Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.

Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.

Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.

Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.

Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.

Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wawancara

POV Paolo

Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan.

Namun, meski begitu… aku tak mau mengakuinya.

Wawancara sudah dijadwalkan.

Resmi.

Tertata.

Dengan cara yang benar.

Dengan cara yang memang perlu, supaya tak menimbulkan kecurigaan.

Tapi, jauh di dalam, aku tahu: ini bukan sekadar soal kompetensi.

Ini soal dia.

Maria Cecília.

Sejak aku terbangun, aku sudah jengkel pada diriku sendiri. Kutata rutinitasku, kuperiksa dokumen, kuselaraskan jadwal rapat… semuanya dengan niat menjaga kendali.

Karena itulah yang selalu kulakukan.

Kendali.

Selalu.

Tapi, meski sibuk, ada satu pikiran yang terus-menerus, memaksa, nyaris menjengkelkan: dia akan ada di sini hari ini.

Dan itu seharusnya tak berarti apa-apa.

Memang tak berarti apa-apa.

Ini hanya rasa ingin tahu.

Ketertarikan profesional.

Penilaian.

Tak lebih dari itu.

Itu yang kuulang-ulang pada diriku sendiri.

Ketika aku menuju ruang rapat, Pietro sudah ada di sana.

"Siap?" tanyanya, dengan senyum tipis.

"Untuk wawancara?" jawabku ketus. "Selalu."

Ia tak berkomentar.

Tapi aku mengenali tatapan itu.

Ia melihat lebih dari yang ingin kutunjukkan.

Kami duduk.

Berkas-berkas CV ada di atas meja.

Aku sudah membacanya.

Lebih dari sekali.

Bukan karena aku perlu.

Tapi karena… aku ingin.

Ketika ada ketukan di pintu, tubuhku waspada dengan cara yang nyaris tak kentara.

"Silakan masuk."

Lalu…

Ia masuk.

Maria Cecília.

Sederhana.

Anggun dalam kesederhanaan.

Tanpa dibuat-buat.

Tanpa berlebihan.

Tanpa berusaha memikat.

Namun, meski begitu…

Ia memikat.

Tatapanku langsung tertuju padanya.

Naluriah.

Keliru.

Aku mengalihkan pandang.

Seketika.

Kendali.

Ia memberi salam.

Duduk.

Dan aku pun memulai.

Pertanyaan-pertanyaan langsung.

Objektif.

Profesional.

Itulah yang perlu kupegang.

Tapi, pada setiap jawabannya…

Ada sesuatu di dalam diriku yang bergeser.

Ia bicara dengan jelas.

Tanpa arogansi.

Tanpa rasa takut.

Namun dengan ketegaran yang tak sepadan dengan seseorang yang menjalani hidup seperti hidupnya.

Atau mungkin…

Justru sangat sepadan.

Kuamati setiap detail.

Caranya berpikir sebelum menjawab.

Caranya menyusun kata-kata.

Sikap tubuhnya.

Pengendalian dirinya.

Dan, terutama…

Harga dirinya.

Itu bukan sesuatu yang dipelajari di bangku kuliah.

Itu karakter.

Dan semakin aku memandanginya…

Semakin sulit untuk menjaga jarak.

Karena ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang menarikku.

Yang membuatku menginginkan…

Lebih.

Lebih banyak kedekatan.

Lebih banyak waktu.

Lebih banyak dirinya.

Kukatupkan rahang.

Ini tak masuk akal.

Tidak masuk akal.

Ia bukan tipeku.

Sebenarnya… aku tak punya "tipe".

Aku tak bekerja dengan cara seperti itu.

Perasaan bukan bagian dari duniaku.

Tak pernah.

Dan tak akan dimulai sekarang.

Ini hanya…

Kesan sesaat.

Kekaguman.

Rasa hormat.

Tak lebih dari itu.

Itu saja.

Harus begitu.

Pietro mengajukan beberapa pertanyaan yang lebih ringan. Ana Paula menjawab dengan wajar. Mereka berdua saling melengkapi dengan baik.

Tapi fokusku…

Selalu kembali pada Maria Cecília.

Bertentangan dengan kehendakku.

Dan itu membuatku jengkel.

Wawancara pun usai.

Kupersilakan mereka pergi dengan formal.

"Tunggu kabar dari kami."

Mereka keluar.

Pintu tertutup.

Hening.

Pietro menatapku.

"Jadi?"

"Mereka bagus."

"Cuma bagus?"

Kupandang berkas-berkas CV di atas meja.

"Cakap."

"Kubilang lebih dari itu."

"Untuk posisi ini, sudah lebih dari cukup."

Ia menyilangkan lengan.

"Untukmu juga?"

Aku mengangkat pandang.

Dingin.

"Jangan mulai."

Ia tertawa.

"Santai. Aku setuju denganmu. Mereka sangat bagus."

Aku mengangguk.

"Pekerjaan itu sudah jadi milik mereka."

"Tentu saja."

Kami terdiam beberapa detik.

"Kita tunggu sebentar," ucapku.

"Supaya tak terlihat terlalu gampang?"

"Tepat."

Ia tersenyum.

"Kau mudah ditebak."

"Dan kau terlalu banyak bicara."

Setelah beberapa menit, kami menyuruh orang memanggil mereka kembali.

Ketika mereka masuk…

Aku melihatnya.

Harapan itu.

Ketegangan itu.

Dan, ketika Pietro berkata—

"Selamat, kalian diterima."

Dunia di sekeliling mereka berubah.

Secara harfiah.

Aku melihatnya.

Di mata.

Di ekspresi.

Di tubuh.

Keterkejutan.

Kegembiraan.

Ketidakpercayaan.

Dan, sesaat…

Hal itu menghantamku.

Langsung.

Dengan cara yang tak terduga.

Aku hanya mengamati.

Dalam diam.

Tapi ada sesuatu di dalam diriku…

Yang menjadi tenang.

Mereka mengucapkan terima kasih.

Lalu keluar.

Dan, begitu pintu tertutup, Pietro bersiul pelan.

"Kau lihat itu?"

"Apa?"

"Reaksi mereka."

"Wajar."

"Itu bukan 'wajar', Paolo. Itu… tulus."

Aku tak menjawab.

Aku bangkit.

Menuju mejaku.

Tapi tak duduk.

Alih-alih, aku menuju sistem pemantauan.

Kamera-kamera.

Resepsionis.

Kucari.

Dan kutemukan.

Mereka berdua.

Sedang duduk.

Lalu…

Mereka berpelukan.

Dengan erat.

Melompat-lompat.

Tertawa.

Seolah mereka baru saja memenangkan dunia.

Aku terus memandanginya.

Tanpa sadar berapa lama waktu berlalu.

Kurasakan sesuatu yang baik.

Tanpa beban.

Tanpa perhitungan.

Tanpa strategi.

Hanya… baik.

Kumatikan layarnya.

Kembali ke kenyataan.

Sisa hari itu adalah pekerjaan.

Penataan.

Penyesuaian.

Formalitas.

Tak ada yang di luar kendali.

Seperti biasa.

Ketika selesai, aku keluar bersama Pietro.

Kami pulang ke rumah.

Perjalanannya sunyi.

Tapi pikiranku tidak.

Tak pernah.

Begitu aku masuk, kutemukan Mama di ruang tamu.

"Di mana Luna?"

"Pergi," jawabnya.

"Dengan siapa?"

"Dengan teman-temannya. Mereka merayakan pekerjaan baru itu."

Jantungku… bereaksi.

Kuat.

Seketika.

Aku mengabaikannya.

"Baik."

Tapi, dalam hati…

Tak sesederhana itu.

Aku menaiki tangga.

Perlahan.

Sambil berpikir.

Ada apa denganku?

Aku berhenti di tengah jalan.

Kuusap wajahku.

Jengkel.

Aku tak bisa berhenti memikirkannya.

Ini masalah.

Masalah besar.

Karena aku tahu persis apa yang menyertai gangguan macam ini.

Kelemahan.

Dan kelemahan… bukan pilihan.

Jantungku berpacu setiap kali aku mengingatnya.

Suaranya.

Tatapannya.

Caranya.

Dan itu tak bisa diterima.

Aku tak bekerja dengan cara seperti itu.

Tak akan pernah.

Aku menarik napas dalam.

Kupaksa kendali itu kembali.

Ini akan berlalu.

Ini hanya kesan sesaat.

Hanya rasa ingin tahu.

Hanya guncangan karena bertemu seseorang yang… berbeda.

Tak lebih.

Harus begitu.

Karena kemungkinan lainnya…

Tak sudi kuterima.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!