Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Suamiku Kembali

Ketika Suamiku Kembali

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Perhatian ini yang aku inginkan. Tapi ... kenapa rasanya asing?" ~Danira
...
Seperti biasa, Ezran pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Danira dan kedua anak mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu.

Namun ketika Ezran kembali, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Pria yang biasanya sibuk, cuek, dan selalu punya alasan untuk menolak menghabiskan waktu bersama anak-anak, kini justru menjadi jauh lebih perhatian.

“Ma, Papa ... aneh,” ujar Arelio, anak pertama mereka.

Senara pun, ikut memperhatikan. “Iya, tumben nda malah-malah macam Papa tili Cindelela?”

Danira hanya terdiam. Ia juga merasakan perubahan itu.

Ezran mulai mengantar anak-anak, membantu pekerjaan rumah, bahkan memperhatikan hal-hal kecil tentang Danira yang selama ini tak pernah ia pedulikan.

Awalnya Danira bahagia. Namun semakin lama, perubahan itu justru membuatnya curiga.

Apa yang sebenarnya terjadi selama Ezran pergi Dan mengapa pria yang kembali ke rumah itu terasa begitu berbeda dari suami yang ia kenal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Yang Hambar

"Apa ini pernikahan yang sebenarnya?"

Sepuluh tahun pernikahan tidak diukur Danira dari seberapa banyak ulang tahun yang mereka rayakan bersama, melainkan dari seberapa panjang keheningan yang sanggup ia pangkas sendirian.

Danira Veloura tahu persis irama langkah kaki suaminya saat pria itu lelah, gusar, atau sekadar enggan diganggu. Ada ketukan sepatu yang berat di atas keramik foyer, disusul helaan napas pendek sebelum pintu kamar dibanting perlahan, sebuah pertanda tak kasatmata bahwa batas toleransi Ezran sudah berada di titik terendah.

Menikah ternyata bisa menjadi hal paling sepi yang pernah dialami seorang manusia.

Rumah dua lantai berarsitektur modern minimalis di kawasan Jakarta itu berdiri megah. Dinding-dindingnya bercat abu-abu hangat, dihiasi foto-foto keluarga berbingkai kayu jati mahal. Dari luar, siapa pun yang melintas akan mengira ada kebahagiaan yang melimpah di dalamnya. Ada sepasang anak, Arelio yang berusia sembilan tahun dengan mata teduh dan kepintaran di atas rata-rata, serta Senara, bocah empat tahun berkulit langsat dengan rambut ikal yang selalu beraroma minyak telon.

Namun di dalam, rumah itu hampa. Berderit sepenggal bisu yang panjang.

Sudah lima bulan Danira memilih tidur di kamar anak perempuannya. Ranjang berukuran king size di kamar utama terasa terlalu luas, dingin, dan penuh dengan penolakan yang tak terucap. Ezran tidak pernah memukulnya. Ezran tidak pernah memaki dengan kata-kata kotor. Ezran juga tidak pernah kedapatan berselingkuh atau menghabiskan uang untuk taruhan judi.

Pria itu hanya … tidak ada. Ia hadir secara fisik sesekali, membiayai seluruh kebutuhan hidup dengan royal, tetapi jiwanya menguap entah ke mana.

Malam itu, jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari ketika deru mesin mobil menghentikan keheningan halaman depan. Danira terbangun dari ranjang kecil Senara. Ia mengusap pipi putrinya yang tertidur lelap, lalu memakai sandal selop kainnya. Dengan merapatkan cardigan rajut warna krem melingkupi tubuhnya yang makin kurus, Danira melangkah keluar kamar.

Di area foyer, Ezran baru saja melangkah masuk. Pria itu melepas jas hitamnya, melonggarkan ikatan dasi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang koper kecil. Kemeja putihnya agak kusut di bagian siku.

"Jam segini baru pulang, Mas?" tanya Danira halus. Suaranya datar, tanpa nada menuduh, hanya sebuah pertanyaan rutin yang sebenarnya tak lagi butuh jawaban.

Ezran menghentikan langkahnya di tangga pertama. Tanpa memutar tubuh, ia menoleh seolah Danira adalah gangguan kecil di tengah malam.

"Aku lagi sibuk. Gak usah mancing perkara ya," jawab Ezran dingin. Suaranya serak dan berat. Pria itu langsung melanjutkan langkahnya naik ke lantai atas menuju kamar utama.

Danira menghela napas pendek. Dadanya terasa berdenyut samar. Mancing perkara. Padahal ia hanya bertanya satu kalimat pendek.

"Selalu itu yang dia katakan," gumam Danira.

Ia berjalan ke ruang keluarga, menatap foto pernikahan mereka yang tergantung anggun. Dalam foto itu, Ezran duduk di kursi kayu berukir, sementara Danira berdiri di sampingnya, merangkul bahu sang suami dengan senyum kaku. Dulu, Danira pikir pernikahan mereka akan berjalan adem anyem. Ezran tipe pria yang sangat menghargai privasi dan memberi kepercayaan penuh padanya untuk mengurus rumah tangga serta pendidikan anak-anak. Pria itu tidak pernah protes jika masakan kurang garam atau rumah berantakan.

Namun belakangan Danira sadar, kepercayaan itu bukanlah bentuk penghormatan. Itu adalah bentuk pengabaian yang dikemas dengan rapi. Ezran tidak peduli karena ia memang tidak berniat untuk terlibat.

"Ma ...,"

Sebuah suara mungil memecah lamunan Danira. Ia menoleh dan menemukan Arelio berdiri di dekat pilar. Bocah sembilan tahun itu mengenakan piyama biru bergambar dinosaurus. Matanya yang jernih menatap Danira dengan kepekaan yang terlampau dewasa untuk usianya.

"Sayang Mama ... belum tidur?" Danira berlutut, menghampiri putra sulungnya. Ia merengkuh tubuh kecil itu dan mengusap lembut pipinya yang halus.

Arelio Veyrendra Pranaja adalah anak yang terlahir dengan insting emosional yang tajam. Sejak kecil, Arelio tidak pernah menangis raung-raung jika menginginkan mainan. Ia selalu mengamati dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Arelio bisa merasakan gelombang kesedihan yang memancar dari ibunya.

"Papa baru pulang, ya, Ma?" tanya Arelio pelan. Jemari kecilnya meremas ujung baju Danira. "Mama gak kesepian? Tiap hari Papa pulang malam, berangkat pagi. Aku sampai jarang bertemu Papa. Bisa minta Papa untuk libur sehari saja?"

Danira menggigit bibir dalamnya, menahan air mata yang mendadak mendesak di pangkal tenggorokan. "Papa sibuk kerja, Sayang. Buat Lio sama Adik juga,"

"Kalau kita bayar waktu papa gimana? Minggu depan ada pertandingan sepak bola," potong Arelio pelan, tatapannya menunduk mengamati kakinya sendiri. "Aku ingin Mama dan Papa hadir. Saat bagi rapot kemarin Papa gak ambil, Mama datang telat karena ngurus Adik yang demam. Papa gak bisa hadir sebentar? Ini acaraku, hari spesialku ... apa tidak bisa?"

Kalimat polos itu menghantam dada Danira dengan telak. Ia tahu betapa Arelio sudah berlatih keras setiap sore, menendang bola ke gawang sambil membayangkan ada sorak penonton.

"Besok coba bilang sama Papa, ya. Pagi-pagi sekali bilangnya, sebelum Papa berangkat," ucap Danira seraya mengusap rambut lurus putranya.

"Baiklah," Arelio mengangguk lemas, tidak benar-benar yakin. "Good night, Ma," bisiknya lalu mengecup pipi Danira sebelum berbalik menuju kamarnya.

Danira terpaku di kegelapan koridor. Hatinya seperti diiris tipis-tipis. Sampai kapan pernikahan ini hanya menjadi ajang bertahan hidup tanpa ada kehangatan di dalamnya? Ini kah yang namanya pernikahan?

"Pernikahan seperti apa yang sebenarnya aku harapkan?" gumam Danira menatap foto pernikahannya. "Ini namanya tinggal bersama, bukan hidup bersama Mas,"

.

.

.

.

Matahari bahkan belum seutuhnya menembus kabut tipis Jakarta saat Ezran sudah bersiap di kantor pada pukul 06.00 pagi. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap, rapi tanpa cela. Ponselnya terus menempel di telinga kanan saat ia melangkah menuju pintu depan.

"Iya, Pak. Saya sudah siapkan berkasnya dan analisis pasarnya sudah di-check ulang oleh tim ...," Ezran bicara dengan nada mantap, lugas, dan sangat profesional. Nada suara yang tak pernah didengar Danira di dalam rumah ini.

"Pa, bisa aku bicara?"

Langkah Ezran terhenti. Ia menoleh ke bawah, menemukan Arelio berdiri di dekat rak sepatu. Anak itu masih mengenakan piyama, memegang pinggiran bajunya dengan cemas.

Ezran menghela napas, menatap jam tangannya. "Nanti saya hubungi lagi ya, Pak. Iya, siap," ucapnya pada orang di telepon sebelum menurunkan ponsel. Ia menatap Arelio. "Ada apa? Papa harus buru-buru. Ada rapat dengan investor jam tujuh lewat sepuluh."

Arelio melangkah mendekat dengan ragu. "Minggu depan ada tanding sepak bola antar sekolah. Aku ikut dalam tim utama. Papa ... bisa dateng, kan?"

Suasana di lorong depan rumah itu mendadak hening. Ezran memandang anak laki-lakinya tanpa ekspresi yang jelas. Ada jeda dua detik yang terasa sangat panjang.

"Sepertinya Papa enggak bisa, Lio," kata Ezran datar. "Besok Papa harus ke luar kota selama tiga hari. Terus pulangnya Papa benar-benar sibuk karena ada audit operasional. Maaf, ya. Lain waktu saja. Biar Mama kamu saja yang datang. Tak perlu orang tua dua-duanya yang datang, kan?"

Ezran menjangkau kepala Arelio, menepuknya dua kali, sesebuah gestur yang lebih mirip formalitas daripada kasih sayang. Lalu berbalik, membuka pintu mobil, dan melaju meninggalkan pelataran rumah.

Danira yang mengintip dari balik tirai dapur merasakan dadanya sesak. Ia melihat bagaimana Arelio berdiri mematung di jalan samping carport, menatap debu tipis yang ditinggalkan mobil suaminya.

"Lio ...," panggil Danira lembut sambil melangkah keluar.

Arelio tidak menangis. Anak itu hanya membalikkan badan perlahan. Wajahnya polos, tetapi matanya terasa begitu kosong.

"Aku kayak anak yatim, ya, Ma?" ucap Arelio datar, lalu berjalan melewati Danira masuk ke dalam rumah.

Kata-kata itu seperti hantaman godam di kepala Danira. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, napasnya tertahan. Rasanya sakit sekali. Anaknya memiliki seorang ayah yang bernapas, bekerja, dan tinggal di rumah yang sama, namun merasa seperti tidak memiliki siapa-siapa. Fanira mengusap dadanya yang terasa sakit seperti di remas oleh sesuatu yang tak kasat mata.

"Mama! Cucu Cena mana?"

Sebuah suara cempreng memecah lamunan buruk itu. Senara berjalan sempoyongan keluar dari kamar dengan rambut keritingnya yang berantakan bagai sarang burung, memeluk boneka kelinci kusam.

Danira dengan cepat menghapus setitik air mata di sudut matanya, lalu merengkuh Senara ke dalam gendongan. "Nanti, ya. Mama buatkan susu hangat di dapur."

"Papa mana? Ceeena belum cium Papaaaaa!" rengek Senara sambil melongokkan kepalanya ke arah garasi yang kosong.

Danira memaksakan senyum tipis, meski matanya getir. "Papa diculik wewe gombel. Sena sama Mama aja yuk, minum susu, makan enak. Poya-poya pakai duit Papa."

Ia mencoba bergurau untuk menutupi luka di dadanya, tetapi jauh di dalam hati, Danira tahu ketahanan dirinya sudah berada di ambang batas.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hubungan Rumit, kalau kejadian Danira nikah sama Ervan berarti turun ranjang apa naik ranjang deh... Lupa.🤔
Tapi kalau beneran kejadian bakal ada yang tambah hancur nanti si Ezran dan pastinya si egois nyonya Ezlya yang nyuruh Ervan buat ngalah lagi.
😏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Biarlah Evran pergi dengan caranya dan meraih kebahagiaannya sendiri, kasihan dia di salahkan sana sini.😢😏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Telaaatt Ezran Telaaatt, kamu, Danira dan anak² kan hidupnserumah tapi dunia kalian berbeda... kamu hantunya dan Danira sama Anak²nya penghuni rumahnya jadi pas poto² bertiga jelass lah kamu ga ada, wong kamu ga nyata ada./Joyful//Joyful//Joyful/

Puas kan sekarang, mereka benar² sudah pergi dengan memulai kehidupan baru bertiga jadi jangan di ulangi kalau suatu saat kamu kemvali menemukan sosok baru yang akan jadi pendampingmu sebelum kehilangan lagi
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Menyesal Endasmu... bukannya perpisahan ini yang kamu inginkan dari dulu Ezran dan terakhir kali kamu ketemu pun hingga berpisah rumah kamu masih mengakui kalau kamu ga mencintai Danira dan masih mencintai Zelia di depan keluarga mu bahkan menyalahkan takdir.. padahal otu salahmu sendiri yang ga bisa move on dan ke egoisan orang tua mu juga sampe Danira dan anak² jadi korban kalian jadi Bikin selametan sekalian buat keberhasilan mu bisa cerai dengan Danira, Ezran./Joyful/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Berusaha menolak tapi mau pergi berdua ke Mall dengan tanpa berpikir kalau kamu itu seorang perwmpuan janda dan perempuan masa lalu Ezran yang masih membekas di hatinya plus kamu juga ga tau batasan jalan ketawa ketiwi giliran kepergilok Dinara beralibi ini otu padahal kamu juga menikmatinya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sama duda juga ga apa² kalau ga bisa dengan bujang yang penting ga di sakitin lagi./Joyful/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Mending benar cerai lah lagian bertahan dengan alasan anak²pun percuma kalau isi rumah atau penghuninya tetap ga baik² saja selama Ezran ga bisa berubah dan terus terbelenggu masa lalunya Dinara.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
GOOD Evran.👍👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Mana yang katanya minta kesempatan dan mau berubah tapi sekarang saat di butuhka kehadirannya pun ga ada terus telpon Dinara pun ga di angakat berarti Dinara dan kedua anaknya emang ga penting kan Ezra
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sebenarnya Aku maunya Dinara sama Evran saja dan biarkan dia bercerai dengan Ezran karna percuma juga sih bertahan dan memberi kesempatan tapi ketenangan dan kehangatan tetap ga ada jadi Thor Mending si Ezran berpasangan dengan perempuan lain saja kalau bisa kasihan juga Evran dan anak² sebenarnya mereka bertiga saling melengkapi dan mengerti satu sama lain ketimbang Ezran sebagai bapaknya sendiri./Joyful/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Baru beberapa menit lalu bilang mau berubah eh malah masih keulang juga sifat buruknya Ezran.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Rasain tuh rasanya Cemburu Ezran biar kamu mikir dua kali bahkal satu setengah kalipun untuk ga di ulang lagi sikap brengsekmu dulu agar Ga ada laki² lain yang bisa mengalihkan Danira dari mu./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kalau emang kamu takut anak² mu jadi brokenhome sepertimu kenapa baru sekarang kamu katakan itu tapi bukan beberapa tahun sebelumnya kamu lakukan peranmu sebagai Ayah buat mereka bukan malah sibuk sendiri dan pulang dengan ngeluarin kata² kasar Ezran... ternyata harus di kasih syok terapi dulu untuk kamu sadar ya.😏
Dan Evran yang hanya menggantikan peran 2 bulan harus di salahkan seolah dia pelaku sesungguhnya jadi ga adil Danira kalau kamu juga menyalahkan Evran karna dia selama hidup seatap denganmu ga sampe HB meskipun salah dia sudah hampir menyentuhmu tapi kamu juga yang duluan kan jadi jangan merasa paling benar juga Danira... Evran memang punya salah juga tapi harus adil juga pula mata siapa yang sepenuhnya salah besar di sini.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Pada akhirnya Danira dan anak²nya yang harus jadi korban ke egoisan keluarga Ezran.😢
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Saking polos atau gimananya Danira sampe ga bisa bedain apa²🤭
Dan kasihan Danira karna ga pernah di inginkan oleh suaminya ataupun Ervan yang terpaksa melakukan peran pengganti.😢
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sudah kepalang menjadi peran pengganti jadi jalanin saja senyaman kamu Evran tanpa harus terbebani permintaan mamah mu dan pacar mu yang lebih kebanyakan egois menuntut tanpa memberi ketenangan dan kenyamanan seperti yang kamu dapatkna dari Danira asal jangan kebablasan sampe HB... toh Ezran juga selama sehat mengabaikan mereka jadi ambil alih saja sekalian kedudukannya.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Berarti yang egois itu mamah dan papah kamu Ezran, dan sayangnya sifat buruk mereka nurun ke Ezran sedangkan kamu sendiri yang harus terus mengalah dan tersakiti
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lebih pekaan Bara ketimbang kamu Dinara.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Busyeett Senaaaa kamu masih kecil sudah berani ngutang./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Danira ga bisa tegas sama sekali padahal sudah ga di anggap kehadirannya dan di rendahkan tapi masih saja ga peka mendekati ke B0d0h... gemess banget Danira kayak kecintaan sama Ezran sampe² ga buka mata lihat perbedaan antara Ezran dan Evran harusnya di selidiki jangan cuma diem dan pasrah Danira cari kebenarannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!