Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Markus.
Sementara di ruang operasi.
Aku yang sudah tak sadarkan diri oleh obat bius, berbaring di atas tempat tidur yang terasa dingin dan keras. Tubuhku tengkurap, bagian tembakan di bahu kiriku, di tandai untuk di lakukan penanganan secepatnya.
Setiap titis darah di bersihkan, menyisakan lubang sebesar ibu jari yang menganga dengan daging yang robek di luarnya. Dokter muda berambut pirang dengan balutan pakaian putihnya siap memulai operasi pengangkatan peluru di bahuku.
Operasi pengangkatan timah panas di bahu kiriku terasa sangat lama malam itu. Markus mulai membelah lapisan kulitku yang memerah. Sayatan pertama ditorehkan Markus di atas kulitku yang sudah di steril, pisau bedah itu siap menembus lapisan daging yang telah robek oleh peluru.
Lapisan kedua kulitku kembali di ditoreh oleh pisau bedah. Timah panas berwana emas itu mulai kelihatan di dalam dagingku.
Ini bukanlah operasi biasa, ini merupakan penanganan tahap eksplorasi bedah dan depridement, untuk pengangkatan timah panas yang menembus kulitku, benda asing itu sangat jauh masuk ke dalam daging, bahkan menyerempet hingga ke pangkal jantung. Tingkat luka fatal yang membuat operasi ini sangat sulit dilakukan.
Aku kehilangan banyak darah sejak saat tertembak, ruangan operasi seketika menjadi panik karena bank darah di rumah sakit tidak tersedia golongan darah milikku. Namun dokter profesional sekelas Markus tetap tenang dan melanjutkan tindakan medis terlebih dulu.
"Dokter... bagaimana ini?" tanya salah seorang perawat di sebelah Markus cemas. "Pasien butuh transfusi darah secepatnya, terjadi hipotensi intraoperatif (tekanan darah menurun saat sedang pembedahan)."
Tit ... tit .... tit .... bunyi patient monitor semakin kencang di ruangan itu. Markus tak menghiraukan alat pendeteksi jantung yang menunjukkan keadaanku semakin melemah. Kadar darahku menunjukkan hanya 60mMhg/50mMhg. Penurunan yang sangat drastis. Tubuhku mulai terasa dingin, tapi logam yang tertancap di tubuhku belum berhasil di keluarkan.
"Dokter ..!" Ujar perawat itu semakin gelisah.
"Lanjutkan!" jawab Markus ketus tanpa menoleh.
Selama menjalankan operasi pengangkatan peluru di punggung bahu kiriku, Markus tampak mengamati seluruh tubuhku dari atas hingga ke bawah. Setiap inci dari kulitku tak ada yang terlewat dari pandangannya. Ia nampaknya mengetahui sebuah rahasiaku yang tersembunyi.
Beberapa kali dia melihat ke arah belakang daun telingaku yang ditumpuk oleh lapisan kulit mati, itu adalah kamera chip GPS yang tersambung ke Satelit Phantom, yang sengaja ditanam oleh organisasi ke dalam diriku.
Markus tersenyum jahat melihat benda itu. Senyum liciknya menandakan dia telah mengetahui semua rahasiaku. Tanpa kusadari, dokter bedah itu telah mengambil 2-3 tabung kecil dari darahku untuk eksperimen pribadi miliknya.
"Bawa ini ke laboratorium milikku, aku ingin hasilnya dalam satu jam." Ucapnya tegas pada salah satu perawat di sebelahnya.
Pendamping dokter itu hanya mengangguk, walaupun sebenarnya dia bingung. Pasien mengalami penurunan darah yang mencapai batas bahaya, namun sang dokter tetap santai tanpa kata. Isi kepala dokter bedah itu tak bisa di ketahui oleh siapapun.
Setelah melewati waktu kurang lebih 1 jam, operasi itu pun berhasil dilakukan. Markus menyeka keringatnya saat menjahit lapisan terakhir kulitku. Lampu ruangan operasi di matikan, Markus membersihkan diri dan membuka maskernya di depan wastafel steril.
Dia perlahan keluar dari ruang operasi itu, memakai kembali kacamatanya dan merapikan blazer putihnya. Zane dan Aldrik bergegas menyambutnya dan bertanya dengan cemas.
"Bagaimana keadaannya?"
" Kenapa lama sekali?"
"Dia sudah melewati masa kritis, hanya saja dia butuh donor darah secepatnya." Ucap Markus santai tanpa beban.
Zane langsung memotong perkataan itu. "Apa lagi yang kau tunggu, siapkan kantong darahnya!"
Markus berjalan sambil menepuk pundak Zane.
"Tampaknya ini akan sulit, karena Bank darah Rumah Sakit kita tidak memiliki darah seperti golongannya."
"A,pa golongan darahnya? aku akan mencarinya ke seluruh penjuru Los Angeles, pasar gelap, bahkan rumah sakit ilegal lainnya." Sela Aldrik.
"Darahnya adalah RB negatif, itu adalah darah yang hanya dimiliki ratusan orang di atas bumi ini. Hanya orang yang memiliki ikatan keluarga yang biasanya baru bisa cocok."
Mendengar kabar itu, Aldric merasa tak berdaya, dia merasa sangat bersalah karena seharusnya tembakan itu mengenai dirinya, namun itu malah menyasar ke arah Irish.
Mereka sama sekali tidak mengetahui tentang Irish, keluarganya, maupun kerabat jauh yang mungkin darahnya akan cocok.
Zane yang ikut merasa kesal tak ingin meluapkan perasaannya di depan saudaranya yang lain. Petarung dunia bawah itu mondar mandir memikirkan sesuatu.
"Kita akan menggunakan koneksi gelap Starling Gruop untuk mendapatkan darah itu," ucap Zane.
"Apa kau gila?" Sela Caspian dengan nada tinggi.
"Jika kakek mengetahui hal ini, kau akan di kurung dan hajar habis-habisan. Koneksi keluarga Starling hanya akan mendengar kata-kata kakek, kau akan menggunakan hal itu hanya untuk seorang gadis yang baru kau kenal?"
"Lalu apa? Kau akan membiarkannya mati kekurangan darah? Dia melindungiku dari tembakan?" sesar Aldrik mulai emosi.
"Aku tahu, tapi kau tidak bisa menggunakan koneksi keluarga Starling hanya untuk pendonor darah!".
Sementara perdebatan mereka di dengar oleh Mike melalu chips yang tadi dimasukan Irish ke dalam saku Aldrik. Pembicaraan mereka terdengar sangat mencurigakan mengenai koneksi itu.
Aldrik kembali memanas. "Lalu aku harus menggunakan apa? Jika kau di posisiku apa kau akan membiarkan wanita yang berusaha melindungimu, mati karena kekurangan darah??!"
"Dia tidak Kritis lagi, hanya anemia berat. Itu bisa di bantu dengan obat-obatan. Tapi aku tidak akan mengizinkanmu, menggunakan, 'ITU'!"
Penekanan kata ITU pada ucapan Caspian menimbulkan tanda tanya. Mike yang mendengar pembicaraan mereka mengirimkan hasil sadapan itu kepada ketua Asosiasi, agar lekas mengambil langkah.
Suasana di depan ruang oprasi hening sesaat.
"Apa kau sangat yakin tembakan itu mengarah padamu? Bukan kepadanya?" cetus Markus membungkam Aldrik.
"Kau juga sependapat dengan Caspian? Oh ... siet!! Kalian berdua memang selalu curiga pada orang lain!" Teriak Aldrik.
"Bagaimana mungkin seorang pengusaha restoran kecil memiliki musuh mematikan? Jelas-jelas peluru itu mengarah padaku yang memiliki nama Starling, ini." Sambungnya.
"Apa kau tidak curiga? Dia satu-satunya wanita yang bisa mengubahmu hanya dalam waktu sehari. Tambah lagi golongan darahnya itu RB negatif. ... "
"Apa maksudmu, Markus?" Tanya Zane dan Aldrik serius.
"Darahnya ... sama dengan orang itu ... " ucapnya lemah, tapi matanya membara.
Seketika mereka terdiam dan saling pandang. Mereka mencoba mengigat satu orang di dalam keluarga Starling yang memiliki golongan darah yang sama dengan Irish. Tapi keempatnya tak berani berkata-kata. Sementara Mike yang mendengar pembicaraan itu semakin penasan, ada apa dengan kata 'ITU'.
"Apa kita bisa ... "
"Stop ... !!" Teriak Caspian menghentikan kalimat Aldrik. "Jangan ungkit namanya. Itu rahasia besar keluarga kita. Jangan pernah sebut namanya lagi! Apalagi meminta bantuannya. Jika kalian berani mengucapkan sepatah kata lagi tentangnya, akan ku ledakkan seluruh rumah sakit ini." Ancam ceo yang menguasai perusahaan senjata itu.
Aldrik mengepalkan tangan dan meninju dinding. Entah rahasia apa yang terkubur rapat-rapat di dalam keluarga Starling itu. Hanya dengan nama seseorang yang sangat tak ingin di sebutkan bisa membuat keempat cucu Starling tenggelam dalam badai.
Aldrik merasa tak terima, kedua saudaranya itu mencurigai Irish. Dia diam-diam menelpon seseorang dengan koneksinya sendiri untuk mencari tahu di mana ada pendonor darah RB negatif.
Namun tak disangka, tepat di ruangan lain sebuah rombongan berpakaian putih datang dengan membawa kotak medis yang masih beruap tampak sangat misterius. Mereka adalah ahli medis kiriman dari organisasi yang di hubungi Mike dari satelit, namun hal itu sama sekali tidak diketahui oleh Markus.
Rombongan itu lalu menyerahkan empat kantong darah RB negatif kepada salah seorang penjaga rumah sakit, mereka ditodong oleh senjata agar tak membocorkan rahasia dan menanyakan apapun tentang siapa pendonor darah itu. Dengan tergesa-gesa perawat itu pun langsung berlari ke arah Markus yang masih berada di depan ruang operasi.
Wajah perawat itu pucat pasi, ia ketakutan setengah mati. Sementara rombongan orang berbaju putih tadi sudah berlalu pergi meninggalkan rumah sakit tersebut dengan kendaraan secepat kilat.
"Dokter ... dokter ... "Teriak perawat itu terengah-engah. "Ini ... ini ... adalah darah RB negatif, sudah di konfirmasi, ini nyata."
Markus terperanjat.
"Di mana kau mendapatkannya?"