Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.
Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.
Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.
Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.
Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.
Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Rahasia
Emma menuruni tangga dan berjalan menuju taman. Pikirannya kacau balau. Hanya dalam satu malam, hidupnya yang sempurna dirusak oleh kehadiran Elisa.
Terkutuklah saat aku meyakinkan Yosef untuk membawa pulang anak haram itu.
Setiba di luar, Emma mencari putrinya. Ia harus bicara dengannya. Diana bersembunyi di balik rerimbunan pohon. Tangannya masih berlumur darah, dan sejak tadi ia tak berhenti menangis.
Diana tahu, bila sesuatu yang buruk menimpa Elisa, ayahnya takkan pernah memaafkannya.
"Diana... Diana... Sayang..."
Emma memanggil putrinya beberapa saat. Sampai akhirnya Diana muncul dari balik pohon dengan tubuh gemetar.
"Mama. Aku bersumpah aku tak bermaksud melukai Elisa. Itu cuma dorongan sesaat."
Emma langsung memutar tubuhnya. Di belakangnya berdiri putri kesayangannya. Rambut gadis itu acak-acakan, bajunya masih penuh darah, dan matanya bengkak parah.
Tanpa berpikir, Emma menghampiri putrinya, membentangkan tangan, dan memeluk Diana. Gadis itu menangis pilu di bahu ibunya.
"Tenanglah... Elisa baik-baik saja. Sayangnya, ia takkan mati. Andai ia mati, itu justru keberuntungan bagi kita."
Emma berbisik di telinga Diana. Gadis itu melepaskan diri dari pelukan ibunya lalu berkata,
"Mama, kenapa mereka harus membawanya pulang? Aku tak mau Elisa ada di keluarga kita. Ia sudah bukan bagian dari kita lagi."
"Lihat bagaimana ia bicara padaku, ia berani-beraninya menyindir bahwa aku perempuan jalang karena tidur dengan ayahnya, padahal tahu ayahnya sudah beristri."
"Apa benar aku putri Yosef Wijaya?"
Emma takkan pernah menjawab pertanyaan itu pada Diana. Maka ia mengalihkan pembicaraan dan berkata,
"Dosa orang tua tak ada hubungannya dengan anak. Apa yang ayahmu dan aku lakukan dulu, itu masa lalu. Kejora, ibu Elisa, sudah mati, dan akan tetap mati. Sekarang kita cuma perlu menyingkirkan Elisa, dan kita akan kembali menjadi keluarga seperti beberapa hari lalu."
Emma menyeka air mata yang masih menetes dari mata putrinya. Ia mengecup kening Diana.
"Ayo masuk, kau harus ganti baju. Jangan cemaskan Elisa. Aku yang akan mengurus semuanya."
Wanita itu menggenggam tangan putrinya, dan mereka berjalan masuk ke dalam mansion. Diana pergi ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan darah saudarinya, sementara Emma keluar.
Wanita itu menyetir hingga ke sebuah tempat terpencil, jauh dari kota. Tempat yang tak pernah ia bayangkan akan ia datangi lagi. Ia memarkir mobil beberapa blok dari sana, meski sebenarnya sudah berada di dalam lahan milik Cesar Wijaya.
Ia menatap ketakutan ke arah mansion mewah itu. Tangannya gemetar oleh takut dan gugup. Meski begitu, ia mencengkeram kuat setir mobilnya. Ia memejamkan mata, dan teringat apa yang terjadi malam itu.
"Itu kecelakaan!" seru Emma, waktu itu, sementara tangan sang pria mencengkeram lehernya.
"Kau pikir aku akan percaya. Kau yang membunuh Kejora!"
Cesar menampar Emma keras-keras. Pria itu tampak seperti iblis buas, yang ingin melahap jiwa wanita di hadapannya.
Bibir Emma mulai berdarah. Dengan susah payah, ia mendorong Cesar dan mencoba kabur, tapi tenaganya tak ada apa-apanya dibanding pria seperti kakak iparnya itu.
Cesar menyusul Emma dan mencengkeram lengannya, menamparnya beberapa kali lagi hingga Emma pingsan. Saat siuman, ia sudah berada di mansion Yosef, tak ingat apa pun yang terjadi, bahkan tak ingat bagaimana ia diselamatkan Yosef.
Suaminya tak pernah membahas hal itu lagi, dan sama sekali tak mengizinkan siapa pun menyebut nama saudaranya di hadapannya.
Sementara itu, Emma berusaha menahan rasa takutnya. Di mansion, Yosef menekan nomor Mario.
Saat itu, Mario berada di kantor sahabatnya, Arman.
"Ini akta nikahmu. Selamat! Kau kini pria beristri, Elisa Wijaya."
"Kau harus memperkenalkanku pada adik iparku. Pasti wanita yang cantik jelita."
Mario memandangi akta nikah di tangannya dengan saksama. Seulas senyum terbit di bibirnya. Kini si gadis liar itu akan tunduk di bawah kendalinya. Suka atau tidak, Elisa kini istrinya.
"Kau harus menahan rasa penasaranmu untuk mengenal istriku. Besok malam kami berangkat ke Italia," jawab Mario datar.
"Italia, negeri para wanita cantik."
"Apa yang kau lihat pada Elisa, sampai kau tergila-gila padanya? Pasti ia dewi di ranjang, atau punya kelebihan lain yang tak dimiliki wanita mana pun."
Mario bangkit dari kursinya. Sulit menjelaskan pada orang lain apa yang ia rasakan sejak pertama kali melihat Elisa di restoran itu. Ia tak bisa mengatakan bahwa ia suka cara Elisa membantahnya, sebab Arman pasti akan menertawakannya.
"Aku menyukainya, dan itu cukup untuk membuatku memilikinya... Aku terbiasa mendapatkan segala yang kuinginkan, tanpa peduli apa pun."
"Aku menginginkannya menjadi ibu dari anak pertamaku..."
Arman terbelalak, terkejut mendengar jawaban Mario. Ia tak pernah mendengar Mario bicara soal menjadi ayah; ini sesuatu yang akan ia ingat seumur hidup.
"Kasihan gadis itu. Menjadi ibu dari anakmu pasti tantangan berat baginya."
Sebelum Arman selesai bicara, ponsel Mario berdering. Mario mengangkat tangannya, memberi isyarat pada sahabatnya untuk berhenti.
"Pak Yosef, apa yang Anda mau."
"Tuan Adikara, saya menelepon untuk memberi tahu bahwa putri saya Elisa mengalami kecelakaan. Ia jatuh dari tangga dan kepalanya terbentur. Ia sudah ditangani dan semuanya baik-baik saja, hanya saja..."
"Apa yang kau katakan, tolol!"
"Kalau sesuatu terjadi padanya, kupenggal kepalamu dan kulempar ke anjing-anjing!"
"Jangan main-main denganku. Kau belum mengenalku."
Di ujung sambungan, Yosef menelan ludah. Ia tak pernah membayangkan reaksi Mario akan seperti itu.
"Tuan Adikara, saya berjanji Elisa baik-baik saja. Takdirlah yang menolong kita."