Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Gertakan Kosong
Pemilik toko kain itu menelan ludah. Keringat dingin merembes di pelipisnya. Ajudan dinas Ningrum maju selangkah, menyorotkan ancaman. Pria paruh baya itu menoleh menatap Seroja. Ingatannya berputar pada masa-masa sulit saat panen sayurnya sepi pembeli akibat hasutan preman pasar. Koperasi Tani Mandiri pimpinan Seroja tetap memasok sayuran segar ke rumahnya dengan harga wajar. Napas pria itu kini berangsur teratur.
Dia menarik napas panjang, merapikan kerah baju, melangkah mendekati meja kayu.
"Mohon maaf, Nyonya Ningrum," ucap pemilik toko itu membungkuk. Dia menunduk menatap ujung sepatu hak tinggi Ningrum, enggan mengangkat wajah. "Mbak Seroja dan ibunya pelanggan lama saya. Mereka datang lebih dulu, sudah menimbang barang. Saya tidak sudi mengusir pembeli dengan uang halal, biarpun itu perintah istri pejabat."
Suasana toko pengap itu senyap seketika. Puluhan pengunjung pasar membelalak kaget. Seorang pedagang kecil berani menolak perintah istri kepala dinas demi membela janda pinggir hutan.
Napas Ningrum tertahan. Wajah mulusnya memerah padam. Urat lehernya menegang menahan luapan amarah. Dia sudah repot-repot berteriak di pasar kumuh ini, ujung-ujungnya malah diusir pemilik toko rendahan.
Dia enggan menyuruh ajudannya menyeret Seroja keluar. Keributan fisik hanya akan mencoreng nama suaminya. Ningrum menelan pahit kekalahan. Tindakannya barusan tak beda dengan orang hilang akal.
"Kau akan menyesali kelancanganmu!" desis Ningrum pada pemilik toko, memutar pandangan tajam ke arah Seroja. "Dan kau, bocah tengik. Pertunjukanmu hari ini tidak menyelamatkan keluargamu dari kehancuran."
Ningrum memutar tubuh, menghentakkan kaki meninggalkan toko kain. Ajudannya bergegas menyusul, menerobos kerumunan pengunjung pasar yang merapat ke pinggir, menunduk menahan tawa.
Siti membuang napas panjang, merosot ke kursi kayu. Seroja merangkul bahu ibunya, mengusap punggung wanita itu pelan.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Seroja.
Pria itu membalas senyum, mengangguk hormat. "Sama-sama, Nduk. Koperasi kalian sering menyelamatkan perut keluarga saya. Biarkan saja istri pejabat itu marah, paling cuma gertakan kosong."
Seroja merapatkan bibir. Firasatnya menangkap bahaya baru. Ningrum bukan preman jalanan macam Paman Supri yang diam sehabis adu mulut. Wanita itu anak seorang menteri. Rasa malunya hari ini pasti memicu balasan jauh lebih rapi dan telak.
Sedan dinas melaju kencang menjauhi pasar kecamatan. Ningrum duduk tegak di kursi belakang. Kaca jendela tertutup rapat, menghalangi debu jalanan masuk.
Dada Ningrum naik-turun cepat. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat. Seorang gadis desa kumuh baru saja mempermalukannya di depan umum dan di depan ajudannya sendiri. Begitu mobil menjauh dari keramaian, emosinya surut perlahan. Pikirannya kembali jernih.
Dia telah bertindak gegabah.
Ningrum mengusap wajah kasar, merusak tatanan riasan tebalnya. Dia melanggar prinsip utama keluarganya, pantang mengumbar amarah di depan orang rendahan. Aksi gebrak meja tadi menyuguhkan tontonan murahan. Runtuh sudah citra anggun putri menteri. Kalau sampai kabar ini bocor ke perkumpulan istri bupati, dia bakal habis jadi bahan gosip arisan.
"Bodoh. Tolol," maki Ningrum tertahan. Suaranya tenggelam oleh deru mesin mobil.
Gara-gara terus memikirkan rahimnya yang kosong, dia mudah terpancing emosi. Sikap tenang Siti tadi sungguh menyentil harga dirinya. Ningrum menarik napas dalam, membuangnya pelan, menstabilkan detak jantung. Dia harus kembali bermain bersih dari balik meja birokrasi.
Wanita itu menyandarkan punggung ke jok kulit. Pandangannya lurus ke depan, menyorotkan rencana baru.
Kekerasan preman jalanan gagal. Gertakan murahan di pasar berujung memalukan. Hardiman pun tak punya nyali memberangus Seroja karena segan pada sosok Pak Subroto di jajaran petinggi kabupaten.
"Kalau orang kabupaten tak sanggup, aku pakai tangan orang pusat," gumam Ningrum tajam.
Dia berencana menghubungi ayahnya, sang menteri di Jakarta. Tanpa perlu memohon campur tangan urusan politik, dia cukup meminjam wewenang lembaga pusat. Ningrum menyusun skenario rapi, berpayung hukum, mustahil dicegah bupati.
Dia bakal menyebar laporan fiktif penyebaran penyakit tanaman menular dari lahan kapur kecamatan Seroja. Berita itu pasti memancing kedatangan tim karantina pangan dari pusat.
Tim berseragam dinas akan menyegel kebun tomat dan melon milik Seroja dengan dalih undang-undang. Izin distribusi koperasi akan dibekukan sepihak. Tanpa cap resmi, sayuran mereka pantang masuk pasar. Panen membusuk di gudang. Keluarga Siti bakal kembali kelaparan.
Senyum miring tercetak di bibir Ningrum. Rencana ini terlalu sempurna. Bersih dan senyap. Seroja boleh pandai mengatur kuli panggul, tapi gadis desa itu tak bakal sanggup melawan selembar kertas bermeterai negara.
Beralih dari mobil dinas Ningrum, suasana berbeda tampak di jalan berdebu depan pasar kecamatan.
Kerumunan warga di toko kain bubar jalan. Rombongan ajudan Ningrum lenyap di balik tikungan. Di bawah pohon asam seberang pasar, seorang pria paruh baya berdiri kaku mengamati keadaan.
Pria itu memakai setelan safari abu-abu tanpa kerut. Uban tipis menyembul di pelipis. Tangannya mantap menggenggam tongkat kayu berukir, menopang postur tubuhnya yang tetap tegap menantang usia.
Pak Brotojoyo, bos tekstil Argo Broto Group Jakarta, mengerutkan dahi menatap bekas jejak ban mobil sedan tersebut. Dia merapat ke kecamatan ini usai menelusuri masa lalu, mencari orang hilang sejak Agresi Militer 1948.
Fokusnya kini tertuju ke ambang pintu toko kain lurik.
Siti melangkah keluar menggendong bungkusan kertas belanjaan. Seroja menempel di sebelahnya, memegang payung menghalau terik matahari.
Pak Brotojoyo menahan napas. Jantungnya berdebar kencang. Dari jarak puluhan meter, lekuk senyum perempuan tiga puluhan tahun di bawah payung itu tampak begitu lekat di benaknya.
Garis wajah Siti, caranya mengangguk, serta lengkung senyumnya pada Seroja, membongkar ingatan puluhan tahun silam. Perempuan kampung berbaju lusuh itu mewarisi raut wajah mendiang istri Pak Brotojoyo semasa muda.
seroja nggak bisa bela diri kah...?