Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Hari-hari berlalu, dan pertemuan antara Miska dan Arfan bukan lagi sekadar kebetulan. Sejak kejadian di depan toko kelontong itu, Arfan sering menyempatkan diri mampir ke ruko kecil milik Miska, entah sekadar menyapa, membeli barang kebutuhan, atau sekadar bercerita sebentar. Setiap kali Arfan datang, wajah Miska selalu bersinar, dan suasana di ruko itu terasa lebih hangat dari biasanya.
Pagi itu, Arfan datang membawa sebungkus kue basah. Miska sedang menyusun paket di meja depan, langsung tersenyum lebar saat melihat pria itu berdiri di ambang pintu.
"Selamat pagi, Pak Arfan! Selamat datang," sapa Miska ramah.
"Pagi, Miska. Sedang sibuk ya?" tanya Arfan sambil melangkah masuk, meletakkan bungkusan di meja. "Ini kue buat kamu. Tadi lewat, teringat kamu pernah bilang suka."
Miska terkejut sekaligus tersentuh. "Wah, terima kasih banyak, Pak! Ibu Bu Siti juga suka sekali kue ini. Nanti kita makan bersama."
"Silakan dimakan. Aku cuma mampir sebentar. Mau tanya, bagaimana usahamu sekarang? Semakin ramai kan?"
"Ramai sekali, Pak! Alhamdulillah, setiap hari pesanan bertambah. Bu Siti juga selalu membantu menyediakan barang. Rasanya setiap hari ada semangat baru," jawab Miska dengan mata berbinar.
"Itu karena kamu rajin dan jujur, Miska. Aku selalu yakin kamu bisa. Teruslah semangat," ucap Arfan lembut, menatapnya dengan tatapan yang lebih dari sekadar rasa hormat.
Miska merasakan detak jantungnya berdebar lebih cepat. Ia menunduk pelan, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Terima kasih, Pak. Dukungan Bapak berarti banyak buatku."
Sejak hari itu, pertemuan mereka semakin sering. Kadang Arfan menjemput Miska untuk makan siang di luar, kadang mereka berjalan-jalan di taman sore hari, sekadar berbincang dan saling berbagi cerita. Arfan selalu sopan, penuh perhatian, dan tidak pernah memaksa. Ia mendengarkan Miska bercerita dengan saksama, menghargai setiap pendapatnya, dan selalu memastikan Miska merasa nyaman.
"Aku kagum padamu, Miska," kata Arfan suatu hari saat mereka duduk di bangku taman. "Kamu pernah jatuh sangat dalam, tapi kamu bangkit kembali dengan kekuatanmu sendiri. Itu bukan hal yang mudah."
"Itu karena aku tidak sendirian. Ada Bu Siti, dan... ada kamu," jawab Miska pelan, berani menatap mata Arfan. "Kamu selalu membuatku merasa berharga, Pak. Sesuatu yang dulu tidak pernah kurasakan."
"Panggil saja Arfan. Bukan di kantor, bukan di depan orang lain. Hanya kita berdua," ucap Arfan lembut, tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Miska. "Dan ketahuilah, Miska. Kamu memang berharga. Sangat berharga."
Hubungan itu tumbuh perlahan, tulus, dan penuh rasa hormat. Namun kabar itu sampai ke telinga Askar. Suatu sore, saat pulang kerja, Askar melihat Miska berjalan keluar dari restoran bersama Arfan. Mereka tertawa bersama, wajah Miska bersinar begitu indah — senyum yang dulu tidak pernah ia lihat saat di sampingnya. Arfan membukakan pintu mobil untuk Miska, dan Miska tersenyum berterima kasih sebelum masuk.
Darah Askar mendidih. Cemburu meluap-luap, bukan karena cinta, melainkan karena harga dirinya terluka. Bagaimana mungkin wanita yang dulu ia anggap tidak berharga, kini berdiri sejajar dengan pria yang jauh lebih berwibawa dan sukses darinya? Bagaimana mungkin wanita yang dulu selalu tunduk padanya, kini tersenyum begitu bahagia di pelukan pria lain?
Masuk ke kantor keesokan harinya, pikiran Askar kacau. Ia tidak bisa fokus bekerja. Setiap kali melihat Arfan, ia justru semakin cemburu dan kesal. Ia mulai mengerjakan tugas-tugasnya seenaknya, sering terlambat, lupa jadwal, dan membuat keputusan yang ceroboh. Rara yang melihat perubahan sikap suaminya pun semakin sering mengomel, menambah beban pikiran Askar hingga ia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Kau kenapa belakangan ini? Selalu melamun, pulang terlambat, dan gajimu pun berkurang!" bentak Rara suatu malam.
"Pekerjaan sedang banyak, tidak usah kau campuri!" jawab Askar ketus.
"Banyak pekerjaan atau sedang memikirkan mantan istrimu hah?!" Rara berdiri di depannya dengan wajah merah padam. "Kalau kau masih memikirkannya, katakan saja! Jangan buat aku menderita seperti ini!"
"Kau bicara apa sih?! Sudahlah, jangan menambah beban kepalaku!" Askar mendorong bahu istrinya pelan.
Rara semakin marah. "Kau berani menyentuhku?! Berani sekali kau! Aku menyesal menikah dengan laki-laki lemah sepertimu!"
Pertengkaran itu berlangsung hingga larut malam. Askar tidur dengan hati yang panas dan kepala yang pening. Keesokan harinya di kantor, ia tidak lebih baik. Ia memproses data proyek besar dengan terburu-buru, tanpa memeriksa kembali. Kesalahan fatal itu terjadi — angka yang salah terinput, dan proyek senilai ratusan juta rupiah terancam gagal.
Arfan memanggilnya ke ruangan pribadi. Wajah pria itu tidak marah, namun tatapannya tajam dan tegas.
"Askar, kesalahan ini sangat besar. Kerugian yang ditimbulkan perusahaan tidak sedikit," ucap Arfan pelan namun pasti. "Aku sudah memberimu banyak kesempatan. Kinerjamu menurun drastis belakangan ini, dan sekarang kau membuat kesalahan yang tidak bisa dimaafkan."
"Pak, saya mohon maaf. Saya akan memperbaikinya, saya janji akan lebih fokus," mohon Askar dengan tangan gemetar.
"Sudah terlambat, Askar. Keputusan sudah bulat. Mulai hari ini, kau tidak lagi bekerja di sini. Ini surat pemutusan hubungan kerjamu. Silakan diurus administrasi keluarnya," ucap Arfan tegas, lalu menatapnya dalam. "Dan satu hal — jangan pernah biarkan emosi dan dendam menguasaimu. Itu yang membuatmu jatuh."
Askar keluar dari ruangan itu dengan tangan kosong, tanpa pekerjaan, tanpa masa depan yang jelas. Semua orang di kantor menatapnya dengan pandangan kasihan. Ia berjalan menuju pintu keluar, merasa seolah dunia sedang menindihnya. Dan di dalam hatinya, ia tahu — ini baru awal dari kehancurannya.
Sementara itu, di ruko kecil itu, Miska sedang menerima pesanan dari pelanggan dengan senyum tulus. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi pada mantan suaminya. Ia hanya tahu bahwa hari ini matahari bersinar terang, dan di sampingnya ada orang-orang yang tulus menyayanginya. Itu saja yang ia butuhkan.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪