"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Pagi itu, Bu Hana baru saja meletakkan sepiring nasi goreng di depan Alena ketika Budi tiba-tiba menyampaikan sesuatu yang membuat perempuan itu nyaris menjatuhkan sendoknya.
“Bu, Sabtu malam, temani Budi melamar orang, ya.”
Bu Hana menatap putranya dengan kening berkerut. “Melamar?”
Budi mengangguk santai. “Iya.”
“Siapa?”
“Jena.”
Bu Hana terdiam. Nama itu terdengar asing di telinganya. Selama ini, ia tidak pernah sekalipun mendengar Budi bercerita tentang seorang perempuan yang dekat dengannya. Tahu-tahu pagi ini anaknya meminta ditemani melamar.
“Sejak kapan kamu punya pacar?”
Budi menggaruk tengkuknya sambil senyum-senyum. “Gimana ya Bu bilangnya, intinya masih baru, dan kami sudah sepakat untuk menikah.”
"Menikah?" Alena yang baru memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut, langsung terdiam. Ia menatap Budi yang berdiri di sampingnya.
Bu Hana menatap putranya lama. Akhirnya anaknya benar-benar memikirkan pernikahan.
“Ayah mau menikah?” tanya Alena setelah menelan nasi goreng di mulutnya.
Budi mengangguk mantap. “Iya.”
Alena tampak ragu sebelum akhirnya bertanya. “Apa setelah itu, Ayah akan pergi dari rumah ini?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Budi terdiam. Ia menatap keponakannya. Untuk sesaat, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini, pikirannya hanya dipenuhi Jena. Tentang lamaran. Tentang pakaian yang harus dipakai. Tentang apa yang harus dibawa. Tentang bagaimana ia harus berbicara kepada keluarga Jena. Ia sama sekali belum memikirkan tempat tinggal setelah menikah.
"Ayah belum tahu,” jawabnya jujur.
Alena menunduk, wajah kecilnya langsung berubah murung. “Berarti Ayah bisa saja pergi?”
Budi menghela napas. Ia kemudian mengusap kepala Alena. “Kenapa kamu mikir begitu?”
“Karena kalau Ayah menikah, Ayah punya rumah baru, punya istri, punya keluarga baru. Dan nantinya, juga akan punya anak. Dan aku..."
Budi membungkuk, menyamakan tinggi dengan Alena yang sedang duduk. "Selamanya, kamu anak Ayah." Ia mengusap kepala Alena.
"Kan bisa diajak tinggal disini istrinya Ayah," ujar Bu Hana.
Budi terdiam, ia langsung memikirkan Jena. Apa mungkin, Jena mau tinggal bersamanya dan keluarganya? Ia terlalu bahagia akan menikah dengan Jena, sampai lupa bagaimana keluarganya nanti saat ia menikah. Ibunya, Alena, mungkinkah ia tega membiarkan mereka tinggal hanya berdua?
"Alena gak mau ditinggal Ayah." Mata anak itu berkaca-kaca.
"Alena, lanjutkan makannya. Jangan mikir kejauhan dulu." Namun dalam hati, Bu Hana sendiri justru memikirkan hal yang sama.
Ia bahagia. Sungguh bahagia. Selama bertahun-tahun, ia melihat Budi bekerja keras tanpa banyak mengeluh. Mengurus keluarga, membantu kebutuhan rumah, bahkan sering mengesampingkan keinginannya sendiri.
Kalau sekarang akhirnya ada seorang perempuan yang ingin ia jadikan istri, tentu Bu Hana ingin mendukungnya. Tetapi ada bagian kecil dalam hatinya yang terasa berat. Bagaimana kalau setelah menikah Budi benar-benar meninggalkan rumah ini?
Selama ini, Budi adalah tulang punggung keluarga. Mama Alena memang sering mengirimkan uang untuk kebutuhan putrinya, tetapi Bu Hana tidak pernah menyentuh uang itu, ia memilih menyimpannya. Alena adalah tanggung jawabnya dan Budi. Jika Budi menikah nanti, tanggungannya pasti makin banyak. Sepertinya, ia harus memikirkan cara untuk bisa mendapat uang agar tidak terus bergantung pada Budi.
Bu Hana sempat memiliki harapan lain. Dulu, ia pernah membayangkan Budi menikah dengan Diva, Mamanya Alena. Perempuan yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga mereka.
Kalau Budi dan Diva menikah, mungkin semuanya akan terasa lebih mudah. Alena akan selamanya tinggal bersama mereka, tudak khawatir suatu saat dibawa pergi oleh Diva saat wanita itu menikah lagi. Selain itu, Diva sudah lama jadi menantunya, yang pasti tidak akan keberatan jika mereka tinggal bersama.
Budi tidak perlu pergi, Alena juga akan tetap disini. Dan rumah ini mungkin tetap menjadi rumah mereka semua.
Namun harapan itu hanya tinggal harapan. Bu Hana tahu, hati Budi tidak pernah bisa dipaksa. Ia tidak bisa meminta anaknya menikahi seseorang hanya demi membuat hidup mereka lebih mudah.
“Bu?”
Suara Budi membuyarkan lamunannya.
“Hm?”
“Ibu kenapa malah melamun?”
Bu Hana tersenyum. “Enggak apa-apa.” Ia menatap putranya. “Kalau memang kamu sudah yakin sama perempuan itu, siapa tadi namanya?"
"Jena, Bu."
"Ibu ikut senang.”
Budi tersenyum lega. “Berarti Ibu mau menemani Budi melamar Jena?"
Bu Hana mengangguk. "Tapi...sebelum itu, bisakah Ibu berkenalan dulu dengan calon menantu Ibu?"
Budi mengangguk, "Pasti."
"Tunggu!" Alena tiba-tiba teringat sesuatu. "Namanya Jena? Apa...Kakak cantik yang waktu itu ke tempat jualan?"
"Iya." Budi tersenyum, mengusap rambut Alena.
"Alena, apa dia sangat cantik?" tanya Bu Hana.
Alena langsung mengangguk. "Iya, dia cantik. Cantik sekali, seperti artis. Cantik, tinggi, langsing, putih, rambutnya panjang, pakai baju bagus, sepatu hak tinggi dan...apa ya..."
"Pantesan Ayah kamu langsung minta dilamarin." Bu Hana tersenyum, melirik putranya yang wajahnya memerah. Sepertinya, wanita itu sangat memikat hati putranya, sampai langsung minta dilamarin. "Jadi kapan Bud, Ibu bisa ketemu calon mantu Ibu?"
"Nanti aku konfirmasi sama Jena dulu ya, Bu. Alena, udah siang, buruan sarapannya, kita berangkat sekolah."
Alena mengangguk, lalu mempercepat makan.
"Jangan buru-buru, nanti keselek." Bu Hana geleng-geleng.
Setelah Budi dan Alena berangkat, Bu Hana masuk ke dalam kamar. Ia membuka almari, mengambil sebuah kotak perhiasan yang sudah usang. Ia membuka kotak warna merah tersebut, dan air matanya seketika meleleh.
"Maafin aku, Mas." Bu Hana menyentuh sepasang cincin dan kalung emas yang ada di dalam kotak. "Sepertinya, cincin nikah kita harus aku jual. Budi mau menikah." Ia tersenyum, menyeka air mata di kedua pipi. "Anak bungsu kita akan menikah. Kalung di dalam kotak tersebut, dulunya adalah seserahan saat acara lamarannya dengan alm. suaminya. Hanya itu harta yang dia miliki sekarang, semuanya sudah ludes.
Bu Hana meletakkan kotak tersebut ke atas meja, lalu mengambil ponselnya. Ia menelepon Bu Erni, tetangga.
"Er, mesin jahit kamu jadi dijual? Kalau jadi, aku mau membelinya."
Situ julid banget jadi orang🙄
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
lebih ke cerita dam bhasa sehari2 kita gtu..jdi yg baca tuh kyak ikut mssuk kedlm cerita langsung....pokoknya suka bgt sm cerita2 kak yutantia🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣