkan punggungnya di sofa, menatapku dengan binar mata teduh yang selalu sanggup meluluhkan pertahananku.

"Maaf ya, Sera... dari pagi tadi Mas enggak sempat ngabarin kamu," kata Adrian mengulas senyum penuh penyesalan. "Tadi siang Mas ada urusan mendadak yang benar-benar enggak bisa ditinggal. Baru bisa beres malam ini."

Aku menatap pria di hadapanku ini. Sikapnya begitu manis, pembawaannya teramat tenang, dan tidak ada sedikit pun gestur bersalah yang tersirat dari wajahnya. Aku menarik napas panjang, hendak menanyakan alasan di balik kesibukannya siang tadi.

Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirku, layar ponsel Adrian yang tergeletak di atas meja kaca mendadak menyala terang.

Sebuah notifikasi pesan masuk dari aplikasi percakapan berbunyi pelan. Layar ponsel itu menampilkan pratinjau pesan yang terukir amat jelas di bawah pendar cahayanya.

Nama kontak pengirim pesan itu bertuliskan: "Sayang 2"

Dan di bawah nama itu, tertera barisan kalimat yang menghantam kesadaranku tanpa ampun:

"Terima kasih ya untuk hari ini, I love u."

"Deg."

Duniaku serasa berhenti berputar detik itu juga. Darah di dalam tubuhku serasa membeku seketika, mengalirkan rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.

Aku terpaku menatap layar ponsel itu. Huruf demi huruf, kata demi kata yang tertera di sana tercetak begitu nyata.

"Sayang 2."

"Terima kasih untuk hari ini."

"I love u."

Seketika itu juga, semua teka-teki yang selama ini membayangiku terbelah menjadi kenyataan yang teramat telanjang. Ucapan Joan di sekolah tadi pagi tentang wanita lain di kafe, kebohongan tentang "acara mendadak" siang ini, hingga senyum manis yang selalu ia berikan padaku, semuanya berubah menjadi pusaran kebohongan yang menghancurkan hatiku hingga tak berbentuk.

Aku membisu. Bibirku terkunci rapat, tak sanggup mengeluarkan suara satu patah kata pun. Dada ini rasanya dihantam oleh kepedihan yang begitu hebat hingga bernapas pun terasa teramat sesak.

Adrian yang menyadari perubahan keheningan di ruangan buru-buru melirik ke arah ponselnya di atas meja. Begitu matanya membaca notifikasi yang masih menyala terang itu, binar santai di wajahnya meluntur seketika.

Adrian membatu. Wajahnya berubah pucat pasi. Ia menyadari sepenuhnya bahwa aku telah membaca pesan tersebut dari jarak serapat ini.

Tepat di saat ketegangan ganjil itu mengunci kami berdua, Ayah melangkah kembali ke ruang tamu

Aku memegang tepi meja kayu dengan jemari yang gemetar hebat, berusaha keras menahan lelehan air mata yang sudah mengumpul panik di sudut mataku. Aku tak boleh hancur di depan Ayah. Aku tak ingin Ayah melihat betapa putri tunggalnya baru saja dihancurkan oleh pria yang sangat dibanggakannya semalam.

"Ayah..." suaraku terdengar begitu serak dan kaku.

Ayah menatapku bingung. "Kenapa, Nak?"

"Kepala Sera pusing banget, Yah... dada Sera juga sesak," bisikku menundukkan kepala, enggan menatap Adrian sedikit pun. "Sera izin masuk kamar duluan ya... Tolong Ayah temani Mas Adrian mengobrol."

"Sera masuk kamar dulu, Yah..."

Tanpa melempar pandangan sekejap pun pada Adrian yang kini duduk membeku dengan raut wajah yang dipenuhi kepanikan dan rasa bersalah yang luar biasa, aku memutar tubuhku. Aku melangkah cepat menyusuri koridor rumah, memasuki kamar tidurku, lalu menutup pintu rapat-rapar dan menguncinya dari dalam.

Di ruang tamu, suasana seketika berubah menjadi amat canggung dan tegang. Ayah yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang apa yang baru saja terjadi.

"Duh, maaf ya, Adrian... Sera sepertinya kurang enak badan itu. Dari tadi siang emang tidurnya lama sekali," tutur Ayah polos, mencoba meminta maaf atas kepergian putrinya yang mendadak.

Namun, Adrian yang duduk di sofa sudah tidak bisa lagi menyembunyikan getaran di tangannya. Keringat dingin mulai menyelinap di dahi pria itu. Perselingkuhannya yang basah ketahuan di depan mata Sera, serta rasa bersalah yang menghantam dadanya membuat keberadaannya di ruang tamu itu terasa bagai neraka yang menyiksa. Ia tak sanggup lagi berlama-lama duduk di sana berhadapan dengan ayah dari gadis yang baru saja ia hancurkan hatinya.

Dengan jemari gemetar, Adrian buru-buru merogoh ponselnya di atas meja, menyimpannya ke dalam saku jaket, lalu berdiri dari sofa seraya mengumbar senyum canggung yang dipaksakan.

"Om... maaf sekali," ucap Adrian dengan suara yang tertahan dan terbata. "Sepertinya... sepertinya saya harus pamit pulang sekarang. Ada urusan mendadak yang harus saya urus malam ini."

Ayah tertegun kaget melihat Adrian yang mendadak hendak pergi. "Loh? Kok buru-buru sekali, Adrian?"

"Maaf ya, Om... lain kali saya mampir lagi. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum," potong Adrian cepat, menyalami tangan Ayah dengan terburu-buru sebelum melangkah setengah berlari keluar menuju halaman depan.

Ayah berdiri di ambang pintu dengan dahi berkerut bingung, memperhatikan deru mesin motor Adrian yang meraung keras meninggalkan rumah kami dengan kecepatan tinggi membelah kegelapan malam.

Di dalam kamar yang terkunci rapat, tubuhku luruh di balik pintu.

Bendungan air mata yang kukunci rapat-rapat di depan Ayah akhirnya pecah sepenuhnya. Tangisku pecah tanpa suara, membasahi kedua telapak tanganku yang menutup wajah. Rasa sakit di dalam dadaku bagaikan diiris oleh sembilu yang tajam.

Satu tahun. Hampir satu tahun aku mengikat perasaanku pada pria itu. Aku mengingat bagaimana ia mengusap kepalaku, bagaimana ia memberiku gelang tali hitam berinisial SL ini, dan bagaimana sore itu di kafe Bram ia menatap mataku lekat-lekat dan memintaku menjadi kekasihnya.

Semuanya mendadak terasa bagai lelucon yang teramat kejam. Gelang di pergelangan tangan kiriku kini terasa begitu panas dan menjijikkan, seolah mengejek betapa bodohnya aku selama ini.

Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...

Ponselku di atas meja belajar bergetar hebat. Layarnya menyala memperlihatkan nama Adrian yang mencoba memanggilku berulang kali. Tak lama kemudian, barisan pesan singkat meluncur masuk bertubi-tubi:

"Sera, tolong angkat HP!"

"Sera, Mas mohon dengerin penjelasan Mas dulu!"

"Itu enggak seperti yang kamu bayangkan! Mas mohon angkat!"

Aku menghapus lelehan air mata di pipiku dengan punggung tangan. Rasa sakit hati yang mendalam perlahan berubah menjadi kekecewaan yang teramat dingin dan mantap. Aku tak butuh lagi kebohongan runtut yang akan ia susun dari mulut manisnya.

Dengan jemari yang dingin dan napas yang teratur meski bergetar, aku meraih ponsel itu lalu menekan tombol hijau, menggeser panggilan masuk dari Adrian.

"Sera! Tolong, dengerin Mas dulu!" suara Adrian meluncur panik dari seberang telepon begitu sambungan terhubung. Suaranya terdengar begitu kacau dan terengah-engah dari balik helmnya. "Pesan tadi itu..."

"Cukup, Mas," potongku pelan. Suaraku terdengar teramat dingin, memutus kalimat Adrian di seberang sana.

Keheningan mendadak melingkupi sambungan telepon kami. Adrian membisu di seberang sana, mendengarkan intonasi suaraku yang tak lagi memiliki rona hangat seperti biasanya.

Aku menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa harga diriku untuk mengakhiri lingkaran beracun ini selamanya.

"Makasih untuk semuanya, Mas..." bisikku lirih namun teramat tegas. "Sera pikir 1 tahun waktu yang cukup buat kenal kamu, ternyata enggak."

"Sera, jangan kayak gini, Mas mohon!" potong Adrian dengan nada suara yang memuncak panik. "Mas akui Mas salah, Mas minta maaf! Tapi Mas sayang sama kamu, Ser! Mas enggak mau putus!"

"Sera mau kita putus, Mas," tegasku tanpa ragu sedikit pun.

"Enggak, Sera! Mas enggak mau putus!" Adrian berteriak menahan sesak di seberang telepon, suaranya terdengar begitu memohon dan memaksa. "Tolong kasih Mas kesempatan buat jelaskan..."

Tanpa menantikan kalimat permohonannya yang tak lagi berarti, aku menarik ponsel itu dari telingaku dan menekan tombol merah secara sepihak.

Tut... Tut...

Sambungan telepon terputus. Aku segera mengusap layar ponselku, memblokir nomor telepon Adrian tanpa ragu sedikit pun.

Aku melepaskan gelang tali hitam berinisial SL dari pergelangan tangan kiriku, meletakkannya begitu saja di atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Malam itu, di balik kegelapan kamar dan dinginnya udara malam, aku menangis sepuasnya, meratapi hati yang patah, sekaligus kebodohan atas diriku selama ini

1
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!