Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Rahasia Somatik
Ruang bawah tanah rahasia di bawah perpustakaan tua Universitas St. Jude itu dulunya adalah fasilitas arsip yang terbengkalai. Namun, dalam kurun waktu empat puluh delapan jam, tim teknis Silas Mercer telah menyulapnya menjadi laboratorium forensik tingkat tinggi. Lampu-lampu LED putih menerangi deretan monitor canggih dan sebuah meja kaca tempat Formula Somatik dibentangkan dengan sangat hati-hati.
Di depan salah satu monitor, Maya Lin memijat pelipisnya. Kantung matanya terlihat menghitam. Sudah dua belas jam tanpa henti ia dibantu oleh perangkat lunak dekripsi milik Phantom Vanguard untuk menerjemahkan simbol-simbol alkimia kuno dari gulungan peninggalan tersebut.
Pintu kedap suara berdesis terbuka. Arthur Summers melangkah masuk membawa dua gelas kopi hitam pekat. Penampilannya masih terlihat rapi dengan kemeja kasual, memancarkan aura ketenangan yang kontras dengan ketegangan di ruangan itu.
"Istirahatlah, Maya. Memaksakan pikiranmu hanya akan membuatmu melewatkan detail penting," ucap Arthur seraya meletakkan segelas kopi di dekat tangan gadis itu.
"Saya hampir menemukannya, Bos," jawab Maya dengan suara serak, matanya tak lepas dari layar. Jari-jarinya mengetikkan serangkaian perintah terakhir, lalu menekan tombol Enter.
Seketika, sebuah model untaian DNA tiga dimensi berputar di layar utama, disertai rentetan data biometrik yang kompleks.
Maya menahan napasnya. "Ya Tuhan... Bos, Profesor Hemlock benar. Ini bukan sekadar obat saraf. Rumus ini menargetkan Amigdala dan sistem saraf pusat. Jika senyawa ini berhasil disintesis dan disuntikkan ke dalam tubuh manusia, subjek tidak akan lagi merasakan rasa sakit, kelelahan, atau ketakutan. Replikasi selnya akan dipercepat tiga kali lipat."
Arthur menatap layar itu dengan ekspresi sedingin es. Di medan perang, pasukan yang tidak mengenal rasa takut dan kelelahan adalah pasukan yang tidak bisa dikalahkan. Pantas saja The 7 Assassins dari Kekaisaran Utara begitu terobsesi mengejar gulungan ini.
"Sebuah cetak biru untuk menciptakan monster," gumam Arthur.
"Tapi ada kelemahannya," tunjuk Maya pada bagian merah di layar. "Formula ini tidak stabil. Tanpa enzim penyeimbang yang tepat, subjek yang menerima serum ini akan mengalami kerusakan otak permanen dan mati karena gagal jantung dalam waktu kurang dari tujuh puluh dua jam. Ini adalah senjata bunuh diri."
Sebelum Arthur sempat merespons temuan brilian muridnya itu, lampu utama di dalam laboratorium tiba-tiba berkedip, lalu padam sepenuhnya. Sedetik kemudian, lampu darurat berwarna merah menyala, memandikan ruangan itu dengan pendaran darah.
Suara sirene melengking memekakkan telinga.
Alat komunikasi di telinga Arthur berderak keras. "Jenderal! Fasilitas diserang!" Suara Silas Mercer terdengar diiringi rentetan suara tembakan senapan otomatis di latar belakang. "Sisa-sisa pasukan paramiliter Keluarga Sterling! Mereka menggunakan peledak C4 untuk menjebol jalur ventilasi timur! Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang bersenjata lengkap!"
Arthur mengerutkan keningnya. Lord Vance Sterling mungkin sudah hancur reputasinya, namun Kaelen Sterling tampaknya menolak untuk menyerah begitu saja. Terpojok oleh kebangkrutan dan ancaman hukuman penjara, pewaris manja itu pasti menyewa tentara bayaran terakhirnya dalam sebuah misi bunuh diri untuk merebut gulungan tersebut, berharap bisa menjualnya ke pasar gelap internasional demi melarikan diri.
"Tahan perimeter luar, Silas. Jangan biarkan mereka mencapai lantai dasar kampus," perintah Arthur dengan sangat tenang, sangat kontras dengan kepanikan alarm.
"Jenderal, tiga orang berhasil menembus pertahanan kami dan sedang menuju lift barang yang mengarah langsung ke ruangan Anda! Kami butuh waktu dua menit untuk menyusul ke bawah!"
"Dua menit terlalu lama," jawab Arthur. Ia memutuskan sambungan.
Terdengar dentuman keras dari balik pintu baja kedap suara tempat Arthur dan Maya berada. Asap putih mulai mengepul dari celah pintu mereka sedang mengelas sistem pengunci pintu tersebut dari luar.
Maya memundurkan langkahnya, jantungnya berdebar kencang. Ia memang cerdas dan memiliki insting jurnalis yang tajam, tapi menghadapi tentara bayaran bersenjata api di ruang tertutup adalah mimpi buruk.
"Bos... apa yang harus kita lakukan? Kita terjebak," bisik Maya dengan suara bergetar.
Arthur membalikkan badannya. Ia tidak mencabut senjata api.
"Berdiri di belakangku, Maya," perintah Arthur. Nada suaranya berubah menjadi bariton yang sangat berat, memancarkan penindasan kuat. "Dan apa pun yang terjadi, jangan tutup matamu. Ini adalah pelajaran pertamamu tentang bagaimana dunia bawah tanah sebenarnya bekerja."
BRAK!
Pintu baja itu akhirnya jebol akibat ledakan terarah. Tiga orang tentara bayaran berpakaian taktis hitam dan memakai helm kevlar menerobos masuk sambil mengarahkan senapan serbu Heckler & Koch MP5 ke arah mereka.
"Serahkan gulungan itu atau kami tembak kepalamu!" raung sang kapten tentara bayaran.
Namun, Arthur tidak memberikan mereka kesempatan untuk mengedipkan mata.
Bagi Maya, apa yang terjadi selanjutnya seolah berjalan dalam gerakan lambat. Arthur tidak melompat menghindar atau berlari mencari perlindungan. Sang Jenderal justru melangkah maju menyongsong moncong senjata itu. Gerakannya terlalu cepat untuk ditangkap oleh nalar manusia biasa.
Tentara pertama menarik pelatuk. Namun, sekejap sebelum peluru melesat, tangan Arthur telah menangkis laras senapan itu ke atas. Dengan telapak tangannya yang terbuka, Arthur menghantam leher pria itu. Terdengar bunyi tulang rawan yang retak mengerikan. Pria pertama ambruk sebelum tubuhnya menyadari bahwa ia sudah mati.
Tentara kedua mengarahkan senapannya, panik melihat rekannya tumbang seketika. Arthur menggunakan senapan pria pertama yang masih melayang di udara, menendang popornya hingga senapan itu melesat menghantam keras wajah tentara kedua, memecahkan kaca helm taktisnya dan membuatnya terpelanting ke belakang.
Sang kapten, yang berada di posisi paling belakang, menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan iblis. Ia segera melepaskan tembakan membabi-buta.
Arthur memiringkan tubuhnya, membiarkan peluru-peluru panas itu mendesing melewati udara hanya beberapa milimeter dari kain kemejanya. Ia menyambar sebuah pisau bedah (scalpel) perak dari atas meja laboratorium forensik. Dengan satu jentikan pergelangan tangan, pisau kecil itu melesat membelah udara.
Jleb!
Pisau bedah itu menancap tepat di celah sempit di antara pelindung bahu dan kerah anti-peluru sang kapten, memutus saraf motorik utamanya. Sang kapten menjerit tertahan, senapannya terjatuh, dan tubuhnya lumpuh seketika. Ia jatuh berlutut di hadapan Arthur.
Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari lima detik. Tiga pembunuh bayaran elit dilumpuhkan tanpa Arthur mengeluarkan sebutir peluru pun.
Maya Lin berdiri mematung di sudut ruangan. Matanya terbelalak lebar, napasnya tercekat. Ia selalu tahu bosnya itu hebat, tapi ia mengira Arthur hanyalah ahli strategi dan bos mafia dengan banyak anak buah. Malam ini, ilusi itu hancur.
Pria yang berdiri dengan tenang di tengah mayat-mayat itu bergerak melampaui batas fisika manusia. Kekuatan, presisi, dan aura membunuhnya bukanlah milik seorang warga sipil. Maya akhirnya menyadari, dewa perang yang mengendalikan kota ini dari balik layar tidak membutuhkan pasukannya untuk melindungi dirinya; pasukannya ada justru untuk melindungi dunia dari amarahnya.
Arthur berjalan mendekati sang kapten yang masih berlutut menahan rasa sakit. Ia mencabut pisau bedah itu, lalu mencengkeram rahang pria itu, memaksanya mendongak.
"Kaelen Sterling benar-benar putus asa mengirimkan ampas seperti kalian ke hadapanku," ucap Arthur sedingin es.
Namun, alih-alih memohon ampun, sang kapten justru memuntahkan darah dan tertawa dengan suara yang aneh dan serak. Sebuah tawa yang sama sekali tidak mencerminkan kepanikan.
"Kau pikir... Kaelen Sterling yang membayar kami?" rintih kapten itu dengan senyum yang mengerikan. "Keluarga Sterling hanyalah anjing pengecut. Kami disewa... untuk mengalihkan perhatianmu."
Mata Arthur seketika menyipit tajam. "Siapa yang mengirimmu?"
"Tuan kami... telah berada di dalam kampus ini," sang kapten berbisik, matanya menatap lurus ke mata Arthur dengan fanatisme yang mengerikan. "Sang Bayangan Pertama mengucapkan salam, Ghost of Karakum."
Krak!
Sebelum sang kapten bisa diinterogasi lebih jauh, pria itu menggigit kapsul sianida yang tersembunyi di balik gigi gerahamnya. Tubuhnya menegang, mulutnya mengeluarkan busa, dan nyawanya melayang dalam hitungan detik.
Arthur melepaskan cengkeramannya, membiarkan mayat itu jatuh ke lantai. Udara di dalam laboratorium terasa semakin berat.
Serangan sisa-sisa pasukan Sterling ini bukanlah aksi balas dendam, melainkan sebuah bidak catur yang sengaja dikorbankan. The 7 Assassins telah tiba. Salah satu dari mereka Sang Bayangan Pertama telah mengetahui identitas asli Arthur dan menggunakannya untuk menembus pertahanan kampus.
Jika mereka tidak mengincar laboratorium ini, lalu apa atau siapa yang sedang mereka incar saat ini?
Di saat yang bersamaan, ponsel Arthur berdering dengan nada darurat. Nomor yang tertera di layar membuat jantung sang Jenderal berdetak satu ketukan lebih cepat dari biasanya. Itu adalah panggilan dari sistem keamanan biometrik milik Mia Zimmer, yang seharusnya saat ini berada jauh di ibu kota dalam perlindungan Shadow Guard.
Kenapa alarm Mia berbunyi bertepatan dengan serangan dari Kekaisaran Utara?
Arthur menekan tombol terima, dan suara yang menyambutnya di seberang sana bukanlah suara Mia, melainkan suara statis yang sangat dingin.
"Permainan baru saja dimulai, Tuan Summers. Mari kita lihat seberapa cepat rajawali bisa terbang menyusul mangsanya."
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...