Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUMPAH SETIA
Hari-hari berikutnya di Kerajaan Solaria berlalu dengan tenang atau setidaknya, terlalu tenang.
Alan duduk melamun di tepi jendela aula besar, menopang dagunya dengan tangan kanan. Di depannya terbentang pemandangan istana yang megah luar biasa. Dinding marmer bersinar keemasan, air mancur kristal terus mengalir tanpa henti, dan aroma bunga-bunga suci di taman interior terhirup begitu menyegarkan.
Namun, ada satu hal yang terus mengusik kedamaian Alan.
Sepi.
Tidak ada suara tawa, tidak ada obrolan hangat, tidak ada derap langkah kaki lain selain langkah kakinya sendiri. Meskipun memiliki tempat tinggal terbaik yang bisa diimpikan oleh manusia mana pun di bumi, keheningan di tempat seluas ini perlahan membuat hatinya terasa hampa.
"Melodina..." panggil Alan pelan.
Layar biru transparan melayang lembut di samping wajahnya. [Ya, Tuan Alan? Ada yang bisa saya bantu?]
"Istana ini benar-benar indah," Alan menghela napas panjang, menatap langit-langit kubah yang tinggi. "Tapi rasanya hampa banget. Bayangin aja, tempat seluas ini cuma diisi sama aku sendirian. Kalau ada orang lain... mungkin pelayan kerajaan yang bisa merawat tempat ini dan diajak ngobrol, pasti rasanya nggak bakal seasing ini."
Alan hanya memikirkan bayangan kasual tentang sosok pelayan yang anggun dan cekatan untuk mengisi kekosongan istananya. Namun, ia lupa satu hal mendasar: di dalam wilayah Domain Absolut, pikiran dan imajinasinya adalah hukum mutlak.
WUSHHH!
Tiba-tiba, partikel-partikel cahaya keemasan berkumpul dan memadat tepat di hadapan Alan. Udara di dalam ruangan mendadak dipenuhi aroma harum bunga lili yang menenangkan. Cahaya itu membesar, membentuk siluet seorang manusia sebelum akhirnya meredup perlahan.
Begitu cahaya itu menghilang sepenuhnya, sosok seorang gadis muda berdiri di sana.
Gadis itu memiliki rambut perak panjang yang terurai indah hingga ke pinggang, kulit seputih porselen, dan mata berwarna biru jernih yang memancarkan kejujuran. Ia mengenakan gaun pelayan berdesain elegan—kombinasi kain hitam lembut dengan apron putih berukir benang emas yang sangat sesuai dengan tema Kerajaan Solaria.
Dengan gerakan yang sangat halus dan teratur, gadis itu berlutut di atas lantai marmer, menundukkan kepalanya penuh hormat tepat di depan kaki Alan.
"Hamba menyembah Penguasa Agung Kerajaan Solaria," suara gadis itu terdengar begitu merdu, lembut, dan penuh penyerahan diri.
Alan terlonjak kaget dari kursinya. Ia hampir tersandung kakinya sendiri saat melangkah mundur dua tindak. Matanya membelalak lebar, memandang gadis di hadapannya dengan rasa syok yang tak tertahankan.
"W-Wah! Tunggu! Siapa kamu?!" teriak Alan panik. "Dari mana kamu tiba-tiba muncul?! Kenapa ada manusia di sini?!"
[Harap tenang, Tuan Alan,] sahut Melodina cepat, memajukan layarnya untuk memberikan penjelasan. [Gadis ini bukan manusia dari dunia luar yang menembus pertahanan kita.]
Alan memegangi dadanya yang berdebar kencang. "Terus dia siapa, Melodina? Kenapa tiba-tiba ada di depan mukaku?!"
[Domain Absolut Anda merespons keinginan terdalam jiwa Anda,] jelas Melodina dengan nada tenang. [Saat Anda membayangkan kehadiran seorang pelayan untuk menghilangkan rasa hampa Anda, kekuatan wilayah ini secara instan memanifestasikan entitas hidup yang sempurna sesuai dengan gambaran imajinasi Anda. Dia lahir murni dari kehendak dan sihir Anda.]
Alan melongo mendengarkan penjelasan itu. Ia menatap kembali gadis berambut perak yang masih berlutut tanpa menggerakkan tubuhnya sedikit pun, menunggu perintah dari sang pencipta.
Alan menelan ludah, mencoba menenangkan kesadarannya. "Jadi... dia beneran tercipta karena pikiranku sendiri?"
[Benar, Tuan,] jawab Melodina.
Alan melangkah mendekat perlahan, lalu berlutut satu kaki agar pandangannya sejajar dengan gadis itu. "Hei... bisakah kamu berdiri?"
Gadis berambut perak itu mendongak perlahan. Mata birunya menatap Alan dengan pandangan yang dipenuhi rasa kagum dan kesetiaan mendalam. Ia berdiri dengan anggun, merapatkan kedua tangannya di depan pinggang.
"Siapa namamu?" tanya Alan ramah.
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, menunjukkan sedikit rasa serba salah. "Hamba belum memiliki nama, Penguasa Agung. Hamba lahir hanya untuk melayani kehendak Anda. Nama hamba adalah apa pun yang berkenan Anda berikan."
Alan mengusap dagunya, berpikir sejenak. Menatap keanggunan, ketenangan, dan kecantikan gadis di hadapannya, sebuah nama yang simpel namun indah langsung terlintas di benaknya.
"Kalau gitu... aku panggil kamu Yumi," ujar Alan sambil tersenyum tulus. "Gimana? Kamu suka nama itu?"
Seketika itu juga, mata biru Yumi berbinar terang. Wajahnya yang tadinya tenang mendadak dipenuhi rasa haru dan kebahagiaan yang sangat besar. Senyuman manis terukir di bibirnya saat ia kembali membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
"Yumi..." bisiknya penuh penghayatan. "Terima kasih banyak, Tuan Alan. Nama ini adalah anugerah terbesar dalam hidup hamba. Mulai detik ini, jiwa, raga, dan seluruh keberadaan Yumi bersumpah hanya akan mengabdi dan melindungi kedamaian Tuan Alan sampai akhir masa."
Alan tersenyum lega. "Sama-sama, Yumi. Aku senang kamu menyukainya."
Namun, tepat setelah Yumi mengikrarkan sumpah setianya, imajinasi Alan kembali melayang tanpa sengaja.
Kalau Yumi sendirian merawat istana seluas ini... kasihan juga ya? Istana ini punya ratusan ruangan, arena pelatihan, sampai perpustakaan raksasa. Butuh banyak pelayan buat mengurus segalanya.
WUSHHH! WUSHHH! WUSHHH!
Ruang aula utama mendadak berguncang lembut. Ribuan titik cahaya keemasan meledak di sepanjang koridor luar dan mengular hingga ke pelataran istana.
"T-Tunggu... apalagi ini?!" jerit Alan panik.
Cahaya-cahaya itu memadat secara serentak. Dan hanya dalam hitungan detik, seribu pelayan wanita dengan paras cantik dan pakaian berseragam rapi terwujud secara sempurna!
Mereka berbaris rapat dengan formasi yang sangat presisi di belakang Yumi, membentang dari aula utama hingga menembus pintu gerbang luar. Masing-masing dari mereka memiliki keahlian khusus—mulai dari memasak, membersihkan istana, merawat tanaman sihir, mengelola perpustakaan, hingga kemampuan bertarung tingkat tinggi untuk menjaga benteng.
Secara serentak, seribu pelayan itu berlutut dengan gerakan yang sempurna, menciptakan gema suara penyerahan diri yang megah di seluruh istana Solaria:
"Kami menyembah Penguasa Agung, Tuan Alan!"
Alan membatu di tempatnya. Ia menepuk jidatnya kuat-kuat sambil meratapi apa yang baru saja terjadi.
"Aku cuma mikir kasihan kalau Yumi kerja sendirian... kenapa malah muncul seribu orang sekaligus?!" cicit Alan pasrah.
Melodina melayang mendekat, memberikan laporan dengan nada polosnya. [Domain Absolut telah merespons imajinasi Anda mengenai efisiensi perawatan istana. Seribu pelayan bertalenta tinggi telah berhasil dimanifestasikan secara permanen.]
Yumi berbalik menatap jajaran pelayan di belakangnya, lalu kembali menghadap Alan dengan pandangan bangga.
"Tuan Alan," ucap Yumi penuh penghormatan. "Dengan hadirnya para pelayan ini, seluruh sudut Kerajaan Solaria akan selalu terjaga dalam kebersihan dan kenyamanan mutlak. Mohon izinkan hamba untuk memimpin mereka."
Alan menghela napas panjang, menatap Yumi yang begitu bersemangat. Rasa terkejutnya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa geli sekaligus senang karena istananya kini tak lagi sunyi.
"Baiklah, Yumi," kata Alan seraya tersenyum pasrah. "Mulai hari ini, aku secara resmi mengangkatmu sebagai Kepala Pelayan Kerajaan Solaria. Semua pengelolaan istana dan koordinasi pelayan aku serahkan padamu."
Mata Yumi berkaca-kaca menahan haru. "Merupakan kehormatan tertinggi bagi hamba, Tuan!"
Dengan Yumi sebagai Kepala Pelayan dan seribu pasukannya yang siap menjaga setiap sudut benteng, suasana Kerajaan Solaria berubah total dalam sekejap. Keheningan hampa yang tadinya menyelimuti istana kini berganti menjadi suasana hangat dan penuh kehidupan.
Alan menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa empuknya, memperhatikan Yumi yang mulai memberi arahan kepada para pelayan dengan sangat cekatan.
"Yah... walaupun agak sedikit berlebihan," gumam Alan sambil tersenyum santai, meminum teh hangat yang baru saja disajikan oleh salah satu pelayan. "Setidaknya sekarang aku benar-benar punya tempat tinggal yang hangat."
Namun, di saat Solaria baru saja menemukan kehidupan barunya, di luar perbatasan Hutan Larangan, keberadaan aura sihir raksasa dari kerajaan ini mulai menarik perhatian pihak luar yang tak terduga.