"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Pertengkaran Pertama
Nikolai
Aku sedang tenggelam dalam pekerjaan di kantor ketika ponsel bergetar. Kulirik layarnya sekilas: kepala keamanan. Pesan singkat yang mengabari bahwa Helena sedang menuju mal. Kuabaikan. Aku kembali ke kontrak di hadapanku, deretan baris dan angka yang selalu lebih mudah dikendalikan daripada manusia.
Pintu terbuka tanpa aba-aba.
Tatiana masuk lebih dulu, Dmitry menyusul di belakangnya. Ia memegang sebuah tablet, dan sikapnya yang serius sudah memberitahuku bahwa ini bukan hal sepele. Kuangkat pandangan perlahan.
"Kurasa kartumu dibobol," ujarnya.
Kukerutkan dahi.
"Helena sedang di mal," jawabku ketus.
Tatiana menatapku seolah aku pria paling lambat berpikir di ruangan ini.
"Apa yang kaulakukan?" tanyanya.
"Apa maksudmu?" balasku, tak sabar.
Ia memutar tablet itu ke arahku.
Kulihat layarnya. Sederet transaksi tak berujung. Angka-angka besar. Beberapa di antaranya gila-gilaan. Totalnya membuatku mengatupkan rahang.
Dmitry mulai tertawa, terlalu keras untuk seleraku.
"Sudah kubilang," ucapnya geli. "Kalau kau tak membereskan urusanmu dengan benar, urusan itu balas dendam lewat kartu kredit."
Kulemparkan tatapan mematikan padanya. Tawanya mati separuh, tapi ejekan itu sudah telanjur terlontar.
Tatiana menyilangkan lengan.
"Ini bukan sekadar belanja impulsif," katanya. "Kalau dia terus begini, dia bisa membuatmu bangkrut dalam beberapa bulan, Nikolai."
Kukepalkan tinju perlahan.
Helena.
Kubayangkan sikapnya yang penuh tekad, keheningannya yang sarat makna, tatapan yang tak pernah meminta izin. Ini bukan soal uang. Tak pernah.
"Di mana dia sekarang?" tanyaku, dengan suara rendah.
"Sedang dalam perjalanan pulang," jawab Tatiana.
Kuangguk sekali.
"Aku pergi," ucapku geram sambil melangkah pulang.
Aku masuk ke mobil dan menyetir kembali ke rumah. Perjalanan itu terasa lebih panjang dari seharusnya. Ketika melintasi gerbang, mansion tenggelam dalam keheningan pekat yang nyaris menuduh.
Kunaiki tangga dua anak tangga sekaligus.
Kubuka pintu kamar tanpa mengetuk.
Helena sedang tidur, meringkuk di ranjang seakan berusaha menempati ruang sekecil mungkin. Sesaat, sesuatu di dalam diriku ragu — tapi berlalu terlalu cepat untuk kukenali.
Kusentak selimutnya kuat-kuat.
"Bangun, sial."
Ia terjaga dengan kaget, seluruh tubuhnya tersentak. Matanya merah, sembap. Bibir bawahnya bergetar tipis, membocorkan tangisnya yang belum lama. Kulihat semua itu… dan aku tak merasa iba. Setidaknya itulah yang kukatakan pada diriku sendiri.
"Apa yang kaupikirkan sampai kau membeli seluruh isi mal?" bentakku.
Ia menatapku dalam diam. Tak menjawab. Tak membela diri. Tak menunduk.
Keheningannya justru lebih menjengkelkan daripada jawaban apa pun.
"Aku bicara denganmu, Helena!" Aku melangkah maju. "Kaupikir ini semacam permainan? Sebuah provokasi?"
Tak ada apa-apa.
Akhirnya Helena bicara. Suaranya patah, rapuh dengan cara yang membuatku kesal karena aku tak tahu harus berbuat apa dengannya.
"Aku… aku cuma mau pernikahan yang normal," ucapnya. "Suami yang mencintaiku. Anak-anak…"
Isak lolos dari bibirnya dan ia menutup mulut dengan tangan, seakan bisa menahan luka itu tetap di dalam.
"Dan saat aku berbelanja…" lanjutnya, nyaris berbisik, "sakitnya berkurang."
Kutatap ia. Dari luar, wajahku tak berubah. Di dalam, sesuatu tertutup rapat, bagai pintu yang telah kupelajari cara menjaganya tetap terkunci sejak aku kecil.
"Itu takkan pernah kaudapatkan," ucapku, keras, dingin, setiap kata diperhitungkan. "Pernikahan kita adalah kontrak. Takkan pernah ada cinta."
Kulihat dampaknya seketika. Seakan aku baru saja mencabut serat harapan terakhir darinya. Matanya kembali dipenuhi air mata, tubuhnya meringkuk.
Kubalikkan punggung sebelum ia mengatakan sesuatu lagi. Sebelum aku mengucapkan sesuatu yang seharusnya tak kuucapkan.
Aku keluar dari kamar dan menutup pintu di belakangku.
Tapi baik kayu tebal itu maupun jarak lorong tak mampu meredam suara itu.
Tangisnya menjangkauku.
Pelan, tertahan, patah.
Aku tetap melangkah pergi.
Karena mengakui bahwa hal itu memengaruhiku…
berarti mengakui bahwa ibuku keliru.
Dan bahwa cinta, kelemahan yang diajarkan padaku untuk kubenci, mungkin masih punya kuasa atas diriku.
Aku masuk ke mobil dan menyetir kembali ke klub malam. Aku tak memikirkan jalan. Aku tak memikirkan apa pun. Aku langsung menuju Secret. Aku ingin kebisingan, cahaya, gerak. Aku ingin membungkam apa yang masih bergema di dalam diriku.
Kupanggil lima penari. Mereka masuk sambil tertawa, profesional, cantik, terlatih. Musik meninggi. Mereka menari sementara aku minum. Satu gelas. Dua. Tiga. Vodka itu turun membakar, tapi tak menghangatkan.
Aku tak merasakan apa-apa.
Tak ada gairah. Tak ada pengalih. Tak ada kelegaan.
Hanya suara yang bersikeras itu yang tak mau pergi.
Tangisan Helena.
Bahkan dengan musik sekeras itu, telingaku masih bisa mendengarnya, seakan telah terekam dalam diriku. Suara pelan, tertahan, yang tak meminta pertolongan — melainkan menuduh.
Dadaku menghimpit.
Menghimpit dengan cara yang aneh, mengganjal, berbahaya. Kuusap wajah dengan tangan, kupejamkan mata sesaat. Para penari masih di sana, berputar, tersenyum, mencoba menarik perhatianku.
"Keluar," ucapku tiba-tiba.
Mereka saling berpandangan, bingung, tapi menurut. Pintu tertutup dan keheningan kembali menatapku.
Aku sendirian di Secret, gelas di tangan dan kehampaan yang tak sanggup diisi oleh alkohol.
Dengan geram aku menyadari, melupakan Helena jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan.
Dan itu…
itu membuatku takut.