"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — shopping
Helena
Aku terbangun sendirian di ranjang. Sisi tempat tidurnya dingin, tak tersentuh, seolah tak pernah dipakai. Dadaku terasa berat, ada kesedihan mendalam yang seakan tak bernama. Hal pertama yang kulakukan adalah meraih ponsel. Ada pesan dari Natalia. Dari Mama. Hanya dengan membaca nama-nama itu, tangisku kembali dengan derasnya.
Aku tak membalas siapa pun.
Aku bangkit perlahan, merasakan ketaknyamanan aneh di bagian intimku, campuran ketegangan dan emosi yang belum tuntas. Aku masuk ke kamar mandi dan membiarkan air panas mengguyur tubuhku, mencoba membasuh apa yang kurasakan — tanpa hasil. Aku berganti pakaian untuk berlari, mengikat rambut menjadi kuncir kuda tinggi, lalu menuruni tangga.
Aku mulai berlari.
Aku sadar sedang dibuntuti, tapi tak kupedulikan. Dingin menyayat wajah, udara membakar paru-paru. Aku terus berlari. Prajurit itu memaksakan diri mengikuti, lalu memperlambat langkah. Beberapa menit kemudian, ia menyerah. Aku melanjutkan sedikit lagi, sampai tubuhku memprotes. Aku lelah, badanku ngilu. Aku berhenti untuk menarik napas dan, akhirnya, kembali ke rumah.
Aku menaiki tangga kamar tepat pada saat melihat Nikolai keluar dengan mobil.
Mataku kembali dipenuhi air mata. Beberapa jatuh sebelum sempat kutahan. Aku duduk di ranjang, kalah oleh keheningan yang menjerit. Ponselku berdering. Natalia. Tak kuangkat. Aku takkan bisa bicara tanpa menangis. Dan aku tak ingin membuat Mama khawatir.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Tidak. Aku takkan tinggal terkurung di sini sambil menangis.
Aku mandi sekali lagi, berdandan dengan cermat — hampir seperti sebuah tindakan perlawanan. Setelah selesai, aku menuruni tangga dengan tekad bulat. Kupanggil salah satu prajurit dan kuminta izin untuk keluar. Ia bilang aku tak boleh.
Aku tertawa. Tanpa secuil pun rasa geli.
"Kalau kau tak mau ikut denganku," ucapku tegas, "aku akan pergi sendirian."
Kulihat ia menjauh untuk menelepon. Aku tahu persis kepada siapa. Kumatikan ponselku sebelum ada apa pun yang sampai padaku. Beberapa menit kemudian, mereka mengeluarkan mobil.
Aku masuk ke kursi belakang.
Sang sopir menatapku lewat kaca spion.
"Ke mana, Nyonya?"
Kutarik napas dalam-dalam, menatap jalan di depan seolah itu adalah sebuah gerbang.
"Mal," jawabku.
Aku tiba di mal dan, begitu masuk, keramaian, gemerlap lampu, dan riuh suara menyelimutiku bagai perisai. Aku menyusuri koridor sambil berusaha menjaga sikap, seolah segalanya berada persis di tempat yang seharusnya.
Aku masuk ke toko pertama. Lalu yang kedua. Yang ketiga.
Aku berbelanja.
Aku membeli baju yang tak kuperlukan, sepatu yang mungkin takkan pernah kupakai, parfum, tas, barang-barang cantik, mahal, berlebihan. Setiap kantong belanja di tanganku adalah upaya putus asa untuk meyakinkan diriku bahwa aku masih memegang kendali atas sesuatu.
Para pramuniaga tersenyum, memperlakukanku dengan penuh perhatian, memanggilku Nyonya. Tak seorang pun tahu bahwa di dalam diriku, aku sudah hancur. Tak seorang pun mengira bahwa kartu tanpa batas ini tak sanggup membeli apa yang sungguh-sungguh hilang.
Kugesek kartu itu tanpa melihat nominalnya. Sekali, dua kali, sepuluh kali.
Berbelanja mengalihkan perhatianku. Berbelanja menyibukkanku. Berbelanja memberiku rasa normal yang semu. Seolah, sementara aku memilih kain dan warna, hidupku juga sedang memilih jalan yang benar.
Untuk beberapa menit, aku hampir bisa berpura-pura bahwa aku hanya seorang perempuan biasa yang sedang berbelanja di hari yang biasa.
Tapi beban di dadaku tak juga hilang.
Aku sudah lelah berbelanja. Kantong-kantong itu berat, tapi tak seberat apa yang kupikul di dalam. Kakiku sakit karena terlalu banyak berjalan dari toko ke toko, dan meski begitu rasa hampa itu tak juga sirna. Malah sebaliknya. Ia membesar, menghimpit dada, naik ke tenggorokan.
Menyesakkanku.
Kugigit bibirku kuat-kuat agar tak menangis di sana, di tengah orang-orang asing yang tak ada sangkut pautnya dengan luka hatiku. Beberapa kali kutarik napas dalam-dalam, sampai aku sanggup bicara.
"Di mana tempat parkirnya?" tanyaku pada prajurit itu.
Ia menuntunku dalam diam. Segala di sekelilingku terasa jauh, seakan aku sedang mengamati hidupku sendiri dari luar. Kami tiba di mobil. Aku masuk ke kursi belakang, dikelilingi kantong-kantong belanja yang kini tampak konyol.
Perjalanan pulang berlangsung sunyi.
Kuamati pemandangan lewat jendela, pepohonan, langit kelabu, jalan yang terlalu panjang. Ketika gerbang mansion muncul di depan, kurasakan himpitan yang bahkan lebih berat.
Sangkar emasku.
Indah, megah, dingin. Tempat di mana segalanya adalah kemewahan… kecuali kebebasan.
Para prajurit naik membawa kantong belanja di belakangku. Salah seorang pelayan juga masuk ke kamar, mengamati dalam diam sementara semuanya ditata di dalam lemari pakaian. Dalam beberapa menit, lantai lenyap di bawah begitu banyak kotak dan tas yang berserakan.
Ia menatapku hati-hati.
"Bolehkah saya membereskannya sekarang, Nyonya?"
Kugelengkan kepala, suaraku tercekat di tenggorokan.
"Nanti saja."
Ia mengangguk lalu keluar, menutup pintu dengan lembut. Kamar itu kembali terasa terlalu luas. Terlalu sunyi.
Kulepas sepatu hakku terburu-buru, seakan keduanya bagian dari beban yang kupikul. Aku merebahkan diri di ranjang masih dengan pakaian lengkap. Bantal menyambut wajahku dan, akhirnya, aku menyerah untuk tetap tegar.
Aku menangis.
Aku menangis pelan, menangis tertahan, menangis sampai dadaku sakit dan mataku perih. Aku menangis karena rindu, karena takut, karena pria yang tidur di sisiku dan tetap saja terasa begitu jauh. Aku menangis untuk diriku, untuk hidup yang kutinggalkan, untuk hidup yang belum kutahu apakah aku menginginkannya.
Air mata itu mengalir semakin lambat. Tubuh lelah lebih dulu daripada luka.
Dan begitulah, dalam keletihan, aku pun tertidur.