Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Detak yang Tak Bisa Direm
Aku, Bram, tahu Laras belum memakan telur jatahnya ketika melihat putih telur tersisa di mangkuk Sena.
"Itu untukmu," kataku.
Laras sedang mengusap mulut Sena. "Dia cuma makan kuning sedikit. Putihnya nanti saya makan."
"Nanti kapan?"
"Setelah dia tidur."
Jawaban yang terlalu cepat.
Aku memeriksa rak. Tidak ada piring lain. Pisang jatah pagi masih utuh, disimpan untuk dikirim kepada Nala bersama uang dan susu formula.
"Makan sekarang."
"Bapak datang untuk lihat Sena atau mengawasi piring saya?"
"Dua-duanya."
Ia menatapku, lalu akhirnya memakan putih telur itu. Aku menunggu sampai habis sebelum pergi.
Tubuhnya makin kurus meski jatah sudah ditambah. Menyusui, mengurus bayi, dan membantu dapur menghabiskan tenaga. Namun ketika Hendra menawarkan agar pekerjaan dapur dihentikan sementara, Laras menolak.
Aku meminta klinik memeriksa darahnya. Hasil awal menunjukkan kelelahan dan kurang zat besi ringan, bukan penyakit berat. Perawat memberi suplemen dan daftar makanan yang harus ia habiskan.
"Pastikan dia minum," kataku kepada Adi.
Adi berkedip. "Saya, Komandan?"
"Kamu yang antar logistik ke bloknya."
"Kalau saya tanya tiap hari, Mbak Laras pasti lempar sandal."
"Berarti berdiri lebih jauh."
Keesokan harinya Adi melapor bahwa Laras minum suplemen sambil mengomel. Entah mengapa laporan itu menjadi satu-satunya bagian hari yang membuat kepalaku lebih ringan.
"Kalau cuma berbaring, pikiran saya lari ke kampung terus," katanya. "Di dapur saya bisa menghasilkan sesuatu."
Beberapa hari kemudian aku melihatnya berjalan mengitari lahan kosong belakang blok. Ia berjongkok memeriksa tanah, mencabut rumput, lalu menandai petak dengan ranting.
"Sedang apa?"
Ia menoleh tanpa terkejut. Rupanya sudah hafal langkahku.
"Cari tempat menanam. Cabai, sawi, daun bawang. Tanah ini kena matahari pagi dan dekat saluran air."
"Sudah minta izin?"
"Besok. Hari ini baru menghitung."
Ia menunjukkan catatan kecil berisi ukuran petak, kebutuhan bibit, dan pembagian hasil untuk dapur. Bahkan sebelum menanam, ia sudah memikirkan siapa yang akan menerima panen.
"Boleh asal tidak mengganggu jalur inspeksi," kataku.
"Itu izin resmi?"
"Ajukan ke Hendra. Saya beri disposisi."
Matanya berbinar. "Terima kasih, Pak Danyon."
Proposalnya tiba keesokan pagi. Dua halaman ditulis tangan: petak dua kali tiga meter, air bekas bilasan sayur yang aman, kompos tertutup, hasil dibagi untuk dapur dan penghuni yang membantu. Di bagian risiko, ia bahkan menulis kemungkinan nyamuk dan genangan.
Hendra menatapku saat kuberi paraf. "Mbak Laras lebih rapi daripada sebagian pengajuan unit."
"Jangan bilang begitu di depannya."
"Kenapa?"
"Nanti dia minta meja kerja."
Hendra menahan senyum. Aku baru sadar telah membuat lelucon kedua dalam satu pekan.
Perempuan itu mengacaukan kebiasaan burukku untuk selalu serius.
Tiga hari kemudian, petak itu mulai dibersihkan. Laras bekerja saat Sena tidur dalam pengawasan Tuti. Ia mencangkul tanah memakai alat kecil, memisahkan batu, dan mencampur kompos dari sisa sayur dapur.
Aku beberapa kali melewati tempat itu dengan alasan memeriksa saluran.
Pada sore keempat, kulihat telapak tangannya merah dan melepuh.
"Berhenti."
"Tinggal satu baris."
"Besok masih ada."
"Kalau malam hujan, tanahnya pas untuk tanam."
Aku mengambil cangkul dari tangannya. "Saya suruh dua anggota bantu."
"Jangan. Ini kebun dapur, bukan tugas prajurit."
"Mereka sedang kerja bakti saluran. Dua puluh menit tidak merusak pertahanan negara."
Ia tertawa. Aku memalingkan muka agar ia tidak melihat aku hampir ikut tersenyum.
Dua anggota yang kupanggil datang membawa sekop. Laras membagi pekerjaan tanpa canggung. Satu orang menggemburkan tanah, satu memindahkan batu, sementara ia membuat alur air. Dalam dua puluh menit, pekerjaan yang hendak diselesaikannya sendirian hampir rampung.
"Lihat?" kataku. "Minta bantuan tidak membuat kebun ini kurang milikmu."
Ia membersihkan tanah dari lutut. "Saya terbiasa kalau mau sesuatu harus kerjakan sendiri."
"Kebiasaan bisa diubah."
"Bapak juga?"
Pertanyaan itu mengenai tempat yang tidak ia ketahui. Lima tahun terakhir, aku terbiasa memikul nama, anak, dan rahasia sendirian. Aku tak yakin masih tahu cara membagi beban.
"Kita sedang bicara soal kebun," jawabku.
Laras tidak mendesak. Tatapannya justru menjadi lembut, seolah ia melihat jawabanku lebih jelas daripada yang kuucapkan.
***
Malamnya, aku, Laras, nyaris tidak mampu mengangkat lengan.
Tangan yang melepuh terasa panas setiap terkena kain. Aku mencuci diri, menyuapi Sena labu lumat, menyusui, lalu menjemur popok terakhir. Ketika azan Isya terdengar, lututku bergetar karena berdiri terlalu lama.
Tuti menawarkan membawa Sena satu jam, tetapi aku menolak. Seharian tadi ia sudah membantu. Aku tidak ingin kebaikan orang berubah menjadi kewajiban.
Baru saat Sena menangis ketiga kali, aku sadar tubuh punya batas yang tak bisa dinegosiasikan dengan rasa sungkan.
Sena rewel karena tumbuh gigi. Setelah lama digendong, ia akhirnya tertidur. Aku duduk di tepi ranjang dengan punggung menempel dinding, takut bergerak akan membangunkannya.
Pintu terbuka pelan. Bram masuk, melihat posisi kami, lalu merendahkan suara.
"Taruh dia."
"Nanti bangun."
"Saya pegang."
Ia menyelipkan tangan di bawah tubuh Sena. Gerakannya kaku tetapi hati-hati. Saat beban terangkat dari lenganku, darah kembali mengalir sampai ujung jari dan menimbulkan kesemutan menyakitkan.
Bram membaringkan Sena, menepuk dadanya dua kali, lalu menarik kelambu.
"Tidur," katanya.
"Saya belum salat Isya."
"Setelah itu tidur. Jangan ke kebun besok."
"Pak Danyon mengatur sampai jadwal kebun?"
"Kalau pekerjanya hampir pingsan, iya."
Ia mematikan lampu kamar dan menutup pintu. Cahaya lorong masih masuk dari bawah celah. Beberapa detik kemudian cahaya itu ikut padam.
Aku berbaring setelah salat. Dalam gelap, terdengar langkah Bram menjauh.
Lalu berhenti.
Bayangannya kembali terlihat di bawah pintu. Ia berdiri di sana cukup lama, tidak mengetuk, seolah memastikan aku benar-benar beristirahat.
Jantungku berdetak seperti tambur.
Aku menarik selimut sampai dagu dan menahan napas. Jika ia membuka pintu, mungkin bunyi dadaku akan terdengar sampai lorong.
Namun Bram hanya merapikan sesuatu di luar, mungkin keset, lalu pergi.
Pagi harinya aku menemukan salep luka dan sepasang sarung tangan kebun di atas keset. Tidak ada nama, hanya kertas kecil dengan tulisan buruk: `Pakai.`
Aku mengenali perintah itu tanpa perlu bertanya.
Sena merangkak mendekat dan mencoba menggigit bungkus salep. Aku cepat mengambilnya.
"Papamu kalau perhatian selalu seperti sedang memberi instruksi latihan."
Aku mencoba sarung tangan. Ukurannya sedikit terlalu besar, tetapi bagian telapak tebal dan nyaman. Ia pasti membelinya terburu-buru tanpa tahu ukuran tanganku.
Ketidaktepatan kecil itu justru membuat tenggorokanku mengencang.
Aku menutup mata.
Semakin ia diam, semakin sulit aku menyuruh hati ini ikut diam.
Dan semakin aku menyangkalnya, semakin keras detak itu menjawab dari dalam dada sepanjang malam yang sunyi sendirian.