Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejenuhan Dean dan Tatapan dari Kejauhan

Matahari pagi yang terbit di atas area kampus sama sekali tidak mampu mengusir mendung tebal yang telanjur bersemayam di wajah Valerie. Sisa tangis histeris semalam menyisakan lingkaran hitam samar di bawah matanya yang sembap. Langkah kakinya menyeret lesu menyusuri koridor gedung fakultas yang ramai, mengabaikan keriuhan mahasiswa lain yang sedang sibuk mendiskusikan tugas kelompok atau rencana akhir pekan. Di sampingnya, Tiara berjalan dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kecemasan pekat, berulang kali melirik sahabatnya yang tampak seperti raga tanpa jiwa.

"Kamu benar-benar tidak tidur semalam, Val?" tanya Tiara pelan, seraya menyodorkan sebotol kopi dingin yang baru dibelinya dari minimarket kampus.

Valerie menerima botol itu, membiarkan rasa dinginnya menjalar ke telapak tangannya yang mendadak terasa kebas dan kaku. "Bagaimana aku bisa tidur, Ra? Setiap kali aku memejamkan mata, foto mereka berdua di restoran mewah itu langsung berputar di kepalaku. Dan kata-kata Kak Dean semalam... rasanya seperti dia sedang menuduhku mengalami delusi, menuduhku gila karena cemburu."

Tiara mengepalkan tangannya gusar, giginya menggertak menahan amarah yang membubung untuk kakaknya sendiri. "Kak Dean benar-benar keterlaluan. Aku sudah mencoba meneleponnya tadi pagi sebelum dia berangkat ke kantor, tapi dia langsung memotong kalimatku dengan sangat dingin. Dia bilang, jika aku menelepon hanya untuk ikut campur urusan domestiknya denganmu, lebih baik aku diam dan fokus pada kuliahku saja. Otak bisnisnya itu benar-benar sudah membatu karena logika fungsionalnya!"

Valerie hanya tersenyum kecut, sebuah senyuman hambar yang tidak lagi memiliki binar ekspresif dan ceria seperti biasanya. Kejenuhan dan rasa lelah yang selama ini dia sangkal dan dia tumpuk di dasar hatinya kini mulai mengambil alih kesadarannya secara perlahan. Dia merasa seperti seorang prajurit yang terus-menerus maju ke medan perang tanpa pernah diberikan perisai pelindung oleh panglimanya sendiri. Di dunia ini, apakah mencintai seorang Dean harus dibayar semahal ini? Harus dibayar dengan mengorbankan seluruh harga diri, ketenangan, dan kewarasan mentalnya?

Pukul dua siang, kelas seminar utama yang membosankan akhirnya selesai. Ketika mahasiswa lain berhamburan keluar dari ruang kuliah dengan tawa lepas, Valerie memilih untuk duduk diam di kursinya selama beberapa menit, menopang dagunya sambil menatap kosong ke arah papan tulis putih yang sudah bersih. Pikirannya melayang jauh, meratapi retakan hubungannya yang kian hari kian menganga lebar.

"Val, aku ke toilet sebentar, ya. Kamu tunggu di sini atau mau langsung turun ke lobi depan?" pamit Tiara, menyandarkan tas punggungnya ke kursi kayu.

"Aku tunggu di lobi depan saja, Ra. Udara di dalam ruangan ini mendadak terasa sangat pengap," jawab Valerie dengan suara pelan dan serak.

Valerie mengemas buku-buku diktatnya ke dalam tas dengan gerakan lambat, lalu melangkah gontai keluar dari ruang kelas. Dia menuruni anak tangga satu per satu menuju lobi utama gedung fakultas. Lobi sore itu cukup ramai oleh hilir mudik mahasiswa yang baru menyelesaikan kelas mereka. Di sudut ruangan, dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman kampus, sekelompok mahasiswa tingkat akhir tampak sedang berkumpul dan berbincang dengan serius. Di tengah-tengah mereka, berdiri Carlo.

Carlo adalah salah satu senior tingkat akhir yang paling menonjol dan populer di fakultas mereka. Tidak hanya memiliki catatan akademis yang cemerlang dan aktif di senat mahasiswa, dia juga dikenal memiliki kepribadian yang sangat hangat, ramah, dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Karakter yang kontras 180 derajat dengan karakter Dean yang kaku, dingin, dan penuh dengan kalkulasi logika yang kaku.

Saat Valerie berjalan melewati kerumunan itu dengan kepala tertunduk dalam-dalam, langkahnya mendadak melambat karena tali tas kuliahnya yang longgar tanpa sengaja tersangkut di ujung sandaran kursi besi lobi. Gerakan impulsifnya membuat tasnya terbuka, dan beberapa lembar kertas catatan tugas laboratorium semester tiganya terlepas, berhamburan di atas lantai marmer yang bersih.

"Ah... ceroboh sekali," bisik Valerie pada dirinya sendiri, merutuki nasibnya yang tampak tidak pernah berpihak padanya belakangan ini. Dia segera berlutut di lantai untuk memunguti kertas-kertas tersebut dengan terburu-buru.

Namun, sebelum jemarinya yang gemetar sempat menyentuh lembaran kertas paling ujung, sebuah tangan lain yang bersih dengan jemari kokoh sudah lebih dulu memungutnya dari lantai. Valerie mendongak dengan terkejut, dan matanya langsung bertatapan dengan sepasang mata cokelat hangat milik Carlo yang sedang menatapnya dengan senyum tipis yang menenangkan.

"Ini... catatan format laporan laboratorium biokimia, kan? Hati-hati, ada beberapa bagian halaman belakang yang belum kamu steples dengan rapi," ucap Carlo lembut, mengumpulkan sisa kertas lain yang berserakan lalu menyerahkannya pada Valerie dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh penghormatan.

Valerie tertegun sejenak, menerima kertas-kertas itu dengan canggung dan gugup. "Ah... iya, Kak. Terima kasih banyak. Maaf sudah membuat repot."

"Sama-sama. Kamu Valerie, kan? Sahabatnya Tiara anak angkatan bawah?" tanya Carlo, tetap mempertahankan posisi berlututnya di lantai agar sejajar dengan posisi Valerie, menolak untuk berdiri dan memandang rendah gadis itu dari atas.

"Iya, Kak Carlo," jawab Valerie pendek, merasa sedikit heran dan terkejut bagaimana seorang senior populer seperti Carlo bisa mengetahui nama lengkapnya dengan tepat.

Carlo tersenyum lebar, lalu berdiri terlebih dahulu sebelum mengulurkan tangannya yang hangat untuk membantu Valerie bangkit dari lantai marmer yang dingin. Valerie menatap uluran tangan itu dengan ragu selama beberapa detik, sebelum akhirnya menerimanya. Genggaman tangan Carlo terasa sangat mantap, kokoh, dan menyalurkan sekelebat rasa aman yang aneh—rasa aman yang sudah sangat lama tidak Valerie dapatkan dari seorang pria, bahkan dari kekasihnya sendiri.

"Aku sering melihatmu di sekitar koridor fakultas ini bersama Tiara. Biasanya kamu sangat berisik, ceria, dan selalu tertawa paling keras di antara teman-temanmu," ucap Carlo dengan nada bercanda yang sangat halus, mencoba mengusir kecanggungan di antara mereka. Namun, matanya yang tajam dan peka segera menangkap lingkaran hitam samar serta binar layu penuh kelelahan di mata Valerie. "Tapi hari ini... kamu terlihat seperti orang yang sedang membawa beban seluruh dunia di pundakmu. Kamu tidak apa-apa?"

Pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut Carlo itu mendadak membuat tenggorokan Valerie tercekat hebat. Kamu tidak apa-apa? Sebuah kalimat sederhana berisi kepedulian tulus yang bahkan tidak pernah keluar dari mulut Dean selama satu bulan penuh ini. Dean selalu bertanya tentang tugas kuliah, tentang alasan logis di balik air matanya, tentang efisiensi waktunya, tapi tidak pernah bertanya tentang bagaimana kondisi hatinya yang hancur.

"Aku... aku tidak apa-apa, Kak. Hanya kurang tidur karena tugas kuliah yang menumpuk," bohong Valerie, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain agar Carlo tidak melihat matanya yang mendadak kembali berkaca-kaca menahan tangis.

Carlo menatap Valerie cukup lama dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebagai pria yang sudah lama memperhatikan Valerie dari kejauhan sejak awal semester satu perkuliahan, Carlo tahu betul ada sesuatu yang sangat besar dan menyakitkan yang sedang menekan jiwa gadis ekspresif ini. Carlo tahu Valerie sudah memiliki kekasih—seorang pengusaha sukses yang kaku—dan itulah alasan utama mengapa selama ini Carlo memilih untuk mengubur perasaannya rapat-rapat di dalam hati, menolak untuk menjadi perusak hubungan orang lain. Namun melihat Valerie yang tampak begitu rapuh, terluka, dan kehilangan cahayanya hari ini, ada denyut perih yang luar biasa yang menghantam dada Carlo. Dia ingin melindungi gadis ini.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Valerie. Kuliah itu memang penting, tapi kesehatan dan kebahagiaan hatimu jauh lebih berharga dari apa pun," ucap Carlo dengan suara rendah yang sarat akan validasi hangat. Dia menepuk bahu Valerie sekali dengan sangat sopan dan penuh batasan. "Kalau kamu butuh bantuan untuk referensi buku, draf materi, atau sekadar teman mengobrol yang tidak akan menghakimimu dengan logika, kamu bisa cari aku di ruang senat mahasiswa kapan saja."

Valerie menatap sosok Carlo yang berjalan kembali bergabung dengan teman-temannya dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa hangat yang asing merayap di hatinya. Di sudut lobi, Tiara yang baru kembali dari toilet menyaksikan interaksi singkat itu dengan mata melebar tidak percaya. Dia segera berlari cepat menghampiri Valerie.

"Val! Tadi itu Kak Carlo, kan? Senior tingkat akhir yang dikejar-kejar anak fakultas sebelah itu?" tanya Tiara setengah bersemangat, mencoba mengalihkan pikiran sedih sahabatnya dari bayang-bayang kakaknya yang menyebalkan. "Dia bicara apa saja padamu?"

"Dia cuma membantuku memungut kertas catatanku yang jatuh, Ra," jawab Valerie, memasukkan kembali kertas catatannya ke dalam tas dengan sisa tenaga yang ada. "Ayo kita pulang ke apartemen. Aku benar-benar ingin tidur dan melupakan hari ini."

Sementara itu, di seberang kota, di dalam ruang kerja CEO yang kedap suara dan mewah, Dean sedang duduk menatap layar komputer utamanya. Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah kariernya yang cemerlang, fokus Dean tidak sepenuhnya tertuju pada deretan angka laporan keuangan yang berkedip di layar. Kata-kata histeris dan tangisan Valerie di telepon semalam masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telinganya.

Logika rasional Dean terus mengatakan bahwa dia telah bertindak benar dengan memutus panggilan tersebut demi efisiensi kerja di depan para investor Singapura yang penting. Namun, ada riak tidak nyaman yang samar di sudut hatinya—sebuah perasaan bersalah yang terus-menerus dia tekan dengan dinding rasionalitas yang dia agungkan selama ini.

Pintu ruangannya diketuk dengan ritme yang teratur, dan Dania masuk dengan langkah kaki yang sunyi, membawa map laporan baru yang rapi. Wajah sekretaris junior itu tampak begitu patuh, berjalan dengan keanggunan yang biasa dia tunjukkan, persis seperti komponen mesin yang bekerja tanpa cela di kantornya.

"Pak Dean, ini ada draf revisi sistem pengamanan data log kantor untuk minggu depan yang perlu Anda setujui sebelum diimplementasikan," ucap Dania lembut, meletakkan map tersebut di atas meja kerja Dean dengan sangat sopan.

Dean menatap Dania sejenak, menghentikan ketukan penanya di atas meja. "Dania, mengenai semalam... apakah kamu benar-benar tidak mengambil foto apa pun saat kita makan malam dengan investor?" tanya Dean, mencoba memvalidasi tuduhan Valerie semalam demi memuaskan logika berpikirnya yang menuntut kepastian bukti nyata.

Ekspresi wajah Dania seketika berubah drastis menjadi sangat terkejut, terluka, dan sedih. Dia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas jemarinya dengan erat di depan tubuhnya yang bergetar halus. "Astaga... Pak Dean, apakah Kak Valerie masih membahas hal itu dan menuduh saya? Saya bersumpah, demi nama Kak Timoty dan nama baik keluarga saya, saya tidak pernah menyentuh ponsel saya semalam kecuali untuk memeriksa pesan masuk dari divisi operasional. Saya tidak tahu mengapa Kak Valerie bisa berpikir sejauh itu dan menuduh saya yang tidak-tidak..." Air mata Dania mulai menggenang di sudut matanya, menampilkan akting sebagai korban penuduhan yang tertindas dengan sangat sempurna.

Dean menghela napas pendek, merasa bersalah karena telah mempertanyakan kejujuran stafnya yang selama ini berdedikasi tinggi dan bekerja tanpa mengeluh. Logikanya kembali menyimpulkan dengan mudah bahwa Valerie hanyalah gadis kampus yang terlalu sensitif, cemburu buta tanpa dasar bukti yang rasional, dan selalu membawa drama emosional ke dalam dunianya yang teratur.

"Baiklah. Maaf sudah mempertanyakannya padamu, Dania. Kamu boleh keluar dan kembali ke mejamu," ucap Dean kaku, menutup pembicaraan.

"Terima kasih banyak, Pak Dean," jawab Dania dengan suara yang dibuat bergetar lembut sebelum membalikkan tubuhnya.

Namun, saat dia melangkah keluar dari ruangan dan pintu jati tebal itu tertutup rapat, seulas senyuman dingin yang penuh kelicikan dan kepuasan kembali terukir di wajah Dania. Jebakan psikologisnya telah berhasil mengunci total penilaian Dean tentang Valerie. Dan kini, dengan skema log logistik kantor yang sudah berada di bawah kendali draf revisi barunya, Dania bersiap memicu badai sabotase besar minggu depan—sebuah badai sabotase dokumen perusahaan yang tidak hanya akan membuat Dean murka, melainkan akan memutuskan tali hubungan dua tahun mereka untuk selamanya, menendang Valerie keluar dari kehidupan Dean tanpa sisa harga diri sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!