RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

RENKARNASI DI HUTAN LARANGAN

Langkah kaki Nagato terasa semakin berat. Bau apek dari gang sempit di sudut Tokyo menyengat hidungnya, beradu dengan aroma amis darah yang mulai membasahi bagian depan kemeja lusuhnya.

"Ah... sial," gumamnya pelan, menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang dingin.

Di depannya, seorang gadis SMA terduduk gemetar dengan wajah pucat pasik. Penjahat bersenjata tajam yang tadinya mencoba menyerang gadis itu sudah melarikan diri, meninggalkan Nagato yang terkulai setelah menerima dua tusukan fatal di perut.

Nagato menghela napas pendek yang terasa amat menyiksa. Sepanjang 18 tahun hidupnya, tidak ada hal spesial yang ia capai. Lahir di keluarga miskin, bekerja paruh waktu hingga larut malam demi menyambung hidup, dan kini mati konyol di lorong gelap karena bertindak sok pahlawan.

"Hei... cepat lari dari sini," bisik Nagato pada gadis itu dengan sisa tenaganya.

Saat pandangannya mulai kabur dan kegelapan merayap naik, satu pikiran yang mendalam muncul di benak Nagato. Ia tidak menginginkan kehormatan, tidak butuh pujian, dan jelas tidak ingin menjadi hero.

Kalau ada kehidupan kedua... aku cuma mau hidup tenang. Tanpa masalah, tanpa beban, cuma kedamaian.

[Permintaan diterima.]

Suara mekanis yang dingin dan bergema terdengar langsung di dalam kepalanya, menembus keheningan kematian.

[Menemukan jiwa yang cocok. Mengubah identitas... Menghapus keterikatan dunia asal... Reinkarnasi dimulai.]

[Mengarahkan jiwa ke koordinat: Hutan Larangan Monster. Memberikan anugerah sesuai permintaan kedamaian mutlak: Skill Pasif-Aktif 'Domain Absolut'. Integrasi Sistem Komputer Berkesadaran dimulai...]

Napas Nagato berhenti total. Tubuhnya di lorong gelap itu membeku, namun jiwanya ditarik masuk ke dalam pusaran cahaya emas yang membawanya melintasi batas dimensi.

"Unggh..."

Alan—nama baru bagi jiwa Nagato—terbangun dengan napas tersengal-sengal. Ia refleks memegang perutnya, mengharapkan rasa sakit luar biasa dari luka tusuk atau basahnya darah. Namun, tidak ada rasa sakit sama sekali. Pakaiannya pun bukan lagi kemeja lusuh berdarah, melainkan setelan kasual yang bersih dan nyaman.

Ia mengedipkan matanya berkali-kali. Di atasnya, bukannya langit-langit rumah sakit atau lorong Tokyo yang gelap, melainkan dedaunan rimbun berwarna ungu keemasan yang memancarkan cahaya redup. Udara yang ia hirup begitu segar dan sarat akan sensasi aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Alan menampar kedua pipinya sendiri cukup keras. Plak!

"Aduh! Sakit..." gumamnya panik sambil meringis. "Bentar... ini bukan mimpi? Aku belum mati? Atau... ini cuma mimpi sebelum ajalku?"

[Ini bukan mimpi, Tuan Alan.]

Sebuah antarmuka transparan berwarna biru muda mendadak muncul melayang tepat di depan wajah Alan, membuat pemuda itu terlonjak kaget ke belakang sampai hampir tersandung akar pohon.

"Wah! Apa-apaan ini?! Ada layar melayang?!" teriak Alan panik, matanya membelalak lebar melihat fenomena di luar kuasa akalnya.

[Harap tenang, Tuan,] suara feminin yang jernih dan tenang terdengar dari layar tersebut. [Saya adalah Sistem Pendamping berkesadaran yang terhubung langsung dengan jiwa Anda. Kesadaran terakhir Anda di dunia lama telah berakhir. Anda saat ini telah direinkarnasi di dunia lain, tepatnya di pusat Hutan Monster.]

Alan menelan ludah. Ia memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing. "Reinkarnasi? Hutan Monster? Jadi yang tadi... suara Dewa Kematian itu beneran?"

[Benar. Dan untuk memenuhi keinginan Anda yang mendambakan kedamaian mutlak, Anda dianugerahi sebuah kemampuan unik bernama Domain Absolut.]

"Domain... Absolut?" ulang Alan bingung. "Maksudnya gimana? Tolong jelasin, aku sama sekali nggak paham."

[Domain Absolut adalah wilayah kekuasaan mutlak Anda,] jelas Sistem dengan detail. [Di dalam area yang Anda pijaki ini, Anda memiliki Keabadian Mutlak—Anda tidak bisa terluka, menua, atau dibunuh oleh siapa pun. Selain itu, apa pun yang Anda bayangkan atau imajinasikan di dalam wilayah mekar ini akan terwujud menjadi kenyataan secara instan.]

Alan melongo mendengarkan penjelasan Sistem. "Jadi... kalau aku bayangin sesuatu, itu langsung ada? Dan aku nggak bisa mati di sini?"

[Tepat sekali, Tuan. Ini adalah ruang aman mutlak ciptaan Anda sendiri.]

Alan menghela napas panjang, mengusap dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi keheranan. "Oke... oke, aku paham sekarang. Berarti aku benar-benar dikasih kesempatan hidup kedua buat bersantai."

Hari mulai agak dingin. Alan yang masih merasa takjub dan ingin menguji omongan Sistem, mulai memejamkan mata. "Kalau gitu, aku cuma butuh tempat tinggal yang tenang dan aman buat tempat tidur... rumah kayu kecil aja cukup."

Namun, karena rasa terkejut dan gelombang emosinya yang masih belum stabil, imajinasi Alan tentang kata "aman" dan "tempat tinggal" diproses secara berlebihan oleh kekuatan Domain Absolut.

WUSHHH!

Tanah di bawah kakinya berguncang hebat. Cahaya emas raksasa membumbung tinggi menembus langit malam Hutan Monster.

Pondasi batu putih berukir emas muncul dari dalam tanah, melonjak naik membentuk menara-menara megah, benteng raksasa bernuansa futuristik-fantasi, serta dinding pertahanan berlapis sihir mutlak yang menjulang tinggi mengelilingi area tersebut. Hanya dalam beberapa detik, bukan rumah kayu sederhana yang terbangun melainkan sebuah Kerajaan Megah yang memancarkan tekanan aura yang luar biasa.

Alan membuka matanya dan seketika membeku. Ia menengadah melihat istana raksasa bercahaya yang kini menutupi pemandangannya.

"T-Tunggu... Sistem!" teriak Alan syok setengah mati. "Aku cuma minta rumah kecil yang aman! Kenapa yang muncul malah istana megah kayak begini?!"

[Imajinasi Anda tentang kata 'aman' diproses secara maksimal oleh Domain Absolut, Tuan,] jawab Sistem dengan nada polos tanpa dosa. [Konstruksi fisik wilayah kediaman Anda kini telah rampung secara sempurna.]

Di luar benteng, raungan monster-monster Hutan Monster terdengar bersahut-sahutan karena terkejut oleh getaran tanah. Alan menepuk jidatnya kuat-kuat, meratapi bangunan raksasa di depannya. Niat hati ingin hidup tenang tanpa perhatian, di hari pertamanya ia justru malah membangun sebuah kerajaan di tengah hutan.

Gerbang utama benteng yang terbuat dari bahan mirip marmer putih berlapis emas terbuka perlahan tanpa suara, menyambut Alan yang masih berdiri tertegun di ambang pintu masuk.

Alan melangkah perlahan menembus gerbang tersebut. Begitu kakinya menyentuh ubin batu berkilau di dalam area benteng, suasana di sekitarnya mendadak berubah. Suara raungan monster hutan yang tadinya bising di luar, mendadak redup dan hilang total. Udara di dalam benteng terasa sangat sejuk, bersih, dan menenangkan, seolah area ini terisolasi dari kejamnya dunia luar.

"Sepi banget..." gumam Alan pelan.

Suara langkah kakinya bergema lembut di sepanjang koridor luar yang megah. Di kiri dan kanannya berdiri pilar-pilar raksasa yang menopang atap benteng. Lampu-lampu kristal melayang di udara, memancarkan cahaya keemasan yang hangat tanpa perlu dicolokkan ke aliran listrik.

Alan terus berjalan menyusuri lorong utama menuju bangunan pusat istana. Karpet merah tebal bernuansa elegan terbentang luas, memandu jalannya. Di dinding-dinding lorong, terdapat ukiran-ukiran artistik dan tempat lilin hiasan, namun tak ada satu pun lukisan wajah penghuni atau bendera lambang kerajaan.

Tempat ini benar-benar lengkap dan siap huni. Kursi-kursi mewah dari kayu berukir, meja-meja kristal, hingga pajangan zirah hias tampak berdiri rapi di setiap sudut ruangan. Segala kelengkapan sebuah istana megah sudah tersedia di sana, dari fasilitas utama hingga detail terkecil.

Namun, ada satu hal mencolok yang membuat Alan merinding sekaligus terpana: tidak ada seorang pun di tempat ini.

Tidak ada penjaga benteng yang berdiri di depan pintu, tidak ada pelayan yang menyapa, dan tidak ada prajurit yang lalu-lalang. Seluruh area istana yang sanggup menampung ribuan orang ini benar-benar kosong melompong. Hanya ada Alan sendirian di tengah kemegahan yang hampa.

Alan berjalan hingga tiba di aula utama—sebuah ruangan raksasa dengan langit-langit kubah yang sangat tinggi. Di ujung ruangan, di atas tangga marmer bertingkat, berdiri sebuah takhta megah bernuansa putih-emas yang memancarkan aura keagungan.

"Semua fasilitas tempat tinggal sudah ada... tapi nggak ada penghuninya sama sekali ya, Sistem?" tanya Alan sambil menatap takhta kosong di depannya.

[Benar, Tuan Alan,] sahut layar biru Sistem yang setia melayang di samping bahunya. [Domain Absolut baru mewujudkan struktur fisik dan fasilitas sesuai imajinasi awal Anda. Wilayah ini saat ini hanya memiliki satu populasi sah, yaitu Anda sendiri sebagai penguasa tunggal.]

Alan mengembuskan napas panjang, lalu berjalan mendekati salah satu sofa empuk di tepi aula dan mendudukkan dirinya dengan santai. Ia menyandarkan punggungnya, menikmati keempukan sofa yang jauh lebih nyaman daripada kasur mana pun di kehidupan lamanya.

Rasa takut dan syoknya perlahan menguap, berganti dengan rasa tenang. Biarpun ukurannya terlalu berlebihan untuk satu orang, suasana sunyi tanpa ada orang lain yang mengganggu justru terasa sangat menyenangkan bagi Alan.

"Nggak ada orang lain... berarti nggak ada yang bakal nyuruh-nyuruh aku, nggak ada yang bakal bikin masalah, dan aku bebas ngapa-ngapain," ujar Alan sambil tersenyum tipis, menatap langit-langit aula yang bercahaya indah. "Ya... meskipun bentuk tempat tinggalnya terlalu aneh buat sendirian, setidaknya ini benar-benar tempat yang tenang."

Alan memejamkan matanya, menikmati keheningan istana megah miliknya sendiri. Namun ia belum menyadari, keheningan ini hanyalah ketenangan singkat sebelum takdir menyeretnya lebih dalam menjadi penguasa absolut yang sebenarnya.

Episodes
1 RENKARNASI DI HUTAN LARANGAN
2 KETENANGAN DI KERAJAAN SOLARIA
3 SUMPAH SETIA
4 ANCAMAN DARI BARAT
5 TERCIPTA NYA PASUKAN ABADI
6 SANG PENJAGA GERBANG KUNO
7 GEJOLAK DI SELATAN
8 SANG PAHLAWAN DAN BATAS KEKUATAN MUTLAK
9 INVASI KEDUA KERAJAAN GRANVALIA
10 PUTRI KECIL DAN TAKDIR DARI MASALALU
11 GELAK TAWA DI ISTANA SOLARIA
12 SUAKA BAGI YANG TERBUANG
13 DONGENG SEBELUM TIDUR
14 PESONA SANG PUTRI
15 UTUSAN DARI KERAJAAN ARCANIA
16 AKADEMI TANPA BATAS DAN PETUNJUK MELODINA
17 PERDAGANGAN PERDANA DAN HADIAH DARI SELATAN
18 EKSPANSI PERDAGANGAN DAN STANDAR BARU SOLARIA
19 RAPAT DEWAN DAN ANCAMAN DARI BARAT
20 GEMURUH DUA NAGA KUNO
21 TOMBAK DEWA DAN TUNDUK NYA NAGA PURBA
22 PELARIAN SANG PUTRI DAN SUAKA DI PERBATASAN
23 BAYANGAN BAYANGAN EKSEKUSI
24 RUMAH BARU DAN KEHANGATAN YANG BARU
25 KEAGUNGAN PEDANG SANG PENGUASA ABSOLUT
26 PENDIRIAN GUILD PETUALANG SOLARIA
27 KUNJUNGAN RAJA ARCANIA
28 BERITA DARI ARCANIA
29 SORAK KEMENANGAN DAN PASUKAN TAK TERKALAHKAN
30 GAUNG KEMENANGAN DAN SENJA DI SOLARIA
31 BAYANG BAYANG DARI SELATAN
32 BANGKIT NYA SANG PAHLAWAN TERLARANG
33 GELAK TAWA DI SELATAN
34 RAPAT DARURAT TERBENTUK NYA PASUKAN MALAIKAT
35 MANIFESTASI MALAIKAT
36 PERTEMPURAN DUA BARISAN
37 KEPULANGAN PARA PAHLAWAN
38 PELUKAN KECIL DAN TAMU ARCANIA
39 PERJALANAN SANG PENGUASA
40 PERJAMUAN AGUNG
41 HILANG NYA SANG PERMATA
42 PENEBUSAN KANYA DAN BADAI PEMBALASAN
43 AWAL KETENANGAN DAN PENGAKUAN SANG AVATAR
44 RAPAT DEWAN DAN HARGA DIRI SOLARIA
45 SENYUM SANG PUTRI
46 KEPINTARAN SANG PUTRI
47 LANGKAH SANG PUTRI DI AULA DEWAN
48 KEPULANGAN SANG PUTRI
49 WARNA WARNI HARI DI SOLARIA
50 GERTAKAN MUTLAK DI KEKAISARAN TENGAH
51 DEKLARASI SANG ADIK ANGKAT
52 EMBARGO MUTLAK DAN DOMINASI TUNGGAL
53 GEDUNG DEWAN BARU
54 GELOMBANG IMIGRASI
55 EKSPANSI DUNGEON
56 BAYANGAN DARI SELATAN
57 PANGGUNG UTAMA KEKAISARAN DAN ULTIMATUM SANG PENGUASA
58 AMARAH PENGUASA DAN KEJATUHAN GRANVALIA
59 RUNTUHNYA TAKDIR IBLIS
60 KEPULANGAN SANG PENGUASA DAN TATANAN DUNIA BARU
61 ARC BARU BAB BARU SERTA PETUALANG SELANJUTNYA
62 MOBILISASI PASUKAN PILIHAN SOLARIA
63 INTERVENSI DAN DEKLARASI PENGUASA
64 RAHASIA DAN TINGKAH SETENGAH DEWA
65 BADAI DI PESISIR AURORA
66 JEJAK TEROR DAN RAHASIA LAUTAN
67 MENEROBOS KABUT
68 LANGKAH KECIL DI KOTA SOLARIA
69 DIPLOMASI PESONA DI ARCANIA
70 MEGAHNYA PESTA KOTA
71 BAYANGAN DI BALIK KETENANGAN
72 FORMASI TEMPUR
73 GEMURUH BENTROK DUA ALAM
74 BANGKIT NYA SANG PENGUASA
75 PENGADILAN SANG PENYEIMBANG
76 PESAN DARI TAHTA SEJATI
77 EPILOG
Episodes

Updated 77 Episodes

1
RENKARNASI DI HUTAN LARANGAN
2
KETENANGAN DI KERAJAAN SOLARIA
3
SUMPAH SETIA
4
ANCAMAN DARI BARAT
5
TERCIPTA NYA PASUKAN ABADI
6
SANG PENJAGA GERBANG KUNO
7
GEJOLAK DI SELATAN
8
SANG PAHLAWAN DAN BATAS KEKUATAN MUTLAK
9
INVASI KEDUA KERAJAAN GRANVALIA
10
PUTRI KECIL DAN TAKDIR DARI MASALALU
11
GELAK TAWA DI ISTANA SOLARIA
12
SUAKA BAGI YANG TERBUANG
13
DONGENG SEBELUM TIDUR
14
PESONA SANG PUTRI
15
UTUSAN DARI KERAJAAN ARCANIA
16
AKADEMI TANPA BATAS DAN PETUNJUK MELODINA
17
PERDAGANGAN PERDANA DAN HADIAH DARI SELATAN
18
EKSPANSI PERDAGANGAN DAN STANDAR BARU SOLARIA
19
RAPAT DEWAN DAN ANCAMAN DARI BARAT
20
GEMURUH DUA NAGA KUNO
21
TOMBAK DEWA DAN TUNDUK NYA NAGA PURBA
22
PELARIAN SANG PUTRI DAN SUAKA DI PERBATASAN
23
BAYANGAN BAYANGAN EKSEKUSI
24
RUMAH BARU DAN KEHANGATAN YANG BARU
25
KEAGUNGAN PEDANG SANG PENGUASA ABSOLUT
26
PENDIRIAN GUILD PETUALANG SOLARIA
27
KUNJUNGAN RAJA ARCANIA
28
BERITA DARI ARCANIA
29
SORAK KEMENANGAN DAN PASUKAN TAK TERKALAHKAN
30
GAUNG KEMENANGAN DAN SENJA DI SOLARIA
31
BAYANG BAYANG DARI SELATAN
32
BANGKIT NYA SANG PAHLAWAN TERLARANG
33
GELAK TAWA DI SELATAN
34
RAPAT DARURAT TERBENTUK NYA PASUKAN MALAIKAT
35
MANIFESTASI MALAIKAT
36
PERTEMPURAN DUA BARISAN
37
KEPULANGAN PARA PAHLAWAN
38
PELUKAN KECIL DAN TAMU ARCANIA
39
PERJALANAN SANG PENGUASA
40
PERJAMUAN AGUNG
41
HILANG NYA SANG PERMATA
42
PENEBUSAN KANYA DAN BADAI PEMBALASAN
43
AWAL KETENANGAN DAN PENGAKUAN SANG AVATAR
44
RAPAT DEWAN DAN HARGA DIRI SOLARIA
45
SENYUM SANG PUTRI
46
KEPINTARAN SANG PUTRI
47
LANGKAH SANG PUTRI DI AULA DEWAN
48
KEPULANGAN SANG PUTRI
49
WARNA WARNI HARI DI SOLARIA
50
GERTAKAN MUTLAK DI KEKAISARAN TENGAH
51
DEKLARASI SANG ADIK ANGKAT
52
EMBARGO MUTLAK DAN DOMINASI TUNGGAL
53
GEDUNG DEWAN BARU
54
GELOMBANG IMIGRASI
55
EKSPANSI DUNGEON
56
BAYANGAN DARI SELATAN
57
PANGGUNG UTAMA KEKAISARAN DAN ULTIMATUM SANG PENGUASA
58
AMARAH PENGUASA DAN KEJATUHAN GRANVALIA
59
RUNTUHNYA TAKDIR IBLIS
60
KEPULANGAN SANG PENGUASA DAN TATANAN DUNIA BARU
61
ARC BARU BAB BARU SERTA PETUALANG SELANJUTNYA
62
MOBILISASI PASUKAN PILIHAN SOLARIA
63
INTERVENSI DAN DEKLARASI PENGUASA
64
RAHASIA DAN TINGKAH SETENGAH DEWA
65
BADAI DI PESISIR AURORA
66
JEJAK TEROR DAN RAHASIA LAUTAN
67
MENEROBOS KABUT
68
LANGKAH KECIL DI KOTA SOLARIA
69
DIPLOMASI PESONA DI ARCANIA
70
MEGAHNYA PESTA KOTA
71
BAYANGAN DI BALIK KETENANGAN
72
FORMASI TEMPUR
73
GEMURUH BENTROK DUA ALAM
74
BANGKIT NYA SANG PENGUASA
75
PENGADILAN SANG PENYEIMBANG
76
PESAN DARI TAHTA SEJATI
77
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!