Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertaruhan nasib
Kepasrahan yang mendalam terkadang bisa berubah menjadi nekat yang luar biasa. Di tengah kepungan kenyataan hidup yang menjepitnya dari segala arah, sebuah keberanian yang lahir dari rasa putus asa mendadak muncul di dalam diri Rama. Kalimat terakhir dari Iwan seolah menjadi pemantik di tengah ruang hampa pikirannya.
Rama kemudian merogoh dompet lama nya. Dompet kulit yang warnanya sudah memudar dan benang di sudut-sudutnya sudah mulai terlepas karena kemakan usia. Dari salah satu slotnya yang longgar, dia mengambil kartu identitas... selembar KTP yang menampilkan foto dirinya dengan tatapan yang masih penuh ambisi beberapa tahun lalu.
"nih daftarin" kata rama.... la menyodorkan kartu plastik itu kepada Iwan tanpa ragu lagi.
"ok" kata iwan dengan sigap. Jarinya langsung menari di atas layar ponselnya, bersiap memasukkan data-data pribadi Rama ke dalam sistem pendaftaran rahasia tersebut.
Yah dalam pikiran rama saat ini, tidak ada lagi hal berharga yang perlu ia jaga atau takutkan untuk hilang. Apalagi yg bisa diharap dari hidupnya yang sekarang? Keadaan juga kritis, terutama setelah tamparan realita dari Ratna semalam. Dilanjutkan kerja disini juga gini gini aja... Gaji bulanan yang hanya menumpang lewat untuk membayar kos dan bensin motor matic, tanpa ada prospek lonjakan karier yang berarti dalam waktu dekat. Hubungan asmara juga kandas... semuanya sudah hancur lebur dalam satu malam minggu yang dingin.
Ketika seseorang sudah berada di titik terendah, kehilangan sesuatu tidak lagi menjadi hal yang menakutkan.
Apa salahnya jika mencoba...
walau keberhasilan nya....0,00001%.
Logika warasnya tahu betul bahwa angka itu sangat tidak masuk akal. Mengharap terpilih oleh keluarga konglomerat berkuasa di antara ribuan kandidat hebat lainnya adalah sebuah kegilaan.
"sudah lah all in saja" batin rama... Jika memang harus kalah lagi, setidaknya ia kalah setelah mencoba melompat ke jurang yang paling tinggi.
Iwan terseyum melihat keputusan rama. Ada binar kepuasan di mata sahabatnya itu, melihat Rama akhirnya keluar dari cangkang kepasrahan dan berani mengambil langkah ekstrem.
"ok bro pastikan hp lu aktif.. dan ingat.. rapikan penampilan mu... jangn sampai mengecewakan ku" kata iwan...
Rama mengernyitkan dahinya. Kalimat terakhir Iwan terdengar memiliki bobot tanggung jawab yang aneh, seolah-olah ada sesuatu yang dipertaruhkan di balik pendaftaran ini.
"maksudnya apa nih" kata rama... penuh selidik.
Iwan terkekeh pelan, mendekatkan wajahnya ke arah Rama dengan senyum usil yang semakin lebar. "ya aku memang mendaftarkanmu tapi aku juga masuk pasar taruhan dan bertaruh nama kamu yg menang hahahaha..."
Rama menggeleng-gelengkan kepalanya, separuh tidak percaya dengan kegilaan sahabatnya yang satu ini. Di saat dirinya sedang bertaruh nasib hidup, Iwan justru menjadikannya sebagai bahan spekulasi di pasar judi taruhan bawah tanah.
"ah kamu wan...." kata rama sambil mendorong pelan bahu Iwan. Namun di balik kekesalannya, ada seulas senyum tipis yang akhirnya terbit di wajah Rama hari itu. Setidaknya, roda nasibnya kini sudah mulai berputar, menuju sebuah ketidakpastian yang entah akan membawanya terbang tinggi atau justru menjatuhkannya lebih dalam lagi.
Kantor yang mulai sepi sore itu menjadi saksi bisu langkah nekat Rama. Sambil merapikan meja kerjanya yang berantakan, ia tahu bahwa keputusannya malam ini akan mengubah seluruh sisa hidupnya di tempat ini.