Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 24
"CUKUP, AIDIL!" bentak Papa Bagas seraya berdiri pasang badan memblokir jalan anak kandungnya sendiri.
"Masih berani kamu menyebut kata 'khilaf' setelah apa yang Papa dan Mamamu lihat dengan mata kepala kami sendiri di kamar ini?! Kamu bertelanjang dada dengan wanita iblis itu di ranjang yang kamu tempati bersama istrimu!"
"Pa, Aidil tahu Aidil salah! Tapi Aidil cinta sama Zivana! Aidil cuma butuh kesempatan satu kali lagi!" raung Aidil histeris, menyapu air mata yang terus meleleh membasahi wajahnya yang pucat.
"Cinta?!" Mama Hana melepaskan pelukannya dari Zivana, berbalik menghadap Aidil dengan tatapan jijik yang belum pernah Aidil lihat seumur hidupnya dari sang ibu.
"Cinta mana yang membuatmu tega membiarkan wanita asing menghina istrimu di rumah ini? Cinta mana yang membuatmu mengotori kesucian pernikahanmu sendiri?! Jika kamu benar-benar mencintai Zivana, kamu tidak akan pernah membiarkan iblis itu menyentuhmu!"
"Ma... ampuni Aidil, Ma..." Aidil menangkupkan kedua tangannya, bersujud di depan kaki Mama Hana.
"Jangan panggil aku Mama!" potong Mama Hana melengking.
"Mulai detik ini, aku malu memiliki anak laki-laki sepertimu! Kamu bukan cuma menghancurkan Zivana, kamu juga menghancurkan hati anak-anakmu sendiri! Bagaimana bisa kamu menatap mata Khiasar dan Amora nanti?!"
Zivana hanya menyaksikan pemandangan itu tanpa emosi. Rasa sakit yang bertumpuk selama berbulan-bulan telah mengkristal menjadi kehampaan. Ia memutar badannya dan berjalan masuk kembali ke kamar utama, mengabaikan Aidil yang meraung memanggil namanya.
Zivana menarik koper berukuran sedang dari sudut lemari. Tanpa ragu, ia mulai memasukkan baju-baju serta dokumen penting milik dirinya. Aidil mendobrak masuk, mengabaikan seruan orang tuanya. Ia berlutut di sebelah koper Zivana, berusaha menahan tangan Zivana yang sedang melipat pakaian.
"Ziva, kamu mau ke mana?! Jangan pergi dari rumah ini! Ini rumah kamu!"
Zivana menepis tangan Aidil dengan satu gerakan pelan namun begitu tegas. Ia tak berminat membalas rentetan kalimat penyesalan itu, tak juga sudi melayani dramatisasi pria yang telah mati di hatinya.
Tanpa menguarkan sepatah kata pun, Zivana menarik ritsleting kopernya hingga rapat.
Sreeeet.
Ia berdiri tegak, memutar tubuhnya, dan menggenggam gagang koper dengan erat. Pandangannya lurus ke depan, sepenuhnya melewati Aidil yang masih bersimpuh lemas di lantai marmer, seolah pria itu hanyalah bayangan tak tak berwujud.
"Ziva... tolong, Ziva... bicara padaku..." ratap Aidil parau, jemarinya mencoba menggapai ujung gaun Zivana.
Namun Zivana hanya melangkah mundur satu tapak, menghindarinya dengan dingin. Ia menoleh ke arah Papa Bagas dan Mama Hana, memberikan anggukan kecil yang sarat akan ketegaran.
"Ayo, Pa... Ma. Kita pulang," ucap Zivana singkat dengan suara yang sangat tenang.
"Mari, Nak. Biar Papa yang bawakan kopermu," ujar Papa Bagas seraya mengambil alih koper sedang di tangan Zivana.
Sementara Mama Hana merangkul erat lengan mantan menantunya itu, melindunginya dari keberadaan Aidil. Aidil bangkit terhuyung-huyung, mencoba memotong jalan di ambang pintu.
"Ziva! Kamu tidak bisa pergi begitu saja! Bicara padaku!"
Sebelum Aidil sempat menyentuh Zivana, Papa Bagas pasang badan dan mendorong dada Aidil hingga pria itu terjerembap kembali ke lantai kamar.
"Jangan sentuh dia lagi!" bentak Papa Bagas dingin.
Zivana tak balik menatap. Ia terus melangkah menuruni anak tangga satu per satu dengan ketukan tumit yang mantap. Tak ada tangis panik, tak ada makian kekecewaan. Keheningan dan keputusannya yang mutlak justru menjadi pembalasan yang jauh lebih mematikan bagi Aidil.
"ZIVANA! ZIVA, JANGAN PERGI! ZIVANAAAA!"
Raungan histeris Aidil menggema memecah pekatnya malam, namun Zivana terus melangkah keluar melewati pintu depan tanpa ragu. Pintu mobil Papa Bagas tertutup rapat, dan deru mesinnya perlahan membelah jalanan malam, membawa Zivana pergi selamanya dari rumah dan pria yang telah menghancurkan hidupnya sendiri.
Mobil Papa Bagas berhenti di pelataran rumah utama. Zivana turun perlahan, menyerap hembusan angin malam yang terasa sejuk di kulitnya. Meski rasa lelah mental menghimpit dada, kakinya tetap melangkah mantap masuk ke dalam rumah demi dua malaikat kecil yang terpaksa menghadapi kekejaman dunia dewasa.
Di dalam ruang keluarga, Khaisar duduk termenung di sofa seraya merangkul adik kecilnya, Amora, yang sudah tertidur lelap dengan kepala bersandar di pangkuannya. Begitu mendengar ketukan langkah kaki dan pintu depan yang terbuka, mata Khaisar langsung terangkat.
Melihat Zivana berjalan mendekat dengan mata yang sembab namun memancarkan ketegaran, Khaisar seketika membelalak. Pria kecil berusia sepuluh tahun itu menurunkan kepala adiknya ke bantal sofa secara perlahan, lalu bangkit berdiri dengan tubuh gemetaran.
"Bunda..." bisik Khaisar, suaranya parau.
Zivana berlutut di hadapan Khaisar, menyamakan tingginya. Ia mengulas senyum paling tulus yang bisa ia berikan, seraya merengkuh jemari mungil putra sulung Aidil itu.
"Khaisar belum tidur, Nak?" tanya Zivana lembut.
Khaisar menggeleng cepat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah melintasi pipinya. Anak laki-laki itu tidak bertanya ke mana ibunya pergi atau apa yang terjadi di rumah utama tadi malam. Tatapan matanya yang dewasa sebelum waktunya memancarkan pemahaman yang teramat dalam.
"Papa... Papa jahat sama Bunda, kan?" suara Khaisar bergetar hebat, giginya mengatup menahan amarah dan kesedihan.
"Wanita itu... wanita itu datang lagi dan Papa menyakiti Bunda?"
Zivana mengusap air mata di pipi Khaisar dengan ibu jarinya, merapikan poni rambut anak itu dengan penuh kasih sayang.
"Khaisar, dengarkan Bunda ya, Nak," ucap Zivana pelan, tatapannya terkunci pada mata Khaisar.
"Bunda ke sini... untuk pamit pada Khaisar dan Amora."
Dada Khaisar naik turun memburu. Tangannya langsung mencengkeram erat jemari Zivana, seolah takut jika ia melepasnya, wanita di hadapannya ini akan lenyap diterbangkan angin.
"Bunda mau pergi? Bunda mau tinggalkan Khaisar sama Amora?" tanyas Khaisar histeris dengan suara tertahan agar tidak membangunkan adiknya.
"Bunda, tolong jangan pergi... Khaisar janji bakal nurut sama Bunda. Khaisar bakal jagain Amora. Jangan tinggalkan kami sama Papa dan wanita itu, Bunda!"
Mama Hana yang berdiri di balik tubuh Zivana tak sanggup menahan tangisnya. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berpaling ke dada Papa Bagas yang juga menahan napas berat. Zivana menggeleng pelan, lalu menarik Khaisar ke dalam pelukan hangatnya. Ia mengecup puncak kepala anak itu berkali-kali.
"Bunda harus pergi, Sayang," bisik Zivana tepat di telinga Khaisar, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.
"Pernikahan Bunda dan Papa sudah selesai. Bunda tidak bisa lagi tinggal di rumah ini. Tapi ketahuilah, Nak... tidak ada satu detik pun Bunda berhenti menyayangi Khaisar dan Amora. Bagi Bunda, kalian tetap anak-anak Bunda."
Khaisar membenamkan wajahnya di bahu Zivana, menangis terisak-isak hingga tubuh kecilnya berguncang.
"Khaisar benci Papa..." adu anak itu pelan di sela tangisnya, kalimat yang begitu jujur dan menyayat hati.
"Khaisar benci kenapa Papa harus buat Bunda sakit hati. Kenapa Papa lebih pilih wanita jahat yang dulu buang kami?"
Zivana melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Khaisar dan menatapnya lekat-lekat dengan raut wajah penuh penekanan.
"Tidak boleh bicara begitu, Nak. Bagaimana pun, dia Papa dan mamamu," ujar Zivana menasihati dengan penuh kedewasaan.
"Tapi Bunda minta satu hal pada Khaisar... Jadilah anak yang kuat, jaga Amora baik-baik. Kalau suatu saat Khaisar rindu, Bunda akan selalu ada untuk Khaisar."
Khaisar mengusap matanya dengan punggung lengan. Ia menatap Zivana dengan tatapan penuh pemahaman yang menyakitkan. Anak laki-laki itu sadar, menahan Zivana di sini hanya akan menambah luka bagi wanita yang sudah memberinya kasih sayang seorang ibu sejati selama ini.
"Bunda..." Khaisar menggenggam tangan Zivana, mengangguk perlahan.
"Khaisar paham. Bunda harus bahagia. Bunda tidak boleh disakiti lagi sama Papa."
Zivana tersenyum haru, menyapu air matanya sendiri lalu beralih melangkah mendekati Amora yang tertidur pulas. Ia membungkuk, mencium kening putri kecil itu dengan durasi yang lama, menyalurkan seluruh doa dan kasih sayangnya yang tak bersyarat.
"Opa dan Oma akan menjaga kalian di rumah ini," potong Papa Bagas tegas seraya melangkah maju dan merangkul bahu Khaisar.
Zivana bangkit berdiri, mengambil tas tangannya dan menatap seluruh anggota keluarga itu untuk terakhir kalinya.
"Ziva pamit ya, Pa, Ma... Khaisar..." Zivana melangkah mundur perlahan.
Khaisar berdiri tegak, memandangi punggung Zivana yang berjalan menuju pintu luar. Meski dadanya sesak oleh penyesalan atas perbuatan ayah kandungnya sendiri, Khaisar melepaskan ibu tirinya itu dengan rasa hormat tertinggi, membiarkan Zivana melangkah menuju kebebasannya tanpa lagi menanggung beban luka keluarga mereka.
jdi laki kok banci amat😅😅😅
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home