Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Sebelumnya....
"Tidak biasanya kamu pulang cepat, Mas."
Suara teguran Radinka sontak membuat Bram yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponsel segera menoleh dan mendapati istrinya berjalan mendekat dengan secangkir kopi di tangan yang segera diletakkan di meja hadapannya.
"Pekerjaanku selesai lebih cepat," dusta Bram segera meletakkan ponsel di meja dengan posisi terbalik.
Jelas Bram tidak mau menyebutkan jika ia pulang cepat karena ada Elang di lokasi kerjanya. Ia sempat berbincang sebentar dengan Damar saat Elang tidak berada di sekitarnya, kemudian berpamitan pulang setelah menyerahkan laporan yang sudah selesai ia kerjakan dengan alasan memiliki urusan yang harus ia selesaikan.
Padahal, yang sebenarnya adalah ia datang ke rumah sakit dan pulang dua jam lalu. Memeriksa ponsel sepuluh menit sekali menunggu laporan dari seseorang yang ia minta untuk mengawasi putranya di lokasi tempat kerja.
Radinka hanya mengangguk, percaya dengan apa yang suaminya katakan, kemudian duduk di samping sang suami.
"Apakah kamu bertemu Elang hari ini?"
Bram meraih cangkir yang istrinya suguhkan, menyesap isinya sejenak sebelum menjawab, "Ya. Tapi dia datang untuk bekerja, bukan untuk berbicara denganku."
Radinka mengembuskan napas kasar. "Itu karena kamu yang tidak mau mendekat untuk berbicara dengannya bukan?"
Embusan napas kasar Bram terdengar tidak sabar. "Tidak bisakah kamu diam dan berhenti bertanya tentang bocah itu?! Aku bosan mendengarnya. Dia sudah dewasa, berhentilah mengkhawatirkan hal yang tidak berguna."
Kalimat itu menggema tajam diakhiri denting cangkir yang diletakkan sedikit kasar, membuat cairan hitam pekat di dalamnya bergolak dan memercik keluar.
"Aku merindukan putraku, apakah itu salah?" sambut Radinka dengan suara bergetar.
"Dia menghubungimu beberapa kali, dia sempat pulang untuk makan masakanmu, masih kurang?" sahut Bram tak mau kalah.
"Aku-"
Sebelum Radinka memiliki kesempatan untuk menjawab argumen suaminya, dering ponsel Bram di atas meja menyela, memaksa Bram untuk meraih ponsel yang ia letakkan dan mendapati nama putranya memenuhi layar.
"Lihat." bram menunjukkan layar ponsel ke wajah sang istri. "Dia pasti mau meminta maaf padaku dan memohon untuk pulang. Sudah kubilang kan, dia tidak akan bertahan lama di luar sana."
Dengan sapuan tegas, Bram menggeser layar ponsel untuk menerima panggilan, menyalakan pengeras suara, hanya agar sang istri juga mendengar suara putra mereka.
"Ada apa? Mau bilang menyesal sudah meninggalkan rumah?" ucap Bram begitu panggilan terhubung.
"Ayah... Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Pak Damar mengalami kecelakaan, hubungi keluarganya untuk segera ke rumah sakit."
Senyum di bibir Bram lenyap dalam sekejap, warna wajahnya seketika berubah. Bukan kalimat permintaan maaf seperti yang ia harapkan untuk ia dengar, melainkan kalimat yang membuat tubuhnya berubah kaku. Kata 'Pak Damar' di dalam kalimat yang putranya ucapnya seolah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Belum sempat Bram memberikan jawaban, panggilan itu terputus begitu saja, meninggalkan kecemasan di dalam hati Radinka yang baru saja mendengar suara putranya. Suara napas tidak teratur yang Radinka dengar dari putranya membuat dirinya yakin sang putra dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Mas-"
"Aku ke rumah sakit dulu." ucap Bram segera bangkit berdiri.
"Aku ikut-"
"Tidak," sahut Bram tegas. "Kamu tetap di rumah."
"Tapi aku khawatir," ucap Radinka.
"Aku akan memintanya pulang saat bertemu dengannya di rumah sakit nanti," jawab Bram. "Tetap di rumah."
Bram bergegas meninggalkan rumah sambil menghubungi keluarga Arkatama.
.
.
.
"Bram Mahesa bukan ayahmu."
Kalimat itu menggema di koridor rumah sakit, membuat tubuh Elang membeku dengan tatapan terpaku pada wajah wanita asing di atas brankar.
"Apa?"
Bibir Mirah bergetar, air matanya mengalir, napasnya terputus-putus saat ia membuka mulut untuk berbicara, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
"Nyonya Mirah, tolong jangan paksa fisik Anda. Kondisi Anda belum memungkinkan untuk banyak bicara."
Elang masih membeku di tempatnya berdiri, tidak lagi mencoba untuk melepaskan cekalan tangan Mirah pada pergelangan tangannya.
"Maaf," pandangan perawat beralih pada Elang. "Saya perlu membawa pasien untuk pemeriksaan lanjutan. Jika Anda ingin menemuinya, Anda bisa datang ke ruang rawatnya nanti."
"Siapa dia? Apa yang terjadi padanya?" tanya Elang akhirnya mengalihkan pandangan ke perawat.
"Nyonya Mirah adalah perawat dari rumah sakit ini. Beliau mengalami insiden yang membuatnya mengalami koma panjang dan baru saja sadar beberapa jam lalu," jelas perawat.
Selesai mengatakan itu, perawat kembali melanjutkan langkahnya mendorong brankar yang membuat pegangan tangan Mirah terlepas.
Koma panjang.
Dua kata itu sesaat membuat Elang berpikir mungkin wanita paruh baya itu hanya berhalusinasi karena belum sepenuhnya pulih, namun satu pertanyaan terus mengganggu pikirannya: Bagaimana wanita itu mengetahui nama ayahnya dan Arkatama?
Tubuhnya masih mematung saat brankar itu akhirnya didorong pergi, meninggalkan begitu banyak pertanyaan di kepala Elang yang tidak bisa menemukan jawaban. Pandangannya tak lepas dari wanita yang terbaring di brankar sampai sosok perawat menghilang di balik pintu salah satu ruangan, sesaat kemudian, ia membalikkan badan membawa langkahnya menyusul Keira.
Akan ia pikirkan hal itu nanti.
Elang melangkah gontai ke arah di mana petugas medis membawa brankar Damar, namun pikirannya tidak bisa berpaling dari sosok Mirah yang baru saja ia temui. Wanita yang tiba-tiba datang, mencekal tangannya seolah sudah mengenal seluruh keluarganya.
Ia tiba di depan pintu ruang darurat yang masih tertutup rapat, duduk menunggu di samping Keira sampai keluarga Arkatama datang dengan pikiran penuh. Hingga ia tidak menyadari Keira meminta perlengkapan perawatan luka pada perawat.
"Kamu mau terus melamun sampai kapan?"
Suara teguran itu membuat Elang refleks menoleh, mengerutkan dahinya melihat kotak obat di pangkuan wanita itu.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengabaikan-"
Keira mengembuskan napas panjang yang terdengar tidak sabar, mengulurkan kedua tangannya untuk mengulung lengan kemeja Elang yang membuat luka memanjang dengan darah yang masih merembes tipis dari luka itu terlihat lebih jelas.
"Ini hanya goresan kecil , Bu Keira. Tidak apa-"
"Lebih baik kamu diam jika ingin membantu," potong Keira cepat.
"Saya bisa sendiri," ucap Elang lagi, merasa tidak enak jika harus merepotkan atasannya sendiri.
"Dengan cara apa? Melamun?" Keira menuang cairan antiseptik ke kapas, lalu menepuk-nepuk pelan di luka goresan Elang. "Kamu pikir, lukamu bisa mengobati dirinya sendiri?"
Elang menahan senyum. Kepalanya sedikit miring memperhatikan wajah Keira yang tengah fokus mengobati luka di sikunya dengan setengah menunduk. Baru kali ini ia melihat atasannya dari jarak sedekat ini.
"Kenapa?" tanya Keira tanpa mengangkat wajah.
Elang tersadar. "Tidak apa-apa."
"Kalau tidak apa-apa, berhenti menatap," tegur Keira.
"Saya tidak menatap."
"Aduh!"
Erangan pelan Elang terdengar di detik berikutnya ketika Keira dengan sengaja menekan luka Elang lebih kuat dari yang seharusnya.
Wajah Keira terangkat tanpa rasa bersalah. "Sakit?"
"Sedikit."
"Tapi kamu memecahkan kaca mobil dengan tangan kosong tanpa berpikir," sahut Keira.
"Saat itu, situasinya berbeda," jawab Elang.
Gerakan tangan Keira terhenti, tatapannya mengunci wajah Elang lebih lama. Baru kali ini ia bertemu dengan sosok seperti Elang. Di saat orang lain perlu berpikir untuk membantu orang lain, Elang justru maju tanpa ragu bahkan tidak mempedulikan keselamatannya sendiri.
"Bodoh." lirih Keira kembali menunduk.
Keira kembali melanjutkan mengobati luka Elang, mengoleskan obat setelah selesai membersihkan luka, kemudian membalutnya menggunakan perban. Beberapa saat kemudian, pintu ruang darurat terbuka.
. . .
. . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????