Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Matahari mulai terbenam di balik bukit tandus di ujung barat kota.
Arya merapikan sisa keping tembaga di dalam saku celananya dengan hati-hati.
"Hari sudah gelap, kita harus segera keluar mencari makanan sebelum pasar malam tutup," ajak Arya sambil berdiri.
Vanya membuka matanya perlahan dari kursi reyot di sudut ruangan.
"Keluar ke pasar kumuh itu? Kau mau aku keracunan makanan murahan buatan manusia?" ketus Vanya sinis.
"Kalau tidak mau makan ya silakan kelaparan sampai pagi, aku tidak memaksa," balas Arya santai.
Vanya mendengus kesal sambil berdiri dengan ogah-ogahan.
"Dasar manusia menyebalkan, hobi sekali menyiksa ratu iblis," gerutu Vanya pelan.
Mereka berdua akhirnya melangkah keluar dari rumah reyot menuju pasar gelap di pinggiran kota.
Suasana di pasar malam pinggiran barat tampak remang-remang dan dipenuhi orang-orang berandalan.
Bau amis ikan asin dan aroma rempah murahan bergesekan di udara malam yang dingin.
"Jangan jauh-jauh dariku, tempat ini banyak preman dan penyelundup barang curian," pesan Arya memperingatkan.
Vanya melirik sekeliling dengan tatapan meremehkan penuh rasa jijik.
"Tempat bau dan kotor seperti ini bahkan tidak layak dilewati kuda di wilayahku," komentar Vanya tajam.
"Makanya sadar diri kalau sekarang kamu lagi numpang di dunia manusia," balas Arya cuek.
Mereka berjalan menyusuri lorong sempit yang dipenuhi lapak-lapak pedagang gelap.
Kriet...
Suara papan kayu lapuk berderit di bawah sepatu bot pedagang sebelah.
"Roti gandum kasar! Satu keping tembaga dapat dua potong!" teriak seorang pedagang paruh baya.
Arya mendekati lapak tersebut lalu merogoh saku celananya.
"Beri aku dua potong roti itu, Pak," ucap Arya ramah.
Pedagang itu menyerahkan bungkusan kertas kusam berisi roti keras kepada Arya.
Arya memberikan dua keping tembaga hasil kerjanya tadi sore.
Vanya menatap roti keras itu dengan kening berkerut dalam penuh rasa jijik.
"Makanan apa ini? Keras sekali seperti batu bata," protes Vanya enggan menerima.
"Namanya juga roti murah meriah, syukuri saja masih bisa masuk perut," jawab Arya menyodorkan sebungkus ke tangan Vanya.
Vanya terpaksa menerima bungkusan itu dengan wajah cemberut.
Tiba-tiba, langkah kaki beberapa orang berbadan besar terdengar mendekati area lapak mereka.
Tap... tap... tap...
Suara derap sepatu bot berat bergesekan dengan tanah berdebu.
Arya langsung menyipitkan matanya tajam, merasakan ada aura mencurigakan dari orang-orang tersebut.
"Hei, kalian berdua! Berhenti di situ!" panggil suara asing dengan nada mengintimidasi.
Arya dan Vanya menoleh serentak ke arah sumber suara di belakang mereka.
Tiga orang pria berwajah sangar dengan jubah hitam menutupi kepala berdiri menghalangi jalan keluar.
"Mau apa kalian? Kami cuma pembeli roti," jawab Arya tenang namun waspada.
Pria pemimpin jubah hitam itu menyeringai licik sambil memperhatikan gerak-gerik Arya.
"Jangan pura-pura bodoh, kami tahu kalian adalah buronan istana yang dicari-cari," desis pria itu tajam.
Vanya langsung mengepalkan tangannya, kilat merah menyala di matanya mulai terpancar.
"Rupanya anjing-anjing istana masih belum jera juga," batin Vanya dingin.
Arya segera merentangkan tangannya menahan Vanya agar tidak menyerang di tempat umum.
"Tunggu dulu, jangan gegabah bikin keributan di sini," bisik Arya cepat pada Vanya.
"Biar kuhabisi mereka sekarang juga sebelum banyak omong," balas Vanya kesal.
Pria berjas hitam itu melangkah mendekat sambil menghunus belati tajam di tangannya.
"Menyerah saja secara baik-baik atau kepala kalian saya bawa ke istana untuk hadiah!" ancam pria itu.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi mata-mata istana tingkat lanjut.]
[Peringatan: Bersiaplah menghadapi pertempuran jarak dekat di area terbuka.]
Suara dengungan sistem itu berputar kencang di kepala Arya tanpa henti.
"Sialan, sistem ini hobi banget bikin jantung mau copot," keluh Arya dalam hati.
Arya menarik napas panjang, bersiap memasang kuda-kuda bertarung.
"Kalau kalian mau hadiah, ambil saja sendiri kalau bisa!" tantang Arya dingin.
Pria pemimpin mata-mata itu murka mendengar ejekan Arya.
"Serang mereka! Cincang sampai hancur!" perintah pria itu kepada dua anak buahnya.
Dua anak buah berbadan besar langsung menerjang maju secara bersamaan dengan beringas.
Ssh...
Desisan angin tajam meluncur deras mengarah ke dada Arya.
Arya melompat ke samping dengan gesit menghindari tebasan belati pertama.
Ia memanfaatkan teknik pijit tempur sistem untuk menekan titik saraf lengan musuh.
Brak...
Pukulan telak mendarat pas di siku tangan anak buah pertama.
Belati di tangan pria itu langsung terlepas jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring.
"Argh... tanganku mati rasa!" pekik anak buah itu kaget.
Satu orang tersisa menatap Arya dengan tatapan penuh kemarahan.
"Bangsat! Beraninya kamu melukai temanku!" murka anak buah kedua.
Ia melayangkan tendangan keras mengarah tepat ke perut Arya.
Arya tidak sempat menghindar karena posisinya terlalu dekat.
Vanya yang melihat Arya terdesak langsung mendengus kesal setengah mati.
"Manusia lemah benar-benar selalu merepotkan," umpat Vanya dingin.
Vanya mengangkat jari telunjuknya ke udara lalu mengibaskannya pelan ke depan.
Bum...
Gelombang angin dingin tak kasat mata langsung menghantam dada anak buah kedua.
Pria berbadan besar itu terpental sejauh lima meter dan menabrak lapak pedagang di belakangnya.
Prang...
Piring dan botol berhamburan hancur berkeping-keping.
Anak buah itu langsung pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara erangan.
Pimpinan mata-mata istana membelalakkan matanya lebar-lebar melihat kejadian itu.
"Kekuatan sihir apa itu?! Kalian bukan orang sembarangan!" teriak pimpinan mata-mata panik.
Ia menyadari bahwa target yang dihadapinya jauh lebih berbahaya dari perkiraan semula.
"Lari... cepat laporkan ini ke pasukan utama!" bisik pimpinan itu ketakutan pada dirinya sendiri.
Pria itu langsung berbalik badan dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat kejadian.
"Mau lari ke mana kamu?!" geram Arya hendak mengejar.
Vanya menahan tangan Arya dengan gelengan kepala pelan.
"Biarkan saja dia pergi, kita tidak punya waktu untuk mengejar sampah," cegah Vanya tenang.
Arya menghembuskan napas panjang, meresapi situasi yang semakin rumit ini.
"Kalau dia lapor ke istana, tempat persembunyian kita di barat bakal diserang lagi," kata Arya cemas.
"Biarin saja datang, kalau mereka berani datang, aku ratakan seluruh pasukan istana malam ini juga," ucap Vanya berbahaya.
Arya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan enteng dari sang Ratu Iblis.
"Jangan gila, kita harus segera pindah dari rumah reyot itu malam ini juga," putus Arya tegas.
Vanya mendengus pasrah menyadari mereka tidak bisa menetap lama di satu tempat yang sama.
"Terserah padamu, tapi aku mau makan roti keras ini dulu sebelum jalan," kata Vanya menggigit rotinya.
Arya hanya bisa mengelus dadanya sabar menghadapi tingkah santai sang Ratu Iblis di tengah situasi genting.