Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Titah Sang Raja

Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui dinding kaca setinggi langit-langit di lantai paling atas Pusat Perdagangan Internasional kota. Hujan badai semalam telah berlalu, menyisakan langit biru yang bersih tanpa awan. Namun, bagi keluarga Thorne, badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

Di tengah ruangan penthouse eksekutif yang luas dan mewah itu, Arthur Summers berdiri menghadap jendela, menatap pemandangan hiruk-pikuk kota metropolis di bawahnya. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga ke siku, sangat kontras dengan penampilannya yang bersimbah darah dua belas jam yang lalu. Tangannya menggenggam secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Wajahnya tenang, sedingin es, seolah pembantaian brutal yang ia lakukan semalam hanyalah sebuah mimpi buruk yang lewat.

Pintu ruangan terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara. Silas Mercer, letnan kepercayaan sekaligus tangan kanan Arthur, melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit khusus, memancarkan aura seorang eksekutif puncak sekaligus pembunuh berdarah dingin. Di belakangnya, dua orang pria berjas rapi mengikuti dengan langkah terukur, membawa setumpuk dokumen digital.

Arthur memang bukan sekadar mantan prajurit. Arthur juga memiliki hierarki kekuasaan yang absolut di dalam Phantom Vanguard. Ia telah memiliki otoritas tertinggi di dunia, bersama dengan kekayaan dan status sosial yang tidak bisa dibayangkan oleh orang awam.

"Jenderal," sapa Silas seraya menundukkan kepalanya sedikit, sebuah penghormatan yang hanya ia berikan kepada satu orang di dunia ini.

"Bagaimana status 'paket' yang kita kirimkan semalam, Silas?" tanya Arthur tanpa membalikkan badannya. Matanya tetap terkunci pada gedung pencakar langit berlogo Yayasan Thorne di kejauhan.

"Sudah dikirimkan tepat di depan gerbang mansion keluarga Thorne pukul empat pagi tadi, Jenderal," lapor Silas dengan nada datar yang efisien. "Slade dan sebelas anggota sindikat Viper lainnya telah kami kemas di dalam truk sampah. Semua syarat yang diminta oleh Julian Thorne telah dipenuhi; tidak ada satu pun dari pembunuh bayaran itu yang memiliki anggota tubuh yang utuh. Kami juga memastikan Slade masih sadar untuk menyampaikan pesan Anda."

Arthur menyesap kopinya perlahan. "Bagus. Bagaimana reaksi Julian Thorne?"

"Intel kami di dalam mansion melaporkan bahwa pewaris muda itu sangat histeris. Ia memanggil tiga tim medis swasta secara diam-diam dan langsung melipatgandakan penjagaan di seluruh aset keluarganya, termasuk di Universitas St. Jude," jawab Silas. Terdapat kilatan geli di mata Silas. Bagi organisasi sebesar Phantom Vanguard, penjagaan keluarga Thorne hanyalah lelucon anak-anak.

Silas kemudian memberi isyarat kepada dua bawahannya untuk meletakkan dokumen-dokumen di atas meja marmer. "Jenderal, sesuai instruksi Anda, kami telah memetakan seluruh kekuatan keluarga Thorne di kota ini. Mereka hanyalah keluarga konglomerat tingkat kedua yang bermain di sektor pendidikan swasta, real estat, dan memiliki beberapa koneksi dengan sindikat lintah darat lokal."

Arthur berbalik, meletakkan cangkir kopinya di atas meja, lalu menatap tumpukan dokumen itu dengan pandangan meremehkan. Mengingat pengkhianatan Elena semalam, wajah Arthur sempat berubah menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam, namun kini amarah itu telah menjelma menjadi perhitungan yang sangat dingin dan taktis. Elena pernah menganggap bahwa Arthur tidak bisa memberikannya masa depan, lebih memilih Julian Thorne demi status. Malam ini, Arthur akan membuktikan betapa bodohnya wanita itu.

"Silas," panggil Arthur pelan, namun suaranya menggema penuh otoritas di ruangan itu. "Aku ingin mereka hancur. Bukan hancur secara fisik. Kematian terlalu mudah bagi Julian Thorne dan ayahnya. Aku ingin mereka melihat kekaisaran yang mereka banggakan selama ini runtuh menjadi debu di depan mata mereka."

Silas tersenyum tipis, senyum yang menjanjikan kehancuran. Sebagai salah satu petinggi organisasi yang memiliki kekuasaan luar biasa, Silas sebelumnya telah menyiapkan segalanya. Silas juga telah membeli Pusat Perdagangan Internasional di pusat kota sebagai basis operasi mereka. Bahkan, para taipan lokal telah bertekuk lutut. Orang terkaya di kota ini dulunya pernah menjadi salah satu pengikut setia organisasi mereka, dan begitu Arthur tiba, ia telah bersiap sedia melayani segala kebutuhan sang Jenderal.

"Perintah diterima, Jenderal," ucap Silas seraya membuka sebuah tablet tipis transparan. "Kami telah menyiapkan 'Operasi Gerhana'. Dalam waktu dua puluh empat jam ke depan, kami akan melakukan tiga langkah utama."

Pemutusan Finansial: "Kami telah menghubungi bank-bank internasional dan memotong semua jalur kredit keluarga Thorne. Orang terkaya di kota ini, yang merupakan salah satu pion kami, telah memutus kontrak suplai material untuk proyek real estat mereka."

Pengambilalihan Paksa: "Kami sedang membeli seluruh hutang piutang Yayasan Thorne melalui perusahaan cangkang. Pada pukul siang ini, kita akan menjadi pemegang hutang terbesar mereka. Jika mereka tidak bisa membayar tunai hari ini, yayasan dan universitas itu akan jatuh ke tangan Anda secara sah."

Pembersihan Dunia Bawah: "Pasukan tempur divisi tiga sedang memburu sisa-sisa sindikat Viper. Menjelang matahari terbenam, Julian Thorne tidak akan memiliki satu pun preman yang berani mengangkat telepon darinya."

Arthur mendengarkan pemaparan itu dalam diam. Rencana itu tanpa celah. Keluarga Thorne yang sombong itu mengira bahwa kekuasaan dipegang oleh mereka yang memiliki uang paling banyak di kota. Mereka lupa bahwa ada kekuatan di atas segalanya, kekuatan yang bisa menciptakan atau menghancurkan sebuah negara dalam semalam.

"Laksanakan," perintah Arthur. "Biarkan pasar saham mereka anjlok perlahan. Biarkan mereka merasakan keputusasaan merayap ke dalam tulang mereka."

"Lalu, apa rencana Anda hari ini, Jenderal?" tanya Silas sambil menerima kembali tabletnya dari meja. "Apakah Anda akan mengawasi proses likuidasi ini dari sini?"

Arthur melirik ke arah jam tangan mewahnya, sebuah Patek Philippe langka yang harganya setara dengan tiga gedung perkantoran. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi.

"Tidak," jawab Arthur santai. Ia berjalan menuju sebuah lemari kayu jati di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah tas kerja kulit yang tampak usang dan sederhana. "Aku punya jadwal mengajar kelas Sejarah Eropa Kuno di Fakultas Seni Universitas St. Jude pukul sembilan pagi. Aku tidak ingin mengecewakan mahasiswaku."

Silas menahan tawa hormatnya. "Anda benar-benar akan datang ke kampus setelah mengirim belasan mayat hidup ke rumah pemilik yayasan itu?"

"Aku adalah dosen yang berdedikasi, Silas," ucap Arthur dengan senyum sinis yang mengancam. "Lagi pula, aku sangat ingin melihat ekspresi wajah istriku dan kekasih gelapnya ketika melihat 'gembel' yang mereka suruh bunuh semalam justru berdiri di mimbar kelas mereka dengan segar bugar."

Arthur meraih jas wol kasualnya, menyembunyikan identitas aslinya sebagai penguasa dunia di balik penampilan seorang akademisi muda yang bersahaja. Ia telah kembali untuk menepati janjinya, tetapi karena janji itu telah dihancurkan, maka tidak ada lagi pengampunan.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!