Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Professor Handsome

I Love You Professor Handsome

Status: tamat
Genre:Romantis / Dosen / Tamat
Popularitas:18.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: desih nurani

Zainna Keisha Nugraha, seorang Mahasiswi kampus ternama di Jakarta harus menerima pernikahannya dengan seorang Profesor yang merupakan salah satu dosennya yang berstatus sebagai duda beranak satu. Inna menerima pernikahan ini karena sudah terlanjur sayang pada Putri kecil yang sangat manis dengan nasib yang sama dengannya yaitu ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Namun Inna juga harus menelan pahit bahwa suaminya masih sangat mencintai istri pertamanya dan sangat sulit untuk Inna dapat menggantikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Empat

"Mas." Panggil Inna saat Samuel muncul dari balik pintu. Inna terkesiap saat melihat penampilan suaminya yang begitu berantakan. Dan hal itu menimbulkan begitu banyak pertanyaan di kepalanya. Apa terjadi sesuatu?

"Kok baru pulang Mas?" Dan hanya itu yang keluar dari mulutnya. Inna segera mengambil tas di tangan Samuel. Tetapi lelaki itu sama sekali tidak merespon.

Inna tidak ambil pusing dengan diamnya Samuel, ia meletakkan tas kerja suaminya ke dalam lemari. Dan setelah itu kembali menghampirinya.

"Mas mau Inna buatkan kopi?" tanya Inna memegang lengan suaminya. Samuel menatap Inna begitu dalam, lalu pandangannya beralih pada kalung yang melingkar dileher istrinya. Dengan kasar Samuel menepis tangan Inna.

Inna yang kaget pun sedikit mundur. Tatapannya berubah kosong. Apa aku begitu menjijikan, Mas. Bahkan kamu tidak mau aku sentuh sama sekali. Hati Inna seketika perih.

"Tidak perlu perduli denganku. Urus saja urusanmu sendiri." Ketus Samuel sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.

Seketika tubuh Inna merosot, kakinya terasa lemas dan tak berdaya. "Apa salah Inna Mas?" Tanpa sadar air matanya meluncur begitu deras. Dan itu tidak berlangsung lama, karena Inna langsung menghapusnya. Lalu bangkit dan menatap daun pintu kamar mandi begitu dalam.

"Aku akan minta penjelasan, Mas."

Inna beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi. Saat Inna kembali, Samuel sudah selesai mandi dan hanya mengenakan celana joger berwarna hitam. Dan memperlihatkan otot perutnya yang begitu indah. Napas Inna tercekat melihat pemandangan itu. Dengan cepat Inna membuang pikiran negatifnya dan menghampiri Samuel yang saat ini sudah duduk di tepi ranjang.

"Mas, Inna sudah buatkan kopi, diminum ya?"

Samuel sama sekali tak menggubris perkataan istrinya. Dan memilih diam tanpa ekspresi.

Inna menghela napas dan ikut duduk di sebelah suaminya. Bahkan ia memberanikan diri untuk menyentuh lengan suaminya.

"Mas, ada yang perlu kita bicarakan."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, aku lelah dan mengantuk." Sahut Samuel melepaskan tangan Inna dan berbaring membelakanginya.

"Mas, jika Inna ada salah tolong katakan. Jangan seperti ini." Inna sudah tidak tahan, bahkan ia mulai terisak. Samuel yang mendengar suara isakan Inna hanya diam tanpa niat untuk berbalik. Tetapi Inna belum menyerah, ia memberanikan diri untuk memeluk Samuel dari belakang.

"Inna minta Maaf, Mas. Jika selama ini Inna berbuat salah." Ucap Inna membenamkan wajahnya di punggung Samuel. Cukup lama Inna maupun Samuel terdiam.

Hingga suara rintihan Inna pun berhasil menarik perhatian Samuel. Inna bangun dari posisinya, karena rasa nyeri di bagian perut. Sepertinya ia lupa minum obat pereda nyeri. Inna membuka laci, tetapi tak menemukan obat itu. Lalu ia mencari di dalam tas, dan hasilnya sama. Tidak ada obat yang tersisa.

"Sepertinya aku lupa beli, stoknya habis." Inna kembali duduk di tepi ranjang. Menekan perutnya yang seperti di peras begitu kuat. "Akh...." Inna meremas seprei dengan kuat saat meraskan sakit yang semakin menjadi.

Perlahan Inna bergerak untuk menyandarkan tubuhnya ditempat tidur. Ia terus meringis menahan rasa sakit. Samuel yang sejak tadi melihat itu pun bangun dari posisinya.

"Jangan ditekan, itu akan menambah sakit."

"Tapi ini sakit, Mas." Tanpa sadar Inna mulai meneteskan air mata. Samuel yang merasa iba pun menggeser tubuhnya untuk mendekat. Lalu memberanikan diri untuk menyetuh bagian perut istrinya.

"Apa sangat sakit?" Tanya Samuel yang langsung di jawab anggukan oleh Inna.

"Tolong seperti itu sebentar saja, Mas. Rasa sakitnya sedikit hilang." Inna memohon agar Samuel tak menjauhkan tangannya. Karena sentuhan tangan Samuel benar-benar mengurangi rasa sakit itu. Inna sendiri merasa aneh akan hal itu.

"Berbaring," perintah Samuel. Inna pun melakukan apa yang Samuel katakan, ia berbaring sambil terus menatap suaminya. Lalu Samuel pun ikut berbaring, memeluk perut Inna dengan erat. Inna semakin merapatkan diri. Lalu membenamkan wajahnya tepat di dada bidang Samuel. Dan lagi-lagi aroma tubuh Samuel mampu mengurangi rasa sakitnya. Inna tersenyum bahagia. Setidaknya ia bisa merasakan kedekatan yang menghangatkan. Cukup lama mereka terdiam.

"Mas," panggil Inna sambil menyentuh dada Samuel. "Tolong... tolong jangan abaikan Inna terus."

Samuel terdiam saat mendengar perkataan istrinya. Ia tak mampu bicara atau sekedar mengangguk.

"Inna mau... kita menjalankan pernikahan ini seperti kebanyakan orang. Inna tahu, mungkin sulit untuk Mas menerima Inna... tapi...."

"Berhenti bicara, tidurlah." Potong Samuel. Inna pun tak lagi berani bicara dan memilih untuk memejamkan matanya. Hingga ia terlelap dalam dekapan Samuel.

***

Pagi hari Inna terbangun saat cahaya mentari masuk melalui celah gorden. Inna terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidur. Bahkan ia tak lagi melihat Samuel di sebelahnya.

"Apa dia masih marah?" Tanyanya dan kembali merebahkan tubuhnya. Ia tersenyum sendiri saat mengingat kejadian tadi malam, itu terlalu memabukkan untuknya. Tetapi cukup menggelitik hatinya.

Saat tengah asik membayangkan betapa manisnya malam tadi, Inna dilejutkan dengan jarum jam yang menunjukkan pukul delapan kurang.

"Ya ampun, hari ini kan ada jam pagi." Inna langsung bangkit dari tempat tidur, lalu melesat kekamar mandi. Dan seperti biasa ia melakukan mandi kilat.

"Ya ampun... udah telat." Pekiknya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 08.15 WIB. Itu artinya ia terlambat lima belas menit. Dengan cepat Ia menyambar kunci mobil dan berlari keluar rumah. Bahkan Inna hampir lupa untuk mengunci pintu.

"Kenapa Mas El gak bangunin aku sih." Kesalnya sambil menginjak pedal gas. Secepat mungkin ia melesatkan mobilnya menuju kampus.

Sesampainya di kampus, Inna berlari sekuat tenaga. Karena terburu-buru Ia tak sengaja menabrak seseorang. Alhasil bokong cantiknya berhasil mencium lantai. Inna sedikit mengeluh dan mengelus bokongnya.

"Anda baik-baik saja?" Tanya seorang wanita yang Inna tabrak tadi. Bahkan wanita itu mengulurkan tangannya pada Inna dan membantu Inna bangun.

"Saya gak papa." Jawab Inna menatap orang itu penuh penyesalan. "Mbak, Saya minta maaf banget sudah menabrak Mbaknya. Mbak gak papa kan?"

"Gak apa-apa kok, saya juga salah tadi tidak lihat kamu." Sahut wanita itu sambil tersenyum ramah pada Inna.

"Sekali lagi saya minta maaf ya, Mbak. Kalau gitu saya duluan ya, Mbak. Saya sudah terlambat masuk kelas, permisi." Inna pun langsung melesat menuju kelasnya.

"Assalamualaikum." ucap Inna masuk kedalam kelas dengan napas tersengal.

"Wa'alaikumusalam." Jawab semua orang dikelas kompak. Lalu pandangan Inna pun tertuju pada dosen killer yang saat ini tengah menatap tajam ke arahnya.

"Inna... kamu telat 30 menit, berdiri satu kaki di depan kelas selama 15 menit. Sambil bilang maaf 100 kali, Kamu saya skor dan cepat berdiri." Hardik sang dosen yang terkenal sangat kejam itu.

"Ya ampun Pak, ini bukan sekolah lagi Lo Pak. Pake diskor segala." Alih-alih meminta maaf, Inna malah mengeluarkan protesannya.

"Inna! Berdiri 30 menit dan ucapkan kata maaf 200 kali. Berani melawan kamu ya? Jangan kamu pikir saya takut karena suami kamu pemilik kampus. Cepat lakukan hukumannya, Inna." Teriak dosen yang bernama Yaser itu geram dengan sikap Inna. Tidak biasanya gadis itu melawan. Bahkan ini untuk yang pertama kalinya Inna terlambat.

"I--ya, Pak saya berdiri sekarang." Sahut Inna terkejut. Inna melirik kedua sahabatnya yang ternyata sedang menertawakanya.

"Awas Lo!" Ancam Inna pada kedua sahabatnya.

"Inna..." teriak Yaser lagi.

"Iya Pak, siap." Sahut Inna yang langsung berdiri di depan kelas dengan mengangkat satu kaki. "Gini nih, kalau punya dosen gak bisa move on dari sekolah. Lagian punya suami ngeselin banget, bukan dibangunin kek istrinya." Inna terlihat sangat kesal.

Lalu tak lama datang seorang mahasiswa yang senasib dengannya. Tanpa harus bertanya, mahasiswa itu pun mengikuti jejak Inna.

"Aldo? Lo telat juga?" tanya Inna yang hanya dijawab anggukan oleh Aldo. Inna pun menghela napas lega.

"Untung ada Lo, Do. Kalau enggak gw sendirian di sini nahan malu sama sakit." Oceh Inna sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya.

"Gw akan selalu ada buat Lo, Na. Jadi tenang aja." Kata Aldo sambil mengedipkan matanya.

Inna yang mendengar itu cuma memutar matanya jengah. Lalu wajahnya langsung berubah masam.

Melihat itu, Aldo pun tergelak. "Gw becanda kali, Na. Muka lo jelek banget gitu. Mirip nenek lampir." Ledek Aldo.

Inna sangat kesal mendengar perkataan Aldo. Karena kesal, ia pun menurunkan kakinya dan menginjak kaki Aldo. Alhasil lelaki itu pun menjerit kesakitan.

"Emang enak." Ketus Inna sambil menjulurkan lidahnya.

"Gila lo, Na. Sakit banget tau gak?" Aldo mengelus kakinya yang masih berdenyut.

"Bodo." Inna pun kembali pokus menyeimbangkan kakinya.

"Jalankan hukuman dengan benar Inna, dan kamu terlambat juga Aldo? Berdiri 15 menit." teriak Pak Yaser diambang pintu.

"Siap, Pak." Sahut Inna dan Aldo bersamaan. Inna tak lagi mampu menyeimbangkan tubhnya dan hampir saja terjatuh. Aldo yang melihat itu malah tertawa.

"Jangan ketawa, Aldo." Kesal Inna memberikan tatapan maut. Sontak Aldo pun langsung diam karena sedikit ngeri melihat tatapan Inna.

Lima belas menit sudah Inna menjalankan hukum. Kakinya terasa kebas. Bahkan ia sedikit pusing dan sakit diperutnya kembali kambuh. Saat ingin mempokuskan diri, Inna tak sengaja melihat suaminya berjalan bersama seorang wanita sambil bercanda ria. Seketika ekspresi wajah Inna berubah menjadi sendu.

Semudah itukah kamu tersenyum pada orang lain, Mas. Lalu kenapa sangat sulit tersenyum padaku? Apa aku terlalu menjijikan?

Samuel terus tertawa pada seorang wanita--yang tadi Inna tabrak. Inna terus menatap Samuel yang sedang bicara dan sesekali tersenyum, Inna sangat berharap senyum itu juga bisa diberikan padanya. Walau hanya sekali, itu sudah cukup membuatnya bahagia. Dan air mata Inna lolos sudah, rasa sakit itu semakin menjalar hingga ke hatinya.

Samuel terus berjalan mendekat, bahkan matanya bertemu dengan mata istrinya yang sudah berlinang air mata. Seketika ekspresi wajahnya kembali datar.

"Pagi, Prof." Sapa Aldo yang berhasil membuat Inna terkejut dan langsung menghapus air matanya.

"Pagi." Balas Samuel datar dan menatap Inna yang kini sedang menunduk. Dengan cepat Inna mengusap air matanya.

"Kamu yang tadi kan?" tanya wanita itu pada Inna. Inna mengangkat kepalanya dan menatap wanita itu sambil tersenyum.

"Iya, Mbak." Sahut Inna yang masih dengan posisi berdiri satu kaki.

"Maafkan saya, gara-gara saya kamu harus menerima hukuman." Ucap wanita itu memberikan tatapan penuh sesal. Inna menurunkan sebelah kakinya dan merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan ia sempat mendesis karena menahan rasa sakit. Dan semua itu tak luput dari pengawasan Samuel.

"Enggak kok, Mbak, memang dari awal saya sudah terlambat." Ujar Inna menatap Samuel. Andai dia membangunkan saya, mungkin saya tidak akan terlambat, Mbak.

"Yola, kita sudah terlambat." Ujar Samuel dengan nada datar, sebelum benar-benar pergi tanpa menghiraukan Inna.

"Ah iya, saya permisi dulu ya." Wanita bernama Yola itu langsung menyusul Samuel. Inna menatap kepergian keduanya dengan tatapan terluka. Bukan hanya sekujur tubuhnya yang sakit, tetapi hatinya juga sangat sakit.

"Inna, lo gak apa-apa kan? Lo ada masalah sama suami lo?" tanya Aldo yang melihat ekspresi sedih Inna.

"Gw gak papa." Jawab Inna langsung pergi meninggal Aldo yang kebingungan. Bahkan ia mengabaikan hukumannya. Mungkin minggu depan ia tak akan bisa masuk kelas. Inna tidak peduli lagi soal itu. Saat ini ia cuma mau menenangkan diri.

Inna melangkahkan kakinya menuju taman, lalu duduk dibangku taman yang terlihat sangat sepi. Karena jam pelajaran masih berlangsung. Inna memukul dadanya yang begitu sesak.

"Apa aku salah jika aku mencintai kamu, Mas? Apa aku salah menyerahkan hatiku pada suamiku sendiri?" Ia menagis dalam kesendirian. Meratapi betapa sakitnya mencitai seseorang yang tidak pernah menganggapnya ada.

Karena terlalu hanyut dalam kesedihan. Perutnya kembali kram dan terasa nyeri. Padahal Inna sudah tahu, saat ia sedang haid tak boleh terlalu stress. Karena itu akan menyakiti dirinya sendiri. Kepala Inna semakin berdenyut, bahkan napasnya tercekat. Karena tak tahan, Inna bangkit dari duduknya dan hendak pergi. Namun, pandangannya mengabur dan mendadak gelap. Inna tak sadarkan diri sebelum seseorang menangkap tubuhnya yang hampir menyentuh tanah.

1
Sulati Cus
👍🏻
Susanti Susanti
Luar biasa
Yanthi Chahya Yustikarini
sambil nungu yg aku k sini soal nya baru baca d sini
Hera sasuwe
Luar biasa
G Use
Kalau saya jadi Jidan akan saya pukul Sam sampai mati...biar arwahnya sadar...cerita bego,seorang Profesor begitu bodoh sama cinta...orang terpelajar...malah saya salut sama orang bodoh yang nggak tau baca tulis tapi menghargai cinta...yang tolol siapa sih...pembaca atau othornya wkwkwkwkkkk
Shifa Burhan: betul kalau jadi jidan kita semua akan melakukan itu

tapi coba bayangkan kita diposisi didi punya pacaran kayak jidan yang selalu perhatian pada wanita lain, istri orang lagi, dia dia sok jadi pahlawan yang ingin merebut istri orang itu

coba bayangkan kalian punya pacaran tapi masih cinta, perhatian, bahkan mau merebut istri orang itu

renungkan lah
total 1 replies
Ijah Ijoh
Luar biasa
endah setyowati
memangnya itu papanya Samuel dimana,apakah tidak tinggal serumah dengan mamanya
Niken Hapsari
suami bodoh lepasin aja deh bentar2 minta maaf
meris dawati Sihombing
Mata kuliah kali thor mosok mata pelajaran..
Dedek Imutz
Luar biasa
falea sezi
perempuan tolol
74 Jameela
Inna jg udh jd istri tp sikap perilakunya gk bs menjaga batasan dlm berteman
74 Jameela
Bagus
74 Jameela
bagus
Furi Wijayanti Wijayanti
ada cerita rehan gak / Elya dewasa
Nina Wahab
menarik
Resnauli Simarmata
jdi perempuan ko lemah gitu ya thoor
butet sirait
wah mau nya perkataan jidan ini didengar oleh didi langsung biar kapok jg tuh jidan pea sama pea dgn sam
Shifa Burhan: komentar paling waras yang aku baca
total 1 replies
Rini Haryati
lanjut thor
ceritanya keren,bagus
dan mantap
sukses
semangat
mksh
anti pebinor pelakor
Episode 25
Ini kata Jidan pada Samuel
"Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"
Tau tidak Jidan itu kekasihnya didi dan di episode 28 dia melamar didi. Ini keistimewaan pebinor di novel2 egois, apapun kelakuannya selalu dibenarkan,

Kenapa novel harus egois dan tidak adil, pelakor dilakanat dibuat hina dan dihancurkan sedangkan pebinor begitu dipuja2, diistimewakan, dispesialkan, apapun salahnya selalu dibenarkan

Simple pertanyaan untuk author
Jika suami atau kekasihmu sangat perhatian dan membela mati matian istri orang lain, dan suami mengatakan seperti Jidan katakan pada samuel, (ini kata Jidan pada samuel "Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"). Apa kau akan bilang suamiku hebat karena perhatian dan mau merebut istri orang dan mencintai istri orang ituu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!