Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 WAJAH DAN TOPENG
Itu bukan sembarang tatapan. Itu tatapan menilai, tatapan penasaran yang keji, tatapan yang nyaris tak menyembunyikan kesenangan atas kejatuhan keluarga Adiwangsa dan "penyelamatan" mereka kemudian oleh mafioso yang sedang jadi buah bibir.
"Maya, sayang," kata Bu Damayanti, mendekat dengan senyum yang tak sampai ke matanya. "Sungguh mengejutkan melihatmu di sini. Dan dengan... teman."
Maya mengeratkan pegangan pada lengan Bara.
"Bu Damayanti, senang sekali bertemu Ibu. Perkenalkan suami saya, Bara Prakoso."
Bu Damayanti mengulurkan tangan dengan keengganan yang nyaris tak tersembunyikan. Bara menyambutnya, menciumnya dengan kesopanan yang nyaris terkesan sindiran.
"Suatu kehormatan," katanya, dengan suara berat yang seakan menggema ke seluruh ruangan.
"Sama-sama," jawab Bu Damayanti, menarik tangannya secepat yang ia bisa. "Kami tak tahu Maya sudah menikah. Semuanya begitu... senyap."
"Acaranya intim," Maya menyela, dengan kelembutan yang tak ia rasakan. "Hanya keluarga dekat."
"Oh. Begitu. Yah, selamat menikmati malam ini."
Bu Damayanti mengundurkan diri dengan keanggunan orang yang kabur dari kebakaran. Begitu ia menjauh, orang-orang lain berdatangan. Sebagian karena penasaran, sebagian karena kewajiban sosial, segelintir karena benar-benar menyayangi Maya.
Tapi di semua tatapan itu tersimpan endapan skandal yang sama, pertanyaan tak terucapkan yang sama. Apa yang dilakukan seorang Adiwangsa menikahi seorang Prakoso?
Bara membawakan diri dengan kepatutan yang sempurna. Ia menyapa, tersenyum (senyum dingin yang tak pernah sampai ke matanya), menjawab dengan santun, dan bergerak di antara para tamu seolah ia terlahir di dunia itu.
Dan barangkali, pikir Maya, dalam arti tertentu ia memang terlahir di dalamnya. Bukan lewat darah, melainkan lewat kebutuhan. Ia telah mempelajari orang-orang ini, telah menguasai sandi mereka, kelemahan mereka, rahasia mereka. Dan kini ia memukau mereka dengan kehadirannya.
"Anda tahu mereka semua akan ada di sini?" bisik Maya di telinganya, sementara mereka berpura-pura menaruh minat pada lelang bisu.
"Aku menyelidikinya," jawab Bara tanpa menggerakkan bibir.
"Dan Anda tak merasa malu?"
"Tidak. Rasa malu adalah kemewahan yang tak sanggup kubeli."
Maya meliriknya dari sudut mata. Sisi wajahnya keras, seakan terpahat dari batu. Tapi ada sesuatu pada cara ia menopang lengannya, pada tekanan jari-jarinya di lengan bawah Maya, yang membocorkan ketegangan yang tak ia tampakkan di wajah.
"Anda gugup," kata Maya, terkejut oleh pengamatannya sendiri.
Bara memutar kepalanya ke arahnya. Mata kelabunya menatap Maya dengan intensitas yang membuat napasnya tersekat.
"Aku tidak gugup. Aku waspada. Di ruangan ini setidaknya ada sepuluh orang yang membenciku, lima yang takut padaku, tiga yang berutang uang padaku, dan satu yang mungkin punya perintah larangan mendekat terhadapku. Salah satu dari mereka bisa saja mencoba berbuat sesuatu."
Maya merasakan sebuah getar dingin.
"Mencoba sesuatu? Di sini? Di sebuah gala amal?"
"Orang melakukan hal-hal bodoh ketika mengira keadilan berada di pihak mereka."
Bara membimbingnya menuju meja utama, tempat kursi mereka telah ditetapkan. Di tengah jalan, seorang perempuan muda berambut merah dan bergaun hijau zamrud berpapasan dengan mereka. Itu Vania, teman yang dulu menolak meminjamkan uang kepadanya.
"Maya," kata Vania dengan senyum membeku. "Aku tak tahu kau datang."
"Vania," jawab Maya dengan kedinginan yang sama. "Perkenalkan suamiku, Bara Prakoso."
Wajah Vania memucat nyata. Tatapannya jatuh pada Bara, ia mengenali siapa pria itu, lalu mundur setengah langkah.
"Senang bertemu," gumamnya dengan suara bergetar.
"Sama-sama," kata Bara, dan dalam nadanya ada sesuatu yang begitu tajam sampai Vania berbalik dan lenyap di antara kerumunan.
Maya tak kuasa menahan sebuah senyum kecil penuh kepuasan.
"Itu kejam," katanya.
"Aku tahu," jawab Bara tanpa sedikit pun sesal. "Tapi menyenangkan."
* * *
Jamuan makan malam berjalan tanpa kejadian berarti. Maya bercakap dengan para kenalan lama, dengan cekatan mengelak dari pertanyaan-pertanyaan yang tak nyaman, dan mempertahankan kedok sebagai istri yang bahagia dan terpenuhi.
Bara, di sisinya, adalah pendamping yang sempurna: penuh perhatian, santun, tahu diri. Ia tak pernah membicarakan bisnis, tak pernah menyinggung masa lalunya, tak pernah melakukan apa pun yang bisa menodai citra terhormat yang begitu susah payah ia bangun.
Tapi ketika malam usai dan mereka menaiki mobil untuk pulang ke kediaman, ketegangan yang mereka tahan berjam-jam meletus bagai balon yang tertusuk.
"Berjalan lancar," kata Maya, kepala bersandar di sandaran kursi, mata terpejam. "Lebih baik dari yang saya bayangkan."
"Ya," jawab Bara, memandang ke luar jendela. "Berjalan lancar."
Keheningan turun di antara mereka. Bukan keheningan yang canggung, seperti hari-hari awal. Ini keheningan yang lelah, nyaris intim, seperti dua aktor yang turun dari panggung setelah sebuah pementasan yang sukses.
Maya-lah yang memecahnya.
"Bara."
"Ya."
"Kenapa Anda melakukan semua ini? Bukan pernikahannya. Itu saya sudah tahu. Tapi selebihnya. Bunga-bunga itu. Pakaian. Dokter untuk ibu saya. Membela saya di depan Vania. Kenapa?"
Bara butuh waktu lama untuk menjawab. Begitu lama sampai Maya mengira ia tak akan menjawab.
"Karena aku bukan monster seperti yang Anda kira," katanya akhirnya, dan suaranya terdengar aneh, nyaris rapuh. "Atau mungkin aku memang monster, tapi tidak terhadap Anda. Terhadap Anda aku tak ingin menjadi monster."
Maya membuka mata dan menatapnya. Bara masih memandang ke luar jendela, tapi sisi wajahnya tampak berbeda di bawah cahaya lampu jalan. Lebih manusiawi. Lebih nyata.
"Terima kasih," bisiknya.
Bara tak menjawab. Tapi tangannya, yang tergeletak di kursi di antara mereka, sedikit berputar. Sebuah gerakan kecil, nyaris tak kentara. Sebuah undangan.
Maya menggenggam tangannya.
Jari-jari Bara panjang, kuat, penuh kapal. Jari-jari Maya lembut, dingin, gemetar. Keduanya bertaut dalam keremangan mobil, dan tak seorang pun dari mereka berkata apa-apa.
* * *
Mereka tiba di kediaman lewat tengah malam.
Maya menaiki tangga dengan hati ringan, sesuatu yang tak ia rasakan sejak sebelum hari Minggu terkutuk itu. Ia telah bertahan. Ia telah menghadapi kalangan atas. Ia keluar dengan kemenangan. Dan Bara... Bara ada di sisinya. Bukan sebagai seorang mafioso, melainkan sebagai seorang pendamping.
Ia berhenti di depan pintu kamarnya. Bara, yang menaiki tangga di belakangnya, ikut berhenti.
"Selamat malam, Maya," katanya.
"Selamat malam, Bara."
Bara mengangguk dan berbalik hendak pergi. Tapi Maya menahannya.
"Bara."
"Ya?"
Maya ragu. Ia ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang berminggu-minggu ingin ia ucapkan. Tapi kata-kata itu tak mau keluar.
"Terima kasih," ulangnya, karena hanya itu yang bisa ia katakan.
Bara menatapnya lama. Lalu, tanpa sepatah kata, ia mendekat dan mengusap pipi Maya dengan punggung tangannya. Sebuah gerakan lembut, nyaris seperti seorang ayah, sama sekali tak lazim pada pria seperti dirinya.
"Tidurlah yang nyenyak," katanya, lalu pergi.
Maya masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Ia menyandarkan punggung pada daun pintu, jantungnya berdebar kencang. Pipinya masih terasa panas di tempat Bara menyentuhnya.
Aku bukan monster seperti yang Anda kira, begitu katanya.
Dan Maya mulai memercayainya.