Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama
Aiden membuka mata dan melihat langit-langit yang tidak dikenalnya. Permukaannya terbuat dari papan pucat dengan bekas air berbentuk lingkaran, bukan seng bergelombang dan balok gelap yang selama ini berada di atas kasurnya.
Selama beberapa detik, ia tetap berbaring tanpa bergerak. Tubuhnya terasa berat, tengkuknya kaku, dan sisi rusuknya berdenyut pada tempat serpihan kayu sempat menembus kulit.
Aiden mengira dirinya sedang bermimpi. Ia hanya perlu memejamkan mata lagi, lalu suara Marcus menyiapkan sarapan akan terdengar dari meja di sudut gubuk mereka.
Bau ruangan membuat harapan itu segera hilang. Udara dipenuhi debu, jamur, kayu lapuk, dan sisa asap yang terbawa dari pakaian mereka.
Ingatan malam sebelumnya kembali sekaligus. Nadia menjerit di dalam gubuk, Ewan mengembuskan napas terakhir di sisi kasur, tubuh Joseph dibawa keluar dalam beberapa bagian, lalu Haven mengecil di belakang mereka sambil terbakar.
Itu bukan mimpi. Haven telah jatuh, dan gubuk kecil dekat tiang penyangga jalan layang tidak lagi menjadi tempat yang dapat mereka datangi.
Aiden menoleh secara refleks untuk mencari meja, kasur Marcus, dan tas selempangnya pada paku dinding. Yang ditemukannya hanya peti lapuk, pecahan kaca, serta pintu asing yang ditahan lemari.
Tidak ada benda dari rumah mereka selain barang yang melekat pada tubuh. Ketapel masih bersamanya, Marcus membawa belati pemberiannya, dan segala sesuatu yang lain telah tertinggal bersama gubuk yang dipenuhi Remnant.
Aiden menarik napas terlalu cepat. Dadanya menegang dan kedua tangannya langsung meraba lantai di sekeliling sampai menemukan ketapel tergeletak dekat kepalanya.
Sentuhan kayu hitam yang dingin membuatnya sedikit tenang. Ketapel tersebut masih mengilap pada beberapa bagian akibat minyak, meskipun gagangnya kini kotor oleh darah kering, tanah, dan keringat.
Ia teringat perjalanan mereka setelah keluar dari Haven. Marcus membawa mereka berjalan dalam gelap sampai cahaya api tidak lagi terlihat, kemudian memilih salah satu bangunan kecil di antara deretan bangunan terbengkalai untuk beristirahat.
Saat itu Aiden terlalu lelah untuk memperhatikan tempatnya. Ia hanya mengingat Marcus memeriksa setiap ruangan, menutup pintu menggunakan lemari pendek, lalu menyuruh kedua anak tidur di sudut yang tidak terlihat dari jendela.
Mereka berbaring di atas lembaran kain dan karung yang ditemukan di dalam bangunan. Lantainya tetap keras, tetapi Aiden tertidur sebelum sempat mengeluhkan batu kecil yang menekan punggungnya.
Cahaya pagi masuk melalui jendela tanpa kaca. Sebagian lubangnya ditutup papan dari luar, menyisakan celah sempit yang memotong ruangan dengan garis cahaya putih.
Di luar, bangunan-bangunan kosong berdiri rapat pada kedua sisi jalan yang dipenuhi rumput. Sebagian atap telah runtuh dan jendelanya tinggal lubang hitam, tetapi tidak ada gerakan di antara puing-puing ataupun suara manusia dari kejauhan.
Asap tipis masih tertinggal di langit sebelah barat. Aiden tidak dapat melihat Haven dari tempat itu, tetapi bau kayu terbakar yang terbawa udara membuatnya tahu kebakaran semalam belum seluruhnya padam.
Marcus berdiri di sana. Tubuhnya hanya terlihat sebagai bayangan lebar, dengan satu tangan menahan sisi jendela dan tangan lain berada dekat senapan yang digantung pada bahu.
Jaketnya tergeletak dekat tas, sehingga Aiden dapat melihat kemeja Marcus kaku oleh keringat dan bercak darah. Buku-buku jarinya pecah, satu lengannya dipenuhi goresan, dan debu menempel pada rambut pendek serta wajah yang belum sempat dibersihkan.
Aiden tidak tahu apakah ayahnya sempat tidur. Ketika dirinya terbangun beberapa kali pada malam hari, bayangan Marcus selalu berada dekat pintu atau jendela dengan senapan di tangan.
Ia tidak bergerak banyak. Sesekali kepalanya bergeser untuk memeriksa bagian jalan, bangunan lain, dan dataran yang terlihat melalui celah.
Robin masih tertidur pada sisi lain ruangan. Tubuhnya meringkuk menghadap dinding, kedua lutut ditarik mendekati perut, dan kemeja besar yang dipakainya menutupi sebagian celana.
Rambut pirangnya menyebar di atas lengan yang dijadikan bantal. Wajahnya tidak terlihat, tetapi napasnya terdengar pendek dan tidak teratur seperti ia belum benar-benar beristirahat.
Aiden duduk perlahan. Kain di bawah tubuhnya bergesek pada lantai dan menghasilkan bunyi yang cukup membuat Marcus menoleh.
“Kau sudah bangun.”
Marcus berbicara pelan agar tidak membangunkan Robin. Ia melihat Aiden selama beberapa saat, kemudian kembali memeriksa jalan melalui jendela.
Aiden mengusap wajah menggunakan kedua tangan. Kulit pada pipinya terasa berminyak, sedangkan sudut matanya dipenuhi kotoran yang mengering selama tidur.
“Dad, kita akan pergi ke mana?”
Marcus tidak langsung menjawab. Ia menunggu sampai sesuatu yang bergerak di luar melewati pandangannya, lalu meninggalkan jendela dan mendekati tengah ruangan.
“Ada sebuah permukiman sekitar dua hari perjalanan dari sini.”
Ia menurunkan senapan dari bahu dan memeriksa tali yang menahannya. Setelah memastikan pengaitnya tidak longgar, Marcus meletakkan senapan pada dinding dalam jangkauan tangan.
“Aku punya kenalan di sana. Mereka pasti mengizinkan kita masuk.”
Aiden memandang tas perjalanan dekat kaki Marcus. Kanvasnya penuh debu dan bagian penutupnya menonjol akibat makanan serta perlengkapan yang dijejalkan malam sebelumnya.
Dua hari terdengar sangat jauh. Ia belum pernah berjalan sejauh itu dari Haven, bahkan ketika dirinya dan Robin keluar mencari barang untuk karavan.
“Bagaimana kalau mereka menolak?”
Marcus berjongkok di samping tas. Tangannya berhenti pada ikatan penutup, dan ia melihat Aiden dari bawah alis.
“Kalau begitu, kita mencari cara lain.”
Ia membuka simpul dan mengangkat penutup tas. Sudut mulutnya bergerak sedikit, tidak cukup untuk menjadi senyum, tetapi suaranya tetap tenang.
“Seperti yang selalu kita lakukan.”
Aiden mengangguk meskipun belum pernah membayangkan harus mencari cara lain tanpa Haven. Selama Marcus mengatakan mereka masih mempunyai pilihan, ia berusaha mempercayainya.
Marcus mengeluarkan sebongkah roti keras yang dibungkus kain. Permukaannya pecah-pecah dan salah satu sisinya mempunyai noda hitam yang dikikis Marcus menggunakan ujung belati.
Ia menekan roti pada lutut dan menyobeknya menjadi beberapa bagian. Bunyi kulit luarnya patah terdengar keras di dalam bangunan yang sunyi.
Bagian terbesar diberikan kepada Aiden. Marcus menyimpan bagian lain di atas kain untuk Robin, lalu memasukkan sisa roti kembali ke dalam tas.
“Makanlah.”
Aiden menerima roti menggunakan kedua tangan. Teksturnya begitu keras hingga gigi depannya sakit ketika mencoba menggigit bagian sudut.
Ia membasahinya menggunakan sedikit air dari kantong yang diberikan Marcus. Setelah permukaannya mulai lunak, Aiden menggigit lebih besar dan mengunyah cepat tanpa memedulikan rasa hambar serta tepung kasar yang menempel pada langit-langit mulut.
Perutnya langsung menegang meminta lebih banyak. Barulah Aiden menyadari bahwa makanan terakhirnya adalah bubur jagung sebelum serangan dimulai.
Marcus menyuruhnya memperlambat menggunakan satu gerakan tangan. Aiden mencoba menurut, tetapi setiap kali berhasil menelan, jari-jarinya sudah merobek bagian berikutnya untuk dimasukkan ke mulut.
Tidak banyak remah yang dibiarkannya jatuh. Ia mengambil potongan kecil dari paha dan kain di bawah tubuh, lalu memakannya sampai kedua telapak tangannya hanya menyimpan tepung.
Air menghilangkan sebagian rasa kering pada tenggorokan. Aiden mengembalikan kantong kepada Marcus, menyeka mulut, lalu melihat bagian roti milik Robin yang masih berada di atas kain.
Makanan membuat tubuhnya terasa lebih berat sekaligus lebih hidup. Nyeri pada telapak kaki, punggung, dagu, dan sisi rusuk yang semalam tenggelam oleh ketakutan mulai muncul satu per satu.
Aiden menggerakkan kedua bahu dan meringis ketika kemeja menyentuh luka dekat tulang rusuk. Ia tidak mengeluh karena Marcus mempunyai lebih banyak luka, sedangkan Robin kehilangan kedua orang tuanya hanya dalam satu malam.
Robin belum bergerak. Salah satu tangannya kini menutup telinga, tetapi matanya tetap terpejam dan tubuhnya masih menghadap dinding.
Aiden berdiri dan mendekati Marcus. Ia memilih sisi ruangan yang jauh dari Robin, lalu berhenti ketika hanya satu langkah memisahkan mereka.
“Dad.”
Marcus sedang merapatkan kembali penutup tas. Ia mengangkat wajah ketika mendengar cara Aiden memanggilnya.
Aiden menunduk pada sepatu yang didapatnya dari gudang. Debu telah menutupi bagian depannya, sedangkan darah kering tertinggal pada sela jahitan dekat sol.
“Nadia meninggal karena aku berteriak.”
Marcus tidak segera bergerak. Tali tas masih berada di antara kedua tangannya ketika tatapannya menetap pada wajah Aiden.
Aiden memaksa dirinya melanjutkan. Jika berhenti sekarang, kata-kata tersebut akan kembali terperangkap di kepalanya bersama jeritan Nadia.
“Dia menyuruhku diam, tetapi aku terus memintanya menyingkir dari pintu. Suaraku memancing makhluk-makhluk itu masuk ke rumah.”
Ia masih dapat mendengar benturan pada daun pintu setelah Nadia memperingatkannya. Jarak waktunya terasa terlalu dekat untuk dianggap kebetulan.
Marcus melepaskan tali tas. Ia berdiri, mendekati Aiden, lalu menempatkan kedua tangan pada bahu putranya.
“Dengarkan aku.”
Aiden mengangkat kepala. Wajah Marcus tampak lelah dalam cahaya pagi, dan kulit di bawah kedua matanya lebih gelap daripada sehari sebelumnya.
“Nadia meninggal karena Remnant menyerangnya. Bukan karena dirimu.”
Aiden menggeleng. Panas mulai memenuhi matanya, tetapi ia menahan kelopak agar tidak berkedip.
“Tapi, Dad, kalau aku menurut dan tidak berbicara, mungkin mereka akan lewat.”
Marcus menggeleng lebih tegas. Kedua tangannya tetap berada pada bahu Aiden, mencegah bocah itu menurunkan wajah lagi.
“Kau tidak tahu mereka akan lewat. Mereka mungkin sudah mengikuti Nadia atau mendengar pintu dibuka.”
Ia berhenti beberapa saat. Ibu jarinya menekan kain kemeja pada bahu Aiden ketika suaranya turun.
“Kau membuka pintu karena dia meminta pertolongan. Remnant yang membunuhnya, Aiden. Bukan kau.”
Aiden menelan ludah. Bagian tenggorokannya terasa sakit, dan satu tetes air akhirnya terlepas dari mata kiri meskipun ia segera menyekanya.
Marcus tidak mengatakan bahwa Aiden seharusnya mengabaikan perintahnya. Ia juga tidak bertanya mengapa palang tidak dipasang kembali setelah Nadia masuk.
Diam tersebut membuat Aiden merasakan sedikit kelonggaran pada dadanya. Rasa bersalah belum hilang, tetapi tidak lagi menekan seluruh napasnya seperti ketika baru bangun.
Aiden menoleh kepada Robin. Gadis itu masih meringkuk dalam posisi yang sama, dan rambut pirangnya menutupi sebagian wajah ketika ia bergeser sedikit pada lengannya.
“Apa Robin harus tahu?”
Marcus mengikuti arah pandang Aiden. Ia melepaskan kedua bahunya, lalu berbicara dengan suara lebih rendah.
“Untuk sekarang, jangan katakan apa pun mengenai kematian ibunya.”
Marcus mengambil bagian roti Robin dan membungkusnya kembali agar tidak terkena debu. Setelah itu, ia memandang gadis yang masih tertidur.
“Dia sudah cukup terpukul karena kehilangan ayahnya.”
Aiden mengusap sisi ketapel yang terselip dekat pinggang. Menyimpan sesuatu dari Robin terasa salah, terutama setelah gadis itu menyebutnya sebagai satu-satunya orang yang akan diajak pergi dari Haven saat mereka dewasa.
“Apa dia tahu ibunya sudah meninggal?”
Marcus menarik napas panjang. Tatapannya tetap tertuju kepada Robin ketika menjawab.
“Kemungkinan besar.”
Ia berjongkok lagi dan mulai memeriksa isi tas. Kain bersih, makanan, serta tali dipindahkan agar kantong air lebih mudah dijangkau ketika mereka berjalan.
“Kalau dia mengira Nadia masih hidup, dia pasti sudah meminta kita kembali ke Haven.”
Aiden teringat cara Robin berjalan di tengah mereka sepanjang malam. Gadis itu tidak sekali pun menoleh atau bertanya mengenai ibunya, bahkan ketika cahaya Haven masih terlihat di belakang.
“Namun, dia tidak perlu tahu bagaimana ibunya meninggal.”
Marcus mengucapkan kalimat terakhir tanpa memandang Aiden. Tangannya berhenti di dalam tas beberapa saat sebelum kembali merapikan bungkusan makanan.
Aiden melihat Robin dan membayangkan harus menceritakan apa yang terjadi di dalam gubuk. Ia tidak sanggup menyusun kata-kata yang dapat menjelaskan mata Nadia, perut yang terkoyak, dan ketiga Remnant yang berebut tubuhnya.
“Baik.”
Jawaban Aiden hampir berupa bisikan. Ia duduk kembali dekat bagian roti Robin dan menunggu tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan dengan kedua tangannya.
Beberapa saat kemudian, Robin bergerak. Kakinya melurus perlahan dan salah satu sepatu menggesek kain di atas lantai.
Matanya terbuka, tetapi ia tidak langsung mengangkat kepala. Robin memandang dinding di hadapannya cukup lama sebelum berbalik dan melihat ruangan yang asing.
Salah satu tangannya bergerak meraba lantai di samping tubuh. Jari-jarinya menutup pada kain kosong, lalu berhenti seakan baru menyadari tidak ada tangan Ewan yang dapat ditemukan di sana.
Robin menarik tangannya kembali dan merapatkannya ke dada. Ia tidak menangis, tetapi bibirnya tertekan rapat dan dagunya mulai bergetar sebelum ia menggigit bagian dalamnya.
Napasnya berhenti sesaat. Tatapannya bergerak cepat menuju pintu, jendela, Marcus, lalu akhirnya berhenti pada Aiden.
Tidak ada pertanyaan yang keluar. Robin hanya mendorong tubuhnya sampai duduk dan menarik kemeja besar lebih rapat ke dada.
Rambut pirangnya kusut pada satu sisi. Bekas air mata telah mengering sebagai garis pucat dari mata menuju rahang, sedangkan kulit di sekeliling kelopaknya tampak membengkak.
Aiden mengambil bagian roti yang telah disiapkan Marcus. Ia mendekat, berjongkok di hadapan Robin, lalu mengulurkan makanan tersebut tanpa menyebut percakapannya dengan ayah.
Robin memandang roti itu beberapa detik. Setelah itu, ia mengambilnya menggunakan kedua tangan dan langsung menggigit bagian tepi yang keras.
Giginya kesulitan mematahkan roti, tetapi Robin terus mencoba sampai sepotong kecil terlepas. Ia mengunyah cepat, menelan, lalu menggigit lagi tanpa meminta air terlebih dahulu.
Aiden memberikan kantong air kepadanya. Robin menerimanya, minum satu tegukan pendek, kemudian kembali makan dengan cara yang membuat Aiden tahu bahwa rasa lapar akhirnya lebih kuat daripada keinginannya untuk tetap diam.
Marcus berdiri dekat jendela lagi sambil menjaga jalan di luar. Aiden duduk di samping Robin dan tidak mengatakan apa pun, sementara bunyi roti keras yang patah menjadi satu-satunya suara di dalam bangunan kecil itu.