Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PESAN DARI ALAM ATAS
Pusaran energi keemasan yang menandai terbukanya gerbang menuju Alam Dewa Sejati perlahan menyusut, meninggalkan keheningan yang khidmat di balkon tertinggi Istana Dewa Abadi.
Reno berdiri terpaku, menatap titik di mana pusaran itu menghilang dengan pandangan yang sulit diartikan.
Pesan misterius dari "Alam Atas" itu terus terngiang di benaknya, membangkitkan rasa penasaran sekaligus firasat akan tantangan yang jauh lebih besar.
'Hadeuhhh... baru juga napas lega habis nyapu naga iblis gila, udah muncul pemberitahuan *update* level baru,' batin Reno sambil menghela napas panjang.
Dia merapikan jas jas hitamnya yang kini kembali licin sempurna setelah menyerap energi warisan Kaisar Naga, memastikan tidak ada debu spiritual yang menempel.
"Alam Dewa Sejati... tempat para dewa yang sesungguhnya berada," gumam Reno dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.
'Gue bisa ngerasain kalau batas kultivasi gue sudah mencapai puncak Ranah Dewa Spiritual. Sedikit lagi, gue bakal tembus ke ranah Dewa Sejati!' batin Reno mengepalkan tangannya penuh tenaga.
Tiba-tiba, dari kegelapan koridor istana, muncul Ki Sanjaya yang berlari menghampiri Reno dengan wajah panik dan napas terengah-engah.
Pustakawan tua itu langsung berlutut di hadapan Reno, membenturkan kepalanya ke lantai berulang kali.
"Tuan Muda Reno! Bahaya! Ada pesan darurat dari Kota Alam Dewa!" jerit Ki Sanjaya histeris dengan suara gemetaran hebat.
"Utusan dari Empat Dewa Sejati... mereka baru saja mendarat di gerbang kota dan menuntut pertemuan dengan penguasa baru Istana Dewa Abadi!" tambah Ki Sanjaya penuh nada trauma.
Reno memiringkan kepalanya sedikit, menatap Ki Sanjaya dengan pandangan yang sangat datar dan remeh.
'Waduh... baru juga diomongin, eh samsak-samsak level dewa udah pada antre di depan pintu,' batin Reno tertawa mengejek keras dalam hatinya.
"Aki tenang aja. Nggak usah panik kayak liat hantu nasional," pukas Reno santai sambil membantu Ki Sanjaya bangkit berdiri.
"Siapapun yang datang... kalau niatnya nggak baik, bakal gue sapu sampai bersih," janji Reno mantap penuh nada intimidasi.
Reno kemudian melirik Liu Ruyi yang berdiri di sudut balkon, menonton adegan itu dengan tatapan penuh cemas.
Dia menyadari, kemunculan utusan dari Alam Dewa Sejati adalah ancaman yang jauh lebih serius dibandingkan Mo Tian.
"Nona Ruyi, ikut gue ke Kota Alam Dewa," perintah Reno tegas.
"Gue butuh bantuan lu buat nilai level samsak yang datang," tambahnya penuh misteri.
Liu Ruyi tertegun sejenak, melihat ketenangan Reno di hadapan ancaman Dewa Sejati, dia langsung mengangguk patuh.
"Baik, Tuan Muda. Rumah Pelelangan Batu Hitam siap memberikan dukungan penuh informasi untuk Anda!" sahut Liu Ruyi penuh semangat bisnis.
Satu jam kemudian, di Gerbang Utama Kota Alam Dewa.
Suasana kota perdagangan terbesar di Alam Dewa Abadi itu mendadak hening seketika, ribuan praktisi lokal berkumpul dengan wajah pucat ketakutan.
Di depan gerbang, berdiri empat sosok pria dengan zirah emas yang memancarkan aura Dewa Sejati yang sangat pekat dan menindas.
Masing-masing dari mereka memiliki tingkat kultivasi Ranah Dewa Sejati Tingkat Awal.
Mereka adalah utusan dari Empat Dewa Sejati yang menguasai Alam Dewa Sejati.
Utusan Jenderal Pertama, pria bertubuh raksasa bernama Lei Zhen, menatap ribuan praktisi lokal dengan pandangan penuh penghinaan.
"Siapa penguasa baru Istana Dewa Abadi?! Suruh dia keluar dan berlutut di hadapan kami!" bentak Lei Zhen murka luar biasa dengan suara menggema keras.
"Aliansi Dewa Sejati sudah memberi perintah... serahkan Kunci Segel Alam Dewa di lengan lu, atau kota ini bakal jadi kuburan lu!" ancam Lei Zhen penuh nada intimidasi.
Reno melangkah santai keluar dari gerbang kota, berdiri sendirian di tengah kepungan ribuan praktisi lokal yang ketakutan.
Dia menatap empat utusan dewa itu dengan pandangan datar tanpa emosi sedikit pun.
"Duh, sambutannya ramai banget, berasa kayak artis lagi tur tingkat nasional," pukas Reno menyunggingkan senyum tipis mengejek.
'Waduh... kalau naga-naga emas ini nggak bisa diajak ngomong baik-baik, terpaksa gue sapu lagi,' batin Reno menghela napas panjang.
Reno bersedekap dada, menatap Lei Zhen dari atas sampai bawah dengan pandangan remeh.
"Gue cuma numpang lewat buat nyari seseorang bernama Dewa Langit Utara," sahut Reno santai.
"Pengkhianat itu ada di dalam Alam Dewa Sejati kan?" tanya Reno datar tanpa dosa.
Deggg...!
Empat utusan dewa terbelalak kaget mendengar Reno menyebut nama Dewa Langit Utara dengan begitu santai.
"Sialan! Berani-beraninya sampah dunia bawah menyebut nama Dewa Langit Utara dengan tidak hormat!" teriak Lei Zhen murka luar biasa.
"Mati lu, Pemuda Sombong!" jerit Lei Zhen histeris.
Brakkkk!
Lei Zhen melompat tinggi, mengayunkan palu petir raksasanya dengan mengerahkan seluruh kekuatan Ranah Dewa Sejati Tingkat Awal.
Tebasan palu petir itu membelah udara, menciptakan gelombang kejut petir yang mampu menghancurkan gunung batu dalam sekejap.
*Wusss! Wusss! Wusss!*
Ribuan praktisi lokal di atas tembok bersorai riuh, meyakini Reno akan hangus berkeping-keping dihantam jurus tersebut.
Namun, di mata Reno, tebasan palu petir itu tidak ada bedanya dengan mainan kembang api anak kecil.
Reno tidak bergeser satu senti pun dari posisi berdirinya.
Ketika mata palu petir tajam itu berada hanya berjarak beberapa milimeter dari dahi Reno...
Reno membuka mulutnya, membalas raungan palu petir tersebut dengan satu kali dehaman halus yang berisi aura Sutra Naga Kuno.
"Ehem!"
Brakkkk!
Gelombang kejut keemasan meledak hebat dari tubuh Reno!
*Pranggg!*
Palu petir raksasa milik Lei Zhen hancur berkeping-keping menjadi abu besi di udara!
Lei Zhen terbelalak lebar, memuntahkan darah segar saat gelombang suara dehaman Reno menghantam dadanya secara langsung.
"Guaaarkkk!"
Tubuh Lei Zhen yang kekar melesat mundur bagaikan peluru, menabrak tembok gerbang kota hingga hancur berhamburan.
Brakkk!
Lei Zhen tersungkur di atas aspal batu dengan tulang-tulang rusuk yang retak parah, dadanya terengah-engah penuh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
"J-Jenderal Lei Zhen!" jerit puluhan praktisi lokal histeris.
Semua prajurit langsung membeku di tempat, senjata di tangan mereka gemetaran hebat.
Hanya dengan satu dehaman halus tanpa menggerakkan tangan, seorang Jenderal Ranah Dewa Sejati Tingkat Awal lumpuh seketika!
"L-Lu... Lu ini monster jenis apa?!" jerit utusan dewa gemetaran setengah mati.
Tiga utusan dewa tersisa yang menyaksikan adegan itu langsung membeku di tempat, aura angkuh di wajah mereka sirna berganti ketakutan yang luar biasa mendalam.
'Gila... ini orang bukan manusia... dia naga emas sejati!' batin utusan dewa meringis pelan.
"Jenderal Lei Zhen... tamat dalam satu dehaman," gumam utusan dewa dengan mata melotot tak percaya.
"S-Sinting! Kita harus melaporkan ini ke Aliansi Dewa Sejati sekarang!" seru utusan dewa hendak berbalik meloncat kembali ke dalam gerbang.
"Nggak ada yang boleh lari setelah bikin semak-semak salju di sini kotor," pukas Reno dengan suara berat yang mengintimidasi.
Reno mengepalkan tangan kanannya, memicu ledakan energi emas murni Sutra Naga Kuno tingkat puncak yang jauh lebih dahsyat.
Aura naga emas raksasa sepanjang seribu meter kembali menampakkan wujudnya di atas langit dataran salju, mengaum keras membelah langit hitam!
*Roarrrr!*
"Teknik Naga Kuno: Pukulan Pemecah Bintang!" seru Reno melayangkan pukulan lurus ke udara.
Brakkkk!
Prospek kepalan tangan naga emas melesat cepat, menghantam tepat di tengah gerbang utama Kota Alam Dewa.
*Boommm!*
Gelombang kejut raksasa tercipta, meratakan ribuan praktisi lokal dan menghancurkan tembok gerbang es Kota Alam Dewa hingga rata sama tanah.
"Arghhhhh!"
Ribuan prajurit dan tiga jenderal tersisa menjerit melengking, tubuh mereka hancur seketika menjadi percikan-percikan energi spiritual yang tersapu angin malam.
Reno menarik kembali kepalan tangannya, memadamkan aura keemasan Sutra Naga Kuno di tubuhnya.
Dia menatap reruntuhan kota es dengan pandangan datar tanpa emosi sedikit pun.
"Lemah. Ternyata benteng terakhir cuma isinya kulkas kosong," pukas Reno menggerutu pelan.
'Alya... semoga kamu nggak mimpi buruk di bumi,' batin Reno tersenyum hangat mengingat istrinya.
Reno menatap ke arah utara di mana Istana Dewa Abadi berada di balik awan misterius.
Perjalanannya ke Istana Dewa Abadi masih sangat jauh, dan dia butuh lebih banyak kekuatan untuk menavigasi alam ini.
"Dewa Langit Utara... Aliansi Dewa Sejati... bersiaplah," gumam Reno dingin.
"Naga Emas sejati... sudah kembali buat nuntut balas."
Di saat yang sama, di Alam Dewa Sejati.
Di dalam sebuah kuil kuno yang megah di atas puncak gunung tertinggi, sesosok pria berambut putih dengan zirah emas yang memancarkan aura Dewa Sejati yang sangat pekat sedang duduk bermeditasi.
Dia adalah Dewa Langit Utara—salah satu dari Empat Dewa Sejati yang menguasai Alam Dewa Sejati.
Dewa Langit Utara mendadak membuka matanya, pancaran aura Dewa Sejati di tubuhnya meledak dahsyat, menghancurkan pilar-pilar batu di sekitarnya.
"Aura Jenderal Lei Zhen... sudah padam..." bentak Dewa Langit Utara murka.
"Pewaris Sutra Naga Kuno... sudah mencapai Alam Dewa Abadi..." racau Dewa Langit Utara gila.
"Reno Wijaya! Lu benar-benar cari mati!" teriak Dewa Langit Utara histeris.
"Aliansi Dewa Sejati... Bangunlah! Naga emas sejati sudah tiba di gerbang istana kita!" komando Dewa Langit Utara gila penuh amarah yang membara.